
**Aji Serat Lawang Saketeng**
"Yeaaakh...!"
Jedeeerrrrrrr...!!!
Dari tapak tangannya keluar larikan-larikan sinar laksana memotong pusaran angin itu
Wuusssss .... wuusssss...!!!
Pusaran angin itu semakin lama semakin pelan. Sampai akhirnya hilang sama sekali. Tubuh Pendekar Sinting terpelanting, lalu jatuh terduduk.
"Hilang...!" seru Sima dengan mata membelalak, menyaksikan pusaran angin itu hilang dengan sendirinya, seakan raib begitu saja.
Bahkan angin lembah yang semula kencang, kini turut menghilang. Sima masih belum mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi di lembah itu. Juga dengan hilangnya angin yang membentuk pusaran, serta angin lembah yang tiba-tiba mereda. Tapi, suara tertawa sosok menyeramkan itu didengarnya lagi.
"Huaahahaha...!"
Sima seketika tersentak. Matanya menyapu kesekelilingnya yang sepi dan mencekam untuk mencari asal suara tawa yang didengarnya.
"Hmm ... tentunya sosok mahluk ini, sakti sekali," gumam Sima. Dongkol juga ia menghadapi semuanya.
Lalu tubuhnya tak bergeming, menunggu setiap kemungkinan yang bakal terjadi.
"Huaahahha...!'
"Keluarlah! Apa pun wujudmu, aku tak akan lari!" sentak Sima, yang semakin dibuat jengkel oleh suara itu.
Wuuusssshh...!!!
Kembali terdengar suara angin bertiup keras, mengejutkan Pendekar Sinting. Seketika tubuhnya berbalik, lalu memandang arah datangnya suara itu. Mata pemuda sinting itu membelalak. Mulutnya ternganga tanpa sadar, ketika menyaksikan sosok besar yang berada tiga tombak di hadapannya. Sosok menyeramkan yang tingginya melebihi bukit, dengan tubuh sebatas perut ke bawah diliputi oleh asap tebal berwarna gelap.
"Oh ... makhluk apa itu?" seru Dewi Melati yang masih bersembunyi dengan mata masih membelalak dan mulut ternganga.
Mahluk itu berkepala setengah manusia, setengah hewan, namun telinganya panjang dengan ujung meruncing. Di kepalanya, terdapat tanduk yang berkilat tajam dan runcing. Mata mahluk itu besar, berwarna merah membara laksana api. Lidahnya juga merah, menjulur panjang. Dengus nafasnya terdengar keras. Tubuhnya dipenuhi bulu hitam kemerah-merahan. Kuku-kukunya panjang dan runcing.
"Huaahahaha...!"
Mahluk menyeramkan itu mengeluarkan suara tawanya yang memekakkan telinga. Kaki Sima melangkah mundur dengan mata masih memandangi mahluk menyeramkan yang kelihatannya siap melakukan serangan terhadapnya.
"Hmm ... apa lagi yang akan terjadi," gumam Sima sambil terus melangkah mundur.
__ADS_1
Dia telah waspada penuh untuk mengelak, sekaligus membalas serangan yang akan dilakukan makhluk menyeramkan itu. Mahluk tinggi besar menyeramkan itu kini menyerang ke arah Pendekar Sinting. Sepasang tangannya yang besar berkuku panjang dan runcing, menyambar cepat. Sedang dari mulutnya tersembur api yang besar, siap membakar tubuh pemuda sinting itu.
Wussssssss...!!!
"Utss...!" Sima segera melenting ke samping dengan jumpalitan beberapa kali untuk mengelakkan sambaran tangan mahluk mengerikan itu.
Kemudian, dengan cepat pula, tubuh Sima melesat ke arah mahluk aneh itu. Pukulan tenaga dalamnya dikerahkan untuk menghantam tubuh makhluk itu.
"Hiyaaaa...!"
Mahluk menyeramkan itu tidak mengelak, seakan membiarkan pukulan tenaga dalam Sima menghantam tubuhnya.
Dessssssshh....!!!
Mata Pendekar Sinting membelalak dengan mulut menganga mendapatkan kenyataan yang sulit dipercaya. Pukulan saktinya bagai menghantam angin. Saat itu pula tangan mahluk menyeramkan itu menyambar ke arah tubuhnya.
Wuuuuut...!!!
"Uuuh...!"
Beruntung Sima masih memiliki kewaspadaan tajam, sehingga mampu berkelit dari sambaran tangan makhluk itu. Tubuhnya melenting ke belakang, lompat di udara beberapa kali, sebelum kakinya mendarat di tanah dengan ringan. Matanya memandang tajam pada mahluk mengerikan yang ada di hadapannya, seakan tak percaya pada apa yang telah dialami.
Wuusssshh...!!!
"Yeaaa...!"
Tubuh Sima yang sangat kecil dibandingkan mahluk menyeramkan itu, melesat cepat laksana terbang. Tangan kanannya mengepal. Sedangkan tangan kirinya diletakkan di depan dada. Lalu dengan mengerahkan tenaga dalam, Sima melontarkan pukulannya.
"Yeaakh...!"
Jlegaarrrrrr...!!!
Untuk yang kedua kalinya Pendekar Sinting tersentak kaget mendapatkan pukulannya tak berarti apa-apa. Mahluk menyeramkan itu bahkan dengan cepat membalas. Tangannya menyambar ke tubuh Sima.
Plaakkk...!!!
"Uukh...!" keluh Sima. Tubuhnya terpelanting ke belakang akibat hantaman tangan makhluk menyeramkan itu yang begitu dahsyat.
Saat itu pula rasa panas menyengat tubuhnya. Sima meringis, merasakan sakit pada tubuhnya. Segera ia bangkit sambil menggaruk-garuk kepala. Kemudian, kakinya ditarik ke samping setengah menekuk dan tangannya menghantam ke depan. Dengan 'Ajian Tapak Saketi' yang merupakan sebagai pukulan jarak jauh yang berupa tapak api yang sangat berbahaya.
Sima berharap dapat mengalahkan mahluk mengerikan itu. Tubuh pemuda sinting itu kembali melesat laksana terbang. Kemudian tangan kirinya melakukan pukulan ke kepala mahluk menyeramkan yang telah dijangkaunya.
__ADS_1
**Aji Tapak Saketi**
Jlegaarrrrrr...!!!
Di tambah dengan Ajian Serat Jiwa di tingkat X berjuluk 'Ajian Serat Netra Dahana' yang berfungsi untuk menghisap kekuatan dan kesaktian lawan hingga ke akar-akarnya.
**Aji Serat Netra Dahana**
"Yeaaakh...!"
Wuuut, wuuutttt, wuuuuuut...!!!
"Aaarghhh...!"
Mahluk mengerikan itu meraung keras, mendapat pukulan dan ajian pamungkas yang dirasakan bagaikan hantaman ribuan halilintar yang menggelegar. Namun, hasilnya sangat dahsyat. Mahluk menyeramkan itu meraung-raung kesakitan. Kemudian tubuhnya hangus meleleh mengeluarkan darah kuning kehitaman, kemudian ambruk di tanah dengan suara menggema.
Bruuukk...!!!
"Hhh...!" Sima menghela napas panjang. Matanya kembali menyapu ke sekelilingnya, dilihat adiknya Dewi Melati masih bersembunyi di balik pohon besar. Kemudian, berlari menghampirinya.
"Kau tidak apa-apa, Kakang? Mahluk apa yang kau hadapi itu kakang?" tanya Dewi Melati begitu panik.
"Entahlah Melati, mungkin bangsa iblis," balas Sima yang kehilangan banyak tenaganya.
"Sepertinya tenagamu banyak sekali terkuras kakang, peganglah lenganku. Aku akan mengerahkan ilmu meringankan tubuh agar kita cepat sampai di Gunung Dahyang." seru Dewi Melati.
"Hhh....!" Sima menghela napas. Pandangan matanya beredar ke sekeliling tempat itu. Kemudian setelah yakin tak ada apa-apa lagi. Sima dan Dewi Melati melesat meninggalkan tempat itu, dan Lembah itu kembali sepi, diselimuti kegelapan yang bisu.
Malam bergeser digantikan pagi yang cerah, langit tampak bersih tanpa mega. Angin pegunungan berhembus sejuk. Sima dan Dewi Melati sudah berada di puncak Gunung Dahyang.
"Hhh ... akhirnya kita sampai juga, Kakang Sima." ujar Dewi Melati sembari menghelakan nafasnya.
"Hi hi hi ... ha ha ha. Kau benar Melati. Akan kulempar Pedang Samber Nyawa di kawah gunung ini!" seru Sima.
"Heyaaaa...!"
Syuuuuut...!!!
Disaat Pedang Samber Nyawa di lemparkan ke dalam kawah Gunung Dahyang, dengan sekejap Pedang itu langsung raib seketika.
"Andai Rama masih hidup, mungkin pedang itu masih bersama kita, Kakang," keluh Dewi Melati adiknya.
__ADS_1
"Ha ha ha ... sudahlah Melati. Ini semua takdir yang sudah di gariskan oleh Tuhan Sang Pencipta Alam ini. Ayo kita pergi dari tempat ini," ujar Sima menarik lengan adiknya.