
Suasana di kedai Ki Marto, seperti biasa ramai para pengunjung dari kalangan rimba persilatan, dan ada juga saudagar-saudagar kaya yang mampir untuk sekedar makan saja. Tak berapa lama, dua orang laki-laki memakai pakaian perguruan beragam memasuki kedai.
"Ki Marto, apakah ada sepasangan pendekar singgah di kedai ini?" tanya salah seorang murid dari Perguruan Aliran Hitam.
"Ti-tidak ada, Tuan. Aku tidak melihatnya," balas Ki Marto.
"Baiklah. Kalau kau berbohong, kuobrak-abrik kedaimu ini!" sentak pemuda yang perpakaian dari perguruan aliran hitam tersebut, dan kemudian ia berlalu dengan diikuti sembilan belas orang di belakangnya.
"Oh, Dewata lindungilah sepasang pendekar yang kutemui tadi malam itu," gumam Ki Marto dengan nada lirih.
"Ki Marto, mengapa perguruan aliran hitam mencari sepasang pendekar itu? Apa yang telah mereka perbuat?" tanya salah seorang pengunjung di kedai itu.
"Apakah kau tidak mengingatnya, kejadian tewasnya dua tokoh ketua Perguruan Aliran Hitam. Mereka terbunuh oleh sepasang pendekar yang sedang kita perbincangkan. Sudah pasti mereka mencarinya untuk membalaskan dendam!" sahut salah seorang yang sedang makan.
"Sebenarnya Perguruan Aliran Hitam mencarinya untuk merebut pedang sakti yang mereka miliki! Sepasang pendekar itu bernama Arya Kelantara yang bergelar 'Pendekar Tapak Maut' dan istrinya Dewi Arum 'Pendekar Bangau Putih'," terang salah seorang yang mendengar percakapan di kedai itu.
"Sudah, sudah cukup. Sebaiknya kita jangan asal bicara, salah-salah kita bisa mati konyol di sini!" ujar Ki Marto mengingatkan.
Dengan diburunya sepasang pendekar oleh Perguruan Aliran Hitam, tak disangka beberapa orang dari Perguruan Aliran Putih, mendengarkan percakapan mereka di kedai tersebut. Setelah mereka membayar pesanannya, kemudian berlalu meninggalkan tempat itu.
Pemilik kedai dan para pengunjung terbelalak, melihat kelima orang yang keluar dari kedai tadi pergi dengan tergesa-gesa.
"Siapa mereka? Apa mereka dari Perguruan golongan Putih atau Perguruan golongan hitam yang menguntit percakapan kita?"
__ADS_1
"Sudah ... sudah, jangan teruskan lagi!" sahut beberapa pengunjung di kedai itu.
Siang hari di Perguruan Elang Perak, beberapa murid yang mendengar percakapan di kedai makan tadi adalah murid-murid dari Perguruan Elang Perak.
"Guru! Kami mendapati kabar Perguruan Aliran Hitam sedang memburu sepasang pendekar yang telah menewaskan, dua tokoh pemimpin Perguruan Aliran Hitam. Apakah guru mengenal mereka?" tanya salah serorang murid pada gurunya.
"Aku tidak mengenal orang yang kau sebutkan tadi. Mungkin saja mereka 'Pendekar Tapak Maut' dan istrinya 'Pendekar Bangau Putih', sepertinya mereka sahabat kita juga dari aliran lurus. Maka dari itu bantulah sepasang pendekar itu di manapun kalian berada. Segera kau sebarkan berita ini kepada saudara-saudara sepeguruan aliran putih lainnya," terang Ki Kuranta pemimpin Perguruan Elang Perak di hadapan para murid-muridnya.
Di lain tempat, ketua Perguruan Aliran Hitam mengatur siasat untuk mencari sepasang pendekar yang membawa Pedang Samber Nyawa.
"Bagi kelompok kesetiap arah penjuru. Segera menyebarlah kalian semua!" perintah Ki Branjang ketua Perguruan Kelelawar Setan.
"Ada sembilan perguruan dibagi menjadi empat penjuru timur, barat, utara dan juga selatan. Aku yakin, sepasang pendekar itu tidak dapat bersembunyi lagi. Hua ha ha," ujar salah satu pemimpin Perguruan Aliran Hitam.
"Saudaraku sekalian, kabar yang kita terima saudara-saudara sekalian mendengarnya. Persoalan tewasnya dua tokoh Perguruan Aliran Hitam, oleh sepasang pendekar sakti. Maka dari itu, aku Ki Wicaksana yang kalian beri kepercayaan untuk mengatur seluruh apa-apa yang ada di Perguruan Aliran Putih ini. Berharap penuh kalian dapat membantu sepasang pendekar yang sedang diburu, perguruan beraliran sesat! Tidak mungkin, kita hanya berpangku tangan akan adanya keangkaramurkaan di tanah Jawa Dwipa ini. Aku yakin sepasang pendekar itu dari aliran lurus, dan yang mereka inginkan hanyalah sebuah pedang sakti yang dibawa sepasang pendekar itu. Untuk itu kita harus membantu dan menolongnya! Sidang perkumpulan aku tutup, dan laksanakan perintah yang aku berikan. Selagi aku berada di jalan yang benar," tutur Ki Wicaksana Ketua Perguruan Singo Putih.
"Ki Wicaksana, jumlah kita memang lebih sedikit dibandingkan dengan Perguruan Aliran Hitam. Untuk dari itu, tak ‘akan pernah menyurutkan nyaliku sedikitpun. Aku telah siap tanding jiwa dengan mereka!" seru Ki Kuranta Ketua Perguruan Elang Perak.
"Aku ikut menyebarkan murid-muridku, Ki Wicaksana," sahut Nyai Purbani Ketua Perguruan Harimau Putih.
"Akupun turut membantu Ki Wicaksana, tak'kan mundur satu langkah pun untuk menghadapi iblis-iblis semacam mereka!" sentak Nyai Cakrawati Ketua Perguruan Belibis Putih.
"Aku bersedia membantu, Ki Wicaksana. Akan kusebar murid-muridkku di Desa Waringin dan juga di daerah kadipaten," sela Resi Barata angkat bicara.
__ADS_1
"Baiklah! Malam ini kita menyebar keempat penjuru mata angin. Perintahkan murid-murid kalian menyamar agar tidak mudah dikenali oleh pengikut dan juga murid-murid Perguruan Aliran Hitam!" seru Ki Wicaksana.
"Baik ketua!" teriak serentak para ketua Perguruan Aliran Putih.
Semilir angin malam menghembuskan udara yang terasa sangat dingin. Pekatnya malam tak di gubrisnya. Di dalam hutan yang rimbun. Arya Kelantara dan juga Dewi Arum terasa letih melangkahkan kakinya lagi.
"Kakang, ke mana lagi kita harus melangkah? Hari-hari ini perasaanku begitu cemas, juga sangat mengkhawatirkan keselamatan kita dan juga bayi yang ada di dalam kandunganku ini," keluh Dewi Arum seraya mendekatkan kepalanya di dada Arya yang berbaring di dekat perapian.
"Aku rasakan kecemasanmu Arum. Malam ini aku akan samadhi untuk mencari wangsit," tutur Arya Kelantara menenangkan kegelisahan istrinya, Dewi Arum.
"Baiklah kakang. Aku tidur dahulu, rasanya tubuhku terasa pegal sekali," keluh Dewi Arum kembali.
"Tidurlah Arum," ujar Arya Kelantara.
Tak berapa lama, Dewi Arum sudah tertidur lelap di samping suaminya. Setelah Dewi Arum tertidur, pendekar muda tersebut, duduk bersila dan tangannya bersedekap sembari memusatkan cipta rasa hening yang dalam.
Kemudian, sekejap saja nampak sesosok laki-laki tua berpakaian serba putih, rambut serta jenggotnya pun putih semua, ditambah wujudnya tertutup oleh kabut putih yang sangat tebal, jadi hampir tidak terlihat sama sekali.
"Arya Kelantara cucuku, lanjutkan perjalananmu ke pesisir utara. Para tokoh golongaan sesat sedang memburumu. Pergilah sebelum terbit matahari esok hari," seru Resi Brahmacari. Yang kemudian sosoknya hilang dalam sekejap.
"Baiklah, Eyang Guru."
Ternyata laki-laki tua berpakaian serba putih tersebut, adalah guru pendekar muda tersebut. Setelah memahami petuah dari sang guru. Bahwa ia diperintah harus segera meninggalkan Desa Waringin, dan bergegas pergi ke arah utara.
__ADS_1
Sesaat diliriknya Dewi Arum yang masih terlelap dalam tidurnya. Arya Kelantara pun tak kuasa menahan rasa kantuk, kemudian tertidur di samping istrinya.