Pendekar Sinting

Pendekar Sinting
Lahirnya Sepasang Bayi Kembar


__ADS_3

"Huahaahaa! Kau memang pendekar sakti anak muda. Kami adalah Setan Kembar penguasa hutan ini!" seru Setan Kembar.


"Sudah kuduga terkutuk. Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Arya.


"Kami hanya menginginkan Pedang Samber Nyawa yang kau miliki!" dengus Setan Kembar.


"Hmm, kalau begitu ambilah jika kau mampu!" seru Arya.


"Hiyaaaa...!"


Wuuut... Wuuut... wuuuut...!!!


Arya Kelantara atau Pendekar Tapak Maut, lantas membabatkan pedangnya ke arah dua setan penghuni hutan tersebut begitu cepatnya. Namun, lawannya tak kalah cepat juga. Keduanya melesat ke udara sambil melancarkan serangannya.


Arya Kelantara, tak kalah sengitnya, dan berhasil menangkap lengan salah satu Setan Kembar itu, kemudian dengan sadis menebasnya.


"Heyaaaaa...!"


Sreeeeeeett...!!!


"Wuaaa...!" teriak salah satu Setan Kembar itu.


"Biar aku bantu Raden untuk melawan kedua Setan Kembar itu. Berani-beraninya mereka menyamar sebagai diriku," ujar Ninik Bintari asli yang tiba-tiba saja menyela.


"Tak perlu Ninik, segera kau tolonglah istriku yang sedang melahirkan, Cepat!"


"Baiklah Den. Kau susul aku di bilik yang berdekatan dengan air terjun hutan ini," ujar Ninik Bintari yang kemudian melesat membopong Dewi Arum ke arah biliknya.


"Huaaaa, kau rasakan rambut apiku ini pendekar lemah!" dengus Setan Kembar.


*Rambut Api Setan Kembar*


"Hiyaaaa...!"


"Jedeeerrrrrrr...!!! " Arya Kelantara terpental hingga lima pohon Pinus yang berada di belakangnya roboh seketika.


Kemudian Pendekar Tapak Maut itu pun segera bangkit, seraya memperkuat pegangan tangkal pedangnya, seraya mengerahkan kekuatan dari Pedang Samber Nyawa itu. Tak berapa lama, tampaklah pemandangan yang menakjubkan.


Pedang sakti tersebut mengeluarkan hawa panas, dan seketika memancarkan sinar berwarna merah, hijau, hitam, kuning dan putih sangat menyilaukan mata, hingga kedua Setan Kembar tersebut tak dapat menghalau kekuatan yang maha dahsyat itu.

__ADS_1


"Braaaaakk...!!!" Tubuh kedua Setan Kembar menubruk pepohonan di hutan itu.


"Apa selanjutnya perlu aku bertindak kejam terhadap kalian!" hadrik Arya Kelantara terhadap kedua Setan Kembar yang tubuhnya menjadi lemah dan tak berdaya.


"Ampuni kami, Tuan pendekar! Kami akan mengabdi serta menerima segala perintah. Namaku Mahadana," ujar Setan Kembar pertama seraya memperkenalkan dirinya.


"Kami mengaku kalah dan mengabdi kepada, Tuan pendekar. Namaku Mahadri," sahut Setan Kembar kedua.


"Aku akan mengampuni kalian, dan kuberi tugas untuk menemui ketua perguruan beraliran putih. Katakan padanya hentikan penyerangan terhadap Perguruan Aliran Hitam. Aku baik-baik saja tak perlu mereka cemaskan. Cepat pergi dan sampaikan pesanku," perintah Arya Kelantara kepada kedua Setan Kembar tersebut.


"Baik, kami akan patuh dan menerima perintah!" seru Setan Kembar menjura hormat.


Seketika itu juga, kedua Setan Kembar tersebut lenyap dari pandangan Arya Kelantara. Mereka berdua melesat menuju Perguruan Aliran Putih untuk menyampaikan pesan yang diberikan Arya Kelantara.


Satu gelombang angin luar biasa dahsyat menderu malam. Kejap kemudian petir menyambar guntur menggelegar. Lolongan anjing kembali menggema di dalam Hutan Setan Kembar. Seorang wanita tua dan cucunya yang sedang berusaha menolong lahiran Dewi Arum di bilik reotnya.


Teringat akan istrinya Dewi Arum yang akan melahirkan, Arya Kelantara berkelebat menuju bilik Ninik Bintari yang letaknya di bawah kaki air terjun.


Dikeremangannya malam yang hitam pekat, dan di iringi air hujan yang berbaris-berbaris seakan menunggu bayi pendekar-pendekar yang akan lahir di alam Madyapada ini. Pecahlah tangisan bayi kembar menggelegar berbarengan dengan guntur di malam itu di Hutan Setan Kembar.


Terlahir seorang bayi laki-laki dan juga bayi perempuan yang nampak tampan dan cantik.


"Ea ... ea ... ea ..."


"Silahkan masuk, bayimu tampan dan cantik sekali, Kakang," ujar cucu Ninik Bintari.


"Apa yang kau katakan? Maksudmu bayiku terlahir kembar?" tanya Arya Kelantara dengan suara yang terbata-bata.


Belum sempat gadis itu menjelaskan perkataannya, tiba-tiba Nyai Bintari keluar dari dalam bilik.


"Benar! Anak Aden terlahir kembar laki-laki dan perempuan," sahut Ninik Bintari.


"Oh, terima kasih dewata. Rupanya kau mewujudkan permintaanku," tutur Arya.


"Terima kasih Ninik, kau telah menolong istriku," tutur Arya.


"Sudah sepantasnya, sesama manusia harus saling tolong-menolong, Den," ujar Ninik Bintari.


"Lalu. di mana istriku, Ninik...?" tanya Arya.

__ADS_1


"Ia berada di dalam kakang. Masuklah," balas cucu Ninik Bintari.


"Siapakah gadis ini, Ninik?" tanya Arya.


"Dia Ningrum cucuku, Den. Masuklah ke dalam, aku akan mencabut umbi-umbian yang ada di belakang untuk kita makan malam ini."


"Baiklah, terima kasih," ujar Arya.


Saat masuk ke dalam bilik, begitu bahagia sekali perasaan Arya Kelantara melihat Dewi Arum dan juga sepasang bayi yang sedang tertidur pulas di malam yang dingin.


Pagi telah menjelma, beriring suara kicauan burung dipucuk-pucuk pepohonan. Kabut tipis tampak merambat lamban, Sementara terabasan sinar tipis disela-sela dedaunan bagai menghiasi garis-garis kehidupan di Hutan Setan Kembar. Terdengar teriakan tangis kedua orok kembar yang begitu tampan dan cantik. Sesekali keduanya tersenyum manis.


"Kakang bayi kita ternyata sepasang. Seperti nama hutan ini, Hutan Setan Kembar." tutur Dewi Arum.


"Ha ha ha tapi, nama hutan ini begitu menakutkan, Arum," seloroh Arya sembari menahan tawanya.


"Ikh, kakang! Maksudku arti makna dalam sepasangnya saja. Tidaklah mungkin aku memberi nama anak-anakku sebutan setan!" sungut Dewi Arum nampak cemberut.


"Ha ha ha ... kalian ini ternyata bertingkah lucu juga walau sebagai seorang pendekar. Silahkan di makan umbian-umbian ini," ujar cucu Ninik Bintari sembari menghidangkan makanannya.


"Terima kasih, siapakah namamu...?" tanya Dewi Arum, sembari melirik suaminya Arya.


"Namaku Ningrum Sari, aku cucu Ninik Bintari," balas Ningrum Sari.


"Ke mana perginya Ninik Bintari...?" tanya Arya Kelantara pada Ningrum Sari.


"Ninik Bintari sedang berlatih di bawah kaki air terjun, Kakang," balas Ningrum Sari.


"Kau tunggu di sini Arum, aku coba menyusul Ninik Bintari dan mencari buah yang segar-segar untukmu," ujar Arya Kelantara.


"Hati-hati kakang, dan selalu waspada," ujar Dewi Arum.


"Mari aku antar saja kakang ke air terjun," timpal Ningrum Sari.


"Hmm, biarlah aku pergi sendiri Ningrum Sari, kau di sini bersama Dewi Arum." Seketika itu Dewi Arum mulai terbakar api cemburu akan sikap Ningrum Sari terhadap Arya Kelantara suaminya.


Sementara, Pendekar Tapak Maut itu sudah berkelebat menuju air terjun. Di sana Arya melihat pemandangan seorang wanita tua yang sedang menyempurnakan jurus-jurus pedang di bawah kaki air terjun.


"Jurus pedang yang bagus, Ninik Bintari," puji Arya pada wanita tua itu.

__ADS_1


"Eeh ... Aden, Ninik kira siapa!"


"Panggil aku Arya saja Ninik Bintari, tak perlu memanggilku dengan sebutan seperti itu," ujar Arya Kelantara.


__ADS_2