
"Cah Bagus, coba kau tangkap anak rusa itu Eyang ingin melihatnya. Hik... hik... hik...," seloroh Ninik Bintari pada Sima.
"Baik Eyang," sahut Sima cepat.
Setelah berjalan beberapa langkah, Sima melihat seekor anak rusa yang sedang makan dedaunan. Mendengar langkah Sima datang anak rusa itu segera berlari melesat masuk ke arah tengah hutan.
"Uuuu...!" teriak Sima sambil berlari.
Sima berkelebat begitu cepat dengan sepasang kaki mungilnya. Ia susuri semak-semak belukar dan lompat ke sana-kemari mengejar anak rusa itu. Kecepatan kakinya berlari terdengar berderu cepat sekali. Seakan mengadu cepat berlari dengan buruannya.
Di saat buruannya sudah terlihat dekat, Sima mempercepat kakinya untuk berlari. Dengan gerakan melompat di lancarkan pisau yang di sampirkan di pinggangnya.
"Yeaaa...!"
***Swiiiiing...!!!
Creeeebb***...!!!
Anak rusa itu terhujam pisau di bagian perutnya lalu jatuh terjungkal di semak-semak. Dengan sekejap ia dekati hewan buruannya, dan mencabut pisaunya masih tertancap di perut anak rusa itu. Di lihatnya anak rusa itu masih bernafas. Dengan berkelebat ia panggul anak rusa tersebut di pundaknya, kemudian meninggalkan tempat itu.
"Eyang aku dapat buruannya!" seru Sima tersenyum-senyum.
"Anak pintar! Ayo, kita bawa pulang rusa ini, Cah Bagus, ujar Ninik Bintari.
Sima dan Ninik Bintari, pulang menyusuri jalan setapak meninggalkan Hutan Setan Kembar yang masih begitu lebat.
"Ningrum, lihatlah apa yang putramu bawa!" seru Ninik Bintari.
"Eh, Ninik sudah pulang. Apa yang kau bawa itu, Cah Bagus?" tanya Ningrum Sari pada Sima.
"Aku berburu anak rusa ini di hutan bersama Eyang, Biyung," jawab Sima.
"Pintar anak, Biyung," puji Ningrum Sari dan seketika Ningrum Sari teringat Arya Kelantara mendiang suaminya.
"Bawa ke dalam, Cah Bagus. Nanti Biyung kuliti anak rusa itu," ujar Ningrum Sari pada Sima.
"Baik, Biyung!"
__ADS_1
"Apa yang sedang kau pikirkan, Ningrum? yang sudah berlalu, biarlah berlalu," ujar Ninik Bintari.
"Tiba-tiba saja aku teringat kakang Arya dan Dewi Arum, Ninik," tutur Ningrum Sari.
"Hmm, semoga Dewi Arum dan Dewi Melati baik-baik saja di pesisir utara," gumam Ninik Bintari.
***
Terik matahari telah membumbung tinggi menyinari Desa Waringin. Di sebuah bangunan besar terlihat sepuluh penjaga di gerbang Perguruan Sanca Beracun. Nyai Gandawati memegang alih ketua besar Perguruan Aliran Golongan Hitam, karena pedang yang kini ia miliki membuat segan para tokoh rimba persilatan. Di mana pemililik pedang berwatak buruk. Pedang Samber Nyawa akan mengeluarkan kekuatan yang jahat dan meminta korban saat pedang keluar dari warangkanya.
"Siapa yang tidak tunduk akan perintahku. Kuhabisi nyawanya. Hua ha ha." Pongah Nyai Gandawati membuat murid-muridnya gemetar ketakutan, begitu pun para ketua Perguruan Aliran Golongan Hitam yang mendengar perintahnya tidak ada satupun yang berani membantah.
"Ketua guru! Kami mohon diri untuk menagih upeti kepada para penduduk Desa Waringin!" seru Ki Loreng ketua Perguruan Macan Loreng.
"Hmm, lekas kau urus tugasmu!" Perintah Nyai Gandawati.
"Baik ketua guru!" sahut Ki Loreng sembari menjura hormat kemudian pergi berlalu.
Di kedai Ki Marto makin banyak pengunjung dari belahan negeri yang singgah di kedainya untuk mengisi perut mereka yang kosong dalam perjalanan mereka masing-masing. Mereka datang di tanah Jawa Dwipa ini untuk sekedar berdagang.
"Aku amat sesalkan peristiwa sepuluh tahun yang lalu, Sepasang pendekar pembela kebenaran harus mati terbunuh oleh para tokoh Perguruan Aliran Golongan Hitam," rutuk Ki Marto pemilik kedai.
"Ssstt! Kau benar Dharma. Jangan keras-keras suaramu, salah-salah bisa putus leher kita di sini," ujar Ki Marto meningatkan.
Tak berapa lama, kemudian datang lima orang dari Perguruan Aliran Golonga Hitam. Seperti biasa menagih jatah hasil dari kedai Ki Marto. Jika orang tua itu menolak lehernya akan di tebas dengan pedangnya.
"Silahkan masuk, Den. Mau makan atau mau minum arak segera akan aku sediakan," ujar Ki Marto menyambut kedatangan kelompok Perguruan Golongan Aliran Hitam tersebut.
"Aku tidak banyak waktu orang tua, tugasku masih banyak. Cepat kau bayar tagihanmu dan kau sediakan arak untuk kubawa!" sentak Jarot salah satu pemimpin kelompok Aliran Golongan Hitam.
"Ba, baik Den ...." Kemudian, Ki Marto segera memberikan hasil kedainya secara cuma-cuma dan memberikan mereka arak.
"Bagus, dengan begini kedaimu masih tetap berdiri Marto,"ujar Jarot pada Ki Marto pemilik kedai.
"Iya, Den. Terima kasih," ujar Ki Marto.
"Ayo ... kita pergi!" perintah Jarot pada keempat anak buahnya yang mengenakan berpakaian serba hitam.
__ADS_1
"Oh, Dewata. turunkanlah penegak keadilan di Desa Waringin ini. Seperti halnya sepasang pendekar dahulu. Kabulkanlah permintaanku ini, gumam Ki Marto.
Tiba-tiba wanita yang duduk paling pojok di meja memanggil Ki Marto. Wanita itu berpakaian berwarna putih berlengan panjang, rambutnya di ikat. Bibirnya merah merekah, hidungnya mancung, ia mengenakan caping bambu, dan wanita itu memakai cadar tipis untuk menutupi wajahnya.
"Kisanak, aku bayar semua yang aku makan tadi. Lebihnya kisanak simpan saja," tutur wanita misterius itu yang hendak bergegas meninggalkan kedai Ki Marto.
"Terima kasih Den Ayu, banyak sekali lebihnya," ujar Ki Marto.
"Tidak apa-apa Ki! Oh iya, siapakah kelima laki-laki tadi?" tanya wanita misterius itu pada Ki Marto.
"Sstttt...! Mereka kelompok Aliran Golongan Hitam, Den Ayu! Mereka yang memeras penduduk di desa ini," terang Ki Marto dengan suara berbisik.
"Hmm, begitu rupanya. Terima kasih, Kisanak," ujar wanita misterius itu kemudian bekelebat menginggalkan Kedai Ki Marto yang terlihat sudah nampak tua sekali.
"Hmm, siapakah wanita misterius barusan? Semakin banyak orang aneh di desa ini," gumam Ki Marto.
***
Saat senja di Hutan Setan Kembar dua sosok bayangan yang hendak meninggalkan bagian tengah Hutan Setan Kembar. Sosok itu seorang wanita yang sudah cukup tua sekali, rambutnya sudah putih semua, ia mengenakan pakaian berwarna cokelat tua.
Kemudian salah satunya seorang bocah yang tidak mengenakan pakaian hanya memakai celana sebatas paha yang terbuat dari kulit rusa sedang membawa tiga ekor kelinci.
"Cah Bagus, tak apalah hari ini kita hanya mendapatkan tiga ekor kelinci saja. Walau kita tidak mendapatkan buruan yang lebih besar, pasti Biyungmu senang melihatnya. Sebabnya ia bangga kau sudah terampil berburu di Hutan Kembar ini," ujar Ninik Bintari pada Sima Kelantara.
"Benar Eyang. Tapi, aku ingin sekali mempelajari ilmu kedigdayaan, Eyang," tutur Sima Kelantara begitu polos keluar dari mulutnya.
"Hik hik hik, Cah Bagus, Cah Bagus. Semakin pintar saja polahmu," seloroh Ninik Bintari yang kemudian teringat Arya Kelantara ayah dari bocah ini.
Pada saat Ninik Bintari dan Sima hendak melangkah untuk pulang, terdengar suara harimau yang sedang mengaum.
"Auuum...!"
"Auuuuum...!"
“Auuum...!"
Di saat mereka mempertajam pendengaran masing-masing. Ninik Bintari memberi isyarat pada Sima agar cepat-cepat meninggalkan wilayah tengah Hutan Setan Kembar.
__ADS_1
"Sima cepat lari, ada kawanan harimau!" teriak Ninik Bintari yang sudah sangat ketakutan.
"Uuuuu...!" teriak Sima berkelebat dengan cepat.