Pendekar Sinting

Pendekar Sinting
Pembalasan Perguruan Aliran Golongan Hitam


__ADS_3

"Dengan tewasnya Ki Branjang, Perguruan Aliran Putih pastinya semakin besar kepala. Sebaiknya saat malam hari, kita serang perguruan mereka. Sekaligus memancing keluarnya Pendekar Tapak Maut dari persembunyian!" dengus Ki Gentala pongah.


"Dan, kita ratakan Perguruan Aliran Putih di tanah Jawa Dwipa ini," timpal Ki Halayuda ketua Perguruan Serigala Hitam.


"Aku lebih senang merobek dada sepasang pendekar itu, sebabnya mereka telah membunuh guruku, Nyai Wagiswari!" dengus Nyai Gandawati Perguruan Sanca Beracun.


"Begitu juga aku Nyai Gandawati, akan memenggal kepala Arya Kelantara yang telah membunuh guruku, Ki Mahawirya," sahut Ki Palawa Perguruan Gagak Hitam.


"Baiklah kita hancurkan Perguruan Aliran Putih malam ini!" teriak serentak para ketua Perguruan Aliran hitam.


Ketika itu di Hutan Setan Kembar Arya Kelantara telah mempersunting Ningrum Sari atas restu Dewi Arum, dan juga Ninik Bintari. Begitu terlintas sangat jelas kebahagian yang dirasakan Ningrum Sari. Seakan semakin bertambah cantik, seraut wajah yang dimilikinya.


"Kakang, aku mencintaimu," desis Ningrum Sari. Ningrum Sari terus membelai dada suaminya dengan lembut matanya memandang penuh harap ke wajah Arya Kelantara yang begitu tampan.


"Kakang, apakah kau tidak mencintaiku?" tanya Ningrum Sari dengan suara penuh manja. Di wajah gadis itu, tampak seulas senyum merekah indah, dengan mata sayu menatap penuh arti.


"Cinta...?" tanya Arya Kelantara bergumam.


"Ya. Apakah kau tak mencintaiku?"


"Aku mencintaimu, Ningrum Sari," tutur Arya. Ningrum Sari tersenyum penuh bahagia.


"Untukmu kuserahkan segalanya. Aku rela," bisik Ningrum Sari dengan senyum masih mengembang di bibirnya. Kemudian kepalanya direbahkan di dada suaminya. Sedangkan tangannya masih membelai dada bidang Arya Kelantara.


Sementara Arya Kelantara mengelus-elus rambut Ningrum Sari. Mulut Arya Kelantara mendesah lemah. Ia memang mencintai Ningrum Sari. Ningrum Sari tersenyum bahagia. Memang itulah yang diharapkannya.


Dibiarkannya tangan suaminya membelai-belai rambutnya dengan mesra. Bahkan kini Ningrum Sari membimbing Arya Kelantara menuju ke tempat pembaringan.


"Kakang ...," desisnya lirih. Keduanya rebah di tempat tidur. Ningrum Sari menutup kelambu. Kemudian keduanya tampak saling berpelukan, berciuman dengan penuh kemesraan.


***


"Arum, kakang akan pergi ke desa untuk membeli dua ekor kuda jantan. Kau di sini bersama Ningrum Sari, dan juga Ninik Bintari," ujar Arya Kelantara.


"Aku ikut denganmu saja, Kakang," sahut Dewi Arum.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu."


"Bagaimana denganmu, Ningrum Sari? Apakah kau ingin ikut juga?" tanya Dewi Arum kepada Ningrum Sari.


"Biarlah aku di sini saja menjaga Sima dan Melati, Nyimas Arum," balas Ningrum Sari yang sedang mengayun dua bocah mungil dan lucu itu.


"Berhati-hatilah Ningrum Sari, dan jaga kedua anakku," ujar Dewi Arum.


"Kami pergi tak 'kan lama. Beritahu Ninik Bintari, kalau kami pergi ke Desa Waringin," ujar Arya Kelantara.


"Iya, Kakang," balas Ningrum Sari.


Setelah berpamitan dengan Ningrum Sari, Arya Kelantara dan Dewi Arum menyelusuri jalan setapak di tengah hutan Setan Kembar. Malam telah larut. Udara dingin terasa menggigit. Namun keduanya masih saja melangkah. Kegelapan yang mengelilingi tempat itu menjadikan suasana terasa mencekam. Terlebih dengan adanya suara-suara menyeramkan binatang-binatang hutan.


"Mahadana, Mahadri!" seru Arya memanggil penguasa Hutan Setan Kembar.


"Apakah kau memanggil penguasa hutan ini, Kakang?" tanya Dewi Arum.


"Benar sekali, Arum! Aku hendak memberi sebuah pesan kepada mereka," balas Arya Kelantara.


Tak beberapa lama wujud kedua sosok penguasa Hutan Kembar itu sudah berada di hadapan Arya Kelantara dan juga Dewi Arum.


"Mahadana, Mahadri. Jika aku tidak kembali ke Hutan Kembar ini, kau lindungi istri dan anakku dari musuh-musuhku!" tegas Arya Kelantara.


"Baik Tuan, kami akan melaksanakannya!" seru kedua Setan Kembar yang kemudian menghilang dari pandangan Arya Kelantara dan Dewi Arum.


"Mengapa perasaanku saat ini terasa gelisah sekali, Kakang. Setelah kau ujarkan pesanmu terhadap kedua Setan Kembar itu. Aku takut akan terjadi sesuatu dengan kita, Kakang," keluh Dewi Arum.


"Ah, itu hanya perasaanmu saja, Arum. Kita serahkan semuanya kepada Tuhan Semesta Alam ini," ujar Arya.


"Baiklah kakang! Ayo, kejar aku siapa yang lebih dahulu sampai di Desa Waringin, dialah pemenangnya!" seru Dewi Arum manja.


"Ha ha ha ... ayo, siapa takut!" sahut Arya seraya mengecup pipi istrinya Dewi Arum.


"Hiyaaa...!"

__ADS_1


Sepasang pendekar itu pun berlari berhamburan saling mendahului. Mereka berlari secepat kilat menerobos pekatnya malam menuju Desa Waringin.


***


Sementara di Perguruan Singo Putih yang berada jauh di sana, kehadiran segerombolan orang-orang yang entah datangnya darimana. Di pintu gerbang Perguruan Aliran Putih itu, terlihat beberapa orang murid yang sedang berjaga-jaga secara bergantian.


Tak lama, dengan secara tiba-tiba penyerang gelap mengempaskan panah-panah beracun ke arah beberapa murid yang sedang berjaga-jaga.


Jlep, jlep, jleep...!!!


"Wuaaaaa...!"


Kedua orang murid Perguruan Singo Putih yang sedang berjaga-jaga di pintu gerbang perguruan itu terpekik keras. Sebuah senjata rahasia berupa panah-panah kecil beracun menghujam deras ke dada murid-murid Perguruan Aliran Putih itu. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja anak-anak panah kecil itu melesat cepat ke arah mereka.


Mendengar kawannya menjerit keras, tiga orang murid lainnya yang juga tengah berjaga-jaga di bagian lain tersentak. Ketiganya menoleh, dan betapa terkejutnya mereka melihat kawannya terkapar menjadi mayat.


"Awas...!"


Jlep ... jlep ... jlep...!!!


"Aaakh...!"


Belum juga habis ucapannya, tiga murid itu pun sudah terpekik keras. Dadanya tertancap panah beracun yang menembus ke dalam. Tubuhnya seketika mengejang kemudian ambruk di tanah tanpa nyawa.


Menyaksikan murid-muridnya tergelatak di tanah tanpa nyawa, Ki Wicaksana dan beberapa murid lainnya memeriksa semua tempat, namun tidak di temukan penyerang gelap itu.


"Keluarlah kalian pengecut...!" hardik Ki Wicaksana merasa geram dengan lawannya yang masih bersembunyi.


"Huahaha ... kami akan ratakan perguruan beraliran putih di Desa Waringin ini. Termasuk kau otaknya selama ini, Tua bangka!" sentak Ki Halayuda yang didampingi Ki Madaharsa dan juga Nyai Kantil.


"Majulah kalian! Aku tidak gentar sedikitpun menghadapi manusia-manusia terkutuk semacam kalian!" dengus Ki Wicaksana.


"Hmm, rupanya kau sudah siap untuk ******, Tua bangka!" sentak Nyai Kantil yang memiliki senjata panah beracun.


"Yiaaat...!"

__ADS_1


Anak-anak panah kecil yang amat beracun berterbangan menghujam ke arah Ki Wicaksana. Dengan cepatnya, kemudian ia jumpalitan ke arah belakang untuk beberapa kali menghindari serangan lawannya.


Nyai Kantil kembali menyerang Ki Wicaksana dengan senjata lain yang tersampir di punggung, wanita yang berparas cantik, tapi tampak bengis. Kemudian dengan serangan yang tak beraturan, ia melancarkan babatan pedangnya ke arah bawah dan ke samping. Dengan cepat ketua Perguruan Singo Putih pun balik menyerang ke arah wanita di depannya dengan jurus Cakar Singo Putih.


__ADS_2