Pendekar Sinting

Pendekar Sinting
Gadis Bercadar Merah dan Pemuda Sinting Mengamuk


__ADS_3

"Kalian seperti menangkap kodok saja. Ha ha ha," seloroh gadis bercadar merah.


"Hi hi hi ... ha ha ha. Kalian lucu sekali, seperti anjing yang kelaparan, menangkap tulang," timpal Sima sambil cenge-ngesan melihat kejadian itu.


Merasa ditertawakan oleh pemuda yang terlihat tidak waras itu, dan pemilik kedai serta pengunjung kedai yang hadir. Ki Palawa sang pimpinan gerombolan tampak semakin marah.


"Kurang ajar! Kubunuh kalian. Ayo, habisi mereka!" perintah Ki Palawa sambil menggerakkan tangan pada ketiga kawannya. Ketiga kawannya segera merangsek dan menyerang Sima,


"Hei, Nisanak. Minggirlah dulu, aku ingin bermain-main dengan cecurut-cecurut ini!" seru Sima sambil tersenyum cenge-ngesan dengan tangan menggaruk-garuk kepala.


"Kurang ajar! Lancang sekali mulutmu, pemuda sinting. Bunuh mereka!" teriak Ki Ki Loreng sambil melesat. Dan ketiga kawannya segera mencabut senjata mereka masing-masing.


"Ha ha ha ... hi hi hi." Sima tertawa cekikikan, melihat tiga lawannya menghunus pedang dan kapak mengurung Sima.


"Hiyaaa...!"


Ketiga orang itu langsung menggebrak dengan sabetan dan babatan pedang dan kapak mereka ke tubuh Sima. Namun, dengan masih cenge-ngesan pemuda sinting itu segera bergerak mengelak. Tubuhnya dirundukkan, lalu meliuk bersamaan dengan gerakan itu kaki kirinya menyapu ke kaki lawan.


"Hiyaaa...!"


Ketiga lawannya yang menyerang melompat ke belakang, mengelakkan tendangan Sima. Mereka saling pandang sesaat, lalu melesat melancarkan serangan lagi. Pedang dan kapak tampak berkelebatan dan berputar serta membabat tubuh Sima.


"Hiyaaat...!"


"Putus lehermu, Pemuda Sinting!"


***Syuuuuuut...!!!


Syuuuut***...!!!


"Ha ha ha ... hi hi hi. Kurang tepat, tikus busuk!" seloroh Sima.


Sima langsung bergerak dengan jurus 'Tapak Harimau Mabuk'. Tubuhnya meliuk-liuk laksana menari sambil cenge-ngesan, kemudian disusul dengan menapak tangannya ke dada lawan. Sedangkan kaki kirinya menyerang dengan gerakan menebas dada lawan yang menyerang.


Ketiga lawannya yang menyerang terkesima melihat gerakkan ilmu silat pemuda bertingkah sinting itu. Mereka menyangka gerakan lambat dan lemah yang dilancarkan Sima akan mudah mereka tembus. Dengan cepat mereka merangsek masuk, membabatkan pedang ke tubuh Sima.


"Yeaaa...!"


Syuuuut ... syuuuut...!!!


"Uts! Hi hi hi ... ini untukmu, kunyuk!" Pemuda sinting itu kembali meliuk, kemudian tangan kanan dan kirinya dihentakkan ke samping melakukan tapakan harimau mabuk.

__ADS_1


Dua orang yang menyerangnya tersentak kaget. Mereka tak menyangka kalau gerakan yang kelihatan pelan dan lemah, ternyata memiliki kekuatan dan kecepatan luar biasa.


"Celaka...!"


"Heits...!"


Ketiga lawannya yang menyerang Sima tersentak kaget dengan mata membelalak tegang. Mereka berusaha mengelakkan tepukan dan sapuan kaki lawan. Namun ternyata gerakan yang dilancarkan Sima datang begitu cepat. Sehingga...


"Akh...!"


Ki Loreng dan Balakosa terpekik. Tubuh mereka terpental deras ke belakang, bagaikan terdorong suatu kekuatan dahsyat. Tubuh keduanya terus melayang ke belakang, sampai akhirnya menerjang pohon pinang.


Braaaakk...!!!


"Ukh...!" terdengar erangan dari mulut mereka yang tampak mengeluarkan darah. Sementara seorang lagi, kini terpelanting akibat kakinya tersambar tendangan keras Sima. Laki-laki itu pun meringis-ringis. Tulang pantatnya bagaikan remuk, karena tubuhnya bagaikan dibanting dengan keras.


"Hi hi hi ... ha ha ha. Kenapa kau meringis, Kisanak? Sakit...?" tanya Sima meledek.


Kemudian tertawa terbahak-bahak sambil menggaruk-garuk kepala. Kini laki-laki berwajah beringas yang bernama Toyang Setan Cabul dari Gunung Sotang membelalakkan mata melihat tingkah pemuda sinting di hadapannya.


"Pemuda sinting...!" pekiknya kaget.


Melihat sikap Sima, laki-laki berwajah beringas itu tampak tegang, takut kalau pemuda sinting akan membunuhnya. Melihat pemuda itu semakin mendekati dirinya Toyang kian tegang. Sehingga dengan cepat kakinya melangkah mundur tapi terasa sakit. Matanya melotot karena tegang dan panik.


"Jangan ... jangan!" teriak lelaki bertubuh tinggi dengan hidung besar dan berambut kumal memegang pedangnya. Dirinya terus beringsut menggeser pantat yang kesakitan.


Matanya masih menatap nanar pada Sima yang hanya cenge-ngesan sambil menggaruk-garuk kepala, melangkah mendekat laki-laki berhidung besar itu.


"Kau seperti kesenangan, Kisanak. Hi hi hi," tukas Sima sambil terus melangkah maju, membuat lawannya bertambah tegang.


Perasaan takut yang terus mendera jiwanya, membuat laki-laki tinggi kurus dengan hidung besar itu nekat.


"Hiyaaa...!"


Di iringi teriakan keras, lelaki itu melompat menyerang dengan mengayunkan pedangnya. Namun dengan cepat, Sima merundukkan tubuh dengan kepala dan sebagian badan condong kemuka. Hal itu mengakibatkan serangan lawan meleset. Kemudian, dengan cepat ditangkapnya kaki lawan yang tengah melayang di atasnya.


Traaaaap...!!!


"Hiyaaa...!" Dengan pengerahan tenaga dalam di lemparkan tubuh lawan ke udara.


"Hiyaaaaa!"

__ADS_1


"Akh ... tolong...!" teriak Toyang ketakutan. Tubuhnya melenting tinggi sekali. Kemudian menukik ke bawah dengan deras. Sampai akhirnya, jatuh dengan kepalanya batok kepala pecah.


"Ha ha ha ... hi hi hi." Sima tertawa-tawa sambil menggaruk-garuk kepala, melihat kejadian yang dianggapnya sangat lucu. Kemudian dengan tenang melangkah ke kursi bambu di depan kedai, lalu duduk dengan santai.


Sementara gadis bercadar merah melawan Ki Palawa dan masih mengandalkan tangan kosong, membiarkan lawan menyerang dengan senjata. Sejauh itu mereka tampak hanya mengelak sambil sesekali balas menyerang dengan tangan kosong.


"Hiyaaa...!"


Sebuah babatan pedang menderu ke kepala Gadis bercadar merah. Hal itu membuat gadis bercadar merah itu segera memutar kepala untuk mengelak. Dan mencabut pedangnya yang bersinar merah itu langsung melesat menerjang orang yang hendak menyerang dari belakang.


Sudah barang tentu orang-orang tersentak kaget melihat kejadian itu. Bahkan Sima yang sedang santai terlonjak dengan mata melotot. Seakan-akan dirinya tak percaya, kalau pedang gadis bercadar merah itu dapat mengeluarkan sinar kemerahan.


***Sraaaaattt...!!!


Breeeeeeeet***...!!!


"Akh...!" pekikan keras terdengar dari mulut Ki Palawa yang tertebas lehernya dengan Pedang Walet Merah.


Betapa dahsyat kekuatan sinar kemerahan dari pedang itu. Kulit tubuh yang terkena serangan itu langsung terkelupas dan gosong seperti terbakar. Mulut Ki Palawa mengerang-erang menahan panas dan rasa sakit yang hebat.


Melihat kejadian itu, Ki Loreng dan Balakosa yang masih hidup berusaha kabur dari tempat pertempuran karena ketakutan. Melihat gelagat lawan-lawannya dengan cepat gadis bercadar segera bergerak mencegat mereka.


"Mau lari ke mana kalian....?" bentak gadis bercadar merah geram.


"Ampun, jangan bunuh kami!" ratap Balakosa sambil bersujud ketakutan, mengharap ampunan gadis bercadar merah.


"Hmm ... manusia macam kalian tak ada ampunan. Terimalah kematian kalian."


"Hiyaaa...!"


Dengan cepat gadis bercadar merah mengangkat pedangnya kearah Ki Loreng dan Balakosa yang masih memegang senjata pedang dan kapak. Seketika itu juga pedangnya berkelebat memancarkan cahaya merah berkilauan. Dan dari kilatan cahaya menyilaukan itu melesat.


"Hiyaaaaa...!"


Sraaaaattt...!!!


"Akh...!" Ki Loreng dan Balakosa terpekik bersamaan ketika Pedang Walet Merah menebas leher mereka. Seketika tubuh kedua tokoh aliran hitam meleleh hingga bersembulan tulang-belulang dengan cairan merah kehitaman. Seketika suasana berubah hening, tak ada lagi suara erangan atas atau jeritan kesakitan.


Sima melihat terlonjak kaget. Tidak menduga kalau gadis bercadar merah akan berbuat seperti itu. Sima hanya mampu menarik napas, sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dirinya sebenarnya tak setuju jika gadis bercadar merah itu menghabisi nyawa mereka. Karena orang-orang itu tadi telah meratap minta ampun.


"Ah ah ah ... Nisanak, mengapa kau lakukan itu? Bukankah mereka sudah minta ampun," ujar Sima dengan meringis sambil menggaruk-garuk kepala.

__ADS_1


__ADS_2