
Ketika keetiga harimau itu melihat mangsanya, hendak melarikan diri. Tiga ekor harimau itu terus mencecar dengan begitu cepatnya. Ninik Bintari memperkuat pegangannya pada bocah itu hingga tidak dibiarkan lepas dari tangannya. Andai terlepas dari tangannya, sudah pasti bocah itu menjadi santapan harimau-harimau yang sedang kelaparan itu.
Dengan sekuat tenaga Ninik Bintari dan bocah itu terus berlarian. Mulai terasa rasanya nafas mereka hampir putus. Sedangkan tiga ekor harimau tersebut, nampak tidak rela kehilangan mangsanya. Ketika telah melewati beberapa pepohonan di Hutan Setan Kembar. Ninik Bintari kakinya tersangkut sebuah akar yang tumbuh liar di hutan tersebut.
Tubuh wanita tua renta dan bocah itu terjungkal menubruk pohon besar di depannya, lantas pingsan seketika.Kemudian, ketiga harimau itu melompat dan hendak menerkam kedua mangsanya yang sudah terkapar. Ketiga hewan buas itu pun telah siap mencabik-cabik tubuh kedua mangsanya, serta siap melahap habis tubuh keduanya.
Tapi, sekejap kemudian, nampak seekor harimau putih yang begitu besar. Dengan sorot mata yang begitu tajam menatap ketiga ekor harimau belang di seberangnya.
Melihat kedatangan seekor harimau putih. Ketiga harimau belang itu berkelebat lari ketakutan meninggalkan Hutan Setan Kembar. Sekejap harimau putih itu menghampiri tubuh Sima yang sudah tergeletak, lalu menyeretnya menggunakan gigi-gigi tajamnya, kemudian hilang sekejap tanpa meninggal bekas.
Di dalam bilik Ningrum Sari gelisah menunggu Ninik Bintari, dan juga Sima yang belum juga kembali berburu di hutan.
"Hmm, ke mana perginya Ninik Bintari dan Sima putraku? Hari sudah mulai gelap kenapa mereka belum juga pulang? Sebaiknya aku coba menyususul mereka di hutan," gumam Ningrum Sari dengan berkelebat memasuki tengah Hutan Setan Kembar.
Di malam yang sudah gelap gulita di Hutan Setan Kembar. Ningrum Sari terus berlari dengan begitu cepatnya, dan sampailah ia di tengah hutan. Samar-samar ia mendengar suara rintihan seseorang di bawah pohon besar. Dengan sigap ia coba mendekati sumber suara tersebut. Setelah dekat makin jelas ia melihat tubuh Ninik Bintari yang sudah tergeletak di sebuh pohon besar.
"Ninik, apa yang telah terjadi? Di mana Sima putraku?" tanya Ningrum Sari begitu resah.
"Entahlah, Sima berada di mana, Ningrum," balas Ninik Bintari seraya menahan rasa sakit di dadanya.
Di bopong tubuh Ninik Bintari meninggalkan tengah Hutan Setan Kembar yang sudah gelap gulita itu.
Dengan ilmu meringankan tubuh. Ningrum Sari berlari secepat mungkin, sebabnya wanita tua renta itu terluka dalam akibat benturan yang sangat keras.
__ADS_1
Sesampai di bilik Ninik Bintari, di rebahkannya tubuh wanita tua renta itu, lalu dibuatkan ramuan obat dari dedauan yang tumbuh di hutan. Dengan rasa cipta, Ningrum Sari menyalurkan tenaga dalamnya kepada Ninik Bintari agar cepat pulih.
Ningrum Sari mencoba memejamkan matanya guna memusatkan hati dan pikiran. Kedua telapak tangannya saling menyatu diletakkan di depan dada. Matanya tetap memejam rapat, memusatkan hawa inti murni ke tubuh Ninik Bintari.
"Hiyaaa...!"
Ninik Bintari mulai membuka matanya dan menceritakan apa yang telah terjadi di Hutan Setan Kembar pada Ningrum Sari.
"Ningrum, di tengah hutan ada tiga ekor harimau yang hendak memangsa kami. Ninik dan Sima terus berlari, tetapi kami terjatuh lalu Ninik tidak ingat apa-apa lagi lalu," belum habis perkataannnya. Ninik Bintari menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya.
"Lalu putraku di mana, Ninik? Apa ia masih hidup atau....?" Ningrum Sari tak dapat melanjutkan kata-katanya, kemudian menangis sejadi-jadinya.
"Ninik..., Ninik..., Ninik bangun. Ninik Bintari!" seru Ningrum Sari seraya mengguncang tubuh renta Ninik Bintari. Tetapi, orang yang diajak berbicara telah membujur kaku tak bergerak lagi.
Kenangan demi kenangan terlintas di dalam benaknya. Seketika ia terpikir mutiara yang selama ini ia damba-dambakan entah hilang ke mana. Apakah Sima masih hidup atau telah tewas, itu saja pertanyaan yang selalu bersarang di otak kepalanya. Hingga ia mengalami guncangan jiwa yang sangat hebat.
Setelah selesai penguburan Ninik Bintari. Ningrum Sari terus mencari Sima ke dalam hutan yang gelap gulita. Ia tidak perduli lagi akan binatang buas yang akan memangsanya. Hidupnya tak berarti lagi, karena harus berpisah dengan buah hatinya. Walaupun Sima tidak pernah di kandungnya. Tetapi rasa kasih sayangnya sudah mendarah daging baginya.
Dengan berjalan terseok-seok tanpa penerangan, Ningrum Sari terus menembus Hutan Setan Kembar yang gelap dan menyeramkan. Sesaat terdengar suara-suara burung-burung hantu dan burung gagak, juga beberapa geraman suara-suara binatang buas tak lagi digubrisnya.
"*Kukk ... kukk ... kuk ...!"
"Koak ... Koak...!"
__ADS_1
"Koaak*...!"
Tiada letih Ningrum Sari terus menembus hutan, sampai-sampai ia berjalan sudah jauh meninggalkan Hutan Setan Kembar. Lalu, ia menyusuri lembah dan sungai-sungai tetapi tidak juga ia temukan buah hatinya. Tanpa disadari pakaian yang ia kenakan sudah banyak yang robek, akibat terkena cabang-cabang pohon-pohon di hutan itu.
Tak terasa kakinya sudah melangkah semakin jauh, dan kemudian tibalah di Desa Pandan Wangi. Saat pagi itu di lihatnya sebuah pasar yang dikerumuni banyak sekali pengunjungnya. Nama pasar itu Pasar Legok. Ia tanyakan kepada para pedagang. Di mana anaknya berada. Namun pedagang hanya menggelengkan kepalanya saja, dan sebagian pedagang menghardiknya serta mendorong tubuhnya menjauh dari tempat jualannya.
"Pergi kau gembel! Kau membuat daganganku tidak laku saja!" sentak pedagang daging di Pasar Legok itu.
"Apakah kau melihat putraku, Kisanak...?" tanya Ningrum Sari dengan suara yang parau.
"Pergi kau wanita gila, atau kugorok lehermu!" hardik pedagang daging sambil mendorong tubuh Ningrum Sari hingga ia terjerembab di genangan air.
"Ke mana kau putraku," gumam Ningrum Sari yang terlihat sudah tidak waras.
Dengan pakaian yang sudah compang-camping dan kotor kakinya terus melangkah meninggalkan Pasar Legok. Dengan berjalan terseok-seok Ningrum Sari terus tanpa merasa letih berjalan mencari putranya.
Waktu pun bergulir begitu cepatnya. Matahari sudah naik tinggi di ubun-ubun kepala, tetapi Ningrum Sari tidak perduli. Semakin jauh kakinya melangkah.
Sekali-kali, wanita yang sebenarnya berpasar cantik, hanya sedikit kotor dan robek saja pakaianya. terus meracau seorang diri. Ia tertawa terkekeh-kekeh layaknya orang yang sudah tidak waras. Namun, tiba-tiba tubuhnya terasa lelah, lalu ia tersandar dibawah pohon besar yang rimbun daun-daunnya.
Tubuhnya yang kotor dan basah kini tak di perdulikanya lagi. Kakinya pun sudah tidak sanggup untuk ia ajak berjalan kembali. Kemudian, akhirnya Ningrum Sari tertidur pulas di bawah pohon besar itu.
Senja itu di Desa Pandan Wangi. Di kedai makan terlihat empat orang laki-laki berbadan kekar berwajah garang, merkeka mengenakan pakaian serba hitam sedang menyantap daging ayam di tangan kanannya, dan arak di tangan kirinya.
__ADS_1
Gelak tawa mereka menambah ramai suasana di kedai itu. Tetapi, tampak di kejauhan wanita berpakaian kotor tengah berjalan terseok-seok berusaha mendekati kedai. Wanita itu tak lain, Ningrum Sari yang kejiwaan sudah mulai terganggu.