Pendekar Sinting

Pendekar Sinting
Pertemuan Wanita Gila dan Pemuda Sinting


__ADS_3

"Aaaaa...!"


"Ukh..."


Dengan cepat Ningrum Sari melakukan pengamanan terhadap wanita desa itu. Dibawanya ia menjauh tempat itu. Lalu, wanita gila itu kembali menghadapi para pemabuk itu. Keenam pemabuk itu menjadi marah melihat temannya dipermalukan di depan orang-orang desa yang sedang berlalu lalang.


"*******! Wanita gila ini rupanya cari ******. Mau dikasih kenikmatan malah cari perkara. Serang!" Perintah laki-laki berpakaian lebih bagus dari kelima lelaki lain. Rambutnya panjang melebihi bahu, serta berikat kepala hitam yang menutupi bagian rambut atasnya. Pakaiannya lengan panjang berwarna hijau tua, celana hitam dan ikat pinggang lebar dari kulit. Dipunggungnya tersandang pedang panjang.


Kelima pemabuk itu serentak menyerang Ningrum Sari dengan menebaskan pedang masing-masing. Namun, wanita yang terlihat seperti orang kurang waras itu cepat lompat, seraya mencabut pedangnya. Kemudian ia hinggap di atas meja kedai.


Wuuut ... Wut...!!!


Lima bilah pedang segera membabat kaki Ningrum Sari. Wanita gila itu kembali melenting ke udara sambil menendang dengan sepasang kakinya kearah dua orang yang berada di kiri dan kanannya.


***Buuuk...!!!


Buuuk***...!!!


"Hukh...!"


"Akh...!"


Kedua lelaki yang terkena tendangan Ningrum Sari terhuyung beberapa langkah ke belakang. Wanita gila itu berdiri tegak kembali di atas meja kedai tadi dengan senyum mengejek.


"Ayo, maju kalian semua. Kau juga, ha ha ha ha!" Tantang Ningrum Sari sambil menunjuk kearah orang berbaju hitam yang sejak tadi hanya melihat kawannya bertarung melawan Ningrum Sari.


Sementara itu pemimpin para pemabuk yang berbaju hijau, telah ikut menyerang wanita gila dengan menebaskan pedangnya dengan cepat. Batok kepala Ningrum Sari pasti akan tertebas, jika dia terlambat mengelak.

__ADS_1


"*******!" maki Ningrum Sari sambil lompat ke belakang. Lalu dia kembali berdiri. Dan, tanpa menunggu lama, Ningrum Sari balik menyerang dengan sabetan pedangnya. Secepat kilat senjatanya membabat ke tubuh lawan. Wajah orang yang berikat kepala hitam itu langsung pucat.


Melihat pemimpinnya dalam keadaan genting, kelima kawannya kembali menyerang wanita gila itu dengan pedang. Ningrum Sari yang sudah benar-benar muak dengan orang-orang keparat itu segera memapaki serangan lawan. Dengan mempermainkan pedangnya sedemikian rupa, dia menangkis pedang-pedang yang diarahkan kepadanya.


Trang ... Traang...!!!


Senjata-senjata mereka beradu, hingga menciptakan pijaran api. Sementara pedang di tangan kelima lawan patah, lalu terlepas dari genggaman mereka. Mendapati kenyataan itu, kelima pemabuk yang bertampang seram dan buruk itu kaget bukan kepalang. Kelimanya saling pandang. Mereka tampak mulai gentar. Perlahan-lahan mereka melangkah mundur seraya memandang Ningrum Sari yang berdiri dengan tertawa mengejek.


"Ayo, maju ... atau aku yang maju untuk memelukmu. Ujarnya tadi kalian ingin menikmati tubuhku. Ayo!" ujar Ningrum Sari sinis.


Kelima pemabuk tadi tak menbalas. Mereka terpaku. Tiba-tiba lelaki berpakaian hijau tanpa diduga menyerang Ningrum Sari dari belakang. Namun Ningrum Sari rupanya sudah menduganya. Dengan cepat tubuhnya meloncat ke udara, lalu berbalik arah sambil menghunus pedangnya. Dan ditebasnya pedang tersebut ke dada lawan dengan cepat.


Sreeeettt...!!!


Craaaaas...!!!


"Aaakh...!"


Braaaaakk...!!!


Laki-laki itu tak berkutik lagi. Sementara itu, kelima kawannya berusaha melarikan diri. Namun Ningrum Sari segera menghadang mereka.


"Hei, kalian belum meminta maaf pada wanita itu. Cepat kembali!" perintah Ningrum Sari penuh wibawa.


Kini orang-orang yang semula ditakuti penduduk desa, tak ubahnya seperti tikus. Ningrum Sari hanya cenge-ngesan dan menggaruk-garuk kepala memandangi kelima orang yang berjalan ke arah Ningrum Sari sambil menatap lelaki berpakaian hijau yang masih pingsan dengan darah mengucur dari mulutnya. Sedangkan dadanya membiru akibat tendangan wanita gila itu tadi.


Kemudian, Ningrum Sari menoleh ke arah kelima lelaki yang terbungkuk-bungkuk mendekatinya.

__ADS_1


"Hei, cepat kalian ke sini!" sentak Ningrum Sari.


"Kalian sudah membuat penduduk desa ini ketakutan dan menderita. Kini kalian harus menerima ganjaran," sambung Ningrum Sari.


"Ampun, ampuni kami. Kami tidak akan berbuat buruk lagi," ratap lelaki pemimpin pemabuk itu. Diikuti teman-temannya.


"Kau tadi yang mengganggu wanita itu? lebih baik kubutakan saja matamu, biar kau tidak dapat melihat tubuh wanita yang montok dan cantik!" ancam Ningrum Sari sambil menghunuskan pedangnya ke mata pemimpin pemabuk itu. Kontan lelaki itu menyembah bersujud di kaki Ningrum Sari.


"Ampun! Ampuni aku ... Ampuni aku. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi," rengeknya dengan tubuh gemetaran, karena ujung pedang Ningrum Sari masih berada di dekat matanya.


"Ha ha ha, dasar lelaki keparat! Hei. sekarang aku tanya, siapa yang menyuruhmu membuat onar di Desa Pandan Wangi dan berbuat seenak udelmu di sini!" sentak Ningrum Sari kemudian.


Sementara itu lelaki berpakaian hijau mulai tersadar. Dengan meringis ia berusaha bangkit, namun tubuhnya masih terasa sakit. Tapi, ketika melihat Ningrum Sari mengancam kawannya, secara diam-diam dan licik ia ingin mengambil kesempatan itu untuk menyerang wanita gila itu dari belakang.


Dengan cepat ia bangkit dan membabatkan pedangnya ke leher lawaanya. Namun belum sempat pedang itu mendarat di leher Ningrum Sari.


"Aaaakh...!"


Ningrum Sari terkejut dan berbalik sambil melompat mundur selangkah. Terlihatlah tubuh laki-laki yang hendak menebaskan pedangnya dari belakang mengejang dengan mata melotot meregang nyawa.


Ningrum Sari terbelalak memandang sosok pemuda yang tegak berdiri di luar kedai. Pemuda itu berwajah tampan, berambut gondrong berikat kepala dari akar pohon. Mengenakan pakaian lusuh serta memakai celana sebatas paha yang terbuat dari kulit harimau. Pemuda itu memegang sebuah tongkat di tangan kanannya.


Ningrum Sari menghela napas panjang. Ia tahu kalau pemuda itu yang menyelamatkan jiwanya. Kemudian tubuhnya berbalik ke arah kelima orang tadi.


"Pergi kalian! Sampaikan pada pemimpin kalian, bahwa aku menunggu di desa ini. Cepat pergi atau kubunuh kalian!" sentak Ningrum Sari keras. Kontan kelima laki-laki itu belarian bagai dikejar setan.


Pemilik kedai dan orang-orang yang melihat kejadian tadi tampak kagum pada kehebatan wanita yang terlihat seperti orang yang tak waras itu. Tapi, mereka tidak berani menunjukkan kegembiraan. Terlihat dari wajah mereka yang tegang, seperti ada sesuatu yang membuat mereka takut. Ningrum Sari melangkah menghampiri pemuda yang telah membantunya.

__ADS_1


"Terima kasih. Kau telah menyelamatkan jiwaku," ujar Ningrum Sari ketika sudah berada di dekat sosok pemuda itu. Pemuda itu tak menbalas. Ia tetap diam sambil cengar-cengir, membuat wanita gila itu merasa agak kesal karena terima kasihnya seolah tidak ditanggapi pemuda itu.


Kemudian, pemuda tersebut berkelebat meninggalkan Ningrum Sari yang masih terlihat kesal dan juga kagum akan pemuda itu yang berwajah tampan dan berilmu tinggi. Ketika wanita gila itu menengok ke arah kedai banyak orang yang memandanginya, lalu gadis yang tadi dilecehkan laki-laki itu mendekati Ningrum Sari.


__ADS_2