
"Apakah tak boleh membalas dendam, Eyang guru?" tanya Dewi Melati.
"Tidak boleh, tegakkanlah kebenaran, Cah Ayu," sahut Resi Brahmacari.
"Baiklah, Eyang guru. Aku akan selalu mengingat hal itu."
"Kita istirahat, Melati," ajak Dewi Arum pada putrinya. Mereka berlalu meninggalkan tempat itu, ketika matahari tampak telah tergelincir di balik bumi sebelah barat.
Lolong anjing di kejauhan, semakin mencekam di keheningan malam, daun pun enggan berbisik, hanya mampu menahan napas dalam sunyinya malam. Rembulan yang berselimut awan hitam memancarkan cahaya dikeremangan menerangi alam yang kiat pekat dan sunyi lelap terbuai dalam ayunan kidung malam alam semesta melengkapi suasana malam itu di Perguruan Gagak Hitam.
"Keparat! Untuk apa kau mengadu kepadaku, Hah? Hanya dengan seorang wanita saja kalian sampai babak belur. Dasar binatang-binatang dungu!" sentak Ki Palawa pada para pengikutnya.
"Ampun ketua. Wanita itu memeiliki jurus pedang yang sangat cepat sekali. Dan wanita itu bertingkah seperti orang gila. Kami tak mampu menandinginya," tukas salah seorang pemabuk yang dihajar Ningrum Sari di kedai makan.
"*******! Masih juga kau buka mulutmu di depanku!" sentak Ki Palawa yang merasa geram kepada keempat pengikutnya.
"Ampuni kami ketua!" seru keempat pengikut Ki Palawa.
Dengan sekejap ditarik pedang dari tangan Ki Palawa dan membabatkannya ke leher empat orang pengikutnya.
"Yeaaat...!"
Sreeeeeeett...!!!
Sreeeet...!!!
"Wuaaa...!"
"Akh...!"
"Aaaa...!"
"Egk...!"
__ADS_1
Jeritan beruntun, keempat pengikut Ki Palawa. Dan darah mengucur deras dari leher keempat para pengikutnya. Leher mereka nyaris putus terkena babatan pedang pemimpinnya. Murid-murid dan para pengikutnya yang menyaksikan menjadi sangat ketakutan.
"Kalian tangkap wanita tidak waras itu hidup atau mati. Kemudian, serahkan kepadaku. Cepat pergilah! Sebelum kutebas juga kepala kalian satu persatu!" hardik Ki Palawa yang merasa geram memerintahkan para murid dan pengikutnya.
"Baik ketua...!" seru serempak para murid dan pengikut Ki Palawa.
***
Sementara saat malam di alam lelembut, dua orang tengah duduk berhadap-hadapan. Eyang Amritambu sedang mendengarkan ulang kisah hidup pemuda yang kini kedua sepasang matanya menjadi buta. Pada saat Sima masih kecil ia diserang oleh tiga ekor harimau di Hutan Setan Kembar. Namun, naas bagi si bocah harus terjatuh menubruk pohon yang besar dan matanya mengalami kebutaan.
Saat ia terjatuh, kemudian dirinya tidak mengingat apa-apa lagi kejadian itu, juga akan kehadiran Harimau Putih yang sudah menolongnya Sima tidak mengetahui. Harimau Putih itu adalah Eyang Amritambu sendiri. Saat peristiwa itu Eyang Amritambu membawa Sima pergi selama sebelas tahun ke alam lelembut.
"Sudahlah Sima, semua sudah menjadi suratan takdir." Eyang Amritambu kembali menganggukkan kepala sambil tersenyum, segera pemuda itu bersujud.
"Bangunlah, tak perlu begitu. Kita sama-sama mahluk ciptaannya. Hanya Tuhan Semesta Alam yang patut disembah. Bangunlah," ujar Eyang Amritambu.
Waktu bergulir begitu cepatnya pagi merambati bumi bersama seluruh warna dan tembang alam. Dua orang tengah duduk berhadap-hadapan. Yang seorang adalah lelaki tua berjubah putih dengan rambut yang kian memutih pula. Ia tak lain Eyang Amritambu atau lebih terkenal dengan sandang gelar Eyang Harimau Putih.
"Sima, sebelas tahun telah berlalu. Sebelas tahun pula kau berada di alam ini. Semua ilmu yang Eyang miliki, telah Eyang wariskan padamu," tutur Eyang Amritambu setelah beberapa saat terdiam.
"Perpisahan memang berat, cucuku..."
Sima tak berkata apa-apa. Pemuda itu nampaknya terharu mendengar penuturan Eyang gurunya. Bagaimanapun juga, selama sebelas tahun mereka senantiasa berdua. Susah senang mereka jalani bersama. Tapi, tiba-tiba kini mereka harus berpisah. Siapa pun pasti akan merasa sedih.
"Sima, jangan kau pikirkan perpisahan antara kita, sebab hal itu adalah kenyataan hidup setiap manusia. Di mana ada pertemuan, tentu ada perpisahan. Kau telah dewasa, telah mewarisi seluruh ilmuku." Kembali orang tua sakti itu menghentikan ucapannya. Dihelanya napas sebelum meneruskan ucapannya.
"Ketahuilah, ilmu seseorang tidak berarti sama sekali, jika digunakan untuk kejahatan. Dan harus kau ingat pula, bahwa sesungguhnya ilmu yang dimiliki manusia hanya bagai setetes air di lautan dibandingkan dengan ilmu yang dimiliki oleh Tuhan pemilik alam ini. Kau paham, Sima...?" pesan Eyang Amritambu, amat mengiris.
"Paham, Eyang," sahut Sima masih menunduk.
"Bagus! Dengan begitu, kau tidak akan tersesat nantinya. Kemudian yang perlu kau ingat juga, jangan menaburkan benih permusuhan dalam hidupmu. Buanglah rasa dendam di hatimu, sebab dendam adalah sifat iblis."
"Baik, Eyang. Semua yang Eyang petuahkan, akan senantiasa kuingat," ujar Sima.
__ADS_1
"Mengapa saat itu kau pergi diam-diam dari alam ini, Sima? Eyang ingin mendengar alasanmu, karena saat itu belum waktunya kau pergi dari tempat ini," ujar Eyang Amritambu pada Sima.
"Aku tidak tega Eyang, melihat wanita yang hampir tewas terkena sambaran pedang orang-orang jahat itu," ujar Sima begitu ringan.
"Kau tahu siapa wanita itu?" tanya Eyang Amritambu.
"Aku tidak tahu Eyang. Siapakah dia?"
"Wanita itu adalah ibumu, Sima," terang Eyang Amritambu, membuat Sima tersentak kaget mendengar penuturan dari gurunya.
"Ibuku...?"
"Pergilah kau sekarang, carilah ibumu."
"Terima kasih, Eyang. Sungguh besar jasamu padaku. Entah dengan cara apa aku yang bodoh dan tiada guna ini dapat membalasnya."
"Sudahlah, jangan kau pikirkan hal itu. Eyang akan senang, jika kau dapat membantu orang yang memerlukan pertolonganmu," tutur Eyang Amritambu.
"Baik, Eyang. Aku pergi sekarang!" Sima menjura hormat dengan membungkukkan tubuhnya.
Kemudian dengan masih membungkuk, pemuda itu bangkit dari duduknya, melangkah mundur meninggalkan orang tua yang masih duduk bersila.
Di bibir orang tua itu tersungging senyum kepuasan. Hatinya merasa tenang, sebab kini telah ada penggantinya untuk menegakkan kebenaran dan keadilan di muka bumi.
"Semoga Tuhan pemilik semesta alam ini senantiasa melindungimu, cucuku." desis orang tua itu lirih.
Matanya pun segera dipejamkan, seolah berusaha menahan rasa haru yang menyelinap di harinya.
Saat matahari telah meninggi di atas ubun-ubun kepala. Sima berkelebat menuju Hutan Setan Kembar. Dan dengan ilmu yang telah ia kuasai, pemuda itu dapat sekejap mata sampai di tempat yang ia tuju. Berkat penuturan dari Eyang guru Amritambu Sima pergi menuju Hutan Setan Kembar.
"Biyung kau di mana? Mataku buta Biyung. Aku tak dapat melihatmu," gumam Sima lirih.
"Yeaaakh...!" teriak Sima membuat hewan-hewan yang berada di dalam hutan lari berhamburan, lalu d hantamkan tongkatnya ke pohon besar yang berjejer di hutan tersebut, hingga pohon itu roboh satu persatu.
__ADS_1