Pendekar Sinting

Pendekar Sinting
Tewasnya 2 Tokoh Aliran Golongan Hitam


__ADS_3

Ki Mahawirya wajahnya memerah, merasa malu senjata andalan hancur begitu saja dengan seorang pemuda dihadapannya. Kemudian ketua Perguruan Cakar Gagak ini melompat dan melancarkan serangan disertai tenaga dalam yang cukup tinggi ke arah dada Arya Kelantara.


"Keparat! Kau terima seranganku...!"


"Hiyaaaaat...!"


Desssh...!!!


"Oouh," pekik Arya.


Kemudian Ki Mahawirya kembali melakukan serangannya dengan pukulan yang maha dahsyat.


*Pukulan Gagak Pelebur Sukma*


"Hiyaaat...!"


Dengan berjumpalitan ke belakang, Arya Kelantara pun mengeluarkan 'Ajian Guntur Membelah Gunung'.


*Pukulan Guntur Membelah Gunung*


"Huuuup..!"


Jedeeerrrrrrr...!!!


Tubuh Ki Mahawirya terdorong deras ke depan, lantas membentur pohon besar yang ada di belakangnya.


Bruuuk...!!!


Dengan luka gosong di dadanya, Ki Mahawirya meregang nyawa seketika itu juga, kemudian diam tanpa suara lagi.


"Maafkan aku kisanak, aku terpaksa melakukannya," ujar Arya.


"Heh? Rupanya anak muda itu tidak bisa dianggap remeh," gumam Ki Gentala.


Belum hilang rasa keterkejutannya pada pendekar muda di depannya. Pohon besar yang terbentur tubuh Ki Mahawirya tadi, roboh dan ambruk seketika.


Kreteeeek, Teeek ... Teek...!!!


Bruuuuukkkk...!!!


"Ck, ck ,ck ... sungguh pukulan yang sangat dahsyat! Dan, tenaga dalam yang dimiliki pendekar muda itu memang cukup tinggi," decak kagum Ki Halayuda menyaksikan kesaktian Arya Kelantara.


"Heyaaaa...!"


Di seberang sana Nyai Wagiswari masih bertarung dengan Dewi Arum yang menyandang julukan 'Pendekar Bangau Putih'.


"Hiyaaaaat...!"


"Mengapa kau tak membalas serangan-seranganku...?" tanya Nyai Wagiswari merasa dilecehkan dengan jalannya pertarungan.


"Aku dan kakang Arya tak 'kan melukai seseorang, selagi mereka tidak meminta nyawa kami," sahut Dewi Arum.


"Baiklah, kalau begitu. Sekarang aku yang meminta nyawamu...!" dengus Nyai Wagiswari begitu murka.

__ADS_1


**Aji Sanca Sukma**


"Heyaaaaa...!"


Jlegaarrrrrr...!!!


Terpecik bias sinar berwarna hijau dari telapak tangan Nyai Wagiswari yang kemudian mengenai dada Dewi Harum, pada saat melancarkan serangan secara tiba-tiba.


"Ouh," pekik Dewi Arum, mengeluarkan darah segar berwarna hitam dari mulut, akibat terkena Ajian Sanca Sukma, lantas tubuh Dewi Arum terhuyung ke belakang beberapa tindak.


Dengan sigap Dewi Arum memusatkan tenaga dalam dan menetralisir pukulan yang dilancarkan Nyai Wagiswari tadi. Pendekar cantik jelita itu mencabut pedang dari punggungnya, berusaha membalas serangan Nyai Wagiswari dengan 'Jurus Pedang Bangau Terbang’


*Jurus Pedang Bangau Terbang*


"Heyaaaa...!"


Jurus pedang Dewi Arum, seakan tidak dapat terlihat oleh sepasang mata biasa, karena begitu cepatnya ia memainkan pedangnya. Lawannya pun begitu amat terkejut mendapakan lawan yang tidak dapat di anggap remeh.


Wuuut...!!!


"Wuuusssss ... Wuuusssss...!!!" Angin pun berderu kencang dengan permainan jurus-jurus pedang Dewi Arum.


"Jurus pedang apa yang dipergunakannya? Kurang ajar! Mataku tak dapat menangkap gerakan tebasan pedangnya!" sungut Nyai Wagiswari.


"Hiyaaaat...!"


Dewi Arum terus melancarkan serangannya, dengan cara membabatkannya ke leher Nyai Wagiswari. Kemudian, Nyai Wagiswari tidak dapat mengelak lagi. Karena, tebasan-tebasan pedang pendekar wanita yang satu ini begitu cepat. Lantas kemudian...


Sreeeeeeett...!!!


Tubuhnya terhuyung lima langkah ke belakang, kemudian ambruk ke tanah seketika. Luka sayatan di leher Nyai Wagiswari cukup lebar dan tubuhnya menjadi gosong akibat bisa racun yang ada di pedang tersebut.


"Keparat! Cepat habisi sepasang pendekar itu. Kemudian kita rebut pedangnya!" sentak Ki Halayuda.


"Mari Halayuda, serang!" timpal Ki Madaharsa.


"Hiyaaaa...!" Dengan bersikap kerdil, kedua tokoh Aliran Golongan Hitam itu menyerang Arya Kelantara secara bersamaan.


"Kalau begitu aku yang akan menghabisi istrinya, kemudian menikmati tubuh moleknya. Huaaaa!" seloroh Ki Gentala seraya melancarkan serangan pada Dewi Arum.


"Heyaaaa...!" Ki Gentala lompat di udara seraya mengeluarkan 'Ajian Cakar Setan'.


**Aji Cakar Setan**


Dari kuku-kuku Ki Gentala mengeluarkan sinar kemerahan yang begitu panas. Jika seseorang terkena ajian tersebut, tubuhnya akan gosong hangus terbakar.


Jlegaarrrrrr...!!!


Dengan begitu cekatan, Dewi Arum jumpalitan lima kali ke belakang, hingga serangan ajian Ki Gentala meleset tidak mengenai sasarannya.


Sementara Ki Madaharsa dan Ki Halayuda terus merangsek Arya Kelantara dengan jurus-jurus mematikan yang masing-masing mereka miliki. Pendekar muda itu berkelit dengan cepat, tubuhnya kadang ke samping dan ke belakang.


Kedua tangannya terus sibuk menerima jurus-jurus kedua lawannya tersebut. Dengan sorot mata tajam, Arya menatap lawannya dengan tatapan bengis tiada ampun.

__ADS_1


"Ki Madaharsa! Coba kau perhatikan, anak muda itu seperti kesetanan? Kau lihat matanya merah menyala bagai bara api," tukas Ki Halayuda.


"Sepertinya ia menyalurkan seluruh tenaga dalam ke dalam tubuhnya. Kau harus berhati-hati, Ki Halayuda" ujar Ki Madaharsa.


*Pukulan Tapak Maut*


"Heyaaaaa...!"


Jedeeerrrrrrr...!!!


Tak dapat dielakkan lagi, kedua pemimpin aliran hitam tersebut, terkena pukulan yang dilancarkan Arya Kelantara. Hingga, tubuhnya terhuyung dan terdorong keras ke belakang, lalu jatuh ambruk berbarengan.


"Aaaaa...!" pekik keduanya terhempas keras di tanah.


Buuukkk...!!!


Melihat lawannya terkapar tak berdaya, Arya Kelantara membalikkan tubuhnya ke samping, kemudian mengamati Dewi Arum yang masih sengit dalam pertarung.


Tak menunggu lama, Arya Kelantara segera menghampiri Dewi Arum. Karena perguruan golongan hitam pastinya akan mengepung pondok dan merebut Pedang Samber Nyawa dari tangannya.


*Aji Kidang Kencono*


Wuusssss....!!! Dengan secepat kilat Arya Kelantara sudah berada di sampingnya istrinya.


"Mari kita lekas pergi dari tempat ini, Arum!" seru Arya Kelantara.


"Baik, Kakang,” ujar Dewi Arum seraya menyarungkan kembali pedangnya. Arya menarik tangan istrinya. Kemudian berkelebat dari tempat itu.


*Aji Kidang Kencono*


Wusssss ... wuuusssss ... wuusssss...!!!


"Keparat, jangan lari!" teriak Ki Gentala yang menahan rasa sakit di dadanya, akibat terkena Pukulan Bangau Putih yang dilancarkan Dewi Arum. Hasil dari bentrokan, ternyata, ketiga pemimpin dari perguruan golongan hitam itu terluka begitu parah.


Matahari yang sudah membumbung tinggi di Desa Waringin sudah terlihat lalu lalang penduduk desa, beberapa orang penduduk desa melihat dari kejauhan para tokoh dari aliran hitam yang terkapar. Saat itu Ki Gentala masih menahan luka dalamnya dan diliriknya kedua kawannya, Ki Madaharsa dan Ki Halayuda dalam keadaan terkapar tak berdaya.


Tak berapa lama, para murid dan pengikutnya dari golongan hitam berdatangan, lalu membawa pergi guru mereka masing-masing.


***


Siang itu di sebuah kedai ramai sekali pengunjungnya. Beberapa orang saling membicarakan kedua pasangan pendekar yang bersengketa dengan tokoh-tokoh beraliran hitam.


"Apa yang terjadi di pondok kedua pasangan pendekar itu?" tanya seseorang pengunjung sambil menggerogoti seekor daging ayam.


"Aku melihat dengan kepalaku sendiri. Para tokoh aliran hitam di sana bentrok dengan sepasang pendekar muda itu. Dua orang tewas dan tiga mengalami luka dalam," terang salah seorang penduduk Desa Waringin yang melihat kejadian itu.


"Aku tahu siapa kedua pasangan pendekar itu. Seorang laki-laki berjuluk 'Pendekar Tapak Maut' dan yang wanita 'Pendekar Bangau Putih'!" sahut salah seorang yang baru datang di kedai makan.


"Lalu, apa yang mereka inginkan, terhadap kedua pasangan pendekar itu, Kisanak?" tanya pemilik kedai yang bernama Ki Marto kepada orang yang baru datang di kedainya.


"Sudah Ki Marto, tak perlu kita lanjutkan perbincangan. Salah-salah kita yang mati konyol di tempat ini," ujar laki-laki itu.


"Kau benar, sebaiknya kita berdiam diri saja daripada nyawa kita melayang," sahut orang yang sedang berbicara tadi.

__ADS_1


"Benar kisanak, akupun tidak mau ikut campur urusan mereka dalam rimba persilatan," ujar Ki Marto pemilik kedai yang mulai ketakutan.


__ADS_2