
Seorang laki-laki berjubah hitam dengan rambut merah terurai, serta berbadankurus tampak berlari membelah hutan belantara. LelaBayangan Iblis tua yang tak lain Waragang itu, sesekali menengok ke belakang. Khawatir kalau Pendekar Sinting mengejarnya. Bukan dia gentar menghadapi Pendekar Gila yang tersohor itu, namun keadaan terlalu mendesak. Dia belum siap untuk
menghadapinya.
"Huh, kalau saja aku telah merampungkan ajian
'Pelebur Sukma', kuhadapi kau, Pendekar Sinting!" geram Waragang bersungut-sungut sambil terus berlari.
Napasnya yang tersengal-sengal tak dihiraukannya.
Dia tidak ingin dapat dikejar oleh Pendekar Sinting.
Waragang akhirnya sampai juga ke tempat
yang dituju, di Lembah Neraka. Sesaat matanya menyapu ke sekelilingnya, takut kalau ada yang memergokinya. Setelah merasa tak ada siapa-siapa, tubuh Waragang mencelat, menerobos masuk ke dalam lembah.
"Waragang, kau datang! Ada apa...?" tanya seorang laki-laki tua yang berusia tujuh puluh tahun yang bangkit dari tempat duduknya. Kemudian melangkah menghampiri muridnya yang terengah-engah dengan kening berkerut.
"Celaka, guru. Celaka...!"
"Ada apa?" tanya laki-laki yang beegekabelum mengerti.
"Apanya yang celaka?"
"Perguruanku diobrak-abrik Pendekar Sinting," tutur Waragang. Setan Merah tersentak mendengar ucapan Muridnya.
"Mengapa tidak kau hadapi? Mengapa kau lari!"
tanya Setan Merah jengkel.
"Hanya menghadapi orang tak waras itu saja kau
lari!"
"Tapi, Guru! Dia bukan sembarangan orang yang tak waras. Namanya saja tengah membubung tinggi. Apalagi dengan segala ajian yang ia miliki. Dengan mudah lawannya menjemput kematian," terang Waragang beralasan.
"Huh, pengecut! Percuma kau bertandang gelar Siluman dari Lembah Kematian!" dengus Setan Merah.
"Lalu, bagaimana dengan muridku?" Waragang terdiam. Dia tidak tahu bagaimana nasib Murti. Juga dengan Gandon, muridnya. Entah keduanya mati atau hidup.
"Kenapa diam, ******!" desak Setan Merah dengan mata melotot.
"Entahlah, Guru. Mungkin keduanya tewas di tangan Pendekar Sinting."
"Kau yakin itu?" tanya Setan Merah dengan wajah masih menunjukkan ketidaksenangan. Napasnya turun-naik, dihela rasa marah. Tangannya mengepal,
lantas memukul-mukul telapak tangan sendiri.
"Kurang ajar! Kalau benar muridku sampai tewas, tak akan kuampuni pemuda tak waras itu!" Ketika keduanya tengah bercakap-cakap, tiba-tiba mereka tersentak oleh suara tawa yang menggelegar. Suara tawa itu seakan-akan mampu meruntuhkan dinding-dinding goa.
"Ha ha ha...! Rupanya dua tikus tua bersembunyi di dalam lembah. Takut sama kucing? Ha ha ha...!"
"Pendekar Sinting!" desis Waragang dengan mata membelalak.
"Dari mana dia tahu kita berada di sini, Waragang!" tanya Setan Merah.
__ADS_1
"Mana aku tidak tahu guru. Mungkin Murti masih saja hidup!"
"Kurang ajar! Rupanya pemuda dungu itu mencari ******!"
"Ha ha ha...! Kenapa bersembunyii, Tikus Tua!
Keluarlah!" seru Sima sambil tertawa tergelak-gelak.
Kemarahan Setan Merah memuncak mendengar
kata-kata Pendekar Sinting. Tanpa memperhitungkan lagi, tubuhnya segera mencelat ke
luar, diikuti Waragang.
Setan Merah dan Waragang terperanjat ketika melihat Nyai Sukmawati bersama Pendekar Sinting dan gadis berpakaian serba merah. Dari mulut keduanya terdengar ucapan, menyebut nama wanita itu.
"Sukmawati ...!"
Nyai Sukmawati tersenyum. Pembawaannya nampak tenang, seperti berusaha menunjukkan jiwa
kependekarannya, sebagai pemimpin ketua peeguruan aliran putih yang arif dan bijaksana.
"Waragang, dan kau Setan Merah, kuharap menyerahlah!" pinta Nyai Sukmawati dengan tenang. Matanya tajam, memandang dua tokoh aliran Golongan Hitam itu.
"Heh, kurang ajar! Lancang sekali mulutmu, Sukmawati! Tidakkah kau tahu berhadapan dengan siapa!" bentak Waragang. Nyai Sukmawati hanya tersenyum mendengar ucapan Waragang.
"Waragang dan kau orang tua. Kuharap kalian menyerah," tambah Sima.
"Cuih! Lancang mulut kalian! Jangan sombong karena namamu membubung sampai langit,
"Ha ha ha...!" Sima tertawa-tawa tangannya menggaruk-garuk kepala sambil cengar-cengir.
"Aku aku tidak menyuruhmu takut, Waragang. Tapi aku hanya menyuruh kau dan Setan Merah sadar.
Usia kalian sudah lapuk. Ha ha ha ha."
"Anak Setan! Tutup mulutmu!" bentak Setan Merah. "Kalau tidak, kuremukkan batok kepalamu!"
"Galak sekali kau, Ki? Ah, sungguh malang kepalaku," seloroh Sima sambil mengelus kepalanya. Sementara Dewi Melati hanya menautkan alis menyaksikan tingkah konyol saudaranya itu.
"Bedebah! Kurobek mulut, Pendekar Sinting!"
"Heyaatt...!" Dengan penuh amarah, Setan Merah yang ingin menjajal kehebatan ilmu Pendekar
Sinting melesat menyerang. Tangan Setan Merah bergerak mencakar, sedang tangan kanannya memukul ke dada lawan dengan jurus 'Pukulan Lembah Neraka'.
Melihat Setan Merah menyerang Pendekar Sinting, Waragang tidak tinggal diam ia segera menyerang Nyai Sukmawati dan Dewi Melati dengan jurus 'Cakar Siluman Maut'
"Hiyaaat..!"
Menyaksikan lawan menyerang, tubuh Nyai Sukmawati dan Dewi Melati segera melompat ke samping untuk mengelakkan serangan tangan
Waragang. Kemudian dengan cepat keduanya balas menyerang. Nyai Sukmawati dengan jurus 'Teratai Beracun', sedangkan Dewi Melati dengan jurus
'Walet Merah Menari'. Tangan Dewi Melati bergerak lincah laksana seorang putri yang menari-nari, bergerak dengan irama yang teratur dan indah. Namun jurus itu sesungguhnya bukan
__ADS_1
jurus sembarangan. Jurus itu sangat berbahaya jika diimbangj oleh Pedang Walet Merah yang tersampir di punggungnya.
"Heyaaat..!"
Dewi Melati dan Nyai Sukmawati menyerang bersamaan dengan jurus-jurus andalan dari
kanan tubuh Waragang. Hal itu membuat Waragang sedikit kerepotan. Lawan yang menyerangnya ternyata bukan orang sembarangan. Dia sebenarnya tahu akan hal itu. tapi keadaannya sudah terjepit. Sulit baginya untuk dapat meninggalkan pertarungan kali ini.
Tangan Dewi Melati bergerak menyambar ke kepala Waragang dengan cepat. Segera Waragang merundukkan kepalanya. Namun belum juga dia bisa menghela napas lega, Nyai Sukmawati telah menyerang ke wajah dan dadanya.
"Hiyaaat..!"
"Uts...!"
Waragang berusaha berkelit, tetapi Dewi Melati dengan cepat melakukan serangan susulan dengan kaBayangan Iblis menendang ke tulang rusuk lawan.
Waragang harus bergerak cepat menghadapi dua lawan yang berilmu tinggi. Untung saja DewiMelati tidak menggunakan pedangnya. Kalau saja ia menggunakan pedang, tentu Waragang akan mati kutu.
Waragang menarik kakinya melebar ke samping, kemudian dengan cepat bergerak menyerang dengan kedua telapak tangan ke arah kanan dada Dewi Melati.
"Yiaaat..!"
Dewi Melati tersentak. Cepat kakinya ditarik mundur dua langkah ke belakang. Kemudian tubuhnya diputar setengah lingkaran untuk mengelakkan serangan lawan. Tangan kanannya
dihantamkan ke tangan lawan yang mengancam.
Melihat Dewi Melati dalam kesulitan, Nyai Sukmawati m tak mau tinggal diam. Dia
berkelebat ke arah Waragang. Melihat itu, Waragang jadi mengurungkan niatnya untuk menyerang Dewi Melati. Kemudian ia berbalik menyerang Nyai Sukmawati.
"Yeaaa...!"
Tangan Waragang menghentak ke wajah lawan, mengejutkan Nyai Sukmawati. Dia berusaha menarik serangannya. Tapi karena gerakan Waragang begitu tiba-tiba, membuat langkahnya mati seketika. Terpaksa Nyai Sukmawati memapak serangan lawan.
"Yeaaa...!"
Blarrr...!!!
Dua telapak tangan beradu. Nyai Sukmawati terpental beberapa tombak ke belakang.
Sedangkan Waragang tersurut tiga langkah ke belakang. Namun Waragang cepat bangkit, ia kembali melabrak Nyai Sukmawati. Tampaknya Waragang bermaksud membunuh wanita ketua dari Perguruan Teratai Suci itu secepatnya.
"Mampuslah kau, Sukmawati!"
"Hiyaaat..!"
Nyai Sukmawati yang belum bisa berbuat apa-apa, hanya mampu membelalakkan mata. Sulit baginya untuk mengelakkan serangan lawan. Melihat hal itu, dengan cepat Dewi Melati mencabut Pedang Walet Merah. Dengan teriakan menggelegar, tubuhnya berkelebat memapakan serangan Waragang yang meluncur ke arah Nyai Sukmawati. Dengan jurus 'Walet Merah Membelah Samudera', Dewi Melati membabatkan pedangnya ke tangan lawan.
"Hiyaaa...!"
Wuutt...!!!
Waragang tersentak kaget, melihat pedang bersinar merah kekuning-kuningan menebas tangannya. Dia segera menarik kedua tangannya. Lalu dengan berjumpalitan, dia berusaha mengelakkan serangan lawan. Dewi Melati yang masih dendam pada orang-orang rimba persilatan aliran hitam tak berhenti sampai di situ. Dengan jurus Walet Merah Membelah Samudera ia kembali memburu Waragang.
Wuutt...!!!
__ADS_1
"Uts! Celaka...!" pekik Waragang semakin terdesak oleh babatan Pedang Walet Merah di tangan Dewi Melati. Wajahnya agak pucat, menyaksikan jurus pedang yang dilancarkan gadis cantik jelita itu, bukan jurus sembarangan. Jurus 'Pedang Walet Merah' yang dikuasai Dewi Melati, merupakan jurus pedang sakti yang sulit untuk dielakkan. Waragang terus berusaha mengelak, dengan sesekali melancarkan serangan balasan.