
"Kau pelajarilah ini, sewaktu-waktu kau akan membutuhkannya," tutur Paman Kumba.
"He he he, terima kasih paman Kumba," ujar Sima yang kemudian menyelipkan daun lontar itu di pinggangnya.
"Ayo, Kakang Sima!" seru Nitisara sembari menarik tangan Sima dan membawanya berkelebat. Dengan seketika terbukalah gerbang pintu antara alam manusia dan alam gaib.
"Wow ... wooo.... woooow!" Sima terkejut saat tubuhnya mendarat di tanah.
Bruuuuuk...!!!
"Ha ha ha ... kau lucu sekali kakang," ujar Nitisara tertawa geli.
"Huh! Bukannya aku digendong malah dibanting," seloroh Sima pada Nitisara.
"Ha ha ha ... Kau benar-benar sinting kakang. Sakit perutku melihat tingkahmu," ujar Nitisara yang memegangi perutnya menahan tawa.
"Hi hi hi ... ha ha ha. Kau juga lucu Sri Putri. Baiklah sekarang aku harus pergi."
"Hhh ... kakang Sima apakah kau tak menyukaiku?" tanya Nitisara pada Sima. Ketika menghempaskan nafasnya.
"Aku menyukai, Sri Putri?" tanya Sima pada dirinya sendiri.
"Apakah kau tidak menyukaiku?" tanya Nitisara kembali.
"Suka tidak? Suka tidak, suka tidak?" gumam Sima sambil menghitung jari-jarinya.
Saat dalam kebingungan, Nitisara segera memeluk Sima dengan erat. Pemuda Sinting itu menjadi tambah kebingungan dipeluk gadis cantik tersebut.
Setelah melepaskan pelukannya dari tubuh pemuda tampan di depannya. Nitisara membisikan sesuatu pada telinga Sima lalu mencium pipi pemuda sinting tersebut. Seketika itu juga tubuhnya sudah hilang dalam sekejap.
"Jagalah dirimu baik-baik, Kakang Sima!" seru Nitisara yang kemudian suaranya terbawa oleh angin.
"Terima kasih atas pertolonganmu, Sri Putri!" seru Sima pada Nitisara.
"Hi hi hi ... telingaku terasa geli, Gadis itu kecil-kecil nafsunya besar sekali." seloroh Sima terkekeh-kekeh sendirian yang kemudian kakinya melangkah meninggalkan Hutan Cendana.
__ADS_1
Siang itu suasana terasa aneh. Matahari sangat panas, menyengat dan seakan hendak memanggang seluruh mahluk bumi. Di tengah suasana panas itu nampak seorang pemuda tampan, berambut masai. Memakai pakaian kuning gading berlengan panjang serta mengenakan celana sebatas paha yang terbuat dari kulit harimau.
Di tangan kanannya memegang sebuah tongkat dari akar pohon yang berusia ratusan tahun lamanya untuk penuntun jalannya. Pemuda itu tak lain adalah Sima Kelantara putra dari Arya Kelantara atau Pendekar Tapak Maut.
Dengan tenang pemuda itu melangkah menelusuri jalan setapak yang membatasi Hutan Cendana dan Desa Pandan Wangi. Sekejap ia berkelebat untuk mencari sebuah kedai. Perutnya yang empat puluh hari di alam jin terasa begitu lapar.
Sima masih melangkah tak menghiraukan panas terik yang menyengat. Tak jauh dari tempat Sima berada, tampak sebuah kedai yang ramai pengunjungnya. Semua orang yang melihat pemuda itu melangkah bagaikan terkesima. Mata mereka kini tertuju pada pemuda berambut panjang masai yang tampak seperti orang yang tidak waras.
Sesampai di kedai Sima duduk di balai-balai bambu yang berada di depan kedai. Tak lama, seorang pelayan menghampirinya.
"Pesan apa tuan....?" tanya pelayan kedai pada Sima.
"Bawakan aku ikan bakar dengan lalap petai. Hi hi hi ... Ha ha ha," balas Sima sambil cekikikan.
"Baik, Tuan ...."
Pelayan kedai segera mengambil hidangan yang dipesan Sima. Tak lama kemudian, pelayan itu telah kembali dengan membawakan makanannya.
"Ini pesanan, Tuan."
Sima pun menyantap makanan itu dengan lahap. Sehingga dalam waktu sekejap saja makanan telah habis tak tersisa. Kemudian, dari arah selatan, nampak segerombolan lelaki berwajah garang berpakaian pendekar persilatan.
Mereka tengah mengejar seorang gadis cantik jelita berpakaian biru muda. Gadis itu berlari terbirit-birit ketakutan, karena empat lelaki beringas terus memburunya, tanpa menghiraukan jeritan ketakutan.
"Tolong ... tolooong...!"
Semua warga Desa Pandan Wangi yang semula berada di jalanan atau di sawah. Seketika langsung bersembunyi. Mereka tidak berusaha menolong gadis yang tengah dicekam rasa takut itu, melainkan bersembunyi. Hal itu karena para penduduk tahu gerombolan itu adalah Perguruan Aliran Golongan Hitam.
Gadis cantik berambut panjang itu terus berlari semakin ketakutan, karena tak seorang pun penduduk desa yang menolongnya. Sambil menjerit-jerit ketakutan dia terus berlari, berusaha meninggalkan pengejarnya.
"Tolong ... Tuan, tolong!" seru gadis itu ketika melihat Sima sedang berbaring malas-malasan di depan kedai karena perutnya terasa kenyang. Hatinya benar-benar berharap pertolongan dari pemuda yang tidak bersembunyi seperti penduduk desa lainnya.
"Hi hi hi ... ha ha ha. Ada empat ekor anjing merebutkan daging yang montok di kedai makan," gumam Sima dengan cengar-cengir.
"Tolong, Tuan. Mereka hendak memperkosaku!" ratap gadis cantik itu pada Sima.
__ADS_1
Tiba-tiba dari dalam kedai sekelebat keluar seorang gadis memakai pakaian serba merah dan bercadar merah. Kemarahannya seketika meledak. Harga dirinya sebagai seorang wanita, bagaikan memberontak. Matanya menatap garang pada keempat lelaki yang berlari-lari menuju kedai.
"Siapa mereka....?" tanya gadis bercadar berpakaian serba merah itu.
"Mereka gerombolan Perguruan Aliran Hitam. Tolonglah aku ... aku tak mau dijadikan budak nafsunya. Tolonglah aku. Nisanak," ratap gadis cantik itu pada gadis bercadar merah.
"Mundurlah, biar aku yang menghadapi mereka," ujar wanita bercadar merah geram.
Sementara Sima masih tenang. Sima tertawa cekakkan sambil menggaruk-garuk kepalanya. Sepertinya merasa tenang, melihat gadis bercadar merah kini melangkah maju.
"Tuan pendekar! Mengapa kau berdiam diri saja?" ujar pemilik kedai, merasa heran melihat Sima cenge-ngesan sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Biarkan saja kisanak, kita lihat saja dahulu," sahut Sima sambil tersenyum-senyum, melihat gadis bercadar merah itu melangkah mantap menghadang keempat lelaki bermuka beringas itu.
"He he he ... kawan-kawan, rupanya kita melepaskan burung merpati, kini dapat burung merak yang begitu indah!" teriak Ki Palawa pada kawan-kawannya yang terbahak-bahak melihat gadis cantik jelita berada di depan mereka.
"Hm, kau menginginkan aku....?" tanya gadis bercadar merah sambil tersenyum dan mengerlingkan matanya.
"Ikutlah denganku gadis manis, akan kujadikan kau istriku!" sahut Toyang si Setan Cabul dari Gunung Sotang.
"Baiklah, tangkaplah aku kalau kalian sanggup!" tantang gadis bercadar merah sambil tersenyum mengejek. Namun, matanya menatap garang pada keempat laki-laki beringas tersebut.
"He he he, apa susahnya menangkap burung merak seindah dirimu?" sahut Balakosa si Kapak Setan dari Pulau Mati itu sambil terkekeh-kekeh.
"Hmm, begitu? Tangkaplah kalau bisa!" tantang gadis bercadar dengan senyum sinis di bibirnya.
"He he he ... tangkap burung merak itu!" perintah Ki Palawa dari Perguruan Gagak Hitam pada kawan-kawanya.
"Hiyaaa...!"
Keempat orang segera mengepung gadis bercadar merah. Kemudian dengan beringas, langsung menubruk gadis bercadar. Namun, dengan cepat gadis bercadar melompat ke atas, sehingga keempat lelaki itu saling berbenturan satu sama lain.
Bruuukkkk...!!!
"Aaaaa...!"
__ADS_1
"Ha ha ha...!" Gadis bercadar merah tertawa terbahak-bahak melihat keempat laki-laki yang hendak menangkapnya saling bertabrakan. Tampak tiga orang mengusap-usap kepala karena kesakitan dan pusing.