Pendekar Sinting

Pendekar Sinting
Pedang Matahari


__ADS_3

"Siapa kau...!"


"Hmm ... apa yang sedang kau pikirkan, Arum?"


"Eh, Eyang Guru. Aku pikir siapa," ujar Dewi Arum pada Resi Brahmacari.


"Aku melihat dari kejauhan putramu Sima kehilangan penglihatannya, Arum," ujar Resi Brahmacari pada Dewi Arum.


"Apa yang telah terjadi pada putraku, Eyang?" tanya Dewi Arum.


"Dalam penglihatanku. Aku melihat Sima, kehilangan penglihatannya sejak ia masih kanak-kanak," terang Resi Brahmacari kembali.


"Apakah putraku dapat melihat kembali, Eyang...?"


"Semoga Tuhan pemilik alam ini, menyembuhkan penglihatan putramu, Arum," tutur Resi Brahmacari.


"Aku sangat merindukannya, Eyang," ujar Dewi Arum kembali.


"Kau harus mencari Ningrum Sari. Dialah yang akan menjelaskan tentang jati diri putramu," terang Resi Brahmacari.


"Baiklah, Eyang. Setelah kudapatkan Pedang Matahari. Aku akan mencari, Ningrum Sari," ujar Dewi Arum.


"Jagalah baik-baik kedua anak-anakmu Arum. Aku akan menyepi kembali. Semoga kau berhasil merebut Pedang Samber Nyawa dari tangan manusia-manusia kotor! Dan, kau harus ingat semayamkanlah pedang sakti itu di Gunung Danghyang. Karena di Gunung Dahyang asal mula tempatnya," tutur Resi Brahmacari pada Dewi Arum yang kemudian menghilang dari pandangan Dewi Arum.


"Terima kasih Eyang, akan kuingat petuah-petuahmu," ujar Dewi Arum.


Waktu bergulir begitu cepat, pagi pun telah datang, di pesisir utara Semburat jingga keemasan, memancarkan keindahan warnanya membelah cakrawala yang luas terbentang diantara rerimbunan dan ranting pohon. Sang surya yang akan menghangatkan dunia. Bulir embun berkilau tersiram cahaya langit yang kian bercahaya.


Burungpun ikut bernyanyi dengan kicauan merdunya menyambut pagi di pesisir utara.


Di dalam sebuah gua terlihat dua sosok wanita sedang duduk di perapian yang mereka buat. Dewi Melati sedang asyik membolak-balikan daging kelinci hasil buruannya di atas kayu bakar.


"Biyung hendak ke mana?" tanya Dewi Melati yang sedang membolak-balikan daging kelinci.


"Biyung ingin mencari Pedang Matahari di Bukit Sampar, Cah Ayu," jawab Dewi Arum pada putrinya.

__ADS_1


"Pedang Matahari? Bukan kah dalam rimba persilatan banyak yang mengakui kehebatan Pedang Samber Nyawa Biyung? Jadi untuk apa Biyung mencari Pedang Matahari...?" tanya Dewi Melati semakin heran.


"Kau benar, Cah Ayu. Kita memang harus merebut 'Pedang Samber Nyawa' dari Perguruan Aliran Hitam. Harus kau ketahui Pedang Samber Nyawa adalah milik Ramamu, dan satu-satunya orang yang berhak memiliki pedang sakti itu, hanyalah Ramamu. Ramamu pemilik tunggal Pedang Samber Nyawa itu."


"Saat ini Ramamu sudah tiada. Kita harus mengembalikan pedang itu di Gunung Dahyang agar tidak semakin banyak darah yang tumpah sebab pedang itu," sambung Dewi Arum pada putrinya.


"Apa...? Pedang Samber Nyawa itu adalah milik Rama? Mengapa Biyung tidak pernah menceritakannya padaku?"


"Kau masih sangat muda Cah Ayu, pengalamanmu dalam rimba persilatan belum cukup matang. Biyung tidak ingin kehilangan orang yang Biyung cintai untuk kedua kalinya," tutur Dewi Arum pada putrinya.


"Baiklah Biyung. Oh iya. Daging kelincinya sudah matang. Makanlah Biyung," ujar Dewi Melati.


"Terima kasih, Cah ayu. Kau memang anak yang berbakti pada, Biyung."


Dewi Melati dan Dewi Arum menyantap daging kelinci yang beralaskan dedaunan di dalam gua tempat tinggal mereka. Setelah mereka menghabiskan santapannya. Dewi Melati kembali berbicara pada ibunya.


"Bolehkah aku menemani Biyung, mencari Pedang Matahari itu?" ujar Dewi Melati.


"Kau tak perlu menemani Biyung. Tugasmu adalah mencari kakangmu Sima. Eyang Guru memberi tahu Biyung, kalau Sima kakangmu. Saat ini sebagai pemuda yang kehilangan penglihatannya," terang Dewi Arum pada putrinya.


"Kakang Sima buta, kedua matanya maksud Biyung...?" sahut Dewi Melati.


"Apakah mungkin pemuda buta itu kakang Sima? Yang telah membantuku mengusir Perguruan Aliran Golongan Hitam?" tukas Dewi Melati.


"Di mana kau melihat pemuda yang kau duga kakangmu itu?" tanya Dewi Arum.


"Di sebuah kedai di Desa Pandan Wangi, Biyung" jawab Dewi Melati pada ibunya. "Pergilah dan carilah kakangmu di desa itu. Sementara Biyung pergi mencari Pedang Matahari di Bukit Sampar. Kau jangan pergi jauh dari Desa Pandan Wangi dan Desa Waringin juga daerah Tataran Wetan agar Biyung mudah menemukanmu!"


"Baiklah, jagalah diri Biyung baik-baik selama di perjalanan," ujar Dewi Melati.


"Kau pun jaga dirimu baik-baik. Cah Ayu."


Setelah seorang ibu dan anak itu berpelukan, mereka lalu berpencar meninggalkan pantai pesisir utara. Dengan semangat yang menggebu-gebu dan hati yang penuh kegembiraan. Sebentar lagi Dewi Arum akan bertemu putranya yang telah lama terpisah. Begitu juga dengan Dewi Melati yang ingin sekali bertemu kakangnya yang terpisah sejak ia masih bayi.


Sosok dua pendekar wanita itu pun berkelebat meninggalkan daerah pesisir utara. Sementara di tempat lain kelompok Perguruan Aliran Golongan Hitam. Ki Palawa dan Ki Loreng memacu kudanya menuju Desa Waringin untuk menemui ketua besar Perguruan Aliran Golongan Hitam yaitu Nyai Gandawati Wati pemilik Pedang Samber Nyawa yang di takuti rimba persilatan.

__ADS_1


Saat sampai gerbang Perguruan Sanca Beracun. Dengan sigap kelima penjaga pintu membukakan pintunya kepada Ki Palawa dan Ki Loreng.


Toplak, toplaak, toplak.


"Hieeeeek...!"


"Hieeek...!" Ki Palawa turun dari atas punggung kudanya, disusul dengan Ki Loreng.


"Silahkan masuk, Ki!" ujar penjaga pintu gerbang lalu menuntun kuda-kuda mereka dan mengikatnya di palang kayu.


Kemudian salah seorang murid Perguruan Sanca Beracun menghadap guru besar mereka yaitu Nyai Gandawati.


"Ketua Guru. Ki Palawa dan Ki Loreng telah datang."


"Suruh mereka menghadapku!" seru Nyai Gandawati.


"Baik ketua guru...!"


Murid Nyai Gandawati pun kembali menemui Ki Palawa dan Ki Loreng dan mempersilahkannya untuk segera masuk ke dalam.


"Ada kabar apa kalian ke sini...?" tanya Nyai Gandawati.


"Ampun ketua. Di Desa Pandan Wangi kini telah hadir pendekar-pendekar yang menghalangi kekuasan kita. Dan, pembunuh itu tidak kami temukan," terang Ki Palawa segera merundukkan kepalanya.


"Jahanam! Kalian tua-tua bangka bodoh. Mencari seorang wanita tidak waras saja tidak becus!" hardik Nyai Gandawati berkelebat menendang dada Ki Palawa.


Buuuukk...!!!


Ki Palawa terjungkal ke belakang dan mengusap-usap dadanya yang sakit terkena tendangan Nyai Gandawati. Segera Ki Palawa bangkit dan kembali merundukkan kepalanya. Ki Loreng yang berada di sampingnya tak berani buka mulut.


"Siapa mereka yang kau maksud yang telah menghalangi daerah kekuasaanku!" sentak Nyai Gandawati.


"Mereka sepasang pendekar. Seorang pemuda buta yang wajahnya mirip dengan Pendekar Tapak Maut. Lalu, salah satunya seorang gadis bercadar menggunakan Pedang Walet Merah," terang Ki Palawa.


"Kau benar-benar dungu Palawa. Dengan, pemuda buta dan seorang wanita gila saja, kau menghadap kepadaku!" Kembali Nyai Gandawati menendang Ki Palawa.

__ADS_1


Buuuuk...! Ki Palawa jatuh tersungkur.


"Pemuda itu wajahnya sama persis dengan Pendekar Tapak Maut?" gumam Nyai Gandawati dalam hati.


__ADS_2