Pendekar Sinting

Pendekar Sinting
Bentrok Para Pendekar Rimba Persilatan


__ADS_3

Dalam beberapa gebrakan saja, gadis bercadar merah mampu menguasai keadaan. Pedangnya terus berkelebat cepat memburu lawannya.


"****** kau iblis, busuk!" sentak gadis bercadar merah. Pedang itu berkelebat cepat.


Sreeeeettttt...!!!


"Wuaaaaa...!"


"Tobaaaat...!"


Ananta salah seorang gadis dari Tiga Dewi Iblis dari Lembah Maut menjerit kesakitan ketika, pedang gadis bercadar merah membabat tubuh Ananta. Tubuhnya ambruk dengan mata terbelalak. Sesaat mengejang kesakitan, kemudian tewas. Gadis bercadar merah tersenyum mencibirkan bibirnya. Kemudian di tendangnya tubuh Ananta.


"Jahanam! Kau telah membunuh saudariku. ****** kau di tanganku. Keparat!" dengus Anantara saudari kedua Tiga Dewi Iblis dari Lembah Maut.


"Siapa kau? Bedebah! Berani kau membunuh pengikutku!" seru Nyi Gandawati.


"Aku Dewi Melati Kelantara, Putri Arya Kelantara Pendekar Tapak Maut. Sudah cukup jelas kusebutkan namaku, Hei Iblis?" dengus Dewi Melati pada Nyi Gandawati.


"Keparat, rupanya kau Putri Pendekar Tapak Maut pemilik Pedang Samber Nyawa? Mencari ****** kau datang ke sini bocah!" dengus Nyi Gandawati.


"Biar, aku yang habisi nyawa keparat ini ketua!" sahut Anantara.


"Di mana kepala desa keparat itu. Kalau ia tidak keluar akan kubakar desa ini, lalu aku bantai seluruh penduduk ini!" perintah Nyi Gandawati pada seluruh muridnya.


"Rupanya selama ini kalian penghalang kekuasaanku, istri dan dan anak Arya Kelantara. Sungguh cerdik kalian, keduanya memakai cadar merah agar tidak dapat di ketahui penyamaran kalian. Cuiiiih!" rutuk Nyi Gandawati menggerutu sendirian.


Saat itu Dewi Melati di serang dua lawannya, Anantara gadis ketiga dari Tiga Iblis dari Lembah Maut dan Toyang si Setan Cabul dari Gunung Sotang, sementara Dewi arum diserang Anala gadis pertama dari Tiga Dewi Iblis dari Lembah Maut dan Sakunta si Cambuk api.

__ADS_1


***


Malam semakin membawa kegelapan yang diselimuti halimun. Binatang malam berdendang riang, seakan tengah berpesta dalam satu upacara ganjil. Menjadikan suasana malam semakin mencekam.


Apalagi kala suara burung hantu dan lolongan anjing hutan menimpali. Nampak, seorang pemuda tampan, berambut kusut masai, mengenakan ikat kepala terbuat dari akar pohon. Berpakaian kuning gading berlengan panjang dan memakai celana sebatas paha yang terbuat dari kulit harimau. Dialah Sima Kelantara atau Pendekar Sinting yang sedang tiduran di dahan pohon besar.


"Ha ha ha ... hi hi hi. Dahan pohon ini gatal sekali. Rasanya aku tidak betah bermalam di sini!" gerutu Sima sendirian di dalam hutan.


"Hmm, aku ingin tahu apa isi mantra dari paman Kumba. Hi hi hi jangan-jangan mantra untuk merayu wanita? Ha ha ha," seloroh Sima cenge-ngesan sendirian.


Ketika itu juga Sima membaca mantra yang diberikan paman Kumba. Sesekali mengernyitkan dahinya dan mencoba menghafal dan memahami isi mantra tersebut. Setelah beberapa kali ia membaca mantra tersebut Sima dengan cepat menghafalnya.


"Hmm ... sepertinya mantra yang diberikan paman Kumba. Mantra untuk dapat menghilang dan mantra pecah suara. Yang dapat menimbulkan suara ada di mana-mana. Hi hi hi ... ha ha ha. Sepertinya mengasyikkan," seloroh Sima kembali cenge-ngesan.


"Sebaiknya aku mencari kedai untuk menyantap ikan bakar. Hi hi hi ... ha ha ha."


Orang-orang tak banyak yang menghiraukan wanita berpakaian gembel itu. Bahkan ada yang mencibirkan bibir sambil menutup hidung, menghinanya. Namun, orang berpakaian compang-camping seperti gembel itu tak menghiraukan. Dirinya tetap duduk tenang dan menundukkan kepala. Wajahnya tertutup rambutnya yang acak-acakan. Sehingga tak dapat terlihat dengan jelas.


"Hei, kapan wanita gembel itu masuk? Tahu-tahu sudah ada di sana," ujar seorang laki-laki bermuka beringas, berhidung besar, dan kumis tebal.


"Aaah....! Jangan usil pada orang lain. Teruskan makanmu. Paling-paling orang gembel yang baru dapat rejeki," sahut temannya sambil menggerogoti daging ayam.


"Ha ha ha ha." Keduanya tertawa-tawa sambil memandangi wanita yang berpakaian compang-camping itu.


Suara tawa dan riuhnya di dalam kedai, tiba-tiba terhenti, ketika mereka melihat laki-laki berwajah tampan rambutnya masai, mengenakan celana sebatas paha dari kulit harimau. Wanita yang berpakaian compang-camping itu kini memandangi pemuda sinting yang duduk di meja paling depan. Dia teringat kalau pemuda itu telah menolongnya saat kejadian perkelahian di sebuah kedai.


Di kejauhan tiba-tiba nampak orang-orang berhamburan berlarian seperti ketakutan melihat hantu. Sekejap wanita berpakaian compang-camping itu berkelebat melesat dengan cepat meninggalkan kedai makan tanpa membayar terlebih dahulu.

__ADS_1


"Hei...! Wanita edan bayar makananku!" teriak pemilik kedai.


"Biarlah aku yang membayar makanan wanita itu, Kisanak," ujar Sima pada pemilik kedai.


"Baik Den," sahut pemilik kedai.


"Ini ambil kisanak." Pemuda sinting itu pun melesat meninggalkan kedai makan dengan sekejap dan tubuhnya langsung menghilang.


"Benar-benar orang-orang aneh dan ajaib," gumam pemilik kedai.


Ketika itu wanita gembel berpakaian compang-camping itu terus berkelebat menuju kerumunan penduduk yang sedang berlari berhamburan. Di belakang Sima sudah menyusul. Ternyata mereka melihat dua sosok wanita yang sedang bertarung dengan Perguruan Aliran Golongan Hitam dan pendekar sesat lainnya. Tak lain mereka adalah Dewi Arum dan Putrinya Dewi Melati Kelantara. Sepertinya Tuhan Pemilik Alam Jagad Raya ini telah menghendaki mereka untuk bertemu.


Wanita berpakaian compang-camping segera menyela pertarungan itu. Dan ia membantu dua sosok wanita yang tengah di keroyok pendekar-pendekar aliran hitam.Tak lama muncul dari arah belakang seorang pemuda sinting mengenakan pakaian kuning gading dan mengenakan celana sebatas paha yang terbuat dari kulit harimau. Tak lain dia adalah Sima atau Pendekar Sinting.


"Hei, orang-orang sinting, datang dari mana kalian!" seru Nyi Gandawati pada Sima dan wanita berpakaian compang-camping.


"Turun kau wanita, Sundel. Hi hi hi!" dengus wanita berpakaian compang-camping.


"Hei, Kuntilanak Peot. Kalau bicara sebaiknya kau bercermin di atas sumur. Ha ha ha ... hi hi hi," seloroh Sima menimpali pada Nyi Gandawati.


"Jahanam! Siapa kalian sebenarnya? Dasar orang-orang gemblung!" dengus Nyi Gandawati.


Dewi Arum dan Dewi Melati terkejut akan kedatangan dua sosok orang yang membantunya. Keduanya berperilaku seperti orang gila. Di amatinya seorang pemuda yang tampak cenge-ngesan dan serorang wanita berpakaian compang-camping itu juga terkadang cekikikan.


"Sepertinya kau pemimpin tikus-tikus ini. Kuntilanak Peot! Hi hi hi," seloroh Sima membuat Nyi Gandawati murka mendengar ejekan pemuda sinting di hadapannya.


"Pemuda sinting, tak percuma aku mencarimu. Akhirnya kau datang sendiri untuk mengantar nyawamu!" dengus Nyi Gandawati penuh geram.

__ADS_1


__ADS_2