Pendekar Sinting

Pendekar Sinting
Terkepungnya Arya Kelantara dan Dewi Arum


__ADS_3

"Uts...!" Nyai Kantil masih mampu mengelakkan serangan lawannya. Kemudian, balas menyerang kembali dengan tusukan dan babatan pedangnya.


*Jurus Pedang Mata Setan*


"Heyaaat...!"


Wut ... wut ... wut...!!!


Mungkin kalau hanya jurus pedang biasa tidak akan membuat lawannya kewalahan dengan cepat. Tapi, pedang di tangan wanita itu mengandung racun ganas. Bahkan mampu melemahkan dan menguras tenaga lawan. Itu yang dialami Ki Wicaksana. Lelaki tua itu merasa tenaganya terkuras habis, padahal baru beberapa puluh jurus. Biasanya, Ki Wicaksana mampu bertarung sampai ratusan jurus. Namun kali ini tenaganya cepat berkurang. Dadanya pun terasa sesak.


"Heyaaat...!"


Wut ... wut ... wut...!!!


Melihat lawannya dalam keadaan terdesak Ki Halayuda dan Ki Madaharsa membantu memberi pukulan dan tendangan ke arah dada Ki Wicaksana secara bersamaan. Membuat tubuh Ki Wicaksana terhuyung-huyung dan ambruk ke tanah, kemudian Nyai Kantill mendekat dan menusuk-nusukan pedangnya berkali-kali ke tubuh ketua Perguruan Singo Putih itu.


Sleb ... sleb ... sleb...!!!


"Aaakh...!"


Saat itulah Ki Wicaksana meregangkan nyawa dengan tubuh bersimbah darah. Lalu, ketiga tokoh aliran hitam berkelebat meninggalkan tempat itu.


Sementara di perguruan Singo Putih masih tersisa beberapa murid yang masih hidup. Bagi Perguran Aliran Golongan Hitam menghabisi siapapun yang mencoba menentang kelompok mereka.


"Kita harus balaskan dendam ketua guru. Cepat menyebar dan kabarkan kepada para ketua Perguruan Aliran Golongan Putih lainnya!" seru salah seorang murid perguruan Singo Putih yang masih hidup.


Pagi lahir kembali, dikawal angin yang berhembus dingin. Langit terlihat mendung, di kawal awan kelabu yang menutupi pasar itu. Pasar Kerinci yang merupakan pasar terbesar di wilayah Desa Waringin pagi itu tampak banyak sekali pengunjungnya. Berbaris kuda-kuda jantan yang di jual di pasar itu.


Di kejauhan tampak sepasang pendekar yang sedang berjalan beriringan penuh kemesraan penuh kebahagian. Jika insan lainnya melihat mereka, akan menaruh rasa kecemburuan lebih dari kedua pasangan muda tampan dan juga cantik itu.


"Aku lebih dahulu sampai di tempat ini, Kakang. Kau harus memberi hadiah untukku," tutur Dewi Arum kepada suaminya.


"Ha ha ha ... baiklah, Arum. Kau mau hadiah apa dariku?" tanya Arya Kelantara pada istrinya.


"Hmm, aku minta digendong saja sampai pasar kuda itu, Kakang Arya," balas Dewi Arum dengan senyum yang manis.

__ADS_1


"Hanya itu saja? Hmm, baiklah," ujar Arya dengan senyuman.


Dikerumunan para pengunjung Pasar Kerinci ternyata banyak sekali murid-murid Perguruan Aliran Golongan Hitam. Rupanya mereka tengah sibuk mengamati sepasang pendekar di depannya.


"Kau beri tahu para ketua perguruan, Pendekar Tapak Maut berada di Pasar Kerinci. Sementara aku dan beberapa murid lainnnya menghadang di tempat ini. Cepat pergilah!" seru Balewa salah seorang murid Perguruan Aliran Golongan Hitam.


Bergegaslah kedua murid Perguruan Aliran Golongan Hitam yang masing-masing mengenakan ikat kepala berwarna merah, kemudian memacu kudanya dengan kencang menuju Perguruan Cakar Setan yang di ketuai Ki Gentala.


"Hiya ... hiya ...!"


"Hieeekh...! Kedua murid Perguruan Aliran Golongan Hitam itu menggebah kudanya agar berlari lebih kencang lagi. Keduanya nampak memburu waktu agar segera sampai di tempat tujuan.


Di Pasar Kerinci terdengar seruan keras dari salah seorang murid dari Perguruan Aliran Golongan hitam di pasar itu.


"Hei, pendekar keparat! Tamatlah riwayatmu sekarang. Apakah kau masih ingat, kau telah membunuh guru-guru kami, Ki Branjang? Ki Mahawirya dan juga Nyai Wagiswari. Jika kau tidak ingat. Kami akan mengingatkannya dengan pedang ini!" seru salah seorang murid Perguruan Aliran Golongan Hitam. Kemudian memberi sebuah isyarat pada kawannya yang lain.


"Serang...!"


"Hiyaaat...!"


Dewi Arum segera melompat, tubuhnya melenting ringan dengan kaki melayang menghantam wajah para murid dan pengikut Perguruan Aliran Golongan Hitam. Sementara Arya Kelantara tidak kalah gesit tubuhnya berbalik. melepaskan jotosan kepada sebagian murid dan pengikut Perguruan Aliran Golongan Hitam lainnya.


"Yeaaaa...!" Sekejap kemudian ditarik Pedang Samber Nyawa dari sarungnya, lalu di babatakan ke kepala lawannya dengan cara cepat. Hingga tidak dapat diikuti sepasang mata sama sekali.


***Crassss !!!


Crassss*** !!!


Crassss!!!


Delapan kepala jatuh bergelindingan di tanah, berpisah dengan badannya masing-masing. Ketika itu membuat mata tiga orang murid dari Perguruan Aliran Golongan Hitam terbelalak dan nampak begitu ketakutan.


Sekejap lain, telah berdatangan para ketua dari Perguruan Aliran Golongan Hitam, mereka turun dari kuda-kudanya secara bergerombolan. Rupanya telah tiba Ki Gentala, Ki Halayuda, Ki Madaharsa, Nyai Kantil, Ki Loreng, Ki Palawa dan juga Nyai Gandawati. Melihat murid dan para pengikut mereka tewas mengenaskan. Ketua-ketua Perguruan Aliran Golongan Hitam semakin geram pada sepasang pendekar yang mengamuk dengan membabi-buta.


"Bedebah! Sekarang kalian tidak akan bisa lolos. Tamatlah riwayat kalian!" sentak Ki Gentala yang sangat bernafsu sekali memiliki Pedang Samber Nyawa itu dari tangan Arya Kelantara.

__ADS_1


"Hiyaaat...!" Arya Kelantara cepat melenting ke belakang, Dan pada satu kesempatan pedangnya dikebutkannya begitu cepat, kemudian mengenai dahi Ki Gentala.


Sreeeeeeet...!!!


Belum lagi hilang rasa keterkejutannya, Pedang Samber Nyawa terus menerjang ke arah lehernya. Begitu cepatnya, sehingga.


Crassss...!!!


"Aaaaa.... Tobat!"


Tubuh Ki Gentala menggelepar-gelepar sesaat begitu jatuh keras di tanah beserta tetesan darah yang membasahi bumi. Sekejap tubuhnya diam tak berkutik lagi.


"Kepung mereka. Jangan sampai lolos!" teriak Ki Madaharsa yang nampak murka.


Melihat Arya Kelantara terkepung, Dewi Arum cepat lompat, lantas mendekat di sampingnya suaminya.


"Kakang, aku akan selalu bersamamu!" seru Dewi Arum.


"Akupun akan selalu bersamamu, Arum. Kau adalah bagian dari jiwaku!" desis Arya pada istrinya.


"Hiyaaa...!"


Di dalam pertarungan Arya Kelantara dan juga Dewi Arum terdesak, lagi-lagi jumlah mereka selalu lebih banyak ketimbang yang menjadi lawannya. Di kejauhan tiba-tiba saja berdatangan gerombolan Perguruan Aliran Golongan Putih dari arah timur, mereka Ki Kuranta, Nyai Purbani, Resi Barata dan juga Nyai Cakrawati.


"Kami akan turut membantu, Tuan pendekar. Dan akan menuntut balas atas kematian, Ki Wicaksana...!" seru Ki Kuranta lantang.


"Kami juga!" sahut Nyai Cakrawati yang kemudian diikuti Resi Barata dan juga Nyai Gandawati.


"Terima kasih atas kedatangan para guru sekalian," ujar Dewi Arum seraya menjura hormat.


Melihat Ki Gentala tewas ditangan Arya Kelantara dengan Pedang Samber Nyawa yang ia miliki, Nyai Kantil menyerang Arya Kelantara seperti orang kesetanan. Dilancarkan senjata beracunnya berupa anak-anak panah kecil yang sangat beracun ke arah Arya Kelantara.


Swiiiiing ... swiiing ... Swiing...!!!


Dengan cepat Dewi Arum melesat ke udara, kemudian menghadang panah-panah kecil yang berterbangan itu, lantas merontokkan serangan Nyai Kantil dengan tangkisan pedangnya.

__ADS_1


__ADS_2