
"****** kau pendekar cantik...!" dengus Sukanta pada Dewi Arum.
"Hiyaaa...!"
Cetaaarrr...!!!
Ningrum Sari segera menyela dan menangkis serangan lawan dengan pedangnya, lalu menyuruh Dewi Arum segera mundur ke belakang.
"Biarkan, ini bagianku Nyimas!" seru Ningrum Sari pada Dewi Arum.
"Hm, baiklah kalau begitu," ujar Dewi Arum pada Ningrum Sari.
"Wanita gila kau harus mati!" teriak Sukanta.
Ningrum Sari tertawa terkekeh, kemudian dengan cepat mengelakkan serangan lawan dan balas menyerang. Pertarungan kembali sengit.
Ningrum Sari memutar Pedang Matahari di tangannya lalu di tebaskannya ke arah leher Sukanta si Cambuk Api.
*Jurus Pedang Matahari*
"Hiyaaaa...!"
Sreeeeeeett...!!!
"Wuaaaaa...!"
"Tobaaat," pekik Sukanta si Cambuk Api. Lehernya putus serta kepalanya terpental melayang dan tubuhnya tanpa kepala hangus terbakar di tanah.
Dewi Arum melihat Ningrum Sari bertindak sadis pada lawannya menjadi takjub. Segera ia berkelebat menghampiri wanita yang berpakaian compang-camping itu tertunduk bertumpu pada pedang saktinya.
"Apakah kau, Ningrum Sari...?" tanya Dewi Arum.
"Ningrum Sari...?" tanya Ningrum Sari pada dirinya sendiri.
"Apakah kau mempunyai seorang putra yang bernama Sima Kelantara?" ujar Dewi Arum meyakinkan Ningrum Sari.
"Sima? Sima putraku, di mana dia?" tanya Ningrum Sari.
__ADS_1
"Ningrum Sari. Aku Dewi Arum. Apakah kau tidak mengingatku?" tanya Dewi Arum.
"Kau ... kau Nyimas Dewi Arum?" ujar Ningrum Sari mencoba mengingat masa lalunya.
"Iya, aku Arum. Dewi Arum istri kakang Arya!" ujar Dewi Arum mengingatkan kembali.
"Nyimas Dewi Arum ..."
"Ningrum Sari."
Ningrum Sari seketika kembali ingatannya, kemudian kedua wanita itu berpelukan seraya menangis tersedu-sedu. Setelah dua puluh satu tahun mereka terpisah kini dapat bertemu kembali.
"Ningrum berikanlah pedangmu pada pemuda yang sedang bertarung dengan Gandawati itu. Kau tahu pedang yang di pakai wanita laknat itu adalah Pedang Samber Nyawa milik mendiang kakang Arya?" terang Dewi Arum pada Ningrum Sari.
"Kurang ajar! Biar aku habisi wanita biadab itu, Nyimas Dewi Arum!" dengus Ningrum Sari.
Setelah mengalahkan Anantara alias Tiga Iblis dari Lembah Maut. Dewi Melati perhatiannya berpindah, pada pemuda sinting tengah bertarung melawan Nyai Gandawati. Nampak terdesak oleh serangan-serangan, Dewi Melati segera berkelebat turut menyerang. Pedang di tangannya diarahkan ke arah tubuh Nyai Gandawati.
"Hiyaaaat...!"
Nyai Gandawati yang kerepotan menghadapi pemuda sinting terkejut manakala mendengar suara seorang gadis menyerang ke arahnya. Dengan masih berusaha mengelitkan serangan Sima yang menggunakan jurus Tapak Harimau Mabuk, Nyai Gandawati menepiskan tangan kirinya ke belakang.
Deeessssh...!!!
"Ukh...!" Dewi Melati mengeluh, tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang sampai lima tindak. Dari sela bibirnya meleleh darah segar. Wajahnya sesaat mengejang, sebelum ambruk terkulai di tanah dalam keadaan pingsan.
"Kuntilanak Peot!" maki Pemuda Sinting melihat Dewi Melati dihantam oleh lawannya. Hal itu membuatnya kian bertambah marah. Dengan mempercepat gerakan Tapak Harimau Mabuk, Sima terus merangsek lawan. Tangannya terangkat ke atas, dengan jari-jari terbuka. Kemudian tangan kanan bergerak menghantam ke wajah. Sedangkan tangan kiri bergerak dari bawah tak sengaja memegang keselangkangan.
"Hiyaaaa...!"
"Aauww...!"
"Maaf...! Aku lupa kalau kau wanita!"
"Apakah kau menyukaiku, Pemuda Sinting? Kalau kau jadi kekasihku. Kita akan menguasai rimba persilatan. Bagaimana kau mau...?" tanya Nyi Gandawati.
"Ha ha ha ... kau tampak manis bertingkah seperti itu," seloroh Sima membuat Nyi Gandawati merasa tersanjung di puji dan pipinya nampak memerah.
__ADS_1
"Apa kau menolakku, Pemuda Sinting. Hah?"
"Hiyaaaa...!"
Nyai Gandawati berusaha mengembangkan serangan dengan jurus 'Jurus Sanca Beracun' bagikan tak memiliki kesempatan. Setiap kali dia hendak mengembangkan jurusnya, secepat itu pula pemuda sinting telah melancarkan serangan anehnya. Tiba-tiba saja tangan atau kaki Sima yang kelihatannya bergerak lambat, telah mendekati tubuhnya. Hingga mau tak mau Nyai Gandawati harus mengurungkan niatnya.
Seperti juga saat ini. Beberapa kali Nyai Gandawati menyerang. Tapi tiba-tiba saja Sima telah merangsek. Jurus yang dilancarkan. Pemuda sinting itu kelihatannya lamban dan lemah. Namun entah bagaimana caranya, setiap kali Nyai Gandawati bergerak, tangan atau kakinya yang telah mendekat ke tubuhnya.
"Ilmu siluman 'kah....?" desis Nyai Gandawati dengan mata membelalak kaget. Dia benar-benar menghadapi lawan yang seperti memiliki ilmu siluman saja. Ke mana pun dia bergerak, lawan tiba-tiba telah menjangkaunya, meski gerakan lawan kelihatan lamban dan lemah.
Dewi Arum dan Ningrum Sari sedang berusaha mengobati Dewi Melati yang terkena pukulan tenaga dalam Nyai Gandawati. Sementara Sima terus merangsek lawannya.
"Hiyaaaa...!"
Tangan pemuda sinting itu semakin cepat bergerak, hingga laksana menghilang. Itulah jurus 'Harimau Membelah Angin'. Tubuhnya berputar cepat menimbulkan angin yang keras menderu. Sedangkan kedua tangannya bergerak cepat menyerang bergantian. Nyai Gandawati kian tersentak kaget. Sesaat dia tertegun dengan mata membelalak menyaksikan gerakan yang semakin aneh dilakukan oleh lawannya.
Pada saat itu, tangan pemuda sinting yang menyerang dengan cepat tanpa dapat dielakkan menghantam telak dadanya. Nyai Gandawati terlontar keras, melayang laksana tersapu angin di ikuti pekikan yang menyayat.
"Aaaaa...!" Pekikan keras yang keluar dari mulut Nyai Gandawati, membuat Dewi Arum, Ningrum Sari dan Dewi Melati yang sudah siuman mengalihkan pandangan ke arah datangnya pekikan suara yang terdengar memilukan.
Dewi Arum membelalak saat matanya sempat menyaksikan gerakan aneh yang dilakukan oleh Sima itu. Gerakan itu mengingatkannya pada seorang Pendekar Tapak Maut' Arya Kelantara suaminya.
Arya Kelantara itu pun mengeluarkan jurus serupa ketika menjatuhkan lawan-lawannya tetapi dengan jurus yang berbeda. Setelah pemuda berpakaian kuning gading dan memakai celana sebatas paha yang terbuat dari kulit harimau menghentikan gerakan anehnya, Nyai Gandawati mencabut pedangnya yang sedari tadi bersandang di punggungnya.
"Hiyaaaa...!"
Srraaaaat...!!!
"Ouuh...!" pekik Pemuda sinting terkena sabetan pedang Nyi Gandawati di lengan kirinya.
"Celaka! Pedang Samber Nyawa," desis Dewi Arum.
Melihat lawannya terkena samberan Pedang Samber Nyawa Nyai Gandawati. Seketika hendak meninggalkan tempat pertarungan itu. Karena tubuhnya luka dalam akibat pukulan Harimau Membelah Angin yang di layangkan pemuda sinting itu. Daya tarungnya menjadi melemah.
Namun, baru saja beberapa langkah kakinya bergerak, Dewi Arum menyambar Pedang Matahari yang masih bersandang di punggung Ningrum Sari. Dengan cepat membabatkan pedangnya ke tubuh Nyai Gandawati. Kemudian, di tepis serangannya dengan Pedang Samber Nyawa yang masih utuh di tangannya.
Traaaang...!!!
__ADS_1
Senjata mereka beradu, hingga menciptakan pijaran api dan sinar-sinar cahaya yang panas keluar dari kedua pedang sakti tersebut. Dewi Arum mencoba mengeluarkan hawa Inti Banyu di tubuhnya dan membabatkan Pedang Matahari ke tubuh Nyai Gandawati.