
"Ada apa, Kakang?" tanya Dewi Melati.
"Kakiku tersandung batu. Hi hi hi," balas Sima tersenyum cenge-ngesan.
"Ha ha ha ... kau seperti anak kecil saja, Kakang Sima," ujar Dewi Melati.
Sima kembali tersenyum dan menggarukkan kepalanya. Tidak lama mereka berdua mendengar suara yang entah datangnya darimana.
"Anak manusia untuk apa kalian berada di sini!"
Samar-samar telinga Sima dan Melati menangkap sesosok suara parau dan berat . Membuat bulu kuduk mereka meremang. Langkah kaki mereka seketika terhenti. Matanya menyapu kesekelilingnya dengan tajam, berusaha mencari asal suara menyeramkan yang baru saja mereka dengar.
"Pergilah kalian, atau aku akan menyantap kalian!"
"Kau mendengar suara itu, Melati...?" desis Sima. Suaranya agak kelu, karena perasaannya tercekam. Bulu kuduknya meremang kembali.
Meski ketegangan menyelimuti jiwanya, namun entah mengapa Sima tetap berdiri di situ. Matanya masih mengamati dalam remang cahaya bulan. Sepertinya, Sima ingin menyaksikan apa yang akan terjadi di hadapannya dan meyakinkan suara yang baru saja didengarnya.
Ketika mata pemuda sinting tersebut menyapu tempat itu, tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan hitam. Begitu cepatnya bayangan itu berkelebat, sampai-sampai tubuh Sima tersentak.
"Hmm ... mahluk apakah itu, Melati...?" tanyanya pada adiknya Dewi Melati.
"Entahlah kakang." Kemudian tanpa banyak kata lagi, tubuh mereka berdua melesat cepat untuk mengejar bayangan hitam yang sempat terlihat sekilas.
"Berhenti...!" seru Sima sambil terus berlari. Namun bayangan hitam itu rupanya telah lebih dahulu menghilang. Karena begitu cepatnya menghilang, sampai Sima tak mampu mengejarnya.
"Edaaaan!" umpat Sima jengkel. Pandangannya disapukan kesekeliling tempat itu. Namun tetap saja tidak ditemukan siapa pun di tempat itu. Padahal dia yakin kalau bayangan hitam itu berlari ketempatnya kini berdiri. Kalau bersembunyi rasanya tidak mungkin. Di sekeliling tempat itu tak ada sesuatu pun yang bisa digunakan untuk bersembunyi.
Sima mengerutkan kening. Matanya masih mengamati sekitarnya yang semakin mencekam. Bulu kuduknya lagi-lagi meremang, setelah ia tidak berhasil menemukan bayangan hitam tadi.
"Huaahahaa...!" Sepertinya suara mahluk tertawa itu ada di dekatnya. Sima menajamkan telinga dan matanya, berusaha meyakinkan dari mana asal suara menyeramkan itu.
"Hiikh, apa bayangan itu tadi hantu ya? Aku jadi takut Biyung! Eh, kok Biyung? Melati maksudku," desis Sima. Tapi matanya belum juga menemukan tanda-tanda kalau bayangan hitam itu akan muncul kembali.
"Jangan bercanda kakang, aku takut sekali," ujar Dewi Melati.
Angin lembah semakin keras berhembus, membawa hawa dingin yang terasa menggigit. Dikawal oleh suara menyeramkan yang kembali terdengar.
"Aku harus berhati-hati. Mungkin mahluk itu memiliki ilmu yang tinggi," gumam Sima dengan mata berkilat penuh kewaspadaan.
__ADS_1
"Huaahahaa...!"
Angin semakin berhembus kencang, bertemu di tengah-tengah lembah, kemudian bergulung-gulung membentuk pusaran yang besar dan kencang. Mereka pun melompat ke belakang dengan bersamaan.
"Awas Melati, berlindunglah di balik pohon besar itu," seru Sima pada Dewi Melati.
"Uuuuh...!" Sima tersentak kaget.
Dengan mata membelalak, berusaha dihindarinya pusaran angin yang besar itu. Tubuhnya melompat ke belakang dan berjumpalitan dengan cepat. Namun, pusaran angin itu seperti mengerti kalau lawannya berusaha mengelak. Angin itu terus bergulung ke arah Sima mengelak.
Wuuuuuuut...!!!
"Edaaaan!" maki Sima kaget menyaksikan pusaran angin itu ternyata mengejarnya. Seakan-akan angin itu memiliki mata.
"Kurang ajar! Ini bukan main-main...!"
Wuusssssss...!!!
Pusaran angin itu terus mengejar tubuh Pendekar Sinting, memaksanya berjumpalitan kembali untuk mengelakkan serangan angin besar itu. Walau begitu, hampir saja tubuhnya dapat dihantam pusaran angin itu.
"Uuuh, kurang ajar! Hampir saja aku kena!" maki Sima sambil terus melenting kian kemari. Bahkan kini dia harus menggunakan ilmu peringan tubuh.
Dengan menggunakan 'Ajian Serat Tatar Bayu', kini tubuhnya dapat bergerak dengan ringan tanpa menginjak tanah. Tubuhnya bagaikan tak memiliki beban sedikit pun, tidak ubahnya sehelai bulu yang menari di atas angin.
"Aku harus dapat memecahkan pusaran angin ini!" desis Sima sambil terus mengelitkan sambaran-sambaran pusaran angin yang keras dan terus memburu.
"Hiyaaaa...!"
Tubuh Sima melesat beberapa tindak kebelakang. Kemudian dengan menggunakan jurus 'Tapak Harimau Terbang', Pendekar Sinting kembali melesat. Kini dia bertekat menerobos pusaran angin kencang itu. Tangannya disilangkan di depan, dengan jari-jari membentuk cengkeraman. Kemudian kedua tangannya digerak-gerakkan
Wuuusssss ... wuusssss...!!!
Angin pusaran itu terus memburu maju, siap menelan tubuh Pendekar Sinting yang melesat maju laksana elang dengan kedua tangan siap menghempaskan pukulannya.
"Yeaaa...!"
Blassssssh...!!!
Tubuh Sima menyeruak ke dalam rongga pusaran angin itu. Tangannya terus bergerak, memukul pusaran angin yang telah menelan tubuhnya. Namun pusaran angin itu bagai tak mengalami apa- apa. Malah semakin keras Pendekar Sinting berusaha menghancurkan, semakin keras pula tubuhnya digulung.
__ADS_1
"Celaka...?" pekik Sima dengan mata membelalak tegang, menyadari kalau semua pukulannya tak berarti sama sekali.
"Oh, napasku terasa sesak sekali. Sepertinya, angin ini menyerap seluruh tenagaku."
Sima kini merasakan otot dipersendiannya bagai direjam. Tubuhnya terus bergulung, mengikuti pusaran angin itu. Namun dia tak mau mengalah begitu saja. Terus diserangnya pusaran angin itu. Pukulan saktinya segera dikerahkan.
**Pukulan Bayu Bajra**
"Yeaaakh...!"
Pukulan 'Ajian Bayu Bajra' merupakan ajian
yang mampu menciptakan dahsyatnya kekuatan angin topan. Bahkan mampu menerbangkan pohon, raksasa sekalipun.
Wuuusss ... Wuuuss ... Wuuusssss...!!!
Angin bertemu dengan angin. Keduanya berusaha saling mengalahkan. Namun pukulan 'Pukulan Bayu Bajra' yang dikerahkan Pendekar Sinting ternyata tak mampu menghancurkan pusaran angin itu. Sima semakin terjepit. Nafasnya kian terasa sesak dan tersengal-sengal.
"Celaka! Pukulanku tak berarti...?" rintih Sima.
Pendekar Sinting merasakan tulang-tulangnya bagai remuk, dihimpit dan digulung oleh pusaran angin itu. Dan, tubuhnya terpontang-panting di dalamnya.
"Oh, apa yang harus kulakukan?" tanya Sima setengah mengeluh.
"Kucoba dengan 'Aji Gelang-gelang'...!"
Ajian Gelang-gelang yang menciptakan pagaran perisai diri dan pukulan yang berupa gelang api yang berkobar-kobar.
"Yeaaah...!"
Tangan Sima kini merah membara. Kemudian, nampaklah api melesat ketika Pendekar Sinting menghantamkan tangannya ke arah pusaran angin itu.
Wuuuuussssssssh...!!!
Daap, daap, daaap...!!!
Api yang meluncur dari tangan Sima, padam seketika. Sepertinya, api yang kekuatannya seratus kali dari api biasa, tak ada gunanya sama sekali. Pusaran angin itu semakin keras menghimpit tubuh Pendekar Sinting. Membuatnya kian menderita akibat himpitan itu.
Namun begitu, pantang baginya untuk mengalah atau pasrah. Di kerahkannya Ajian 'Aji Serat Lawang Saketeng' yang befungsi melipatgandakan kemampuan pukulan jarak jauh, hingga mampu melakukan pukulan dan melempar lawan dari jarak jauh. Kemudian dengan meringis menahan sakit.
__ADS_1