
"Hiyaaat...!"
Dengan jurus 'Tapak Maut', Eyang Arang Sedayu terus berusaha merangsek Dewi Arum. Namun pendekar wanita ini dengan cepat berkelit menggunakan jurus 'Bangau Terbang Membelah Cakrawala' yang dilanjutkan dengan jurus 'Gempuran Paruh Bangau'.
"Yiaaat...!"
Tangan Dewi Arum bergerak laksana paruh bangau, mematuk ke sana kemari dengan cepat. Sasarannya kini tertuju ke dada dan wajah laki-laki tua itu. Kakinya juga tidak diam dan menyodokkan ke perut lawannya.
"Hiyaaat...!"
Dewi Arum mengarahkan satu tendangan ke laki-laki tua itu. Namun, dengan cepat Eyang Arang Sedayu menggeser tubuh kesamping, dilanjutkan dengan jotosan ke wajah.
"Heit...!"
"Uts...!"
Dewi Arum mengelak dengan menekuk leher ke samping kanan, disertai dengan menggeser kakinya ke kanan. Kemudian dengan cepat tubuhnya dirundukkan ke bawah. Disusul dengan sebuah jotosan ke arah perut lawan dengan jurus 'Paruh Bangau Mematuk Ular'. Tangan Dewi Arum yang meruncing, menusuk ke perut dan ulu hati lawan dengan cepat.
"Hiyaaat...!"
Eyang Arang Sedayu tersentak kaget. Segera tubuhnya menghindar dua tindak ke belakang. Kemudian dengan cepat tangan kirinya menepis serangan lawan. Sedangkan tangan kanan Dewi Arum dengan cepat pula menghantam dengan pukulan 'Tapak Maut' Pelebur Sukma'.
Jlegeeeerrrr...!!!
Eyang Arang Sedayu segera melompat ke dahan pohon begitu cepat. Kalau tidak cepat menghindar tubuhnya bisa hangus terbakar. Saat Dewi Arum ingin kembali menghempaskan pukulan 'Tapak Maut Pelebur Sukma' ke arah Eyang Arang Sedayu yang hinggap di dahan pohon, dan berseru.
"Cukup, Cah Ayu! Siapa kau sebenarnya? Jurus-jurus yang kau gunakan tak asing bagiku?" tanya Eyang Arang Sedayu.
"Aku Dewi Arum. Aku ditugaskan Eyang Brahmacari untuk memenui Eyang Arang Sedayu," balas Dewi Arum.
"Oh, rupanya kau murid kakang Brahmacari aku sudah menduganya," ujar Eyang Arang Sedayu.
"Apakah Eyang yang bernama, Eyang Arang Sedayu yang sedang kucari...?"
"Benar sekali, Cah Ayu. Akulah Arang Sedayu."
"Ampun Eyang. Maafkan aku telah lancang padamu."
"Tak apa, Cah Ayu. Aku bangga dengan kemampuanmu," puji Eyang Arang Sedayu lalu turun mendarat dengan ringan.
"Huuuup...!" Dewi Arum segera menghampiri Eyang Arang Sedayu, kemudian menjura pada laki-laki tua sakti itu.
__ADS_1
"Bangunlah cucuku. Resi Brahmacari adalah kakak sepeguruanku. Tentunya kau cucuku juga," tutur Eyang Arang Sedayu.
"Terima kasih, Eyang Guru," ujar Dewi Arum.
"Untuk apa kau menemuiku?" tanya Eyang Arang Sedayu.
"Aku ditugaskan Eyang Brahmacari untuk meminjam Pedang Matahari, Eyang Guru," balas Dewi Arum.
"Hm, begitu rupanya. Pedang Matahari sudah kuwariskan pada muridku, Cah Ayu," terang Eyang Arang Sedayu.
"Siapakah murid, Eyang Guru?"
"Muridku hilang ingatan. Yang ia ingat hanya nama putranya saja," terang Eyang Arang Sedayu kembali.
"Lalu, siapakah nama putranya itu, Eyang Guru?" tanya Dewi Arum kembali.
"Hmm ... Sima! Jika Eyang tidak salah ingat," balas Eyang Arang Sedayu.
"Sima? Tidak salah lagi. Murid Eyang Guru adalah, Ningrum Sari," ujar Dewi Arum.
"Kau mengenalnya, Cah Ayu?" tanya Eyang Arang Sedayu terperangah.
"Hm, berati kau istri Arya Kelantara, Pendekar Tapak Maut murid dari kakang Brahmacari. He he he, pantas saja," ujar Eyang Arang Sedayu seraya menganggukan kepalanya.
"Benar Eyang, aku istri Kakang Arya, lalu di mana murid Eyang itu?" tanya Ningrum Sari kembali.
"Pergilah kau ke Desa Pandan Wangi. Sepertinya muridku ke arah desa itu. Sadarkanlah ingatan Ningrum Sari. Tegakkanlah kebenaran bersama-sama. Semoga Tuhan Pencipta Alam ini menyertai kalian," tutur Eyang Arang Sedayu.
"Baiklah. Murid pamit, Eyang Guru." Selepas menjura hormat, Dewi Arum berkelebat meninggalkan laki-laki tua sakti itu.
Sementara, di Desa Waringin di Perguruan Elang Perak yang dipimpin Ki Kuranta dari Aliran Putih. Berdatangan tamu tak diundang dari Perguruan Aliran Hitam.
Toplak, toplaak, toplak...!!!
"Hieeeeek...!"
"Hieeek...!"
Ki Palawa turun dari atas punggung kudanya, disusul oleh ketiga kawannya Ki Loreng ketua Perguruan Macan Loreng, Balakosa si 'Kapak Setan dari Pulau Mati' dan Tayung 'Setan Cabul dari Gunung Sotang'.
"Kuranta! Keluar kau, *******!" seru Ki Palawa di pintu gerbang Perguruan Elang Perak.
__ADS_1
Tak lama, lima orang murid bergegas membukakan pintu gerbang ingin tahu siapa tamu datang yang tanpa adat.
"Ada apa kisanak mencari guru kami?" tanya Susena murid Perguruan Elang Perak.
"Hmm ... apa pantas aku bicara dengan seekor keledai. Panggil gurumu, dan suruh menghadap Palawa 'Si Gagak Hitam'. Kalau tidak, akan kuobrak-abrik perguruan dungu kalian!" sentak Ki Palawa pada pemuda di depannya.
"Cepat beri tahu guru. Gerombolan aliran hitam singgah di perguruan kita," bisik Susena pada salah satu adik seperguruannya yang bernama Sudanta.
"Baik kakang," ujar Sudanta yang kemudian masuk ke dalam menemui gurunya.
"Guru, Palawa Si Gagak Hitam hendak menemui guru!" seru Sudanta pada gurunya.
"Palawa? Untuk apa mereka datang ke sini. Mari kita temui mereka. Dua orang beri kabar pada Perguruan Aliran Golongan Putih lewat pintu belakang. Dan yang lainnya ikut aku!" peritah Ki Kuranta kepada murid-muridnya.
"Baik guru...!" seru kedua muridnya yang ditugaskan memberi kabar berita pada Perguruan Aliran Golongan Putih lainnya.
Ki Kuranta melangkah, kemudian diikuti para muridnya yang bersiap-siap jika terjadi bentrok, antar Perguruan Aliran Putih dan Perguruan Aliran Hitam.
"Kuranta cepat kau keluar! Macam gadis perawan saja kau lama sekali," seloroh Ki Palawa membuat kawan-kawannya tertawa terbahak-bahak.
"Hmm ... ada urusan apa kalian mencariku, Palawa?" tanya Ki Kuranta.
"Kuranta! Apa kau mengenal wanita gila dan pemuda buta serta wanita bercadar yang memiliki Pedang Walet Merah? Mereka telah membuat rusuh di daerah kekuasanku!" sahut Ki Palawa seraya menaikan alisnya.
"Aku tak kenal mereka. Dan, aku tidak ada urusan dengan siapapun," ujar Ki Kuranta pada Ki Palawa.
"Hei ... aku tanya baik-baik kau malah bersikap kurang ajar, Kuranta!" dengus Ki Palawa merasa geram.
"Enyalah kalian dari sini. Masih banyak urusanku yang lebih penting," ujar Ki Kuranta hendak ngeloyor pergi.
"Hei, kau tua busuk! Jaga mulutmu. Jangan sampai kurobek dengan kapakku!" sahut Balakosa Si Kapak Setan dari Pulau Mati.
"Oh... Rupanya kau Kapak Setan dari Pulau Mati! Kalian datang untuk mengeroyokku. Ha ha ha lucu sekali."
"*******! Biar kucoba ilmumu. Tua bangka!" hardik Balakosa Si Kapak Setan.
"Biarkan aku saja yang memberi pelajaran kepada tua bangka ini!" potong Ki Palawa.
"Hiyaaaat...!"
Melihat gurunya bertarung para murid Perguruan Elang Perak berhamburan menyerang. Ki Loreng, Balakosa, dan Tayung Si Setan Cabul. Dengan begitu mudah menumbangkan murid-murid Perguruan Aliran Golongan Putih.
__ADS_1