
Sementara itu, Sima yang menghadapi Setan Merah masih bertingkah laku konyol. Mulutnya berteriak-teriak manakala Setan Merah menyerang dengan tongkat berkepala tengkorak. Dari kepala tongkat itu, keluar asap merah kehitam-hitaman yang mengandung racun. Beruntung sekali Sima telah kebal dari segala macam jenis racun, sehingga dia tidak terpengaruhi oleh asap beracun yang keluar dari kepala tongkat Setan Merah. Melihat lawan mampu bertahan terhadap racunnya, Setan Merah bertambah marah. Dengan mendengus, dilancarkannya jurus 'Tongkat Setan Neraka'
Tongkatnya bergerak buas.
"Ha ha ha. Mengapa kau seperti orang kerasukan, Ki? Hi hi hi...!" seloroh Sima sambil mengelakkan sambaran kepala tongkat lawan.
"Remuk batok kepalamu! Anak Setan...!"
"Uts! Belum, Ki. Aduh, galak sekali," gumam
Sima sambil melompat ke samping dengan tangan memegangi kepala.
"Kuremukkan kepalamu, Bocah Edan!
"Yeaaah...!"
"Hi hi hi...! Kalau kau marah, wajahmu seperti kambing tercebur di comberan,
Ki," ejek Sima sambil mengelakkan serangan lawan dengan jurus 'Dewi Kahyangan Menari'. Lagi-lagi Setan Merah tersentak kaget yang dilakukan oleh Pendekar Sinting terlihat lamban, tapi kenyataannya sangat luar biasa dan mengandung hawa panas disertai hembusan angin kencang.
"Menyerahlah, Ki. Semoga kau akan mendapat ampunan!" kata Pendekar Sinting,
berusaha menyadarkan laki-laki tua itu.
"Cuih! Pantang bagi Setan Merah menyerah! Kita tentukan, siapa di antara kita yang akan ******!"
"Hiyaaat...!"
Wusss...!!!
Dari telapak tangan Setan Merah membersit selarik sinar panas ke arah Pendekar Sinting. Sinar itu bergulung-gulung dengan cepat, berusaha membungkuk tubuh Pendekar Sinting. Melihat hal itu, Sima segera menangkis serangan. Dengan pukulan yang dikerahkan dengan tenaga dalam penuh diarahkan ke sinar pelangi yang hendak melumpuhkannya. Seketika melesat dua sinar biru ke arah sinar yang dikerahkan oleh Setan Merah.
Jlegarrr...!
"Ukh...!" Setan mengeluh pendek. Seketika tubuhnya terhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang. Dan tak berapa lama kemudian.
"Hoeeek...!" Setan Merah memuntahkan darah hitam. Wajahnya menjadi pucat pasi. Sedangkan matanya membelalak tegang.
"Kuharap kau mau menyerah, Ki," kata Sima berusaha menyadarkan tokoh Aliran Golongan Hitanm itu.
"Kurang ajar! Kau harus ******!"
"Hiyaaa...!"
Dengan nekat Setan kembali menyerang Pendekar Sinting dengan ajian pamungkasnya. Menyaksikan kenekatan laki-laki tua itu, bergidik juga hati Pendekar Sinting. Sebenarnya kematian orang tua itu tidak dikehendakinya Tapi, jika ia hanya
diam, maka dialah yang akan tewas. Terpaksa Pendekar Sinting menyambutnya.
*Aji Serat Netra Dahana*
"Yeaaakh...!"
Wuuut, wuuutttt, wuuuuuut...!!!
"Aakh..!"
Laki-laki tua itu meraung keras, mendapat ajian pamungkas yang dirasakan bagaikan hantaman ribuan halilintar yang menggelegar. itu meraung-raung kesakitan. Kemudian tubuhnya hangus meleleh mengeluarkan darah kuning kehitaman.
__ADS_1
Di sisi lain, Dewi Melati yang menyerang Waragang semaBayangan Iblisn marah karena sejak tadi
serangannya belum juga mendapatkan hasil. Dengan jurus pedang di tangan Dewi Melati bergerak cepat ke samping kanan, kemudian lurus ke depan. Dilanjutkan dengan menyilang, lalu lurus lagi. Pada saat dekat dengan tubuh lawan, gadis cantik jelita itu mengangkat pedangnya tanggi-tinggi. Dan....
***Wuutt...!!!
Sreeet***...!!!
"Akh, Tobat...!" Waragang memekik seketika dari kepala sampai ke bawah tubuhnya dibelah oleh
Pedang Walet Merah. Sesaat tubuh Waragang teebelah menjadi dua bagianterkena tebasan. Hal itu
membuat Nyai Sukmawati dan Sima membelalakkan mata. Keduanya malah terbengong-bengong menyaksikan kejadian yang aneh itu.
"Wah"!" seru Sima dengan mulut menganga bodoh.
"Ck ck ck...! Bukan sembarangan ilmu pedang,"
puji Nyai Sukmawati sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Maaf, aku terpaksa," sesal Dewi Melati.
"Tak apa, Melati. Mungkin hanya kematianlah yang bisa menghentikan mereka," ujar Nyai Sukmawati
"Semua tugasku telah selesai sebagai tokoh Golongan Aliran Putih. Kuharap kalian bisa bertandang ke perguruan kami yang rendah ilmu ini dibandingkan Tuan Pendekar juga Adik pendekar," tutur Nyai Sukmawati.
"Jika ada umur panjang kami akan singgah ke perguruan ketua guru," ujar Pendekar Sinting.
"Sampaikan salam jami pada semua pendekar Golongan Putih, kami mohon pamit," ujar Dewi Melati menjura, dibarengi Sima. Kemudian, tubuh mereka berkelebat meninggalkan Nyai Sukmawati. ketua dari Perguruan Teratai Suci itu yang kemudian memandang kepergian pendekar muda-mudi itu dengan pandangan mata penuh persahabatan.
"Kenapa kau tersenyum-senyum memandangku, Melati? Nanti kau jatuh cinta dengan kakangmu sendiri. Hi hi hi ... ha ha ha," seloroh Sima pada adiknya Dewi Melati.
"Huuh, tadinya aku berpikir seperti itu kakang, Ha ha ha, tentunya nanti banyak gadis-gadis yang menyukai kakang," tukas Dewi Melati pada kakaknya Sima.
"Sontoloyo, kau ini adikku yang paling aku sayangi. Apa mungkin kau jatuh hati dengan kakangmu sendiri!" rutuk Sima pada adiknya.
"Ha ha ha ... tidak mungkin, aku mencintai kakangku sendiri." ujar Dewi Melati sembari tertawa.
"Hi hi hi ... ha ha ha." Sima pun tertawa terkekeh-kekeh mendengar ocehan adiknya.
"Suatu saat nanti kau akan dikerumuni gadis-gadis cantik, karena caramu memandang dunia, Kakang," ujar Dewi Melati.
"Kau makin ngawur saja Melati. Mana ada seorang gadis yang mau dengan kakangmu ini, dan kata-katamu, seperti orang yang sudah tua saja. Ha ha ha," seloroh Sima yang kembali tertawa.
"Kalau kakang tidak percaya lihat saja nanti. Huuh!" Rungut Dewi Melati seraya berkelebat meninggalkan Sima yang masih berdiri bengong mendengarkan perkataan adiknya.
"Dasar gadis gemblung! Setelah bicara pergi begitu saja. Hei, Melati. Tunggu kakang!" seru Sima yang kemudian berlari melesat menyusul adiknya.
Kakak beradik itu pun berkejaran, saling mendahului untuk menuju pesisir utara. Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang mereka miliki masing-masing. Sesekali juga mereka beristirahat di hutan kecil yang mereka lalui dan memetik buah-buahan dan menikmatinya. Akhirnya setengah hari perjalanan Sima dan adiknya Dewi Melati, sudah mendekati daerah pesisir utara.
***
Waktu kembali bergulir dengan cepat. Senja yang cerah membiaskan cahaya merah di langit pantai utara Dewi Arum dan Ningrum Sari menunggu cemas kedatangan putra-putrinya. Berhasilkah mereka menyemayamkan Pedang Samber Nyawa di kawah Gunung Dahyang yang daerahnya di kenal begitu angker.
"Ha ha ha. Kau kalah kakang Sima. aku lebih dulu sampai di pesisir utara," gumam Dewi Melati pada Sima yang masih tertinggal di belakang.
Kedatangan Dewi Melati mengejutkan Dewi Arum dan juga Ningrum Sari yang sedang duduk di bebatuan pintu Gua Walet Merah pesisir utara.
__ADS_1
"Biyung, aku datang!" seru Dewi Melati pada kedua ibunya.
"Eh, Cah Ayu. Kau membuat Biyungmu terkejut saja," ujar Ningrum Sari. Yang lebih dahulu mengetahui kedatangan Dewi Melati.
"He he he ... Biyung Ningrum Sari. Aku begitu gembira karena kakang Sima kalah cepat berlari denganku," ujar Dewi Melati merasa gembira.
"Cah Ayu, di mana kakangmu sekarang?" tanya Dewi Arum menyela.
"Anu, Biyung. Kakang Sima tertinggal di belakang. Kami di tengah jalan saling mendahului untuk sampai di sini," balas Dewi Melati.
"Kalian berdua memang bandel, walaupun kalian sejak kecil tidak pernah bersama-sama. Tetapi, persamanaan kalian banyak sekali," tutur Ningrum Sari pada Dewi Melati.
"He he he ... apakah Sima saat kecil seperti itu, Ningrum Sari?" tanya Dewi Arum pada Ningrum Sari.
"Ha ha ha ... begitulah Nyimas Arum. Tetapi Sima anak yang sangat patuh padaku dan juga mendiang Ninik Bintari," terang Ningrum Sari.
"Biyung Dewi Arum, Biyung Ningrum Sari. Mengapa kakang Sima lama sekali? Aku tidak percaya kalau kakang Sima kalah denganku dalam mengadu ilmu meringankan tubuh. Raksasa dan para begundal saja dapat ditaklukannya dengan mudah. Pasti kakang Sima sengaja mengalah padaku, Biyung," tukas Dewi Melati.
"He he he ... kakangmu persis sekali dengan Ramamu, Cah Ayu. Seorang pendekar yang selalu merendahkan dirinya di mata orang lain, sekalipun ia kerabat ataupun musuhnya," terang Dewi Melati pada putrinya Dewi Melati Kelantara.
"Hmm, kau benar Nyimas Dewi Arum. Kuperhatikan sejak ia kecil, tingkah lakunya dan budi pekertinya sangat bagus. Memang mirip sekali dengan Ramanya, Kakang Arya," timpal Ningrum Sari.
Tak lama, tiba-tiba terdengar suara tawa seseorang melingking ke angkasa. Tetapi,
"Hi hi hi ...ha ha ha. Tidak sepantasnya aku mendapat pujian seperti itu Biyung...."
Dewi Arum, Ningrum Sari dan Dewi Melati. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling, tidak dapat melihat siapa yang telah datang. Bukannya wujud yang muncul tapi gelak tawa yang menggema terdengar. Suara tawa yang mampu menggugurkan daun-daun pohon.
"Hei, keluarlah pengecut!" dengus Dewi Melati. Dan matanya memandang tajam ke atas pepohonan, berusaha mencari sosok yang telah mengganggu mereka.
"Hi hi hi ... ha ha ha. Kau seperti orang yang linglung saja, Melati." Tiba-tiba terdengar kembali tawa keras seseorang laki-laki.
Kemudian Dewi Arum dan Ningrum Sari membalikkan tubuh mereka secara bersamaan. Namun, mereka tidak dapat juga melihat asal suara yang memanggil Dewi Melati.
"Mengapa ia tahu namaku, Biyung?" tanya Dewi Melati pada Dewi Arum dan juga Ningrum Sari.
"Entahlah, sepertinya ia mengenalmu, Cah Ayu," sahut Dewi Arum.
Tidak berapa lama Sima keluar dari persembunyiannya. Dan mereka bertiga tidak mampu menjangkau ilmu halimun yang di miliki Sima.
"Hei, Biyung ini aku! Kenapa kalian seperti orang yang kebingungan saja, tidak mengenaliku!" seru Sima yang langsung mewujudkan dirinya
"Dasar bocah bandel!" ujar Dewi Arum pada putranya yang kemudian memeluknya dengan penuh kasih sayang.
"Bagaimana kau berhasil anakku...?" tanya Ningrum Sari pada Sima.
"Aku berhasil Biyung. He he he," ! balas Sima pada Ningrum Sari.
"Kakang Sima aku menang kau kalah! Aku lebih dulu sampai di pesisir utara. He he he," ujar Dewi Melati pada Sima.
"Ha ha ha ... kau benar Melati, kau yang menang. Kakang tak sanggup mengejarmu," sahut Sima.
"Ha ha ha ... ayo kita masuk hari sudah mulai gelap," seru Dewi Arum menaruh tangannya dipundak Sima dan diikuti Ningrum Sari dan juga Dewi Melati.
Malam pun datang dengan perlahan, menggantikan senja di pesisir pantai utara. Dan kegelapan menyelimuti bumi persada.
SELESAI
__ADS_1