Pendekar Sinting

Pendekar Sinting
Tewasnya Pendekar Tapak Maut


__ADS_3

*Jurus Pedang Bangau Terbang*


Traaak...!!!


Trang...!!!


Traaaang...!!!


"Yeaaa...!"


"Yeaaa...!"


Namun pada saat yang sama. Dari arah belakang Ki Madaharsa memberi tendangan keras ke tubuh Dewi Arum, kemudian pendekar wanita berparas cantik itu pun terhuyung-terhuyung ke depan.


Dukkkk...!!!


"Aaakh!" pekik Dewi Arum meringis kesakitan.


Dari arah depan Nyai Kantil pun memberi tendangan kuat hingga Dewi Arum.


Tubuhnya terjungkal beberapa langkah ke tanah disertai muntahan darah segar. Begitu dadanya terhantam tendangan keras oleh Ki Madaharsa dan juga Nyai Kantil begitu nyeri.


Kemudian, Dewi Arum berusaha bangkit. Namun, tubuhnya bergetar kuat dan pandangannya berkunang-kunang. Tetapi sekejap ia mencoba menguasai pandanganya. Lantas, berkelebat melancarkan serangan pedangnya dengan babatan pedang yang menyambar-nyambar ke arah leher Ki Madaharsa dan Nyai Kantil.


Crassss...!!!


"Aaaaa...!"


Leher Ki Madaharsa terkena tebasan pedang Dewi Arum, tubuh tokoh aliran hitam itupun ambruk jatuh ke tanah. Kemudian, tiba-tiba saja Nyai Kantil menghempaskan panah-panah kecil beracun ke arah Dewi Arum.


Pendekar berparas cantik itu berkelit ke kanan dan ke samping. Tetapi, gerakannya terlihat agak lamban, akibat terkena tendangan dari kedua tokoh aliran sesat tersebut. Tak dielakkan lagi satu anak panah beracun bersarang di pinggang kanannya.


Jleeeeb...!!!


"Aaakh...! " pekik Dewi Arum matanya terasa gelap dan tubuhnya agak terhuyung tak seimbang.


Mengamati Dewi Arum dalam bahaya, Arya Kelantara dengan wajah bergitu murka mengeluarkan ajian andalannya


*Tapak Maut Pelebur Nyawa*


"Hiyaaa...!"


Dari jarak agak jauh telapak Arya Kelantara mengeluarkan sinar berwarna merah dan kehijauan, sekejap mata saja mengenai dada Nyai Kantil yang hendak membabatkan pedangnya tadi ke tubuh Dewi Arum.


Jlegeeeerrrr...!!!


"Aaakh, Tobat!" jerit Nyai Kantil dan tubuhnya terjungkal hebat ke belakang, kemudain ambruk ke tanah dengan tubuh gosong dan mata melotot.


Arya Kelantara segera menghampiri Dewi Arum dan menotok aliran darahnya serta menyalurkan hawa murni ke tubuh istrinya.

__ADS_1


Seketika, Dewi Arum memuntahkan darah kental berwarna hitam. Saat dirasa lengah perhatian, salah satu tokoh sesat aliran hitam menusukan kerisnya ke arah punggung Arya Kelantara dari arah belakang


Craaaab...!!!


"Ouh...!" pekik Arya Kelantara.


Segera Arya Kelantara memutarkan tubuhnya, di keluarkan pedang dari balik punggungnya kemudian membalas tusukan ke dada Ki Madaharsa hingga tembus.


Craaaab...!!!


"Tobaaaat...!" teriak Ki Madaharsa dan tubuhnya terhuyung-huyung lalu roboh di tanah dengan keadaan tubuh hangus terbakar dengan pedang yang masih tertancap.


"Kau tidak apa-apa, Arum? tanya Arya Kelantara seraya menyandarkan kepala Arum di dadanya.


"Aku tidak apa-apa, Kakang. Aku bahagia mati bersamamu, Kakang Arya," rintih Dewi Arum seraya menatap suaminya dalam-dalam.


"Jangan bicara seperti itu Arum, kau akan baik-baik saja!" ujar Arya Kelantara yang meringis menahan sakit, akibat keris beracun yang masih tertancap di punggungnya.


Bentrokan tidak terhenti begitu saja, tiba-tiba dari arah depan Ki Halayuda mengayunkan golok besarnya ke arah sepasang pendekar itu. Dengan sigap Arya Kelantara membopong istrinya, kemudian menyandarkan tubuhnya di sebuah pohon besar.


Dengan tergesa-gesa pendekar yang bergelar Pendekar Tapak Maut itu, segera mencabut keris yang masih bersarang di punggungnya.


Wuuuuttt...!!!


"Keparat!" hardik Ki Halayuda yang serangannya tidak mengenai sasaran.


Laki-laki tua aliran hitam itupun menarik kakinya ke belakang dan membalas serangannya dengan membabatkan goloknya ke arah dada Arya Kelantara.


Crassssss...!!!


"Ouh...!" rintih Arya Kelantara dari dadanya mengucur darah segar.


"Kakang...!" jerit Dewi Arum.


Melihat keadaan lawannya terluka parah, Ki Halayuda terus mencecar Arya Kelantara. Dan membabat tubuhnya dengan tebasan-tebasan golok yang begitu cepat.


Sleeeeeb...!!!


"Aaaakh...!" teriak tertahan keluar dari mulut Arya Kelantara. Golok besar tertanam dalam perutnya.


"Hua ha ha, ****** kau!" gelak tawa Ki Halayuda penuh rasa kemenangan.


Di kejauhan Nyai Cakrawati dari Perguruan Belibis Putih mengamati jalannya pertarungan melemparkan pedangnya ke arah punggung Ki Halayuda untuk membantu Arya Kelantara dalam pengeroyokan, kemudian.


Sleeeeeb...!!!


"Aaaakh....!" jerit Ki Halayuda melengking ke atas udara.


"Keparat kau, Cakrawati!" dengus Ki Halayuda.

__ADS_1


Belum sempat Ki Halayuda membuat serangan, Arya segera melancarkan ajian Tapak Maut Pelebur Nyawa ke arah tokoh aliran hitam itu.


*Tapak Maut Pelebur Nyawa*


"Hiyaaa...!"


Jlegaarrrrrr...!!!


"Aaakh, Tobaaaat...!" jerit Ki Halayuda terkena ajian Tapak Maut Pelebur Sukma.


Ki Halayuda tubuhnya terhuyung-huyung lima tindak. Dan seketika ambruk ke tanah dalam keadaan tubuh hangus terbakar.


Di dalam pertempuran masih tersisa ketua dari Perguruan Aliran Golongan Hitamdiantaranya Ki Loreng dari Perguruan Macan Loreng, Ki Palawa dari Perguruan Gagak Hitam dan Nyai Gandawati dari Perguruan Sanca Beracun. Kemudian, memberi isyarat untuk meninggalkan pertempuran Ki loreng menunjuk dengan jarinya keberadaan Pedang Samber Nyawa. Yang masih bersarang di tubuh Ki Madaharsa.


Dengan melesat cepat Nyai Gandawati lompat dan menarik Pedang Samber Nyawa, kemudian berkelebat meninggalkan tempat itu. Sementara, Nyai Cakrawati membantu Arya Kelantara bangkit untuk mendekati Dewi Arum istrinya. Tetapi, nampaknya Dewi Arum masih dalam keadaan terluka tersandar di pohon.


Melihat Arya Kelantara terluka parah, Dewi Arum menangis sejadi-jadinya dan memangku kepala suaminya, dan mencium wajahnya.


"Kakang, kau tidak boleh mati...!" seru Dewi Arum melihat napas Arya Kelantara yang sudah tersengal-sengal.


"Arum, kau jangan bersedih kita akan bertemu di alam nirwana," ujar Arya Kelantara dengan nafas yang tersekat ditenggorakan.


"Tidak, Kakang! Aku ingin ikut bersamamu, ke manapun kau berada," rintih Dewi Arum.


Seketika itu juga para tokoh dan murid-murid perguruan aliran putih mengerumuni sepasang pendekar itu dengan penuh rasa haru. Ki Kuranta, Resi Barata, Nyai Purbani dan juga Nyai Cakrawati.


"Selamat tinggal Arum. Jagalah dirimu baik-baik," ujar Arya. Seketika itu juga sang pendekar menghembuskan nafas terakhirnya.


"Kakang Aryaaaa...!" jerit Arum pecah membumbung tinggi ke angkasa.


"Tuan Pendekar, aku berjanji akan membalaskan dendammu!" seru laki-laki tua yang berjenggot putih dia Ki Kuranta yang telah diselamatkan nyawanya oleh Arya Kelantara saat bentrok dengan Perguruan Aliran Golongan Hitam di Tataran Wetan.


"Semua sudah jadi suratan takdir Sang Hyang Dewata, kau harus relakan kepergian suamimu, Dewi Arum," tutur Resi Barata menenangkan Dewi Arum yang menangis terisak-isak.


"Kuatkanlah batinmu, Arum," ujar Nyai Cakrawati yang mengusap-usap punggung Dewi Arum.


"Kami akan balaskan dendam suamimu, Arum!" dengus Nyai Purbani ketua Perguruan Harimau Putih.


"Dendam hanya akan membawa malapetaka, para saudara-saudariku! Sebaiknya panjatkan doa agar pendekar berbudi luhur ini sampai ke alam nirwana," tutur Resi Barata.


"Di manakah keberadaan Pedang Samber Nyawa itu...?" tanya Ki Kuranta yang tiba-tiba tersadar pedang itu tidak bersama Arya Kelantara.


"Mungkin mereka telah membawanya pergi!" sahut Resi Barata.


"Keparat! Aku akan tanding nyawa pada kalian semua!" rutuk Ki Kuranta mengepalkan tangannya dengan keras.


"Para tua bangka pengecut!" dengus Nyai Purbani.


"Aku bersumpah akan menumpas kalian, walau nyawa taruhannya!" rutuk Nyai Cakrawati.

__ADS_1


__ADS_2