
"Ha ha ha ... hi hi hi. Rupanya nyawaku sangat berharga bagimu, Kuntilanak Peot. Sungguh beruntung aku yang bodoh dan hina ini memiliki nyawa yang sangat berharga. Karena nyawaku berharga, mempertahankan dari tangan busukmu itu," ujar Sima.
"Bedebah! Akan kubuktikan kalau tanganku akan mencabut nyawamu dengan mudah!" sentak Nyai Gandawati.
"Hiyaaa...!"
Dengan amarah meledak-ledak, tubuh Nyi Gandawati melesat untuk melabrak pemuda sinting di hadapannya. Tangannya mengembang, membuat gerakan 'Jurus Sanca Beracun'. Kemudian digerakkan memutar kedepan, membentuk patukkan ular. Sedangkan kakinya, nampak menyilang agak direndahkan.
"Hiyaaaat...!"
Melihat serangan yang dilancarkan lawan, Sima segera membuka jurus 'Tapak Harimau Mabuk'. Gerakan tubuhnya terlihat lemah gemulai laksana menari, disertai tepukan-tepukan tangan. Jika diperhatikan, jurus yang dilakukan Sima hanya gerakan main-main. Namun sesungguhnya gerakan itu sangat berbahaya.
Melihat gerakan lawan seperti itu, Nyi Gandawati merasa yakin akan dapat menerobos pertahanan lawan dengan jurus barunya. Tangannya yang bergerak membuat suatu kepakan dan pukulan, menyerang Pemuda sinting itu.
"Hiyaaaat...!"
Sima cepat berkelit dengan cara memiringkan tubuh ke samping. Gerakan mengelitnya pun seperti menari. Tubuhnya lentur dan lemas. Jika dilihat sekilas, nampak tak ada tenaga yang dikeluarkannya. Lalu disusul oleh tepukan tangan ke arah dada lawan. Nyi Gandawati tersentak kaget ketika serangannya dapat digagalkan lawan.
Bahkan tepukan tangan pemuda sinting kini mengancamnya. Cepat-cepat Nyi Gandawati melangkah kebelakang dua tindak, lalu kembali tangannya digerakkan ke atas dengan jari-jari mengepal. Setelah itu, dengan cepat tangan kirinya membentuk siku sebagai tameng. Sedangkan tangan kanannya mengarah lurus ke dada lawan.
"Hiyaaa...!"
Sima menarik serangan. Tubuh surut setindak ke belakang. Tubuhnya dibuang ke samping, kemudian dengan cepat kakinya ditarik ke samping dengan sedikit menekuk. Tangannya saling menyanggah. Tangan kanan berada di atas tangan kiri, kemudian dihempaskan ke depan untuk menyerang lawan.
__ADS_1
Taaaaaap...!!!
Satu tangan mereka saling berpegangan. Sedangkan tangan yang lainnya kini bergerak cepat saling menyerang dan menangkis. Sebuah permainan yang sulit dilakukan oleh orang persilatan biasa. Dengan satu tangan saling berkait, mereka terus bertukar serangan. Bukan hanya tangan mereka yang bergerak melakukan serangan. Kaki mereka pun turut bergerak, berusaha saling mengait dan menjatuhkan lawan.
"Hiyaaa...!"
"Yiaaaat...!"
Sementara itu Dewi Arum tengah kerepotan menghadapi gempuran yang dilancarkan Sakunta si Cambuk Api dan Toyang Setan Cabul dari Gunung Sotang. Dia dalam keadaan terdesak, ketika tiba-tiba terdengar suara seorang wanita berpakaian compang-camping berseru.
"Aku akan membantumu kawan. Hi hi hi!" seru wanita berpakaian compang-camping yang mengayunkan Pedang Matahari, berlari mendekati Dewi Arum. Kemudian wanita berpakaian compang-camping yang tidak lain adalah Ningrum Sari langsung menggebrak lawannya untuk membantu Dewi Arum.
"Terima kasih, Nisanak" desis Dewi Arum, merasa lega dengan kedatangan wanita yang menggunakan Pedang Matahari. Dewi Arum menduga wanita yang membantunya itu memang benar-benar Ningrum Sari walau wajahnya tertutup rambutnya yang acak-acakan.
"Hiyaaat...!"
Melihat serangan cepat dilancarkan oleh Dewi Arum dan Ningrum Sari. Toyang dan Sakunta, kedua lelaki itu dengan cepat pula berkelit. Kemudian dengan cepat pula mereka menyerang bersamaan. Pendekar Bangau Putih menyerang bagian perut lawannya itu. Tangannya memukul, menotok dan menepis setiap gerakan kaki lawan. Sedangkan Toyang yang terluka dalam, kini mengarahkan serangannya pada bagian atas. Tangannya yang kanan memukul, sedangkan yang kiri membentuk tameng untuk menangkis serangan lawan.
Serangan datang dari arah yang berlawanan. Satu dari sisi kiri, sedangkan yang satunya dari sisi kanan. Namun begitu, Dewi Arum bukanlah wanita kemarin sore. Namanya telah mampu menggetarkan rimba persilatan pada masanya. Menghadapi serangan lawannya yang berlawanan arah, tidak menciutkan nyalinya. Terlebih melihat salah seorang lawannya telah terluka dalam.
Di samping itu, Pedang Setan yang merupakan senjata pusaka milik Toyang Setan Cabul dari Gunung Sotang kini telah berada dalam kekuasaannya. Jika dia terdesak, senjata itu akan digunakan. Namun gerakan mengelit dan menyerang Dewi Arum ternyata masih lebih gesit. Tubuhnya menari mengeluarkan 'Jurus Bangau Terbang'. Kakinya bergerak menyilang dan merenggang. Sedangkan tangannya bagaikan sepasang senjata tajam yang mematikan.
Dewi Arum bergerak mengelak dan balas menyerang. Sesekali tangannya melambat, mengeluarkan angin pukulan yang menyentakkan kedua lawannya. Atau terkadang menepak, menimbulkan deru angin yang dahsyat. Pertarungan terus berlangsung keras. Sudah puluhan jurus yang telah Toyang keluarkan. Sampai sejauh itu, tak ada tanda-tanda kalau mampu menjatuhkan Dewi Arum.
__ADS_1
Sementara di pihak lain, Ningrum Sari terus membabat pedangnya ke arah Sakunta yang bersenjatakan cambuk api. Lawannya berkali-kali harus membelalakkan mata, manakala mendapat serangan yang tak terduga dan begitu cepat.
"Hiyaaa..."
"Ha ha ha ha ...." Ningrum Sari tertawa. Tangan kanannya dikibaskan ke arah lawan sebelah kanan. Sedangkan kaki kirinya bergerak menendang dan menyapu lawan sebelah kiri.
"Hiyaaaat...!"
Gerakan Sukanta si Cambuk api. Sepertinya telah diatur sebelumnya. Tak ada kesalahan dalam melakukan serangan. Yang menyerang bagian atas, terus mencecar dan berusaha mencari titik luang di bagian atas. Sedangkan yang menyerang bagian bawah, terus mencari titik luang di bagian bawah.
Namun sejauh itu, belum juga berhasil menjatuhkannya. Seakan semua tubuh Ningrum Sari terlindungi. Hal itu disebabkan wanita berpakaian compang-camping itu mampu melakukan gerakan yang cepat dan gesit. Hingga jika serangan datang, secepat itu pula dia melindungi tempat yang diserang. Bahkan tak segan- segan balik menyerang lawan.
Sukanta si Cambuk api itu kembali menyerang, ketika tiba-tiba Ningrum Sari melompat ke belakang dengan cepat. Lalu sebelum lawan penyerangnya sadar dari keterkejutan dan menguasai diri, wanita berpakaian compang-camping itu membabatkan pedangnya ke arah Sukanta si Cambuk Api.
"Celaka...?" pekik Sukanta si Cambuk Api.
"Ahhh," keluh Sukanta si Cambuk Api terkejut, belum bisa menguasai diri seketika mati langkah. Matanya membelalak tegang, menyaksikan angin pedang yang datang menderu cepat ke arahnya. Sebisanya Sukanta si Cambuk Api menjatuhkan diri ke tanah lalu berguling, sehingga ia luput dari maut.
Sedangkan Toyang Setan Cabul dari Gunung Sotang yang terluka dalam tak mampu berbuat apa-apa. Tubuhnya langsung menjadi sasaran pukulan Dewi Arum.
***Pukulan Bangau Terbang
Deeeeegk***...!!!
__ADS_1
"Akh...!" Toyang Setan Cabul. Tubuhnya terdorong ke belakang tiga tindak dengan terhuyung-huyung. Darah semakin banyak yang keluar seketika tubuhnya menjadi hangus terbakar dan tewas seketika.
Melihat kawannya tewas Sukanta si Cambuk Api menjadi kalap, dia kembali menyerang. Kali ini di tangannya memecutkan cambuk apinya. Sukanta bergerak cepat dengan gerak memutar bagai menghilang. Yang nampak cambuk apinya mengeluarkan sinar putih kebiru-biruan.