Pendekar Sinting

Pendekar Sinting
Eyang Arang Sedayu


__ADS_3

Tiba-tiba Ki Loreng menambahkan ciri-ciri pendekar yang membuat ciut nyali mereka berdua.


"Apakah mungkin pemilik Pedang Samber Nyawa memiliki keturunan. Ketua?" tanya Ki Loreng.


"******! Mana aku tahu sepasang pendekar yang kurebut pedangnya memiliki keturunan!" sentak Nyai Gandawati merasa geram dan menjotos rahang Ki Loreng.


"Ouh...!" pekik Ki Loreng menahan rasa sakit dirahangnya.


"Pergi kalian semua. Kumpulkan pendekar-pendekar Aliran Golongan Hitam untuk membantumu menghabisi sepasang pendekar dan wanita gila yang telah membunuh dua orang pengikutku. Cepat pergi tunggu apalagi, Keledai!" hadrik Nyai Gandawati. Yang kemudian Ki Palawa dan Ki Loreng menjura hormat lalu, pergi berlalu meninggalkan Perguruan Sanca Beracun.


"Sepasang pendekar? dan salah seorangnya memiliki Pedang Walet Merah. Siapa mereka? Dan siapa wanita gila itu...?" Nyai Gandawati kembali membatin.


"Darsana, Jaladhi. Kau pergi temui Tiga Dewi Iblis di Lembah Maut. Katakan aku memanggilnya!"


"Baik guru, kami segera berangkat!" seru kedua murid Nyai Gandawati meninggalkan Perguruan Sanca Beracun menemui Tiga Dewi Iblis di Lembah Maut.


Senja merayap di Desa Pandan Wangi. Sinar matahari telah meredup merata. Hamparan langit terlihat kian sayu. Bersama jangkrik yang mulai berderik, hari akhirnya rebah dalam singgasana malam. Nampak wanita berbaju lusuh membawa pedang yang ia lilitkan di punggungnya. Wanita itu hendak melangkah memasuki kedai. Terlihat beberapa pengunjung yang sedang menyantap makan malamnya di kedai itu.


Ningrum Sari perutnya sudah terasa keroncongan karena sehari ini tidak ia isi. Seketika ia duduk begitu saja di sudut meja yang kosong. Melihat penampilan dan tingkah Ningrum Sari empat laki-laki yang sedang makan mengerutkan keningnya. Karena melihat Ningrum Sari meracau sendiri di meja.


"Sima putraku, kamu sudah makan, Cah Bagus. Biyung mencari-carimu. Tapi kamu menghilang."


Melihat tingkah Ningrum Sari, pemilik kedai dan pelayan kedai pun mengerutkan keningnya. Pemilik kedai berpikiran, apakah wanita ini yang di cari-cari Perguruan Aliran Golongan Hitam tempo hari. Tak lama kemudian, pemilik kedai coba menghampirinya.


"Mau pesan apa, Nimas...?" tanya pemilik kedai pada Ningrum Sari.


"Siapa kau...?"


"Namaku Ki Tanu, Nimas pendekar. Aku pemilik kedai makan ini," terang pemilik kedai.


"Oh ... bawakan aku daging ayam dan nasi panas," ujar Ningrum Sari.


"Baik, Nimas." Ki Tanu pun segera menyiapkan hidangan untuk Ningrum Sari.

__ADS_1


Tak lama, Ki Tanu datang dan membawakan hidangan untuk Ningrum Sari tanpa perintah pelayan. Setelah hidangan di letakan di atas meja. Ningrum Sari langsung menyambar daging ayam dan menggerogotinya dengan lahap.


"Pelan-pelan saja, Nimas pendekar."


"Ki Tanu, kemarilah," seru Warsa yang kawanannya tiga orang sedang menyantap hidangannya.


"Ada apa Warsa?" tanya Ki Tanu.


"Siapa wanita gembel itu, Ki?"


"Huussst! Kau bicara jangan sembarangan, wanita itu sepertinya seorang pendekar yang di cari-cari Perguruan Aliran Golongan Hitam. Karena dia telah membunuh dua orang pengikut Aliran Hitam."


"Hmm ... bahaya sekali berarti wanita itu. Tetapi penampilannya terlihat kotor sekali Ki?"


"Sudah lebih baik kau diam Warsa! Dan, kawan-kawanmu jangan mengganggunya. Biarkan dia makan sepuasnya," ujar Ki Tanu pada Warsa pengunjung kedai.


"Ki ... boleh aku membawa sepotong daging ayam," ujar Ningrum Sari.


"Baik Nimas pendekar. Nanti kuberikan. Tapi aku ingin bertanya terlebih dahulu." ujar Ki Tanu.


"Hm, benar sekali. Aku telah membunuh mereka. Karena mereka hendak memperkosa gadis yang berada di kedai itu," ujar Ningrum yang kemudian pandangannya menoleh ke arah empat laki-laki yang sedang mendengarkannya bicara.


Keempat laki-laki itu pun segera memalingkan pandangannya karena takut dengan Ningrum Sari yang terlihat seperti wanita pembunuh berdarah dingin.


"Oh, begitu Nimas pendekar. Siapa namamu dan hendak ke mana kau sekarang?" tanya Ki Tanu pada Ningrum Sari. Ningrum Sari tak menbalas dan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Daging ayamku!" seru Ningrum Sari seraya menadahkan tangannya pada Ki Tanu.


"Ini Nimas pendekar, bawalah daging ayam ini. Dan tak perlu kau membayarnya. Aku berpesan kau harus berhati-hati. Perguruan Aliran Golongan Hitam sedang memburumu," terang Ki Tanu pada Ningrum Sari. Wanita yang terlihat tak waras itu hanya diam dan berlalu meninggalkan kedai itu.


Dengan membawa sepotong daging ayam di tangannya, Ningrum Sari mencari tempat untuk beristirahat. Kakinya terus melangkah ke ujung jalan. Dan ketika Ningrum Sari melihat pohon yang besar. Segera ia melompat di dahannya untuk beristirahat.


"Huuup...!" Setelah berada di dahan pohon, Ningrum Sari kembali meracau sendiri dan tertidur dengan pulas.

__ADS_1


Saat pagi di Bukit Sampar, sosok wanita berkelebat begitu cepatnya mendekati Bukit Sampar. Wanita itu tak lain Dewi Arum yang lebih di kenal dengan julukan Pendekar Bangau Putih'. Belum sempat kakinya sampai di Bukit Sampar. Dewi Arum di hadang sosok orang tua berjenggot rambutnya putih terurai. Bertubuh kurus. Orang tuaitu adalah Eyang Arang Sedayu.


"Hmm, hendak ke mana kau, Cah Ayu? Terburu-buru sekali langkahmu," tanya Eyang Arang Sedayu.


"Aku diberi tugas untuk mencari seorang tua yang bernama Eyang Arang Sedayu," balas Dewi Arum.


"Siapa yang menyuruhmu untuk mencari orang yang tadi kau sebutkan namanya!"


"Maaf aku tidak banyak waktu . Aku harus pergi mencarinya."


"Aku tak mengizinkan kau melangkah lebih jauh lagi, Cah Ayu. He he he..."


"Baiklah kalau begitu. Terpaksa aku melayanimu orang tua!" ujar Dewi Arum.


"Hiyaaaa...!"


Dengan jurus ‘Bangau Terbang Mematuk Ular’, Dewi Arum bergerak menyerang Eyang Arang Sedayu. Kedua tangannya direntang lebar dengan kaki kanan diangkat membentuk siku. Kemudian bagai seekor bangau, Dewi Arum mematukkan tangan kanan dan kiri bergantian. Lalu diikuti oleh tendangan dan cengkeraman.


Eyang Arang Sedayu, terus berkelit ke sana kemari. Hampir saja tubuh kurusnya terkena tendangan dan cengkeraman tangan yang begitu cepat. Eyang Arang Sedayu mulai mengenali jurus-jurus yang digunakan lawannya.


Dengan jurus 'Tapak Maut' Eyang Arang Sedayu terus merangsek lawannya. Di benak Dewi Arum pun mulai terlintas jurus yang digunakan orang tua itu.


"Yiaaat...!"


"Uts...!"


Dewi Arum berkelit dengan jurus 'Bangau Mengepakkan Sayap'. Disusul dengan serangan keras Eyang Arang Sedayu yang masih menggunakan jurus 'Tapak Maut'. Tubuhnya berkelit begitu cepat laksana bayangan. Sedangkan tepakan tangannya mampu mengeluarkan deru angin yang keras.


"Uts...!" Dewi Arum tersentak kaget. Dengan cepat dia mengepakkan tangan kiri ke bawah untuk menangkis kibasan tangan orang tua itu. Kemudian secepat itu pula Dewi Arum melancarkan serangan dengan patukkan tangan kanannya ke arah wajah lawannya.


Wuuuuuutt...!!!


"Uh. Ets...!"

__ADS_1


Tubuh Eyang Arang Sedayu tersurut ke samping. Kakinya ditekuk membentuk siku. Dengan tetap menggunakan jurus semula, Eyang Arang Sedayu kembali menyerang dengan gempuran-gempuran dahsyat.


__ADS_2