
"Terima kasih, nisanak telah menolongku. Andai pendekar tidak menolong mungkin aku sudah jadi santapan nafsu laki-laki biadab itu," ujar wanita itu pada Ningrum Sari.
"Hmm ... siapa laki-laki yang hendak memeperkosamu tadi?" tanya Ningrum Sari.
"Mereka kelompok Perguruan Aliran Hitam," balas wanita itu singkat.
"Baiklah, sekarang kau pulang dan berhati-hati," ujar Ningrum Sari.
"Baik, Nisanak," ujar gadis itu.
Dengan ilmu meringankan tubuh yang sudah sempurna, Ningrum Sari melesat meninggalkan kedai makan yang masih banyak sekali orang yang sedang memandang ke arahnya.
Sementara di pesisir utara, nampak tiga sosok bayangan sedang berada di pinggiran pantai. Sosok yang pertama seorang laki-laki tua berjubah putih berjenggot, serta berambut putih yang digelung ke atas, dialah Resi Brahmacari guru Arya Kelantara.
Sosok kedua seorang wanita yang berparas cantik, dengan bulu matanya yang lentik, memiliki bibir yang tipis. Wanita cantik itu memakai baju berwarna hitam pekat. Berlengan panjang dengan ikat kepala terbuat dari akar pepohonan. Dialah Dewi Arum atau lebih dikenal dengan gelar 'Pendekar Bangau Putih'.
Sosok ketiga, seorang wanita cantik juga ia memakai baju serba merah rambutnya terurai dengan ikat kepala dari akar pohon sama seperti ibunya. Wanita tersebut sedang berlatih jurus pedang di tepi pantai dialah Dewi Melati Kelantara putri Arya Kelantara.
Gadis cantik yang bernama Dewi Melati Kelantara bagaikan tak mengenal lelah sedikitpun. Ia terus saja berlatih, tiada penuh henti-hentinya.
"Heyaaa...!"
Tubuh gadis itu lompat ke sana kemari, menggerakkan jurus-jurus yang diajarkan ibunya. Bahkan ibunya mengawasi gadis itu dalam berlatih. Dewi Arum mengangguk-anggukkan kepala, melihat perkembangan ilmu silat yang dipelajari putrinya.
"Hmm, tak kusangka ia akan begitu cepat menyerap ilmu-ilmu silatku," gumam Dewi Arum yang pedang barunya tengah digunakan untuk latihan Dewi Melati Kelantara.
Pedang berlekuk lima yang bernama 'Pedang Walet Merah' itu semakin bertambah hebat dalam genggaman tangan Dewi Melati Kelantara.
__ADS_1
"Ya. Tak disangka kalau Melati itu begitu bersemangat. Ilmu silat yang seharusnya dipelajari dalam satu purnama, ia mampu menguasai dalam beberapa hari saja," timpal Resi Brahmacari.
Gadis itu berkelebat cepat, menggerakkan jurus-jurus yang dipelajari dari kedua gurunya Dewi Arum ibunya sendiri dan Resi Brahmacari guru dari Ayahnya. Dewi Melati Kelantara bagaikan tak mengenal lelah sedikitpun. Ia terus berlatih tiada henti. Hal itu menambah senang dan kagum kedua gurunya.
"Heyaaa...!"
Dengan jurus 'Tarian Walet Melebur Karang' Dewi Melati kembali bergerak. Kedua tangannya menari-nari dengan lincah, seperti seorang penari yang sedang menari-menari. Pedang berkeluk lima bergerak menusuk dan membabat kea rah depan, seperti sedang menyerang ke arah lawan-lawannya.
"Huuupp!"
" Heyaaa...!"
Wuuut ... wuuuutt...!!!
Dewi Melati terus menekuni jurus-jurus 'Tarian Walet Melebur Karang'. Tangannya terus bergerak menari-nari, di ikuti liukan tubuhnya yang lemah gemulai. Tapi dari gerakan-gerakan kedua tangan dan tubuhnya, mengeluarkan angin kencang yang menderu dan menerpa keras. Sampai-sampai karang yang ada di sekelilingnya bergoyang keras.
Seeeeeeett ... Seeeett...!!!
Tubuh Dewi Melati terus meliuk-liuk dengan indah, menari-nari disertai sabetan-sabetan pedangnya yang menderu. Dalam sekejap saja, tubuhnya telah menghilang, terbungkus gerakan tarian yang gemulai dan cepat.
"Hmm, tinggal memperdalam tenaga dalamnya. Gadis itu benar-benar akan menjadi seorang pendekar yang tak dapat diremehkan," gumam Resi Brahmacari," sambil mengangguk-anggukkan kepala. Hatinya merasa kagum menyaksikan kelincahan gerakan jurus pedang yang sedang diperagakan muridnya.
"Ya. Jika dia benar-benar telah memperdalam tenaga dalamnya, kurasa akan menjadi gadis berilmu tinggi Eyang. Ah, rupanya jurus-jurus Walet Merah yang kuciptakan, memang cocok untuk seorang wanita, bukan seorang lelaki," ujar Dewi Arum.
"Ya, ya. Jurus-jurus itu memang cocok untuk seorang wanita. Dan rupanya kita telah menemukannya," gumam Resi Brahmacari menimpali.
"Seperti apa sekarang wajah putraku Sima, Eyang," ujar Dewi Arum yang tiba-tiba mengingat putranya.
__ADS_1
"Sima sudah tidak ada di Hutan Setan Kembar, Arum. Istri kedua Arya suami pun sudah tidak ada di sana," terang Resi Brahmacari pada Dewi Arum.
"Benarkah, Eyang? Lalu di manakah putraku dan Ningrum Sari. Eyang...?" tanya Dewi arum penuh keheranan.
"Putramu Sima, diasuh Amritambu seorang guru dari bangsa lelembut yang sangat ditakuti di alamnya," terang Resi Brahmacari pada Dewi Arum.
"Syukurlah kalau begitu Eyang, di mana aku dapat menemui putraku, Eyang?" tanya Dewi Arum kembali
"Nanti pada saatnya, kau akan bertemu dengannya, Dewi Arum. Carilah dahulu 'Pedang Matahari' di Bukit Sampar, untuk meredam Pedang Samber Nyawa'. Adik seperguruanku tinggal di sana. Nama dia Arang Sedayu," terang Resi Brahmacari.
"Maafkan aku, Eyang. Baiklah aku akan ke Bukit Sampar mencari 'Pedang Matahari' itu. Setelah itu baru kucari putraku," ujar Dewi Arum merasa bersemangat akan bertemu dengan putra yang sudah dua puluh satu tahun tidak berjumpa.
Di pesisir pantai utara begitulah, setiap hari Dewi Melati berlatih dengan tekun tanpa mengenal lelah. Bahkan hari ini, ia bagaikan tak merasakan lelah sedikitpun. Gadis itu terus memperdalam semua ilmu yang diajarkan ibunya dan Eyang gurunya, dengan harapan secepat mungkin akan dapat mengalahkan Perguruan Aliran Golongan Hitam, membalas sakit hatinya atas tindakan golongan aliran sesat yang telah membunuh mendiang ayahnya Arya Kelantara.
Mentari pagi telah mulai tinggi pertanda hari telah siang. Tapi Dewi Melati bagaikan tak mau berhenti. Dia terus berlatih dan berlatih. Keringat telah bercucuran membasahi tubuh dan tenaganya pun telah terkuras. Namun, tampaknya gadis itu tak menghiraukannya. Ibunya dan Eyang gurunya semakin mengerutkan dahinya, menyaksikan latihan Dewi Melati yang tiada penuh hentinya. Meski mentari terik memanggang tubuh, Dewi Melati tetap saja berlatih. Baru ketika hari menjelang sore, Dewi Melati nampak menghentikan latihannya. Tubuhnya terlihat sangat letih, membuat Dewi Arum Dan Resi Brahmacari mengerutkan keningnya.
"Melati, jangan kau paksa tenagamu, Cah Ayu. Berlatihlah yang wajar saja!" seru Dewi Arum kepada putrinya.
"Benar! Cah Ayu. Tanpa memaksa tenagamu, asalkan giat berlatih, dalam waktu singkat kau akan mampu menguasai semua ilmu yang kami ajarkan," sambung Resi Brahmacari.
"Tapi, Eyang Guru. Aku ingin segera mencari pembunuh Ramaku. Rasanya hatiku tak tenteram jika belum membuat perhitungan pada mereka semua!" sahut Dewi Melati.
Dewi Arum dan Resi Brahmacari menggeleng-gelengkan kepala. Dibibir mereka tersungging senyuman. Mereka bangga bercampur tak suka jika ilmu yang mereka turunkan hanya untuk melampiaskan dendam.
"Melati, Ilmu bukanlah untuk balas dendam. Jika kau ingin menjadi pendekar seperti Ramamu. Gunakanlah ilmu hanyalah untuk menolong yang lemah." Kembali Resi Brahmacari bertutur.
"Tak ada artinya ilmu manusia jika dibandingkan dengan ilmu Tuhan pemilik alam semesta ini, Cah Ayu."
__ADS_1
Dewi Melati menundukkan kepala mendengar penuturan Resi Brahmacari. Hatinya diliputi dendam yang dalam. Dendam terhadap pembunuh ayahnya.