
Sementara di kejauhan, sepasang mata sedang mengawasi Sima yang sedang murka di daerah kekuasaannya dan membuat geram sepasang Setan Kembar. Mahluk mengerikan itu mengira Sima adalah Arya Kelantara, seorang pendekar yang dua puluh satu tahun lalu telah mengalahkannya.
Dengan cara mengendap-endap kedua sosok tersebut masih terus mengamati Sima.
Pemuda yang tidak dapat melihat itu, ternyata memiliki panca indera yang cukup tajam sehingga dapat merasakan kehadiran kedua sosok yang sedang menguntitnya.
"Keluar kau! Atau kuhancurkan tubuhmu!" dengus Sima pada kedua sosok itu yang belum menampakkan wujudnya.
Tak lama kemudian, berulah kedua sosok penghuni hutan tersebut keluar dan menatap tajam ke arah Sima.
"Hu ha ha ... hei bocah, lancang mulutmu. Aku sempat mengira kau adalah pendekar yang memiliki Pedang Samber Nyawa yang telah mengalahkan kedua puluh satu tahun yang lalu. Tetapi ternyata? Diriku hanya berhadapan dengan seorang bocah yang kehilangan sepasang matanya. Dan bermulut besar hendak menantang kami!" sentak Setan Kembar.
"He he he ... kalian ingin mencoba tongkat orang buta? Kalau begitu. Majulah!" seru Sima pada sepasang Setan Kembar tak kalah sengit.
"Yeaaa...!"
Dengan berkelebat Sima mengelentingkan tubuhnya ke udara dan menghantamkan tongkatnya ke kepala salah satu Setan Kembar.
***Syuuuuuuut...!!!
Dessssssh***...!!!
"Ouh...!" pekik salah satu Setan Kembar, yang terkena hentakkan tongkat Sima yang bertenaga dalam. Hingga ia terhuyung-huyung ke belakang.
"Bagaimana rasa tongkatku? Adem apa panas. Hi hi hi ... ha ha ha," seloroh Sima pada salah satu Setan Kembar.
"Bocah sialan! Kau rasakan pukulanku ini."
"Heyaaa...!"
*Pukulan Setan Kembar*
"Jlegaarrrrrr...!!!" Sima kembali melompat melenting ke udara, kemudian hinggap di dahan pohon besar.
__ADS_1
"Huuup!" Pukulan Setan Kembar tidak mengenai sasarannya.
"Hi hi hi ... ha ha ha. Sudah main petasannya. Demit Kembar Siam?" seloroh Sima sembari mengejek kedua Setan Kembar di hadapannya.
"Keparat, lancang mulutmu, Bocah!" dengus Setan Kembar semakin geram.
Sima merapatkan kedua telapak tangannya dan bersiap menghempaskan 'Pukulan Inti Api' ke tubuh sepasang Setan Kembar yang masih berada di bawah pohon.
"Yeaaa...!"
Jedeeerrrrrrr...!!!
"Aaaakh...!"
"Wuaaaaa...!"
Jeritan beruntun dari sepasang Setan Kembar. Akibat terkena pukulan yang dihempaskan oleh Sima. Kedua tubuh Setan Kembar menggelepar-gelepar sesaat begitu jatuh keras di tanah. Tak lama kemudian, tubuhnya diam tak berkutik lagi.
Ketika melihat lawannya telah binasa, Sima segera mendarat ke tanah dengan ringan.
"Hmm ... sepasang setan itu menyebutkan pendekar Pedang Samber Nyawa telah mengalahkannya dua puluh tahun yang lalu? Siapakah pendekar itu?" gumam Sima penuh tanya.
"Ke mana aku harus mencari, Biyung? Ah, iya. Bodoh sekali aku. Eyang ‘kan pernah memberi tahuku kalau wanita yang aku tolong di kedai itu adalah Biyungku. Sebaliknya aku pergi ke desa itu. Hi hi hi ... ha ha ha." Sima meracau sendirian yang tak jelas, sambil menggaruk-garukan kepalanya.
Dengan tongkat di tangannya Sima melangkah meninggalkan Hutan Setan Kembar menuju Desa Pandan Wangi. Di mana ia pernah menolong seorang pendekar wanita dari serangan para pemabuk dikedai makan, dan ternyata wanita itu adalah ibunya yang bernama Ningrum Sari.
Angin senja bertiup sejuk. Udara sangat cerah dengan langit tembaga di sebelah barat. Sima terus melangkah mengayuh tongkatnya tanpa henti. Semakin jauh ia berjalan dan tibalah ia di Desa Pandan Wangi. Sima mencoba mencari kedai makan tempat ia bertemu dengan ibunya. Sekaligus mengisi perutnya yang keroncongan.
Saat akan masuk ke dalam kedai, Sima coba bertanya dengan seorang pengunjung kedai yang sepertinya hendak meninggalkan kedai makan itu.
"Tunggu, Kisanak. Apakah ini sebuah kedai?" tanya Sima kepada orang yang ia jumpai.
"Iya, benar. Segeralah kau masuk ke dalam."
__ADS_1
"Baiklah. Terima kasih, tutur Sima sembari menjura.
"Kasihan sekali pemuda itu? Wajahnya tampan, tetapi sepasang matanya buta," gumam pengunjung kedai yang kemudian beranjak pergi.
Ketika Sima sudah berada di dalam kedai. Pemuda buta itu mencari meja yang masih kosong. Setelah mendapatinya ia segera duduk dan, tak lama pelayan kedai menghampirinya.
Sebagain para pengunjung kedai, memperhatikan penampilan Sima sedikit terasa aneh. Mereka melihat pemuda buta dan berpakaian layaknya orang dari rimba persilatan.
"Pesan apa, Kisanak...?" tanya pelayan kedai.
"Aku minta ikan bakar, dan lalap sayuran."
Pelayan itupun berlalu meninggalkan Sima dan datang kembali membawa pesanan.
Saat hidangan sudah sampai di mejanya. Sima melahap makanannya dengan perlahan-lahan, sambil mempertajam panca inderanya di kedai makan itu. Dua baris dari meja Sima duduk. Terlihat seorang gadis muda wajahnya cantik di tutupi cadar, rambutnya panjang dan berikat kepala dari akar pohon. Bibirnya yang tipis disembunyikan dibalik cadarnya, kulitnya kuning langsat ia memakai baju berwarna merah berlengan sedang tidak begitu besar, gadis itu dengan lahap menyantap makanannya juga.
Tiba-tiba para penduduk Desa Pandan Wangi dikejutkan oleh dua orang berkuda yang tak lain Ki Palawa dan Ki Loreng. Derap kaki kuda yang keras dan kencang membuat orang-orang yang sedang berlalu lalang di jalan utama desa itu panik dan berlarian menghindar. Apalagi mereka yang mengenali kedua orang-orang itu nampak mencibir dengan hati diliputi rasa cemas. Karena mereka tahu bahwa orang berkuda itu dari Perguruan Aliran Hitam yang menguasai Desa Pandan Wangi dan Desa Waringin serta desa-desa lainnya dengan cara licik dan kotor.
"Hieeekh...!"
"Hieeekh...!"
Ki Palawa menarik tali kekang kudanya agar berhenti di tengah jalan. Begitupun yang dilakukan Ki Loreng. Sambil memandang sekeliling desa yang dilewati, mereka membiarkan kuda berjalan pelan. Namun, mata Ki Palawa dan Ki Loreng terus menyapu ke kiri dan kanan dengan pandangan tajam dan bengis. Para penduduk desa nampak acuh dan menghindar.
Gadis bercadar yang melihat situasi demikian, hanya tersenyum sinis. Sima merasakan kehadiran sosok kedua orang itu menggaruk-garuk kepala sambil cengar-cengir tak ada rasa gentar sedikitpun.
"Hei apakah kalian melihat wanita sinting yang sudah membunuh kelompok perguruan kami di kedai ini...?" seru Ki Palawa dengan suara penuh geram. Matanya melirik ke sana-kemari dan ke dalam kedai.
Para penduduk desa yang mendengar merasa heran dan aneh dengan pertanyaan Ki Palawa itu. Mereka saling pandang dan mengangkat bahu. Ada pula yang menggeleng kepala. Sebagian lagi tampak tak peduli dengan ocehan Ki Palawa.
"Hei, kau berhenti!" sentak Ki Palawa yang melihat seorang lelaki setengah baya tak peduli ngeloyor pergi begitu saja.
Lelaki setengah baya yang ternyata bernama Ki Wiradana, Kepala Desa Pandan Wangi, menghentikan langkahnya. Lalu, membalik perlahan seraya menatap Ki Palawa dan Ki Loreng, dengan menyipitkan kedua matanya.
__ADS_1
"Ada apa, Kisanak...?" tanya Ki Wiradana.