
Setelah mengantar Lucas yang berangkat Erni nampak termenung di sofa, dia masih bingung dengan perasaan nya saat ini.
"Aneh, apa yang dia makan kenapa berubah secepat ini" gumam Erni merasa bingung.
Dia suka Lucas tak marah-marah lagi padanya, tapi merasakan perubahan yang sangat besar secara langsung seperti ini jujur saja Erni sedikit tak nyaman.
Bahkan barusan Erni mendaptkan ciuman di keningnya, Lucas yang biasanya acuh padanya sekarang terang-terangan menunjukan sikap yang belum dia lakukan padanya.
"Apa ini karena dia mau membuat hubungan kita menjadi lebih baik? jika iya apa aku mau?" gumam Erni nampak berpikir.
Erni tak tau perasaan nya seperti apa, dia suka Lucas yang tampan tapi apa suka bisa di artikan cinta? jelas tidak.
Erni tak pernah jatuh cinta, dia belum merasakan nya adapun orang yang pernah dia sukai yang pertama adalah Ali, si dokter muda yang satu kampung dengan nya.
"Tapi jika dia mulai menyukai ku bagaiamana? apa aku harus menerima nya? Ehk tapi dia kan suamiku, jelas aku harus menerima nya" Erni kembali bergumam.
"Tidak, aku tidak boleh berpikiran jauh dulu, ya aku nggak boleh geer manusia galak itu kan sifat nya susah di tebak bagaimana kalau ini hanya akal-akalan si galak saja, bisa jadikan dia hanya mau membuat aku baper dengan perlakuan nya" lanjut Erni yang pikiran nya semakin kemana-mana.
Tapi sebisa mungkin Erni tak akan mudah terbujuk rayuan manis Lucas, dia tak mau patah hati karena Erni sadar jika suatu saat nanti dia mungkin akan di tendang seperti film percintaan gadis miskin dan pria kaya yang dia tonton.
Tring..
Erni yang semula melamun kini fokus nya pindah pada ponsel nya.
Dia melihat ponsel nya dan Erni melihat ada pesan dari nomor tidak dikenal.
"Erni, ini ibu. kamu kapan kirim uang? ibu dan bapak butuh uang buat bikin rumah"
__ADS_1
"Kalau bisa kirimin besok, ini no rek nya xxxxxxx kamu minta yang gede sama suami kamu yang kaya itu bilangin buat bikin rumah"
Erni yang membaca pesan dari ibu nya itu menghembuskan nafas nya kasar, dari mana ibunya punya nomer ponselnya.
Huh..
"Ibu bahkan lupa menanyakan kabar ku, di pikiran ibu hanya uang dan uang, apa ibu tak mau tau bagaiamana kabar putrinya?" Erni menatap ponselnya dengan wajah kecewa.
Karena tak fokus tangan Erni malah kepeleset memencet tombol telepon yang membuat dia menelpon nomor ibunya.
"Halo Er"
Erni yang masih belum sadar seketika kaget mendengar suara ibunya, dia melihat kesana kemari dan tak melihat keberadaan ibunya hingga akhirnya matanya tertuju pada ponselnya yang sudah memperlihatkan beberapa detik panggilan terhubung.
"Astaga kenapa bisa kepencet sih, pasti ibu banyak mau nya" batin Erni yang sebenarnya malas meladeni jiwa matre ibunya.
Erni menarik nafasnya panjang, lalu..
"Iya bu, ibu sehat?" tanya Erni.
"Nggak sehat, ibu lagi pusing ini. kamu tau pak Maman tetangga kita? dia sudah bagus rumah nya dan istri nya ituloh si bu Oom dia selalu pamer barang-barang buat di rumah barunya, ibu malu Er" kata ibu Eva mengadu.
"Ibu malu kenapa?" tanya Erni heran.
"Ya kamu pikir aja, semua orang kampung tau kamu nikah sama orang kaya tapi boro-boro ibu kecipratan, lihat rumah aja masih jelek malah sebentar lagi rumah kita bakalan ambruk, yakin ibu" lanjut ibu Eva panjang kali lebar.
Rumah mereka memang sudah sangat jelek dan kurang layak, tapi Erni yakin ini hanyalah alasan ibunya.
__ADS_1
"Bukan nya ibu dapat emas dan uang? kemana uang yang waktu itu kenapa nggak di pakai buat rumah?" tanya Erni pada sang ibu.
Dan ibu Eva pun menjelaskan jika uang nya habis di pakai membeli kebutuhan sehari-hari nya, dan sisanya di pakai bayar hutang.
"Kamu jangan pelit sama ibu, kualat kamu. cepat transferin uang nya ibu mau buat rumah awas kalau nggak nanti ibu akan datang ke kota dan seret kamu pulang" tegas ibu Eva.
"Terserah ibu" balas Erni.
"Oh kamu mau ngelawan hah! sudah berani kamu sama ibu? mentang-mentang sudah hidup enak lupa kamu sama yang sudah lahirin dan ngurus kamu! iya? dasar anak kurang ajar!" ibu Eva semakin melebar dan marah-marah.
Hufh...
Erni sekali lagi menghembuskan nafasnya kasar, benar kata ibunya dia memang tidak akan bisa menjadi seperti ini jika saja ibunya tak keras mendidiknya.
"Baiklah, nanti akan aku pikirkan dulu cara bilang sama Mas Lucas nya, tapi nggak bisa banyak ya bu soalnya aku takut nggak di kasih" ucap Erni akhirnya memilih setuju.
"Apaan nggak banyak, ibu minta 400 juta ya mau bikin rumah tiga tingkat biar bu Oom nggak pamer terus" ibu Eva sewot.
"Kalau segitu nggak ada, udah dulu ya bu aku mau masak dulu" Erni memilih mematikan panggilan nya sepihak.
Jika terus dilanjutkan perniakun pasti ibunya akan marah-marah seperti biasanya.
"400 juta? yang benar saja bahkan meminta uang 100 ribu saja aku merasa sungkan" gerutu Erni sambil bangkit dari duduknya.
Karena akan mengantarkan makan siang ke kantor Erni memilih masak dulu, dia akan mandi kembali nanti setelah dia selesai masak.
🌹
__ADS_1
Jangan lupa like coment and vote ya❤🤗🙏