
"Aduh tolong dong, pak tolong bantu ibu" kata ibu Eva yang membawa dia tas besar nya.
Pak Juned yang melihat itu dengan malas mengambil satu tas itu dari sang istri.
"Dua -duanya dong pak" titah ibu Eva lagi.
"Berat, itu kamu saja yang bawa bu" balas Pak Juned menolak.
"Oh nggak mau? ya sudah ibu nggak akan kasih bapa uang buat judi kalau gitu" sahut ibu Eva dengan nada mengancam nya.
Pak Juned yang mendengar ancaman itu mau tak mau langsung mengambil alih tas besar satu nya lagi.
Huh..
"Nah gitu bagus, kan ibu nggak cape lagi" lanjut Ibu Eva senang.
"Ingat besok adain uang 5 juta, bapa mau ikutan lagi" kata pak Juned sambil berjalan.
"Iya bawel, tapi hasilnya buat ibu beli kosmetik sama emas ya" balas ibu Eva yang isi pikiran nya penuh dengan emas.
Pak Juned hanya mengangguk, mereka sudah menikah 15 tahun tapi aneh nya pak Juned tak memiliki anak dari ibu Eva.
Sedangkan sebelum dia menikahi bu Eva pak Juned pernah menikah dan memiliki satu anak laki-laki.
Tapi meski begitu keduanya masih akur dan harmonis sampai sekarang, meski kadang keduanya bertengkar karena ekomomi, dan pak Juned yang seorang pengangguran itu lebih lagi tidak mau bekerja dan hoby nya judi terus.
"Er, kamar ibu dan bapak dimana?" tanya Ibu Eva saat baru masuk ke dalam villa.
__ADS_1
Dia sangat takjub dengan isi villa yang sangat luas dan bagus, terlebih lagi ini adalah pertama kalinya dia masuk ke tempat mewah selain toko baju yang ada di kota.
Erni yang sedang melihat-lihat villa suaminya itu di buat kaget melihat apa yang ibu nya bawa.
"Ibu kenapa bawa banyak barang?" tanya Erni tak habis pikir dengan dua tas besar itu.
"Kenapa? emang ibu nggak boleh bawa baju banyak" balas ibu Eva ketus.
Huh..
"Bukan begitu Bu, tapi ibu kan hanya satu hari di sini kenapa banyak bawa baju?" Erni menatap ibunya heran.
"Kata siapa satu hari, ibu mau menginap di sini seminggu dan rencana nya ibu juga mau bawa ibu-ibu arisan di kampung buat kesini" balas ibu Eva dengan wajah santai nya.
Erni melotot mendengar ucapan ibunya yang bertingkah seolah villa ini adalah milik nya.
"Nggak boleh! pokok nya ibu besok harus pulang" kata Erni tegas.
"Sudah ini di mana kamar nya pegal tau" pak Juned yang juga ada di sana menyela perdebatan ibu dan anak itu.
Erni dengan malas menunjuk ke arah kamar pojok kiri, dan pak Juned langsung meleos pergi membawa dua tas besar milik ibu Eva.
Meninggalkan Erni dan ibunya yang masih berdebat.
"Pokok nya aku nggak ijinin, ibu jangan seenaknya ini bukan punya aku tapi punya suami aku" kata Erni lagi.
Ibu Eva sangat kesal dengan Erni yang banyak membantah, menurutnya Erni yang sekarang lebih banyak membantah dari pada Erni yang dulu.
__ADS_1
"Nggak bisa ibu akan tetap pakai villa ini, dan kamu nggak bisa cegah!" tegas ibu Eva kekeh.
Lucas yang baru saja selesai mengobrol dengan penjaga villa itu mendekati Erni dan ibu mertuanya.
"Ada apa?" tanya Lucas yang dari tadi mendengar suara bising itu.
"Tidak ada, ini Erni katanya mau di bikinin makan" ucap Ibu Eva cepat.
Tak mau ketahuan memaksa Erni, bagaimana pun dia harus bisa mengambil simpatik menantu nya agar hidup nya nyaman damai sentosa.
"Benarkah?" tanya Lucas melirik Erni.
Erni diam hingga tangan Ibu Eva mencubit sedikit tangan nya, dan hal itu membuat Erni meringis pelan.
"Kenapa?" tanya Lucas melihat Erni yang menahan sakit.
"Tidak apa, ayo ke kamar" ajak Erni menarik Lucas ke arah kamar nya.
Lucas yang di tarik ke kamar oleh Erni akhirya pasrah meski dia sedikit curiga dengan gelagat aneh mertuanya.
Sedangkan ibu Eva yang melihat Erni yang menjauh pergi itu nampak tersenyum misterius.
"Dia sangat pandai mengambil hati pria, dasar keturunan Tobias lihat saja aku akan memanfaatkan anak mu seperti kau membuat aku hancur dengan mengandung Erni" gumam Ibu Eva sambil melihat ke arah Erni dan Lucas yang baru masuk ke dalam kamar.
Begitu benci dia pada sosok pria yang menghamili nya dulu, dan dia berjanji tidak akan membalaskan rasa sakitnya pada Erni, sekalipun Erni adalah putri nya.
Di tinggalkan oleh orang kota tanpa di nikahi membuat Ibu Eva begitu membenci pria yang menghamili nya itu, dia menghabiskan masa mudanya dengan cacian dan hinaan hingga akhirnya dia melahirkan Erni dengan ekonomi nya yang sulit.
__ADS_1
Dan hal itu membuat dia tak mau menyayangi Erni selayaknya orang tua pada umumnya, rasa benci nya mengalahkan rasa sayang nya pada putri nya sendiri dan itu dia lakukan karena wajah Erni begitu mirip pria yang dia benci.
🌹