Pendekar Sinting

Pendekar Sinting
Ningrum Sari Jatuh Cinta


__ADS_3

Hik ... hik ... hik ... Baiklah Arya. Lalu, siapa nama istrimu?" tanya Ninik Bintari.


"Nama istriku Arum, Dewi Arum."


"Hmm ... mengapa kau berada di Hutan Setan Kembar ini, Den Arya?" tanya Ninik Bintari masih menyelidik.


"Malam itu kami kemalaman Ninik Bintari, tadinya ingin mencari penginapan, tetapi kami tidak tahu penginapan di wilayah ini. Ya, terpaksa kami bermalam di hutan ini."


"Begitu rupanya. Apa kau tahu kalau cucuku menyukaimu...?"


"Maksud Ninik Bintari, Ningrum Sari?"


"Benar sekali, Ningrum Sari jatuh cinta kepadamu. Hal yang tidak mungkin terjadi. Dewi Arum pasti akan marah mendengar semua ini," sahut Ninik Bintari.


"Ha ha ha. Ada-ada saja, Ningrum Sari itu. Di mana buah-buahan yang segar di hutan ini. Ninik Bintari?" tanya Arya Kelantara memotong pembicaraan.


"Kau pergi ke arah utata hutan ini. Di sana banyak sekali buah-buahan yang tumbuh subur. Rasa dari buahnya begitu manis dan terasa segar," balas Ninik Bintari.


"Terima kasih, Ninik Bintari," ujar Arya Kelantara yang kemudian melesat ke arah utara Hutan Setan Kembar.


"Ck, ck, ck ... pastinya pendekar muda itu bukan orang sembarangan. Ilmu meringankan tubuhnya sangat sempurna sekali," puji Ninik Bintari.


Setelah berkelebat ke arah utara Hutan Setan Kembar, Arya Kelantara mendapatkan banyak sekali buah-buahan yang segar-segar. Tetapi, di dalam sebuah gubuk Dewi Arum dan Ningrum Sari terlihat sedang sedang bercakap-cakap.


"Aku pastikan kalian seperti orang dari rimba persilatan. Apakah itu benar?" tanya Ningrum Sari pada Dewi Arum.


"Ah, tidak juga Ningrum Sari. Kami hanya sepasang suami istri yang kebetulan bermalam di hutan ini. Kami hanya orang biasa saja," tutur Dewi Arum yang sedang menggendong bayi perempuannya.


"Semalam Ninik Bintari bercerita padaku, kalau kakang Arya sedang bertarung dengan penguasa di hutan ini. Itulah salah satu bukti, kalau kalian bukan orang sembarangan," tukas Ningrum Sari.


"Ha ha ha ... kau dan Ninik Bintari terlalu melebih-lebihkannya," sahut Dewi Arum.


"Oh, ya. Kalau besar nanti pastinya anakmu ini akan diperebutkan para gadis, Dewi Arum. Kau lihat wajahnya begitu tampan sekali," ujar Ningrum Sari yang kemudian berganti menggendong seorang bayi laki-laki di sampingnya


"Ha ha ha, kau ini Ningrum Sari ada-ada saja."

__ADS_1


Tak lama kemudian, Ninik Bintari datang dengan membawakan ikan-ikan yang masih segar dari sungai kecil yang berada di Hutan Setan Kembar.


"Eh, Ninik. Apa yang Ninik bawa?" tanya Ningrum Sari.


"Cepat kau bakar ikan-ikan ini, nduk. Malam ini kita akan bersama. Biar bayinya aku yang menggendongnya," ujar Ninik Bintari.


"Baik Ninik, biar aku bersihkan terlebih dahulu ikan-ikannya," sahut Ningrum Sari.


"Sudah kau berikan nama untuk putra-putrimu, Dewi Arum?" tanya Ninik Bintari.


"Kakang Arya sudah memberikan mereka nama, Ninik Bintari. Putraku bernama Sima Kelantara dan putriku itu Dewi Melati Kelantara."


"Hmm, nama-nama yang bagus. Dewi Arum. Semoga anak-anakmu selalu dilindungi Sang Hyang Dewata," tutur Ninik Bintari.


"Terima kasih, Ninik Bintari."


Siang itu di perguruan aliran putih sedang berkumpul para ketua perguruan rimba persilatan, aliran golongan putih, Ki Wicaksana, Ki Kuranta, Nyai Cakrawati, Resi Barata dan juga Nyai Gandawati.


"Saudaraku sekalian, malam lalu aku ditemui siluman penguasa Hutan Kembar, mereka membawa pesan dari sepasang pendekar yang membawa Pedang Samber Nyawa itu. Pintanya kita tak perlu melindungi mereka lagi," ujar Ki Wicaksana ketua Perguruan Singo Putih.


"Salam, Ki Wicaksana. Dari perguruan aliran hitam ada seorang ketua perguruan mereka yang tewas. Ia bernama Ki Branjang, sudah dipastikan mereka akan membalaskan dendamnya terhadap perguruan aliran putih!" ujar Nyai Cakrawati ketua Perguruan Belibis Putih mengingatkan.


"Ki Branjang yang bergelar 'Kelelawar Setan'. Siapa yang telah membunuhnya..?" tanya Ki Wicaksana.


"Pendekar yang membawa Pedang Samber Nyawa itu yang telah membunuhnya. Dan, ia pula yang telah menyelamatkan nyawaku, sewaktu aku terdesak dalam pertarungan!" sahut Ki Kuranta ketua Perguruan Elang Perak.


"Benar Ki Wicaksana, seandainya tidak ada sepasang pendekar itu. Mungkin kami semua sudah tewas!" timpal Nyai Purbani Ketua Perguruan Harimau Putih.


"Semoga sepasang pendekar itu selalu dilindungi Sang Dewata," tutur Resi Barata.


"Baiklah, aku rasa perbincangan ini sudah cukup jelas. Untuk para ketua perguruan selalu waspada dan jangan lengah, jika sewaktu-waktu perguruan aliran hitam akan menyerang perguruan-perguruan aliran putih," terang Ki Wicaksana.


Cakrawala telah diselimuti lembayung panorama sore yang melingkupinya. Matahari tampak memudar berwarna jingga di atas permukaan air terjun Hutan Setan Kembar itu. Kemilau bayangan tampak menari-nari dengan tebasan-tebasan pedangnya bersama riak halus air terjun.


Sekelebat wanita berambut panjang terurai mengenakan pakaian berwarna biru langit, tubuhnya mengendap-endap mengamati sesosok laki-laki di seberangnya sedang berlatih di bawah kaki air terjun.

__ADS_1


"Aku akan mencoba ilmu yang dimiliki kakang Arya. Aku harus memakai cadar ini terlebih dahulu, Agar penyamaranku tidak diketahuinya," gumam Ningrum Sari di balik pepohonan.


Kraaaakk...!!!


Tak disengaja Ningrum Sari menginjak sebuah ranting pohon yang ada di depannya, dan menbuat bunyi suara yang dapat ditangkap Arya Kelantara.


"Siapa kau? Keluarlah!" hadrik Arya Kelantara terhadap pengintai yang mengamatinya.


"Hiyaaaa!" teriak Ningrum Sari yang sudah melentingkan tubuhnya di atas udara.


Arya Kelantara dengan sikap tenang menerima babatan pedang yang menyambar-nyambar dari penyerang yang memakai cadar itu.


Sementara pendekar muda itu belum mengetahui kalau penyerang sebenarnya adalah Ningrum Sari. Arya Kelantara pun melenting ke atas, kemudian melesat ke samping untuk mengelakkan serangan lawannya.


Sekejap kemudian, Pedang Samber Nyawa dicabut dari sarungnya. Tampaklah sinar terang memancarkan cahaya berwarna-warni yang keluar dari pedang sakti itu. Mata Ningrum Sari terasa tersengat. Kemudian, Arya Kelantara mengerahkan tendangan yang begitu kuat hingga lawan di depan roboh seketika.


Desssssshh...!!!


"Aaakh...!"


Mendengar lawannya meringis kesakitan, lalu segera Arya Kelantara membuka cadar yang dikenakan penyerangan gelap itu.


"Hei, rupanya kau...?"


"Iya, Kakang. Aku Ningrum Sari. Aku hanya ingin mengetahui kehebatanmu saja," ujar Ningrum Sari.


"Tak perlu kau melakukannya seperti itu Ningrum Sari. Itu hanya akan membahayakan dirimu saja," ujar Arya Kelantara pada Ningrum Sari yang berusaha bangkit.


"Aku mencintaimu, Kakang Arya," ujar Ningrum Sari. Yang kemudian tersenyum manis dengan bibir merah merekah.


"Kau tahu aku sudah memiliki Dewi Arum dan sepasang putra-putri. Tidak mungkin aku menerima cintamu, Ningrum," terang Arya seraya membantu Ningrum Sari berdiri.


"Aku tidak perduli kakang, jadikanlah aku istrimu." Ningrum Sari menyela.


"Hari sudah mulai gelap Ningrum, mari kita kembali ke bilik. Aku baru saja mencari buah-buahan, juga menangkap tiga ekor ayam hutan," ujar Arya seraya menunjuk perolehannya di sudut batu besar.

__ADS_1


"Wah! Banyak sekali buah-buahan itu, Kakang."


__ADS_2