
Sementara itu, di Perguruan Gerombolan Waragang, tampak seorang pemuda tampan rambutnya kusut masai. Pemuda tampan yang tidak lain Pendekar Sinting, benar-benar marah, setelah tahu dalang semua kerusuhan di rimba persilatan.
"Hi hi hi...! Ha ha ha...!" Dengan tingkah laku seperti orang yang tak waras, Pendekar Sinting terus bergerak menyerang ke sana kemari, tak henti-hentinya meminta korban. Setiap kali ia melancarkan ajian yang ia miliki , jeritan kematian menyapu malam yang sepi.
Sejauh itu, pertarungan tampak belum akan berakhir. Para pemimpin Gerombolan Waragang pun belum menampakkan batang hidungnya. Hal itu membuat Pendekar Sinting mengamuk ganas. Dengan berteriak-teriak seperti orang kebakaran jenggot, Sima berusaha memanggil orang-orang itu.
"Pimpinan Gerombolan Waragang, keluarlah kalian!" serunya menantang sambil terus melabrak Gerombolan Waragang serta para pengikutnya.
Sementara itu, di dalam bangunan besar perguruan Gerombolan Waragang, Gandon dan Waragang sendiri tengah membicarakan jalan yang harus mereka tempuh. Baru Pendekar Sinting saja yang datang, mereka telah dibuat repot. Apalagi jika yang lainnya muncul.
"Celaka! Dia memang bukan pendekar sembarangan. Baru dia yang datang, telah kerepotan begini," gerutu Waragang.
"Tak ada waktu bagi kita untuk meladeninya. Apalagi jika yang lainnya datang. Celakalah!"
"Tapi, Guru...," selak Gandon.
"Ada apa, Gandon?"
"Bagaimana kalau aku menghadapinya?"
"Apa"! Jangankan kau, aku pun belum tentu mampu menghadapinya. Percuma saja! KIta harus menyingkir dari tempaylt ini!"
"Tidak! Aku akan menghadapinya!" kata Gandon seraya berkelebat keluar.
"Gandon, tunggu!" cegah Waragang. Namun tubuh Gandon telah melesat meninggalkan tempat itu.
"Murid ******! Rupanya ia mencari ******!"
Waragang segera melesat keluar lewat pintu belakang, meninggalkan tempat itu.
Dia melihat keadaan yang tidak memungkinkan untuk diladeni. Pertarungan semakin gencar dengan kemunculan Pendekar Sinting. Gandon yang bernafsu hendak mengalahkan Pendekar Sinting langsung menyeruak ke dalam kancah pertempuran. Dan menyerang Pendekar Sinting dengan ajian 'Halimun Gondol Mayit'
Tubuh Gandon laksana menghilang, yang terlihat hanya bayangannya saja. Hal itu membuat Pendekar Sinting tersentak kaget, dia berusaha memusatkan kekuatan batinnya. Namun Gerombolan Waragang tengah menggempurnya. Mau tak mau, perhatiannya terpecah lagi. Dengan mendengus marah serta bertingkah laku seperti orang tak waras, Pendekar Sinting mengamuk. Serta merta melepaskan ajian pamungkasnya ke segenap penjuru memukul ke kepala lawan.
"Heyaaaa...!"
Jerit kematian terdengar susul-menyusul dari mulut anak buah Gandon. Pada saat itu, Gandon menendang pundak Pendekar Sintingdengan telak.
Duukk...!!!
"Ukh!" Sima mengeluh. Tubuhnya berguling bawah. Gandon kembali berkelebat, menyerang ke arah Pendekar Sinting. Namun dengan cepat
Sima kembali berguling ke samping, lalu dengan cepat .menghantamkan tendangannya ke kaki lawannya.
"Heyaaa...!
"Hih....!"
"Ukh!" Gandon mengeluh kakinya terpincang-pincang terkena tendangan yang dikerahkan dengan tenaga dalam penuh. Pendekar Sinting yang telah kalap segera bangkit. Lalu dengan cepat pukulan sakti dihantamkan ke arah anak buah Gandon.
"Heyaaa...!"
Wusss...!!!
"Wuaaa...!"
__ADS_1
"Aaakh...!"
Gerombolan Waragang yang hendak menyerang Pendekar Sinting berhamburan. Tubuh mereka terpental dengan keadaan mengerikan. Angin ****** beliung yang keluar dari telapak tangan Pendekar Sinting menyapu mereka sampai jauh.
"Hi hi hi...! Tunjukkan wujudmu, Hantu Kudis!" bentak Sima pada Gandon sambil cenge-ngesan
"Jangan sombong, Pendekar Sinting! Mari kita bertarung sampai mati!" dengus Gandon, dibarengi dengan kemunculannya yang langsung menyerang.
"Uts! Licik...!" Pendekar Sinting segera bergerak meliukkan tubuh, mengelakkan serangan lawan. Kemudian dengan ia kerahkan pukulan sakti dihantamkan ke arah lawan.
"Heyaaa....!"
Gandon tersentak, mendapatkan pukulan lawan yang mengeluarkan hawa panas laksana api. menderu tajam di depan wajahnya. Cepat-cepat Gandon membuang tubuh ke belakang, lalu dengan cepat melepas pukulan saktinya juga.
"Celaka....!" Pendekar Sinting terkejut, ketika tangan lawan menepis pundaknya. Seketika, pundaknya terasa panas. Hal itu membuatnya bertambah marah.
Dengan menggeram marah, Pendekar Sinting segera menghantamkan pukulan ke arah lawannya'. Gabungan serangan yang begitu cepat dan aneh, cukup menyentakkan lawan. Gandon berusaha mengelakkan serangan-serangan gencar yang dilancarkan Pendekar Sinting. Namun nampaknya
Pendekar Sintingtak mau memberi kesempatan yang ketiga kali bagi lawan untuk menyerang. Dengan gempuran gencar susul-menyusul, Pendekar Sinting terus mengincar lawan. Sampai lawan tak punya kesempatan untuk balas menyerang.
"Heyaaa...!"
"Serang dia!" seru Gandon memerintahkan gerombolanya untuk menyerang. Namun belum juga Gerombolan Waragang membantu, dari kejauhan terdengar suara para pendekar berdatangan. Hal itu
membuat Gandon semakin kebingungan. Dia berusaha lari, tapi Sima dengar cepat menghadangnya.
"Mau lari ke mana, Hantu Kudis!"
"*******! Kau harus ******, Pendekar Sinting!"
Dengan nekat Gandon merangsek, berusaha
menjatuhkan Pendekar Sinting. Namun karena terlalu bernafsu, hanya dengan memiringkan tubuh ke samping Pendekar Sinting berhasil mengelakkan
serangan lawan. Kemudian dengan cepat, tangan Sima melancarkan pukulan sakti yang membahayakan lawannya, dihantamkan ke batok
kepala lawan.
Prak....!!!
"Aaakh...!" Gandon menjerit keras, kepalanya hancur terkena hantaman pukulan Sakti Pendekar Sinting.
Tubuhnya terjajar ke belakang dalam keadaan mengerikan, lalu ambruk dengan nyawa
melayang. Melihat para pendekar berdatangan, Pendekar Sinting segera menghampiri. Betapa
gembira hatinya ketika melihat Dewi Melati bersama tokoh Aliran Golongan Putih.
"Melati...!"
"Kakang Sima, kau tidak apa-apa!" Dewi Melati segera lari ke arah Pendekar Sinting dan memeluk erat tubuh saudaranya itu. Dewi Melati tersenyum lepas bersama tetesan lembut di kedua pipinya.
"Aku baik-baik saja, tak perlu kau menangis., Melati"
Para pendekar yang rata-rata berilmu tinggi, tidak menghadapi kesulitan dalam menumpas sisa-sisa Gerombolan Waragang yang masih mencoba mengadakan perlawanan. Dalam sekejap saja, sisa-sisa Gerombolan Waragang dapat ditaklukkan.
__ADS_1
"Tuan Pendekar, perkenalkan namaku Nyai Sukmawati dari Perguruan Teratai Suci.
"Namaku Sima Kelantara dan ini adikku Dewi Melati," ujar Sima seraya menjura hormat.
"Salam, Nyai Sukmawati," ujar Dewi Melati
"Terima kasih Nisanak, kau telah menyelamatkan nyawaku."
"Tak perlu diingat kembali, Nyai. Menolong sesama sudah menjadi tugas kita bersama di alam jagad raya ini!" sahut Dewi Melati.
"Di mana Waragang itu sendiri?" tanya Nyai Sukmawati.
"Jadi ada yang masih tersisa?" tanya Sima sambil cenge-ngesan. Tangannya menggaruk-garuk kepala, baru merasa sadar kalau dedengkot Gerombolan Waragang masih hidup.
"Ya! Justru dia orang utama. Dia bernama Waragang,
laki-laki setengah baya berjubah hitam dengan rambut panjang berwarna merah," tukas Nyai Sukmawati.
"Kurang ajar! Coba aku periksa ke dalam," ujar Sima segera mencelat masuk ke dalam untuk memeriksa bangunan Gerombolan Waragang. Namun di sana tidak ditemukannya siapa-siapa lagi.
Sima keluar kembali dengan tangan kanan menggaruk-garukkepala, membuat Dewi Melati merengut. Antara gembira dan sebal bercampur aduk menjadi satu di hatinya. Sedangkan Murti tersipu-sipu. Hati gadis cantik itu merasakan getaran aneh jika memandang wajah Pendekar Sinting.
"Oh, Dewi Melati ternyata memiliki saudara laki-laki yang begitu tampan dan juga sakti mandraguna." Gumam Murti dalam hati. Matanya tak lepas memandang Pendekar Sinting yang tampan dan membuat hatinya berdebar-debar.
"Bagaimana, Sima! Apa ada?"
"Mungkin ia melarikan diri, Nyai," jawab Sima.
"Hm, kalau begitu kita harus mengejarnya," ujar Nyai Sukmawati.
"Kalau keduanya tidak segera ditangkap, bisa-bisa rimba persilatan akan selalu resah."
"Kalau begitu, kita memang harus segera mengejarnya," ujar Sima tegas. Kemudian ditatapnya Murti yang saat itu tengah tersipu-sipu malu.
"Nisanak, tentunya kau tahu di mana mereka
berada?" Dewi Melati yang menyaksikan tingkah laku Murti, seketika merengut. Hatinya kesal, melihat kelakuan gadis itu di hadapan Sima.
"Baiklah, aku akan memberitahukan kalian. Tentu Waragang mendatangi guruku Setan Merah...,"
tutur Murti.
"Di mana gurumu tinggal?" tanya Nyai Sukmawati.
"Di Lembah Neraka," jawab Murti menerangkan tempat gurunya berada.
"Terima kasih, Nisanak. Kalau begitu, mari kita pergi!" ujar Pendekar Sinting.
"Ayolah, jangan buang-buang waktu lagi," sambut Nyai Sukmawati.
"Kakang Sima, aku ikut," pinta Dewi Melati.
"Ayolah," jawab Sima.
Ketiganya pun segera meninggalkan Perguruan
__ADS_1
Gerombolan Waragang, sekaligus meninggalkan Murti dengan hukuman penjara di Perguruan Teratai Suci.