Pendekar Sinting

Pendekar Sinting
Empat Siluman dari Lembah Kematian


__ADS_3

"Apakah kita tidak mencari sebuah kedai dahulu kakang? Perutku sudah lapar sekali!" rungut Dewi Melati.


"Baiklah, kau rewel sekali. Nanti kita cari kedai di sekitar desa ini," ujar Sima pada adiknya Dewi Melati.


* * *


Sinar matahari pagi membelai hangat. Sebuah kedai telah dibuka oleh pemiliknya sejak kokok ayam pertama terdengar. Empat orang laki-laki bertampang kasar memperlihatkan kebengisan masuk ke kedai itu. Tingkah mereka tidak sopan, menandakan kalau keempat lelaki itu bukan orang baik-baik. Dilihat dari golok yang tergantung di pinggang, jelas keempat laki-laki berwajah bengis itu dari kalangan rimba persilatan.


"Sediakan arak empat guci, cepat!" sentak seorang dari mereka. Tangannya dengan keras menggebrak meja di depannya.


Braaaakk...!!!


Pemilik kedai dengan wajah ketakutan, tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Tubuhnya menggigil, karena rasa takut dengan orang-orang beringas ini.


"Maaf, Aden sekalian minta apa?" tanya pemilik kedai itu dengan suara bergetar.


"******! Apa telingamu tuli, Hah? Cepat sediakan empat guci arak, juga makanan yang enak!" sentak orang yang tadi menggebrak meja.


"Ba, baik Den," ujar pemilik kedai semakin bertambah ketakutan. Lalu, tanpa banyak tanya lagi ia tergopoh-gopoh berlalu.


Tidak lama kemudian, bersama seorang pelayan, laki-laki tua itu membawa empat guci arak serta makanan-makanan lezat.


"Cepat...!" sentak orang itu lagi tak sabar.


"I..., iya, Den," sahut pemilik kedai.


Dengan tubuh gemetar ditaruhnya empat guci arak di meja. Sedangkan pelayannya menaruh makanan-makanan permintaan keempat lelaki kasar itu.

__ADS_1


Keempat laki-laki kasar itu terbahak-bahak melihat wajah pucat pasi pemilik kedai yang masih berdiri di samping mereka dengan tubuh gemetaran.


"Heh! Kenapa kau masih di sini?" tanya orang kedua dari mereka. Nada suaranya tidak sekasar orang pertama.


"Maaf, Den. Barangkali masih ada yang di pesan?" tanya pemilik kedai, mencoba tersenyum meski terlihat kaku.


"Apa! Pesan...? Siapa yang pesan? Apakah kau belum tahu siapa aku? Kau belum tahu kami, ya? Dengar, kami adalah 'Empat Siluman dari Lembah Kematian', anak buah Waragang!" ujar orang pertama dengan suara keras, seakan ingin menyombongkan diri dengan menyebut Waragang sebagai tokoh sesat yang sangat ditakuti.


"Ampunilah, hamba yang buta ini, Den," ujar laki-laki tua pemilik kedai setelah mendengar penuturan tadi.


"Baik, pergi cepat. Jangan sampai aku muak!" Tanpa diperintah dua kali, orang tua itu berlalu meninggalkan mereka.


Bukan hanya pemilik kedai yang ketakutan setelah tahu siapa keempat lelaki beringas dan kasar itu. Para pengunjung kedai juga begitu. Satu persatu mereka meninggalkan tempat itu dengan terburu-buru. Di wajah mereka terlukis rasa takut luar biasa.


Semakin pongah saja keempat laki-laki bertampang beringas dan kasar itu, merasa kalau semua orang takut kepada mereka. Dengan tertawa-tawa, mereka menyantap makanan. Tapi, tawa mereka seketika terhenti ketika dari luar terdengar tawa yang mampu menggetarkan hati mereka.


"Ha ha ha ... hi hi hi. Ada siluman bergentayangan di pagi hari," ejek sebuah suara, dibarengi dengan munculnya muda-mudi kakak beradik, salah seorangnya pemuda tampan berambut kusut masai dialah Sima Kelantara dan seorang lagi gadis cantik berpakaian serba merah Dewi Melati Kelantara.


"Hi hi hi ... bukankah tadi kau mengatakan kalian berempat siluman?" balik tanya pemuda sinting itu dengan maksud mengejek. Tangannya terus menggaruk-garuk kepala serta mulutnya cenge-ngesan.


Kemudian dengan tingkah laku seperti orang yang tak waras, pemuda yang ternyata Sima Kelantara itu kembali berkata.


"Ah, lucu sekali ... seharusnya orang seusia kalian belum pikun. Tapi, ya, mungkin inilah dunia. Ternyata siluman pun bisa pikun ... ha ha ha."


Merah membara wajah Empat Siluman dari Lembah Kematian mendengar hinaan pemuda sinting itu. Salah seorang dari mereka melontarkan paha ayam ke arah pemuda itu, disertai tenaga dalam penuh.


"Pintar bersilat lidah! Ini untukmu, terimalah lalu pergi dari sini. Jangan sampai kesabaran kami hilang!"

__ADS_1


Paha ayam yang masih utuh itu melesat seperti mata anak panah ke arah pemuda sinting itu. Tapi, dengan mudah, Sima menangkapnya. Hal itu membuat Empat Siluman dari Lembah Kematian cukup terkejut.


Sedangkan pemuda itu dengan santai menggeragoti daging ayam. Dewi Melati melihat tingkah laku kakaknya hanya bisa tersenyum, serta menggelengkan kepalanya.


"Terima kasih, kau baik sekali. Terimalah tulang ini. Hi hi hi," seloroh Sima setelah paha ayam itu tinggal tulang.


Tulang ayam itu melesat cepat, mengejutkan Empat Siluman dari Lembah Kematian. Mata mereka menegang, tidak menyangka lemparan pemuda sinting itu sangat kuat. Mau tidak mau mereka merundukkan kepala agar tidak terkena sambaran tulang itu.


Wusssshhh...!!!


Tulang itu meluncur tepat di atas rambut mereka, lalu akhirnya tertanam dalam pada sebatang pohon yang ada di samping kedai. Semakin terbuka lebar mata keempat lelaki beringas itu menyaksikan pertunjukan tenaga dalam yang luar biasa itu.. Namun, kepongahan rupanya membuat mereka buta pada ilmu pemuda sinting itu yang jauh berada di atas mereka.


Didahului bentakan keras, Empat Siluman dari Lembah Kematian mencabut golok dan menyerang pemuda yang masih tertawa cenge-ngesan sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Pemuda gemblung! Rupanya kau perlu dihajar!"


Sima agak terkejut mendapat serangan begitu cepat dari keempat lelaki yang menamakan dirinya Empat Siluman dari Lembah Kematian itu. Ia memang belum banyak pengalaman dalam rimba persilatan yang penuh kelicikan dan tipu daya. Tapi, nalurinya menuntun agar serangan itu di elakkannya Dengan satu lentingan indah, dimentahkannya serangan ganas itu. Menyebabkan golok para penyerang beradu di tempat kosong.


"Traaaang...!" Sima kembali cenge-ngesan. Tangannya menggaruk-garuk kepalanya lagi.


"Kenapa kalian mengeroyokku? Wah, celaka Kalian benar-benar orang jahat!"


"Keparat! Kupotong-potong tubuhmu, Pemuda Sinting!" dengus orang pertama dari Empat Siluman dari Lembah Kematian. Lalu, dengan penuh amarah tubuhnya melesat untuk memburu pemuda itu, diikuti oleh ketiga temannya.


"Heyaaaa...!"


Semua orang yang menyaksikan pemuda sinting itu dikeroyok oleh Empat Siluman dari Lembah Kematian turut tegang. Mereka khawatir kalau-kalau pemuda tampan yang bertingkah seperti orang tidak waras itu akan menjadi korban keberingasan dan kekejaman mereka.

__ADS_1


Namun untuk membantu pemuda sinting itu, mereka tidak berani. Mereka tahu, siapa Empat Siluman dari Lembah Kematian, terlebih dengan Waragang. Tokoh yang terakhir, akhir-akhir ini sangat ditakuti, baik oleh tokoh rimba persilatan atau oleh tokoh kebanyakan. Dia ditakuti karena kekejamannya.


Belum ada tokoh rimba persilatan yang mampu menghadang sepak terjangnya. Semua yang mencoba menghalangi, tak ada yang dibiarkan hidup. Mereka dibantai bagai binatang tak berharga. Kini seorang pemuda yang terlihat tak waras, berani menghadapi Empat Siluman dari Lembah Kematian, itu berarti secara tak langsung telah menantang pimpinan mereka.


__ADS_2