
"Keluar kau pengecut, jangan bersembunyi! Jika kesaktianmu cukup tinggi, hadapilah aku!" dengus Ki Madaharsa geram melihat kawan perguruannya tewas terkapar.
"Sekarang tamat riwayatmu, Kuranta...!" sentak Ki Madaharsa mengeluarkan jurus Cakar Iblis.
"Yeaaaat…!"
Ditepisnya serangan Ki Madaharsa oleh Ki Kuranta walau dalam keadaan tersender di bawah pohon. Melihat lawannya tak mengenai sasaran, Ki Madaharsa menyepakkan tendangan disertai tenaga dalam penuh ke arah dada Ki Kuranta.
Buuuukkkk....!!! Laki-laki tua itu terhempas deras, kemudian pingsan seketika.
Di dahan pohon. Arya Kelantara dan juga Dewi Arum melenting ke udara, kemudian mendarat dengan halusnya di tanah. Ki Madaharsa tersentak kaget, ternyata orang yang dicari-cari telah berada tepat di hadapannya.
"Kunyuk! Rupanya kau demitnya. Bagus kalau begitu, aku tak perlu mencari-carimu. Saat itu boleh kau kalahkan aku, tetapi tidak hari hari ini. Aku akan merobek dadamu!" dengus Ki Madaharsa yang tersentak kedatangan Arya dan Dewi Arum.
"Hiyaaaat...!"
Arya Kelantara mundur tiga tindak, membuka jalan jurus yang dikeluarkan Ki Madaharsa. Laki-laki tua dari aliran golongan hitam itu terus merangsek lawannya. Pendekar Tapak Maut itu pun terus mundur ke belakang, membiarkan lawannya terus melancarkan penyerangan.
"Keparat! Apa yang kau lakukan? Apa kau mempermainkanku!" dengus Ki Madaharsa mulai sewot.
"Arum, kau bantu ketua perguruan yang lain. Biarlah aku yang menghadapi orang tua laknat ini!" seru Arya Kelantara kepada istrinya.
"Baik kakang...!" sahut Dewi Arum.
"Hiyaaat...!" Tiba-tiba Dewi Arum menendang punggung seorang wanita yang yang mengenakan baju dari kulit ular.
Desssssssssh...!!!
"Keparat! Apa kau yang bergelar Pendekar Bangau Putih? Rupanya kau yang telah membunuh guruku Nyai Wagiswari, nyawa dibalas dengan nyawa. Saat ini juga aku tanding jiwa denganmu!" dengus Nyai Gandawati dari Perguruan Sanca Beracun.
"Heyaaaaa…!"
Nyai Gandawati mencabut pedang dari sarungnya dan menyabetkan ke tubuh Dewi Arum dengan serangan-serangan membabi buta.
Wuuutt ... wuuut ... wuut !!!
Dewi Arum merenggangkan kedua kakinya, kemudian mencabut pedang dari punggungnya, lalu di tangkis serangan pedang Nyai Gandawati. Seketika itu juga Dewi Arum bergulingan di tanah dan membuka jurus Pedang Bangau terbang.
*Jurus Pedang Bangau Terbang*
__ADS_1
"Yeaaaaa!" Dewi Arum terus saja membuka jurus-jurus pedangnya, sehingga membuat Nyai Gandawati kewalahan.
Di bagian tengah itu Ki Palawa dari Perguruan Gagak Hitam, sekejap saja merangsek Dewi Arum dengan gerakan jurus Gagak Hitam, jadilah Dewi Arum melawan dua tokoh Golongan Aliran Hitam sekaligus. Di posisi bagian pinggir pertarungan, Perguruan Aliran Putih pun terdesak dengan pertarungan yang tak sepadan jumlahnya.
Arya Kelantara mengamati situasi di kejauhan yang tidak memungkinkan, lantas mempercepat jalannya pertarugan melawan Ki Madaharsa.
"Heyaaa...!"
Di tendangnya Ki Madaharsa dengan pengerah tenaga dalam penuh, lantas roboh Ki Madaharsa tersungkur ke tanah. Kemudian digantikan serangan pada Ki Loreng dari Perguruan Macan Loreng, tapi kemudian kawannya yang lain berdatangan, yaitu Nyai Kantil dari Perguruan Mata Setan.
"Hati-hati kakang...!" teriak Dewi Arum yang sedang menghadapi Nyai Gandawati dan Ki Palawa.
*Aji Kidang Kencono*
Secepat kilat Arya Kelantara berkelebat menghampiri istrinya Dewi Arum, kemudian bertarung secara berdampingan.
"Apa yang kita harus lakukan, Kakang...?" tanya Dewi Arum.
"Kita pergi dari sini secepatnya, sebelum banyak pertumpahan darah!" sahut Arya Kelantara.
"Apa kau tega meninggalkan Perguruan Aliran Putih yang sedang terdesak, Kakang?" tanya Dewi Arum kembali.
"Baiklah, kalau begitu kakang...!" sahut Dewi Arum.
*Aji Kidang Kencono*
Wuuussssssssshhh....!!!
Kemudian, Arya Kelantara dan Dewi Arum berkelebat meninggalkan medan pertarungan. Kelompok Perguruan Aliran Putih dan dari Perguruan Aliran Hitam terbelalak melihat sepasang pendekar itu lenyap begitu cepatnya.
Melihat sepasang pendekar itu telah hilang begitu saja dari pandangan mereka, kelompok dari Perguruan Aliran Hitam menghentikan pertarungannya, kemudian mengejar kedua buruanya itu.
Hasil dari pertarungan satu tokoh tewas dari Perguruan Aliran Hitam yaitu Ki Branjang dari Perguruan Kelelawar Setan.
"Bagaimana Resi Barata, apakah kita terus berpencar untuk melindungi sepasang pendekar itu...?" tanya Nyai Cakrawati dari Perguruan Belibis Putih.
"Kita tolong Kuranta terlebih dahulu, dan para murid yang terluka. Lalu, berkumpul di Perguruan Singo Putih," balas Resi Barata.
"Baik Resi Barata. Ayo bantu aku Nyai Purbani untuk menolong murid-murid yang terluka!" seru Nyai Cakrawati.
__ADS_1
"Baiklah...!" sahut Nyai Purbani.
Senja itu cuaca tampak mendung. Kesunyian menyelimuti sekitar Hutan Setan Kembar. Angin yang menerpa dedaunan menimbulkan suara gemerisik. Di mana-mana tampak dedaunan kering berserakan. Langit gelap suasana kian mencekam ketika beberapa kali terdengar suara guntur menggelegar, diiringi kilat-kilat petir yang menyambar. Sepasang pendekar yang berjalan tertatih-tatih memasuki hutan.
"Kakang, perutku lapar sekali, ditambah cuaca yang sebentar lagi akan turun hujan, keluh Dewi Arum.
"Apa persediaan makanan kita sudah habis, Arum?" tanya Arya pada istrinya.
"Masih ada kakang, cukup untuk kita berdua."
"Baiklah malam ini kita kembali bermalam di hutan, agar jejak kita sukar diketahui," ujar Arya Kelantara.
"Baik kakang, tetapi mengapa tiba-tiba perutku terasa mulas sekali. Apakah mungkin malam ini aku akan melahirkan," rintih Dewi Arum yang meringis menahan sakit di perutnya.
"Baiklah kau istirahat saja, Arum."
Lolongan serigala di Hutan Setan Kembar. Melengking tinggi seakan hendak mendaki angkasa raya, di mana sang rembulan terlihat menyembunyikan diri di balik arakan awan hitam yang bergerak perlahan. Namun mendadak arakan awan bergerak cepat. Kejap kemudian petir menyambar. Guntur menggelegar seolah hendak membongkar lintasan bumi yang mulai didera hujan dan kegelapan yang menakutkan.
"Aduh, kakang! Perutku sakit sekali. Rasanya aku sudah tidak kuat lagi," keluh Dewi Arum merasa dirinya akan melahirkan.
"Sabar Arum, tentunya para dewa di langit akan menolong kita," ujar Arya sembari mengusap-ngusap perut istrinya Dewi Arum.
Tak berapa lama, terdengar suara langkah orang yang mendekat, seorang wanita tua dan seorang gadis cantik jelita.
"Den Bagus, sepertinya istrimu hendak melahirkan. Mari istirahatlah di bilik Ninik yang tak jauh di hutan ini," ujar wanita tua yang tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka berdua.
"Ninik siapa? Mengapa malam-malam berada di hutan?" tanya Arya Kelantara yang sedikit curiga.
"Namaku Ninik Bintari, dan ini cucuku, Ningrum Sari."
"Cuuuh! Tapi aku tak mempercayaimu siluman terkutuk!" dengus Arya seraya mencabut pedang dari balik punggungnya.
"Cukup pandai kau, Tuan pendekar! Demit-demit itu memang menyamar sebagai diriku. Dasar kurang ajar!" sentak seorang wanita tua yang baru saja datang, wajahnya sama persis dengan sosok wanita tua di depannya.
"Aku sudah menduga sebelumnya yang asli dan yang mana yang palsu. Kau tak perlu melabuhiku terkutuk!" hadrik Arya Kelantara.
"Hiyaaaaa...!"
Arya Kelantara menyabetkan pedangnya ke arah wanita tua palsu itu dan seorang gadis di hadapannya. Seketika wanita tua dan gadis itu menjelma menjadi wujud aslinya yang amat mengerikan. Rambutnya merah panjang selutut, giginya runcing bertaring, dan kukunya panjang-panjang.
__ADS_1