Pendekar Sinting

Pendekar Sinting
Paman Kumba Menyembuhkan Mata Sima


__ADS_3

Tak lama kemudian, kedua pengawal itu telah kembali bersama seorang wanita berusia sekitar enam puluh tahun. Namun kecantikan wanita itu masih utuh. Kalau dilihat sepintas usianya masih sekitar dua puluh satu tahun. Dia adalah ibu dari Putri Siluman Harimau.


Wajah wanita berkebaya biru dengan rambut disanggul, setelah mendengar penuturan kedua siluman harimau yang menjadi prajuritnya. Wanita berparas cantik yang sangat jauh dibandingkan usia yang sebenarnya. wanita cantik yang menjadi Ratu di kerajaannya melangkah memasuki istana.


Wanita itu langsung masuk ke dalam istana, dan nampak putrinya tengah berdiri dengan seorang pemuda tampan yang kedua matanya tidak bergerak karena buta. Sri Ratu matanya terbelalak melihat pemuda tampan di hadapannya begitu gagah. Memakai celana sebatas paha dari kulit harimau. Bajunya berwarna kuning gading berlengan panjang. Dan memegang tongkat dari akar pohon.


"Siapa pemuda ini, Cah Ayu? Sepertinya dia pembunuh bangsa kita," tanya Sri Ratu Siluman Harimau Belang.


"Daulat, Sri Ratu namaku Sima Kelantara. Aku tidak tidak pernah membunuh harimau. Mungkin karena Sri Ratu melihat apa yang kukenakan. Kulit harimau ini kutemukan sudah mati, lalu kukuliti kulitnya, kupakai seperti ini," balas Sima sambil menggaruk-garukan kepalanya.


"Hm, sepertinya kau bicara jujur pemuda tampan," ujar Sri Ratu Siluman Harimau. Sambil tersenyum manis di hadapan Sima. Tingkah Sri Ratu membuat Nitisara menjadi sedikit cemburu.


"Bunda Ratu, kakang Sima kekasihku. Mengapa Bunda Ratu pun menyukainya?" tukas Nitisara pada ibunya dengan wajah cemberut.


"He he he, tidak putriku. Bunda hanya mengagumi ketampanan dan kejujuran pemuda itu saja," ujar Sri Ratu Siluman Harimau Belang.


"Tidak biasanya kau membawa pemuda dari bangsa manusia ke dalam istana. Hmm, Bunda tahu kau menyukai pemuda itu." Tukasnya pada gadis cantik jelita yang berpakaian tipis dan minim. Sedangkan bagian tubuh dada tembus pandang, sehingga lekuk tubuhnya yang elok terlihat jelas. Lekuk tubuhnya sangat menggairahkan bagi setiap lelaki yang melihat. Gadis cantik itu mengangguk. Dan tersenyum malu-malu hingga kedua pipinya memerah.


"Hm, baiklah Bunda Ratu. Aku membawanya kakang Sima ke sini untuk menyembuhkan kedua matanya yang tidak dapat melihat," keluh Putri Siluman Harimau Belang pada ibunya.


"Baiklah putrku!"


"Prajurit panggil Paman Kumba untuk segera menghadap!" perintah Sri Ratu pada prajuritnya.


"Sendiko, Sri Ratu ..."


Tak lama kemudian, paman Kumba sebagai tabib kerajaan siluman yang juga memiliki ilmu cukup tinggi datang menghadap Sri Ratu.


"Daulat, Sri Ratu," seru Paman Kumba menyembah.


"Kakang Kumba, segera kau obati kedua mata pemuda itu hingga ia dapat melihat kembali," perintah Sri Ratu Siluman Harimau Belang.


"Sendiko, Sri Ratu."


"Kakang Sima. Mari kita ikuti paman Kumba," ujar Nitisara pada Sima.

__ADS_1


"Hm, baiklah terima kasih, Sri Putri," ujar Sima.


Di sebuah ruangan pengobatan Sima segera dibaringkan di sebuah ranjang yang terbuat dari emas lalu kedua matanya di tempelkan dua lembar daun sirih. Nitisara melihat Sima sedang di obati nampak wajahnya penuh kegembiraan. Paman Kumba mendekati tubuh Sima yang masih terbaring. Kemudian mulut paman Kumba merapal mantra sakti. Sedangkan tangan kirinya menotok jalan darah di tubuh Sima.


Tep ... Tep... Tep...!!!


"Hm, semoga aku berhasil," gumam paman Kumba dan memasukan kedua ibu jarinya ke dalam langit-langit mulutnya.


Setelah itu ditekan-tekan kedua mata pemuda tersebut. Keanehan terjadi. Tubuh Sima menggelepar-gelepar ke sana-kemari serta mengepulkan asap hitam. Pertanda kalau mantra paman Kumba begitu dahsyat dan sesaat Sima terkulai lemas.


"Hua ha ha ... aku berhasil," ujar paman Kumba.


Paman Kumba menotok urat leher Sima, membuat mulut pemuda tampan itu membuka saat itu juga.


"Sri Putri, tolong ambilkan paman ramuan dibotol yang berwarna biru itu," seru Paman Kumba pada Nitisara.


"Baik paman!" sahut Nitisara. Setalah ramuan diberikan, lalu paman Kumba meneteskan ramuannya ke dalam mulut Sima.


"Hm ... semoga pemuda itu dapat melihat kembali," gumam paman Kumba.


"Ah, mataku dapat melihat kembali. Di mana aku? Apakah aku sekarang berada di kerajaan angin?" tanya Sima penuh keheranan.


Belum hilang rasa keheranannya. Matanya terbelalak melihat wanita cantik yang berada di hadapannya, dan sosok laki-laki setengah baya yang sorot matanya begitu tajam. Laki-laki itu mengenakan rompi dari kulit hewan tengah menatapnya dalam-dalam.


"Apakah kau gadis yang telah membawaku ke sini," tanya Sima pada Nitisara yang masih dalam keadaan kebingungan.


"Benar aku yang membawaku ke sini. Namaku Nitisara. Aku Putri di kerajaan ini, dan ini paman Kumba yang telah mengobati kedua matamu," tutur Sri Putri Siluman Harimau Belang.


"Terima kasih tuan putri, terima kasih paman Kumba. Bagaimana caraku membalas budi kalian," ujar Sima pada Sri Putri Siluman Harimau Belang dan paman Kumba, seraya menjura hormat.


"Bangunlah kakang Sima. Mari ikut aku menemui,


Sri Ratu," ujar Nitisara.


"Baiklah, Sri Putri."

__ADS_1


Setelah pengobatan selesai Sima, Nitisara  dan paman Kumba menghadap Sri Ratu Harimau Belang di ruang Inggil.


"Daulat, Sri Ratu." Sembah paman Kumba diikuti Sri Putri Nitisara dan Sima.


"Bagaimana pengobatan kakang Kumba?" tanya Sri Ratu Siluman Harimau Belang.


"Daulat, Sri Ratu. Pemuda itu sudah sembuh dan sekarang matanya sudah dapat melihat kembali."


"Bagus, Kakang Kumba," ujar Sri Ratu turut gembira.


"Daulat, Sri Ratu terima kasih. Telah mengobati kedua mataku. He he he," sahut Sima sembari sedikit cenge-ngesan.


"Hmm, sekarang kau hendak ke mana Sima?" tanya Sri Ratu Harimau Belang.


"Daulat Sri Ratu, Aku akan kembali ke Desa Pandan Wangi," balas Sima.


"Kenapa kau tidak tinggal di sini saja kakang Sima," sahut Nitisara yang begitu menyukai Sima.


Melihat kedua mata Sima telah sembuh, Nitisara makin tumbuh rasa cintanya pada pemuda yang agak sinting di sampingnya.


"Aku harus pergi Sri Putri. Andai umurku diberi panjang Tuhan pencipta alam ini. Kita akan bertemu kembali lagi. Hi hi hi," ujar Sima sembari cenge-ngesan. Saat itu Nitisara wajahnya nampak cemberut mendengar Sima akan pamit pergi.


"Cah Ayu, biarlah Sima pergi," seru Sri Ratu Harimau Belang pada putrinya.


"Baik, Bunda Ratu," ujar Nitisara Putri Harimau Belang.


"Ayo, kakang. Marilah kuantar sampai Hutan Cendana," ujar Nitisara.


"Daulat, Sri Putri," tutur Sima pada Nitisara.


"Tunggu...!" seru paman Kumba tiba-tiba menghentikan langkah muda-mudi itu.


"Ada apa, Paman Kumba?" tanya Sima mengerutkankan keningnya.


Paman Kumba melangkah, mendekati Sima, kemudian memberikan sebuah mantra yang dituliskannya dari daun lontar.

__ADS_1


"Apa ini paman, Kumba?" tanya Sima pada paman Kumba.


__ADS_2