PENGANTIN KEDUA

PENGANTIN KEDUA
Episode 1 : Pak Kusuma


__ADS_3

Andre Nurputra, adalah seorang dosen di salah satu Universitas di Jakarta. Parasnya rupawan, tubuhnya tegak dan gagah, penampilannya sangat up to date mengikuti zaman. Mahasiswa mana yang tak jatuh hati padanya, tetapi sayangny Andre telah memiliki seorang istri dan satu jagoan kecil berumur tiga tahun. Istri dan anaknya tinggal di Bandung, sedangkan Andre mengontrak sebuah rumah di Jakarta agar lebih dekat ke kampus. Situasi ini tentu memaksa Andre untuk tinggal berjauhan dengan keluarga kecilnya karena terpaksa ia harus berjauhan dengan mereka. Tetapi setiap minggu, atau tiga hari sekali Andre selalu pulang ke Bandung untuk melepas rindunya dan beristirahat dari penatnya hiruk pikuk Jakarta.


“Minggu ini sepertinya Mas tidak bisa pulang, karena banyak mahasiswa yang bimbingan di akhir pekan. Ini adalah minggu yang sibuk... Maaf ya, Han.” Andre merasa sangat bersalah pada Hani, istrinya dan memeluk Hani disertai ciuman pada kening.


“Iya gak apa-apa, Kasian kan Mahasiswa Mas nanti kalo Masnya bulak-balik Bandung-Jakarta. Oh ya, Keadaan Bapak Kusuma gimana, Mas ? kemaren katanya...”


“Sekarang udah balik ke rumah lagi kok, Mas kasian sama anaknya. Shinta, seperti selalu tidak fokus di kelas”


“Pasti lah, Mas. Dia pasti kepikiran sama ayahnya, apalagi dia anak satu-satunya”


“Iya kayanya Mas harus selalu nguatin dia”


Hani mengangguk setuju, sebelum ia mengetahui apa dampak dari anggukannya di masa depan dapat mengubah hidupnya.


***


Seperti biasa, Kamis siang adalah jadwal untuk memasuki kelas finance for communication dan disana Andre selalu berinteraksi dengan Shinta, anak dari Kusuma Widjaja seorang guru besar pada universitas itu namun sudah pensiun karena masalah kesehatan yang memburuk. Pantas saja, Shinta selalu murung dan tak ada semangat disana, membuat Andre selalu khawatir memikirkannya disamping gurunya yang sedang sakit, ia juga sangat mengkhawatirkan Shinta.


Shinta adalah mahasiswa jurusan ilmu komunikasi semester 5, putri tunggal dari seorang guru besar membuat Shinta sedikit menerima gesekan dari para mahasiswa lain yang sebenarnya iri padanya. Ia sering dikatakan hanya modal koneksi tanpa otak agar bisa masuk di Universitas itu, dan menuding dirinya melakukan rekayasa nilai karena nilai Ipk nya selalu stabil diantara range 3,8-3,99. Tentu saja, semua tudingan itu sangat tidak benar karena ia bekerja keras sendiri untuk meraih nilai itu, tetapi ia tak pernah menghiraukan segala perkataan itu, ia hanya akan fokus pada impiannya.


“Shinta !” panggil Andre dari dalam mobil avanza bewarna silver.

__ADS_1


Mendengar namanya dipanggil, Shinta langsung membalikkan badannya untuk melihat siapa yang telah memanggilnya.


“Ada apa pak ?” tanya Shinta heran


“Naik mobil saya saja, kebetulan saya lewat rumah kamu” ajaknya


“Tidak terima kasih,” tolak Shinta dengan sedikit membungkukan pundaknya


“Saya ingin bertemu dengan Pak Kusuma, jadi ayo ikut saja”


Tak ada pilihan, Shinta lantas menyetujui ajakkan dari dosennya dan segera menaikki mobil avanza itu.


“Sudah membaik, alhamdulillah. Sebenernya, Bapak gak ada di rumah. Dia memilih buat tinggal di villa puncak, Pak.”


“Oh jadi kita langsung ke puncak aja ya”


“emm..em... Ya sudah jika bapak sangat ingin bertemu dengan Ayah.”


Setelah sekitar dua jam perjalanan, mereka sampai di villa tempat Pak Kusuma tinggal. Pak Kusuma terlihat sedang duduk di balkon menghadap sebuah pemandangan persawahan yang sangat asri dengan kaus singlet, dan sarung yang dipakainya. Shinta langsung menegur ayahnya, karena hari sudah malam dan itu tidak baik untuknya. Ia menuntun ayahnya menuju kursi besar yang ada di ruang tamu untuk menemui Andre, murid kesayangnnya.


“Andre!” Sapa Kusuma dengan senyuman.

__ADS_1


“Pak ! Sehat ?” Andre langsung memberi salam pada gurunya dengan senyumannya pula.


Shinta lantas segera pergi ke dapur untuk menyiapkan minum untuk mereka berdua, dan menyajikan pada dua laki-laki itu yang sedang asyik mengobrol. Shinta tak ingin menganggu mereka, dan menyajikan dua gelas kopi untuk mereka, Shinta langsung pergi ke kamar untuk berganti baju. Sudah hampir jam sepuluh malam, namun Andre dan Kusuma masih saja asyik mengobrol entah apa yang mereka obrolkan tetapi ini tidak bisa dibiarkan begitu saja pikir Shinta. Karena kondisi ayahnya yang sekarang sudah renta, ia meminta ayahnya untuk segera beristirahat.


“Tidak terasa ya sudah malam saja, besok-besok kita lanjutkan lagi obrolan kita ya pak.” Andre beranjak dari tempat duduknya, dan berpamitan pada Shinta dan Kusuma.


“Hati-hati dijalan !” Kusuma melambaikan tangan ke arah mobil yang dikendarai oleh Andre saat meninggalkan rumah itu.


“Udah, Pak. Yuk bapak harus istirahat, Bapak harus jaga kondisi, Pokonya bapak harus janji sama Shinta kalo bapak gak boleh ngeyel. Bapak kan udah janji sama Shinta buat dateng di wisudanya Shinta nanti”


“Iya.. iya.. kamu itu mirip almarhum ibu kamu. Persis ni bawelnya”


“Gak apa-apa dibilang bawel juga, buat kebaikan”


Kusuma hanya tertawa melihat putrinya yang marah, membuat Shinta semakin jengkel pada sang ayah karena bukannya mengiyakan malah mentertawakannya.


“Hanya satu beban ayah yang belum terlaksanakan, yaitu mengantarkanmu untuk bertemu dengan lelaki yang baik dan menikahkanmu. Ayah ingin, kamu segera menikah”


“Ayah ini, Shinta kan harus lulus dulu baru nikah”


Lagi-lagi, Kusuma hanya tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2