Pendekar Sinting

Pendekar Sinting
Pertemuan Yang di Nanti


__ADS_3

Pedang itu melaju begitu cepat, hingga Nyai Gandawati yang tak menyangka akan diserang, tak dapat mengelakkannya.


Jreeeeeeebb...!!!


"Aaaaa...!"


"Tobaaaat...!"


Nyai Gandawati seketika menjerit. Darah muncrat dari mulutnya yang Dadanya terluka lalu membasahi pakaiannya. Sesaat matanya terbelalak memandang Dewi Arum dengan penuh kemarahan. Jemari tangannya meregang. Kemudian dengan jatuh keras, seketika tubuh Nyai Gandawati meleleh hingga bersembulan tulang-belulang dengan cairan merah kehitaman.


Seketika suasana berubah hening, tak ada lagi suara erangan atas atau jeritan kesakitan. Dewi Arum, Ningrum Sari dan Dewi Melati yang masih terpaku, memandangi tubuh Nyai Gandawati yang kaku.


Sima yang menyaksikan kejadian itu hanya mampu menghela napas. Kemudian kakinya hendak melangkah meninggalkan tempat itu tiba-tiba terdengar suara seruan yang menghentikan langkahnya.


"Hei, tunggu!" seru Dewi Melati. Sima menoleh seraya membalikkan tubuhnya.


"Siapa namamu...?" tanya Dewi Melati.


"Namaku, Sima Kelantara."


Mendengar nama dari pemuda sinting di hadapannya itu, Dewi Melati amat terkejut juga Dewi Arum serta Ningrum Sari begitu juga tersentak.


"Putraku, Sima!" teriak Dewi Arum dan Ningrum Sari secara bersamaan. lalu menubruk pemuda sinting itu yang masih dalam keadaan kebingungan. Di pelukannya, pemuda Sinting di hadapannya dengan rasa rindu yang amat dalam.


"Aku Biyungmu, Cah Bagus!" ratap Dewi Arum di dada pemuda sinting tersebut. Begitu juga dengan Ningrum Sari yang memeluk Sima dari arah samping.


"Apakah benar kau Biyungku...?" tanya Sima yang tiba-tiba menjadi terharu.


"Kakang Sima!" seru Dewi Melati meneteskan air mata di pipinya.


"Itu adikmu Dewi Melati Kelantara," terang Dewi Arum.

__ADS_1


"Adikku...?" tanya Sima.


Malam itu menjadi penuh keharuan dan tangisan kebahagiaan, di mana keempat insan yang terkumpul kembali setelah sekian lamanya terpisah. Dewi Arum dan Ningrum Sari menceritakan semua riwayat, siapa ayahnya dan siapa ibu kandung dan ibu susuhan pemuda yang terlihat tidak waras tersebut.


Dewi Melati terus saja memandangi wajah saudara kembarnya yang begitu gagah dan tampan. Dengan berjalan beringin mereka meninggalkan Desa Pandan Wangi dan memasuki hutan untuk bermalam di sana.


Pagi telah datang, semburat jingga keemasan, memancarkan keindahan warnanya membelah cakrawala yang luas terbentang diantara rerimbunan dan ranting pohon di Hutan Sriloka. Bulir embun berkilau tersiram cahaya langit yang kian bercahaya. Sang surya yang akan menghangatkan Mayapada. Burungpun ikut bernyanyi dengan kicauan merdunya menyambut kehidupan dengan gembira.


Ningrum Sari dan Dewi Arum bercerita apa yang telah terjadi dua puluh satu tahun yang lalu kepada Sima. Bagaimana mereka berpecah berai saat itu. Setalah Sima mendengarkan semua kisah dari Ningrum Sari ibu susuhannya, Sima terharu dan juga bahagia bertemu ibu kandung dan ibu susuhannya. Hatinya terharu mempunyai kedua ibu yang amat menyayanginya. Lain tidak dengan Dewi Melati adik perempuan Sima, ia tidak begitu mengalami kepahitan dan kesengsaraan semasa kecilnya. Hanya saja sama-sama kehilangan ayah mereka sewaktu mereka masih bayi.


Setelah sepeninggal Arya Kelantara atau Pendekar Tapak Maut yang kematiannya mengenaskan terbunuh oleh Perguruan Aliran Golongan Hitam. Namun, kini Pedang Samber Nyawa akan disemayamkan di Gunung Dahyang berkat petunjuk dari Resi Brahmacari. Agar di kemudian hari tidak ada lebih banyak lagi berjatuhan korban karena ingin memiliki pedang sakti tersebut.


"Bagaimana rencana, Biyung selanjutnya...?" tanya Sima pada Dewi Arum ibunya.


"Ikutlah bersama Biyung, kita semayamkan Pedang Samber Nyawa di Gunung Dahyang," balas Dewi Arum pada Sima.


"Aku ikut bersamamu, Nyimas Arum!" sahut Ningrum Sari.


"Aku ditinggalkan di sini sendiri! Biyung?" tanya Dewi Melati menyela.


"Kau tinggal di sini saja Melati, bermain-main dengan hewan-hewan di hutan ini," seloroh Sima menggoda adiknya. Membuat Dewi Melati cemberut bibirnya bersungut-sungut.


"Ha ha ha ...." Dewi Arum dan Ningrum Sari tertawa terkekeh-kekeh melihat tingkah Sima yang begitu konyol menggoda adiknya.


Saat itu juga mereka segera melangkahkan kaki meninggalkan Hutan Sriloka, menuju Gunung Dahyang. Sesekali mereka mengerahkan ilmu meringankan tubuh, agar segera cepat sampai ke tempat tujuan.


Setelah menembus perhutanan, menyusuri lembah, sungai dan pegunungan. Setelah seharian mereka berjalan, nampak terlihat letih dari wajah-wajah mereka. Namun, waktu bergulir begitu cepatnya, hingga waktu senja datang cerah membiaskan cahaya merah di langit sebelah barat.


"Masih jauhkah Biyung, letak gunung itu? Kakiku sudah terasa pegal sekali!" rungut Dewi Melati pada Dewi Arum.


"Sebentar lagi kita sampai!" sahut Dewi Arum.

__ADS_1


"Sebaiknya kita istirahat, Nyimas Arum," ujar Ningrum Sari.


"Hi hi hi ... ha ha ha, benar Biyung langit pun sudah mulai gelap. Sebaiknya kalian beristirahat. Biar aku saja yang melanjutkan menuju Gunung Dahyang." ujar Sima seraya tersenyum cenge-ngesan.


"Hm, tidak Cah Bagus. Kau tidak boleh pergi sendiri," ujar Dewi Arum pada putranya.


"Biar aku saja yang menemani Sima, Nyimas Arum. Kau dan Melati kembali ke pesisir utara nanti kami akan menyusul," sahut Ningrum Sari.


"Biyung Arum, Biyung Ningrum Sari. Aku saja yang menemani kakang Sima. Malam ini Biyung Dewi Arum dan Biyung Ningrum Sari beristirahat. Esoknya baru Biyung kembali ke pesisir utara, bagaimana...?" tanya Dewi Melati menyela.


"Ah, benar yang dikatakan Melati. Melati ikut denganku. Biyung kembali ke pesisir utara," sahut Sima.


"Hmm ... baiklah kalian harus berhati-hati, pastinya gunung itu penuh rintangan. Kalian harus berjanji kembali dengan selamat. Bawalah Pedang ini. Sementara malam ini kami bermalam di sini. Esoknya baru kami kembali ke pesisir utara," ujar Dewi Arum.


"Baik Biyung. Semoga Tuhan Pencipta Alam beserta kami," ujar Sima pada kedua ibunya.


"Ya, semoga kalian di lindungi. Berangkatlah jagalah adikmu baik-baik. Biyung tunggu kalian di pesisir utara," ujar Dewi Arum pada Sima.


"Baik Biyung," sahut Sima yang langsung menggandeng tangan adiknya.


"Selamat tinggal Biyung, tunggu kami di pesisiran utara!" seru Dewi Melati. Yang kemudian mereka berdua berkelebat melesat di gelapnya malam.


"Hati-hati kalian...!" teriak Ningrum Sari pada pendekar muda-mudi itu.


Angin malam yang dingin berhembus kencang, menerobos belukar, pucuk pepohonan dan rerumputan. Semak alang-alang merunduk-runduk tanpa daya, ditampar derasnya angin. Saat suasana malam seperti ini. Kakak beradik itu tengah terus menyelusuri jalan yang gelap dan sepi menuju Gunung Dahyang. Seakan-akan kakak beradik itu tak peduli dengan keadaan cuaca yang tak ramah.


"Setan!" maki Sima kesal. Kakinya tersandung sebuah batu, lalu di tendangnya batu yang ada di depannya.


Wuuuuuuut...!!!


Batu itu melesat jauh, bagai dilempar dengan kekuatan penuh. Sima menghela napas. Matanya menyapu ke sekelilingnya yang sepi dan senyap. Sebuah lembah yang dikepung perbukitan, dengan angin yang bertiup kencang laksana hembusan napas beribu mambang malam.

__ADS_1


__ADS_2