
"Ternyata pemuda tak waras itu seorang pendekar. Tapi, Pendekar Sinting, dari mana ia datang?" gumam pemilik kedai dengan nada kagum setelah menyadari siapa sesungguhnya pemuda sinting itu yang telah mampu mengalahkan keempat tangan kanan Waragang.
"Ck, ck, ck...!" decak kawannya.
Sejak itulah, orang-orang membicarakan pemuda yang terlihat seperti orang yang tidak waras itu. Tidak hanya rakyat biasa, tapi tokoh-tokoh rimba persilatan pun mulai membicarakan kehadiran seorang pemuda yang berulah gila-gilaan. Tetapi ilmu silatnya sangat sakti. Dan setiap Sima muncul mereka menyebutnya dengan sebutan 'Pendekar Sinting'.
"Melati sebaiknya sebelum kau dan kakang kembali ke Pesisir Utara, hendaknya kita selidiki dahulu siapa laki-laki yang disebut-sebut bernama Waragang di kedai tadi. Aku menduga mereka telah lama meresahkan penduduk di sini!"
"Aku setuju Kakang! Kita tumpas saja mereka sampai ke akar-akarnya!"sahut Dewi Melati begitu menggebu-gebu.
"Kita berpencar Melati! Agar kedatangan kita tidak diketahui kelompok mereka!"
"Baik Kakang, kau harus berhati-hati!" ujar Melati kepada Sima.
"Hm, jaga dirimu baik-baik Melati. Kita akan bertemu di tempat kelompok mereka!"
"Heyaaa...!'
Seketika muda-mudi yang memang mewarisi darah seorang pendekar ditubuh dari keduanya itu melesat meninggal tempat itu.
Malam telah menyelimuti bumi dengan kegelapannya yang terasa mencekam. Angin malam yang dingin berhembus perlahan, meniup debu dan menggesek dedaunan. Desa Marga Jaya tempat Perguruan Teratai Suci yang dipimpin oleh Nyai Sukmawati berada, tampak sepi. Tak terlihat seorang pun yang lalu lalang di sana.
Dari arah utara, saat itu muncul sesosok bayangan hitam berkelebat di perbatasan Desa Marga Jaya. Diikuti oleh kemunculan beberapa sosok tubuh yang terbungkus pakaian hitam. Wajah mereka tertutup oleh kain hitam. Hanya mata mereka saja yang terlihat. Sosok berpakaian serba hitam memakai cadar hitam itu melesat menuju Perguruan Teratai Suci. Kemudian dengan berdiri di depan perguruan, salah seorang sosok berpakaian hitam itu berseru. lantang.
"Nyai Sukmawati, keluarlah!" Murid-murid Perguruan Teratai Suci tersentak. mendengar seruan itu. Bergegas mereka bangun. Dan langsung terkejut, ketika beberapa bayangan hitam tiba-tiba berkelebat menyerang.
"Perguruan diserang musuh...!" teriak salah seorang murid perguruan, yang membuat semua orang Perguruan Teratai Suci terjaga dari tidurnya. Begitu juga dengan Nyai Sukmawati. Ketua pemimpin itu usianya sekitar tiga puluh lima tahun, dengan wajah menggambarkan ketenangan.
"Kurang ajar! Siapa yang telah lancang membuat keonaran!" bentak Nyai Sukmawati marah. Matanya menyapu ke sekelilingnya, di mana orang-orang bertopeng hitam telah mengepung perguruannya.
"Aku!" Tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan biru muda.
Dilihat dari tubuhnya yang ramping, jelas bayangan hitam itu seorang wanita muda. Sayang wajahnya yang tertutup cadar hitam dan tidak begitu jelas, membuat Nyai Sukmawati tak dapat mengenali wajahnya.
"Siapa kau"!" bentak Nyai Sukmawati.
"Aku pendekar beraliran putih! jawab gadis itu, membuat mata Nyai Sukmawati membelalak.
"Bedebah! Aku tak percaya! Aliran Golongan Putih. Mereka tidak pernah membuat keonaran sepertimu!" dengus Nyai Sukmawati gusar.
"Ha ha ha...! Terserah kau saja, Nyai Sukmawati. Yang pasti aku datang untuk mencabut nyawamu! Bersiaplah.
"Yeaaa...!"
__ADS_1
Melihat lawan telah menyerang, Nyai Sukmawati tak mau tinggal diam. Dia pun segera melompat untuk menghadapi serangan, sedangkan tangannya bergerak membentuk sebuah kebutan dan cakaran yang keras.
"Yeaaa...!"
Tangan Nyai Sukmawati mencengkeram ke arah lawan. Namun dengan cepat wanita bercaping daun pandan yang mengaku tokoh beraliran Golongan Putih tubuhnya digeser ke samping, lalu dengan cepat balik menyerang dengan tendangan. Nyai Sukmawati menarik cengkeramannya. Dengan berputar, dia membalas serangan lawan. Dengan bergerak menendang, diteruskan dengan pukulan tangan kanan ke dada lawan.
Suasana Perguruan Teratai Suci yang semula tenang dan sepi, menjadi riuh. Pertarungan antara para penyerang yang memakai topeng hitam melawan murid-murid Nyai Sukmawati berjalan dengan seru.
Jeritan kematian memecah kesunyian malam, diiringi cipratan darah. Nyai Sukmawati terus menggebrak dengan serangan-serangan keras dikeluarkannya susul-menyusul. Melihat serangan lawan yang telah menggunakan jurus-jurus mematikan, lawannya yang tak lain Murti murid Setan Merah tidak mau tinggal diam. Segera pedangnya dicabut dari sarungnya.
Sriiiingg...!!!
"Heyaaat..!" Dengan pedang di tangan, Murti balas menyerang. Pedangnya bergerak membabat dan menusuk ke tubuh lawan dengan ganas, diikuti oleh pukulan dan tendangannya yang juga berbahaya. Dengan jurus andalannya, Murti berusaha mendesak lawan. Pedangnya menderu-deru, menebas dan menusuk ke tubuh lawan.
"Hiyaaat...!"
Nyai Sukmawati terkesiap. Matanya membelalak menyaksikan serangan lawan yang sangat cepat. Sepertinya lawan tidak ingin memberi kesempatan sedikitpun, bahkan sekadar untuk menarik napas. Pedang di tangan lawan tidak ubahnya malaikat maut yang terus mencari mangsa.
"Celaka!" pekik Nyai Sukmawati dengan mata semakin membesar tegang, mendapati
serangan lawan yang susul-menyusul tiada putusnya. Nyai Sukmawati berusaha mengelakkan serangan lawan yang gencar. Namun pedang di tangan lawan bagai memiliki mata saja.
Wut, wut..!!!
Crass...!!!
"Aaakh...!" Nyai Sukmawati memekik keras, ketika dadanya tersayat pedang lawan. Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang dengan mata membelalak.
"Hiyaaat..!"
Murti tak puas sampai di situ, meski lawan dalam keadaan sekarat. Pedang di tangannya memburu ke arah Nyai Sukmawati, siap merenggut nyawa wanita pemimpin perguruan itu. Namun pada saat yang kritis itu, tiba-tiba sebuah bayangan merah berkelebat menangkis kelebatan pedang Murti.
Trang…!!!
"Ukh!" Murti mengeluh. Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang dengan mata membelalak, memandang sosok wanita berpakaian serba merah. Pedang di tangan gadis itu bersinar merah kekuning-kuningan.
"Rupanya kau membunuh lawanmu mengatasnamakan aliran Golongan Putih!" dengus Melati begitu murka.
"Ya!" sahut Murti sinis, dengan sikap menantang.
"Bedebah! Rupanya kau sengaja melakukannya!Katakan, siapa yang mendalangimu"!" bentak Dewi Melati."
"Itu urusanku!" sahut Murti, tak kalah sengit.
__ADS_1
"Kurang ajar! Rupanya kau mencari ******! Bersiaplah!"
"Hiyaaat...!
Dua gadis cantik pandai pedang itu saling berhadap-hadapan. Satu memegang pedang bersinar merah kekuning-kuningan. Yang lain memegang pedang bersinar merah keperakan. Mata mereka yang indah, saling menatap tajam. Dua ilmu pedang sakti akan saling bertarung untuk menentukan siapa di antara mereka yang paling hebat. Satu Pedang Walet Merah, sedangkan yang satunya Pedang Maut.
"Heyaaa...!"
"Yiaaat..!"Dewi Melati membuka jurus pertama dengan jurus 'Walet Membelah Awan' Pedang di tangannya bergerak cepat, dari bawah ke atas. Seakan pedang itu berusaha membelah langit. Sementara itu, Murt itidak mau tinggal diam. Segera digunakannya jurus pembuka yang tidak kalah hebat. Jurus 'Pedang Siluman Murka' dilancarkannya. Pedangnya bergulung cepat membuat sinar merah laksana kabut yang menutupi tubuhnya.
"Hiyaaat..!"
"Yeaaah...!" Trang! Denting dua pedang beradu terdengar. Tubuh keduanya melompat ke belakang, kemudian dengan sigap kembali menyerang. Pedang di tangan mereka bergerak ke sana kemari, memburu tubuh lawan. Pertarungan seru dua gadis yang memiliki ilmu pedang tingkat tinggi itu terus berlangsung, membuat semua murid Perguruan Teratai Suci dan anak gerombolan Murti seketika menghentikan pertarungan.
Para murid Teratai Suci dan beberapa orang bertopeng hitam terpaku, menyaksikan pertarungan hebat antara dua gadis cantik bersenjata pedang. Dewi Melati kembali membuka jurus. Kali ini dengan jurus, pedangnya bergerak mendatar, kemudian diangkat tinggi-tinggi, lalu diteruskan dengan sabetan ke arah bawah. Sekeliling tempat itu seketika menjadi terang oleh sinar merah kekuning-kuningan yang keluar dari Walet Merah di tangan Dewi Melati.
"Yeaaa...!"
"Hiyaaat..!" Keduanya kembali berkelebat, bergerak menyerang dengan babatan dan tusukan pedang.
Gerakan mereka sangat cepat, rasanya sulit untuk diikuti mata yang tampak hanya sinar merah kekuning-kuningan yang berbaur dengan sinar merah keperakan.
***Trang, Trang....!!!
Wuuuuttt***...!!!
"Hiyaaat..!" Beberapa kali pedang di tangan mereka saling beradu. Tubuh keduanya sesaat melompat ke belakang. Mata keduanya saling pandang dengan tajam. Kemudian didahului suara menggelegar, keduanya kembali menyerang dengan sabetan pedang.
"Yeaaah...!"
"Hiyaaat...!" Dewi Melati kali ini telah mengeluarkan jurus pedang pamungkas yang sangat dahsyat. Murti tersentak menyaksikan jurus yang aneh. Agak tegang juga dia menyaksikan jurus yang tengah diperagakan Dewi Melati. Nyalinya seketika menciut, jika ingat akan korban jurus yang tengah diperagakan lawannya yang berpakaian serba merah itu.
"Apakah kau disebut-sebut Walet Merah!" seru Murti.
"Hm.... Ada apa! Apakah kau akan menyerahkan diri dan mau bertanggung jawab atas semuanya?" tanya Melati.
"Ya. Hentikan jurus pedang itu. Aku mengaku kalah."
"Baik. Ikut aku!" Dengan gerak cepat, Dewi Melati berkelebat menotok jalan darah Murti. Gadis itu seketika kaku bagai patung.
"Kalian orang-orang Golongan Aliran Hitam. Hentikan! Kalau tidak, aku tak akan segan-segan menghabisi nyawa kalian!" seru Melati. Semua anggota Golongan Aliran Hitam menghentikan pertarungan.
"Pergi kalian! Katakan pada pimpinan kalian, aku akan ke sana!" seru Dewi Melati lantang. Semua anggota Waragang tak ada yang membantah, mereka lari terbirit-birit. Dewi Melati pun segera melesat pergi, membawa tubuh Murti.
__ADS_1