
"Benar-benar nekat pemuda geblek itu! Apakah dia tidak takut terhadap Waragang?" gumam pemilik kedai yang masih menyaksikan jalannya pertarungan antara Sima melawan Empat Siluman dari Lembah Kematian, begundal Waragang.
"Namanya saja pemuda sinting. Mana ada sih, orang sinting yang takut?" sambung temannya.
"Iya, ya. Tapi kasihan juga dia, semuda itu sudah sinting," ujar pemilik kedai seraya menghela napas.
"Semoga pemuda sinting itu dapat mengalahkan begundal Waragang. Muak rasanya aku melihat tingkah laku ********-******** itu!"
"Benar! Mereka bukan hanya kejam, tapi juga menculik gadis dan memperkosanya. Tindakan mereka benar-benar seperti iblis!" rutuk kawan bicaranya.
Apa yang diharapkan kedua orang itu menjadi kenyataan. Pemuda tampan yang tindak-tanduknya seperti orang yang tak waras itu, kini mampu menguasai keadaan. Bahkan kini ia mendesak Empat Siluman dari Lembah Kematian dengan jurus-jurus yang aneh. Jurus-jurus yang menyerupai orang tengah menari-nari dan sesekali tampak menapak gemulai itu, ternyata mampu membuat keempat lawannya kewalahan.
Semua orang yang melihat pertarungan itu pun membelalakkan mata dengan mulut berdecak kagum melihat gerakan pemuda aneh itu. Gerakannya memang kelihatan lemah, namun sesungguhnya sangat dahsyat dan cepat, karena disertai tenaga dalam serta ilmu meringankan tubuh yang sempurna.
Berkali-kali pemuda sinting itu terkepung serangan golok Empat Siluman dari Lembah Kematian. Tapi, berkali-kali pula Sima mematahkan serangan lawan, hanya dengan jurus-jurus yang terlihat sangat lucu dan aneh.
Kalau orang yang tidak mengerti ilmu silat, mungkin melihat gerakan pemuda sinting itu hanyalah sebuah gerakan main-main. Untuk apa tangannya menepuk? Untuk apa tubuhnya meliuk-liuk seperti menari? Padahal dia dalam ancaman maut keempat lawan yang menyerang bertubi-tubi. Tapi, bagi yang tahu ilmu silat, justru akan berpikir seribu kali untuk menghadapi gerakan aneh pemuda sinting itu. Itulah jurus 'Dewi Kahyangan Menari', salah satu jurus langka.
"Pemuda setan! Rupanya kau memiliki ilmu juga, Heh!" sentak orang pertama dari Empat Siluman dari Lembah Kematian.
"Jangan bangga dulu, keparat! Kalau sejak tadi kau bisa mematahkan serangan kami, maka kali ini nyawamu akan hilang. Terimalah jurus 'Empat Golok Siluman Membelah Bumi'."
"Heyaaaa...!"
Empat Siluman dari Lembah Kematian merangsek cepat. Mula-mula mereka mengangkat golok masing-masing ke atas kepala. Kemudian menebaskan ke wajah, disusul dengan tebasan ke samping kiri dan kanan. Gerakan mereka serempak, sehingga rasanya sangat sulit bagi Sima untuk dapat melepaskan diri dari serangan itu.
"Celaka! Oh, matilah aku," keluh pemuda sinting itu seraya menggaruk-garuk kepalanya. Mulutnya tetap cenge-ngesan, layaknya orang tak waras.
__ADS_1
"Kubelah tubuhmu, Pemuda sinting!"
Empat bilah golok di tangan lawan mengarah dari atas ke kepalanya. Sima tersentak merasakan angin tebasan. Segera nalurinya memerintah agar ia mengelak segera.
Dengan menggunakan jurus 'Kera Sakti', pemuda sinting itu mencoba menyelamatkan diri dari maut Sebuah gerakan aneh seperti melepaskan lilitan benang yang menjerat tubuh, ternyata mampu menyelamatkan nyawanya. Kini dengan menggerakkan tangan, Sima malah menghantamkan cengkeraman ke ************ salah seorang dari pengeroyoknya.
Craaaak...!!!
"Aakh...!" jerit laki-laki itu sambil melepaskan goloknya dari genggaman, kemudian beralih memegangi *********** yang pecah. Laki-laki itu melotot sesaat, kemudian terjerembab dengan tubuh bergelinjang sekarat lalu mati seketika.
Ketiga temannya tersentak. Tubuh mereka tegang menyaksikan kematian salah seorang kawan mereka. Kemarahan mereka kian membeludak. Kemudian dengan mendengus, ketiganya kembali menyerang ke arah Sima dengan membabi buta.
Hal itu sebenarnya sangat menguntungkan bagi Sima karena mereka tak mempedulikan keselamatan diri sendiri. Dada mereka dipenuhi nafsu untuk segera membinasakan pemuda sinting yang telah membunuh salah satu temannya.
"Kucincang tubuhmu, Setan Sinting!"
Pemuda sinting itu menggaruk-garuk kepalanya. Setelah cenge-ngesan, sesekali pengeroyoknya semakin marah dan langsung menggebrak dengan babatan golok.
"****** kau, pemuda gila!" sentak orang kedua dari Empat Siluman dari Lembah Kematian.
Golok itu melesat cepat ke arah Sima, namun dengan gerakan aneh tubuhnya berhasil luput dari serangan. Malah tanpa diduga, tangannya menepak ke kening si penyerang.
Plaaakk...!!!
"Aakh...!" jerit orang itu. Tubuhnya meluncur deras ke belakang dengan tangan memegangi keningnya yang hancur. Batok tengkorak kepalanya pecah, sehingga dari mata, hidung, dan telinganya mengalir darah segar. Untuk sesaat tubuh laki-laki itu mengejang, kemudian meregang tanpa nyawa.
Sima bertepuk tangan sambil berjingkrak-jingkrak seperti monyet tangannya sesekali menggaruk-garuk kepala, sambil tertawa-tawa girang. Seakan apa yang terjadi hanya kejadian lucu yang mengundang tawanya. Hal itu membuat sisa pengeroyoknya semakin murka. Satu orang kembali melesat sambil membabatkan goloknya. Orang inilah yang sangat bengis di antara mereka.
__ADS_1
"Kutebas kepalamu, Pemuda Setan!"
"Heyaaat...!"
Golok di tangannya ganas mengancam kepala pemuda tampan itu. Sebentar lagi, kepala Sima akan menjadi sasaran empuk. Orang-orang yang menyaksikan pertarungan itu menjadi bergidik ngeri.
Tapi dugaan mereka meleset, dalam sekejap bayangan merah berkelebat, lalu menggeserkan kakinya dengan melebar ke samping. Kemudian, mendorong miring tubuhnya ke arah kaki yang melebar. Tangan lawan yang menggenggam golok melesat cepat di sampingnya. Secepat itu pula, tangan itu mencengkeram pergelangan tangan lawannya, lalu, tubuh laki-laki itu yang tengah melesat dibantingnya dengan kuat oleh sosok seorang gadis berparas cantik.
Buuuuk...!!!
"Aakh...!"
Laki-laki itu menjerit. Tulang punggungnya langsung remuk akibat bantingan tadi. Sesaat mata orang itu mendelik bagai hendak melompat keluar. Kemudian diam tak berkutik dengan mulut bersimbah darah.
Seorang lawannya yang masih hidup seketika ciut nyalinya menyaksikan bagaimana ketiga rekannya mati. Laki-laki berwajah kasar itu mendadak pucat pasi, dan serta merta meminta ampun pada pemuda dan seorang gadis yang berpakaian serba merah.
"Ampunilah aku, Nisanak ...," ratapnya mengiba.
Sima tertawa, seakan menganggap hal yang dilakukan Melati adiknya itu lucu. Tangannya kembali menggaruk-garuk kepalanya yang digeleng-gelengkan perlahan.
"Hi hi hi ... ha ha ha. Baru kali ini aku melihat hal yang amat lucu. Tadi kau menunjukkan kebengisanmu. Mengapa kini kau seperti tikus pikun?" ujar Sima kembali tertawa terkekeh-kekeh.
"Dunia ini memang aneh, Eyang. Ada kalanya orang yang mengaku waras, bertindak seperti orang tak waras. Tapi sebaliknya, orang yang dianggap tak waras, malah bertingkah bagaikan orang waras. Ah, benar-benar lucu dunia ini," ujar Sima berbicara sendiri.
Semua tertegun menyaksikan tingkah laku pemuda sinting itu yang dengan seenak perutnya Sima berlalu. Seraya menarik lengan adiknya Dewi Melati yang masih kagum melihat ilmu silat saudara kembarnya itu yang begitu hebat dan sadis. Sima bernyanyi sambil meninggalkan semua orang. Termasuk seorang lawan yang terpaku bengong.
"Pendekar Sinting!" gumam lelaki kasar itu.
__ADS_1
Sementara itu kasak-kusuk merambat di sekitar tempat pertarungan, bagai satu upacara untuk kepergian Sima dan adiknya Dewi Melati.