
Saat senja di Desa Waringin, keadaan setengah gelap di bumi sesudah matahari terbenam. Sepasang pendekar muda berjalan beringin dengan mengenakan caping bambu yang menutupi hampir seluruh wajah dari keduanya.
"Aku lapar kakang, dari tadi anakmu menendang saja di perutku," ujar Dewi Arum pada suaminya.
"Ha ha ha sepertinya bayi kita lapar, Arum," seloroh Arya sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"Iikh, Kakang ini. Pastinya bayi kita lapar juga. Bukan aku saja," ujar Dewi Arum seraya mengerutkan wajahnya dengan manja.
"Ha ha ha ... kau semakin manis saja bertingkah seperti itu, Arum. Ayo, kita cari kedai makan. Aku pun sudah lapar. Sebentar lagi hari akan gelap, kita harus cepat sampai di kedai." ujar Arya Kelantara.
"Mari, kakang," ujar Dewi Arum sembari menggandeng tangan suaminya.
Tak terasa malam makin pekat dan lolongan anjing mulai bersahut-sahutan dan suara-suara binatang malam pun mulai terdengar. Di kedai makan pengunjung terlihat semakin sepi karena hari sudah larut. Saat Ki Marto dan kedua pesuruhnya ingin menutup kedai, Arya Kelantara dan Dewi Arum sudah tiba di depannya.
"Paman, apakah ada makanan untuk kami berdua?" tanya Dewi Arum kepada pemilik kedai.
Ki Marto dan kedua pesuruhnya saling berpandangan antara menutup kedai atau menyajikan makanan di malam hari, kepada kedua orang asing yang tak dikenalnya itu.
"A a...a ada Tuan pendekar, mari silahkan duduk," balas Ki Marto nampak ketakutan dan keningnya mulai mengeluarkan keringat dingin.
"Cepat kau sajikan, nasi panas dan ikan bakar untuk kedua pendekar itu!" Perintah Ki Marto kepada kedua pesuruhnya.
"Tak perlu takut kepada kami paman. Kami hanya pengelana yang kebetulan lewat, dan perut kami sangat lapar," ujar Arya menenangkan pemilik kedai yang terlihat ketakutan itu.
"Benar paman, kami bukan perampok di malam hari," timpal Dewi Arum kepada pemilik kedai.
"Iya, Den, maafkan kami bersikap lancang melayani pengunjung," ujar Ki Marto.
__ADS_1
Kemudian tak lama, kedua pesuruh Ki Marto datang membawakan hidangan yang di pesan sepasang pendekar muda itu.
"Ini Den, makanannya sudah siap. Silahkan di nikmati."
"Terima kasih," ujar Arya Kelantara dan disusul dengan Dewi Arum.
Malam itu di dalam kedai Arya Kelantara dan Dewi Arum makan dengan lahapnya, karena mereka sangat kelaparan dan juga kelelahan dari kejaran para tokoh golongan hitam.
"Aku kenyang sekali, Kakang. Bayi kita juga sudah kenyang. Coba kau dengar suara perutku," ujar Dewi Arum.
"Kemarilah, coba aku dengar suara perutmu, Arum," seloroh Arya Kelantara sambil tawa terkekeh-kekeh di kedai itu.
"Huustt! Tertawamu jangan seperti itu, Kakang. Membuat anakmu terkejut saja," seloroh Dewi Arum dengan suara manja.
"Den Ayu, apakah kau sedang mengandung seorang bayi? Maafkan mulut lancang orang tua yang bodoh ini." Tiba-tiba saja Ki Marto bertanya.
"Iya paman, aku sedang mengandung," balas Dewi Arum.
"Terima kasih, bukan maksud kami hendak menolak kebaikan paman, tapi …," ujar Dewi Arum yang tidak melanjutkan kata-katanya.
"Kemarilah paman, tolong kau siapkan lauk-pauk yang ada untuk bekal perjalanan kami," ujar Arya Kelantara sembari memberi dua keping emas kepada Ki Marto.
"Tidak perlu Den, terlalu banyak pemberian ini," ujar Ki Marto yang sungkan menerima pemberian sepasang pendekar berbudi luhur itu.
"Ambilah paman, tak perlu sungkan kepada kami." bujuk Dewi Arum.
"Tidak, jangan Den Ayu," ujar Ki Marto merasa canggung.
__ADS_1
Dengan cepat Dewi Arum mengambil kantung yang berisi dua keping emas dari tangan Arya, kemudian di masukannya ke kantung depan Ki Marto.
"Mari kita lanjutkan perjalanan, Kakang," ujar Dewi Arum sambil menyiapkan bekal yang sudah disiapkan Ki Marton.
"Tunggu, Den Ayu. Siapa nama bayi kalian kelak?" tanya Ki Marto.
"Hmm... biar Kakang Arya yang ..."
"Andai laki-laki akan kuberi nama Sima Kelantara, andai seorang perempuan kuberi ia nama Dewi Melati Kelantara," potong Arya.
Tak lama, kedua pasangan pendekar tersebut berkelebat meninggalkan kedai Ki Marto. Laki-laki tua itu tersentak. Matanya terbelalak melihat kedua insan yang berdiri dihadapanya tadi, hilang begitu saja bak ditelan bumi.
"Ck, ck, ck ke mana perginya kedua pendekar itu. Apakah mereka hantu atau manusia sungguhan," pikir Ki Marto, lalu menyuruh kedua pesuruhnya untuk cepat-cepat meninggalkan kedai dan pergi pulang.
Pagi yang mendung matahari tertutup tebalnya awan hitam. Di Perguruan Cakar Setan yang di pimpin oleh Ki Gentala yang berpenampilan kukunya yang dibiarkan panjang-panjang. Di sana juga terlihat sedang asyik duduk menikmati buah anggur ketua dari golongan sesat itu bernama Ki Madaharsa dari Perguruan Tangan Iblis, dan salah seorang lagi Ki Halayuda ketua dari Perguruan Serigala Hitam yang berpenampilan memakai penutup kepala dari kulit serigala, dan para tokoh pemimpin golongan hitam lainnya pun turut hadir.
"Salam, para ketua perguruan yang telah hadir di sini. Hari ini sengaja sekalian aku kumpulkan di sini untuk saling bahu-membahu mencari Pedang Samber Nyawa. Yang pada saat ini pedang sakti tersebut berada pada sepasang pendekar bernama Arya Kelantara atau dengan dengan julukan Pendekar Tapak Maut, dan istrinya bernama Dewi Arum atau lebih dikenal dengan gelar Pendekar Bangau Putih. Memang tidak sepantasnya pedang itu ditangan pendekar beraliran putih. Riwayat dari pedang itu dahulunya milik para pendahulu kita dari aliran hitam. Maka dari itu sudikah para ketua yang hadir di sini untuk merebut kembali pedang tersebut. Andai kalian setuju dipersilahkan para ketua menyebar murid-murid yang terpilih di Desa Waringin dan daerah kadipaten untuk mencari kedua pendekar tersebut. Apa kalian setuju dengan rencanaku ini?" tanya Ki Gentala yang sengaja memperkokoh kekuatan dari para tokoh beraliran hitam demi siasat mendapatkan Pedang Samber Nyawa dengan tidak mengotori tangannya sendiri.
"Setuju ... setuju ... setuju!" sorak riuh para tokoh golongan hitam dan para murid-muridnya.
"Hua ha ha ... bagus Gentala. Aku setuju sekali rencamu," seloroh Ki Madaharsa.
"Ha ha ha ... begitulah siasat untuk mendapatkan pedang sakti itu, Madaharsa," ujar Ki Gentala kepada sahabatnya.
"Aku pun sangat setuju sekali dengan caramu, Gentala," timpal Ki Halayuda.
"Terima kasih para saudaraku, segeralah kalian perintahkan murid-murid serta pengikut kalian menyebar!" seru Ki Gentala.
__ADS_1
"Baiklah. Kalau begitu aku akan mengerahkan para muridku yang tangguh-tangguh," sahut Ki Halayuda.
"Licik kau ... licik, Gentala. Hua ha ha," sahut Ki Madaharsa sambil tertawa terkekeh-kekeh begitu senang.