
Pagi datang menyingkap pekatnya malam dengan sinarnya yang terang. Suara penghuni hutan saling bersahut-sahutan, menyambut mentari dari kaki langit.
"Kakang, bangunlah matahari telah terbit," tutur Dewi Arum seraya mengecup lembut kening suaminya.
"Huaah, mari kita segera tinggalkan hutan ini, Arum!"
"Apakah kakang, semalam mendapatkan sebuah petunjuk?" tanya Dewi Arum.
"Benar sekali, Arum! Kita harus segera meninggalkan tempat ini. Perguruan Aliran Hitam telah menyebar di keempat penjuru mata angin untuk memburu kita," balas Arya.
"Kalau begitu kita harus pergi sekarang, Kakang!" sahut Dewi Arum.
Kemudian, sepasang pendekar itu pun berkelebat, meninggalkan hutan yang rimbun begitu cepat seperti kilat. Kedua-duanya memang menguasai Ajian Kidang Kencono. Beberapa saat saja telah sampai mereka di Tataran Wetan. Pada saat itu, Arya Kelantara dan juga Dewi Arum hendak mencari sebuah kedai untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan.
Ketika mereka telah menemukan sebuah kedai makan, sepasang pendekar itu segera memilih meja yang masih kosong tanpa ada tamu pengunjungnya.
"Mau pesan apa, Den?" tanya pelayan kedai itu.
"Pesan ikan bakar, dan juga nasi yang masih panas untuk dua orang."
"Kakang, nanti setelah makan aku minta buah-buahan untuk menyegarkan tubuhku," tutur Dewi Arum seraya mendekatkan kepalanya di bahu kanan Arya,
"Baik Arum," ujar Arya seraya membelai rambut istrinya.
Tak lama kemudian, seorang pelayan kedai membawakan hidangan yang mereka pesan. Arya Kelantara dan Dewi Arum menyantap makanan begitu datang seperti orang yang kelaparan.
Tetapi tiba-tiba saja, salah seorang pengunjung di samping meja yang sedang makan dengan tiga orang sahabatnya mencibir.
"Kalian seperti gembel yang tidak makan tiga hari saja!" Umpat saalah seorang laki-laki itu.
Seketika itu juga, Dewi Arum lantas bangkit dari tempat duduknya, dan hendak memberi mereka pelajaran. Tetapi, dengan begitu cepat Arya Kelantara menahan tangan istrinya.
"Kembali ke tempatmu Arum, dan habiskan makananmu. Aku tidak ingin istri dan anakku kelaparan," ujar Arya lirih membujuk istrinya agar dapat menahan amarahnya.
"Pelayan, tolong bawakan buah-buahan yang segar untuk kami," seru Arya Kelantara kepada pelayan.
"Baik, Den Dengan segera!" sahut pelayan itu."
"Silahkan, ini buahnya. Jangan tersinggung, Den atas gunjingan pengunjung kedai yang datang," ujar pelayan itu merasa tidak enak hati dengan kedua tamunya.
"Tidak apa-apa, ini kau ambil uangnya. Sisanya untukmu," ujar Arya membayar semua hidangan yang ia pesan tadi.
Belum tangan pelayan itu menerima bayaran diberikan Arya Kelantara, tiba-tiba saja pelayan itu di tendang salah seorang pengunjung kedai yang duduk bertiga tadi.
Buuuukkk....!!!
"Ouh," pekik pelayan itu.
"Berani-beraninya kau membicarakan aku. Pelayan busuk!" sentak salah seorang pengunjung kedai itu.
"Jangan bersikap kasar kisanak, dengan orang yang lemah," ujar Arya seraya membantu pelayan itu untuk berdiri.
__ADS_1
"Kurang ajar, beraninya kau mengajariku!" dengus laki-laki itu sambil mencabut pedangnya.
"Hiyaaaat...!"
Arya Kelantara menggeser tubuh pelayan itu ke samping dan menangkap serangan pedang lawan dengan tangan yang lainnya. Laki-,laki itu terbelalak melihat pedangnya sudah berpindah tangan begitu cepatnya, kemudian dengan mudahnya dipatahkan pendekar muda di depannya hingga terbelah menjadi dua.
Taaaaang.....!!!
Sekejap kemudian, Arya menampar keras lelaki itu hingga tubuhnya terhuyung-terhuyung dan jatuh menubruk meja.
"Aduh, wajahku sakit sekali. Ampun, Tuan pendekar!" Rintih laki-laki itu menahan sakitnya.
Pada saat kedua kawannya menyaksikan kejadian itu, mereka begitu terkejut, sehingga merasa tidak terima begitu saja. Lantas, keduanya mencabut pedang dari sarungnya melancarkan serangan ke arah Arya Kelantara dan juga Dewi Arum.
"Hiyaaaaat...!"
"****** kau, keparat!" sentak kedua kawanan laki-laki itu.
Dengan cepat Dewi Arum maju dan membuat formasi jurus bangau terbang. Di tendangnya kedua laki-laki itu, secara bersamaan hingga pedang mereka berjatuhan.
Taaang...!!!
Taaang...!!!
"Ouh," pekik kedua lelaki itu.
"Ampuni kami pendekar," ujarnya minta belas kasih.
"Totok tubuh mereka, Arum!" Perintah Arya.
Tuuk ... Tuk...!!!
"Jangan bunuh kami, Tuan pendekar," seru tinggal salah seorang laki-laki itu.
"Puuuaah!" Arya menuip matanya dengan ajian sirep 'Mega Mendung' kemudian, salah seorang laki-laki itu langsung tertidur.
"Cepat kita pergi, Kakang!" seru Dewi Arum.
"Kau singkirkan orang-orang ini kisanak, jangan sampai ada satupun di kedaimu," ujar Arya pada pelayan kedai.
"Terima kasih, Tuan pendekar kau telah menolongku," ujar pelayan kedai itu.
"Mari Arum kita pergi, bawalah bekal perjalananmu," ujar Arya pada istrinya Dewi Arum.
Dengan berkelebat, sepasang pendekar muda tersebut sudah lenyap dari pandangan pelayan kedai itu.
"Heh? Apakah mereka seorang dewa. Ke mana perginya kedua orang itu?" gumam pelayan kedai itu serasa sedang bermimpi.
Siang itu angin bertiup kencang, di Tataran Wetan rupanya tengah terjadi pertarungan sengit, antara Perguruan Aliran putih dan juga Perguruan Aliran Hitam.
Di sana sudah ada Ki Kuranta dari Perguruan Elang Perak, Resi Barata, Nyai Purbani dari Perguruan Harimau Putih, Nyai Cakrawati dari Perguruan Belibis Putih dan Ki Wicaksana dari Perguruan Singo Putih.
__ADS_1
Dari Perguruan Aliran Hitam lebih banyak lagi jumlahnya, Ki Halayuda dari Perguruan Serigala Hitam, Ki Madaharsa dari Perguruan Tangan Iblis, Ki Branjang dari Perguruan Kelelawar Setan, Nyai Kantil dari Perguruan Mata Setan, Nyai Gandawati dari Perguruan Sanca Beracun, Ki Loreng dari Perguruan Macan Loreng dan Ki Palawa dari Perguruan Gagak Hitam. Saat itu Arya Kelantara dan istrinya Dewi Arum sedang mengamati pertarungan sengit yang sedang terjadi di atas dahan pohon besar.
"Kakang, apa yang harus kita lakukan? Apakah berdiam diri saja, atau membantu Perguruan Aliran Putih...?" tanya Dewi Arum terhadap suaminya.
"Kita amati terlebih dahulu, Arum! Jika posisi Perguruan Aliran Putih terdesak barulah kita membantu mereka!"
"Tetapi, Perguruan Aliran Hitam lebih banyak jumlahnya kakang, tidak mungkin Perguruan Aliran Putih dapat mengimbangi pertarungan yang tengah terjadi," sambung Dewi Arum yang tak sabar ingin membantu Perguruan Aliran Putih.
"Kita sabar dahulu, Arum. Tidak mungkin aku berpangku tangan saja di sini," ujar Arya begitu tenang.
"Baiklah, Kakang. Aku menunggu isyarat darimu!" sahut Dewi Arum.
"Hiyaaaat...!"
"Mati kau Kuranta! Masih kau pakai saja jurus kunomu itu. Hua ha ha," seloroh Ki Madaharsa dibantu Ki Branjang.
"Orang tua busuk! Terbanglah kalian ke neraka!" dengus Ki Kuranta.
"Heyaaaa...!"
*Cakar Elang Perak Memangsa*
Breeeeett...!!!
Dada Ki Madaharsa terkena 'Jurus Cakar Elang' dan seketika itu juga tubuhnya membiru. Kemudian, terhuyung-huyung tiga langkah ke belakang. Dengan sigap laki-laki setengah baya tersebut memperkuat kuda-kudanya.
"Kau rasakan ini, Kuranta!" seru Ki Madaharsa.
"Yeaaaa!"
*Tendangan Bayangan Iblis*
Dessssss... Dessss... Dessssss...!!!
Bruuuuuk...!!!
Tak pelak lagi, Ki Kuranta ambruk jatuh di tanah. Disaat Ki Madaharsa hendak melancarkan ajian 'Tangan Iblis', tiba-tiba saja tertahan gerakannya oleh kawannya Ki Branjang.
"Biar aku yang mengirimnya ke neraka!" sentak Ki Branjang begitu bernafsu.
*Pukulan Kelelawar Setan*
"Heyaaaaa...!"
Kemudian, keluarlah sinar berwarna hitam serta kekuningan yang begitu panas, dari dari telapak Ki Branjang. Arya Kelantara melihat pertarungan yang tak sepadan, segera mencabut pedang dari balik punggungnya, segera melemparkan Pedang Samber Nyawa menahan pukulan yang dihempaskan Ki Branjang ke arah Ki Kuranta, dan terjadilah suara benturan ledakan yang memekkan telinga.
Wuuuttt...!!!
Jlegaarrrrrr...!!!
Ki Branjang terpental jauh, tubuhnya membentur batu besar yang ada di belakangnya, kemudian mengeluarkan darah hitam dari sela-sela bibirnya.
__ADS_1
Tubuhnya hangus terbakar dan batok kepalanya pecah. Dewi Arum yang menyaksikan jalannya pertarungan, cukup membuatnya bergidik. Sang suami yang nampak terlihat pendiam, ketika saat murka seperti harimau yang hendak menelan mangsanya hidup-hidup.
Seketika itu juga, wanita yang bergelar Pendekar Bangau Terbang, hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya.