
Sejak malam terakhir Andre mengiriminya pesan, Shinta tak pernah lagi menerima kabar dari Andre. Kiranya sudah seminggu terakhir Shinta tak tahu bagaimana kabar Andre, terakhir kali Andre memberitatahunya akan memberitahu Hana tentang hubungan mereka. Ia sangat khawatir jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada hubungan Andre dan Hana. Shinta kebingungan seorang diri di Jakarta, Shinta sudah menghubungi pria itu beberapa kali tapi tak kunjung dapat balasan dari Andre.
Sampai pada saat waktunya hari pertama masuk kuliah, gadis itu berharap dapat menemui Andre karena ia pikir Andre akan langsung ke kampus tanpa mampir ke rumahnya dari Bandung. Ia sudah menerima semua itu, karena Andre dan dirinya berjanji akan mulai dari awal untuk menjalani hubungan pernikahan ini. Shinta tak lagi berusaha menolak Andre seperti sebelumnya, sebaliknya ia ingin mengenal lebih jauh tentang suaminya.
Seperti halnya hari pertama kampus ataupun sekolah, apalagi di hari pertama ini jadwal Shinta hanya ada dua kelas dan selesai tidak sampai jam dua belas. Shinta dan Ve menghabiskan waktunya di kantin untuk makan siang sebelum ada kumpulan di ruang BEM membicarakan tentang OSPEK minggu lalu. Walaupun Shinta kemarin tidak menjadi anggota kepanitiaan OSPEK mahasiswa baru tetapi dirinya tetap berperan dalam menyumbang ide dan saran saat rapat karena keadaannya yang serba sulit kemarin bagi Shinta, semua anggota BEM mengerti itu dan memperbolehkan Shinta untuk absen dalam acara itu sebagai gantinya Shinta harus menjadi ketua pelaksana untuk acara besar lainnya nanti yang akan di adakan oleh organisasi.
“Shin! Lo di Bandung waktu itu nemuin cowok ya ?” celetuk Ve dan membuat Shinta langsung tersedak saat mengunyah makanannya.
“Keliatan tahu dari muka lo yang bersinar-sinar gitu. Berubah dari yang kemarin, tapi gue bersyukur sih, setidaknya sedikit demi sedikit lo jadi Shinta yang dulu. Gak kaya kemarin, gue sedih tahu ngeliat lo ngelamun terus kaya kemarin. Takut-takutnya lo kesurupan kan, gak asik banget.” Ve terus saja nyerocos tanpa berhenti, memang itulah sifatnya yang selalu blak-blakan.
“Sayang ya, semester tahun ini Pak Andre gak ngajar semester 6.” Ve lagi.
__ADS_1
“Oh ya, Lo liat Pak Andre hari ini ?” tanya Shinta.
“Enggaklah, seharian gue kan sama lo. Gimana sih!”
“Kali aja lo ngeliat pas pagi-pagi.”
“Tapi gue denger-denger gosip kemarin pas lagi ngospek nih, Pak Andre mau pindah ke Bandung. Gak tau sih gue soal itu, Cuma selentingan selentingan aja, gak tahu detailnya. Kalau benar sampe pindah ke Bandung, gue bakal kangen banget sih secara Cuma Pak andre doang di kampus kita dosen ganteng plus masih muda, dan itu di fakultas kita Shin! Beruntung banget gak kita bisa bertemu dengan sosok dosen kaya Pak Andre.”
***
Sudah sebulan, Shinta tak bisa menghubungi Andre dan nampaknya rumor itu benar tentang Andre pindah ke Bandung dan tak mengajar lagi di kampus tempat Shinta belajar. Setiap hari Shinta mengirimi Andre pesan untuk menanyakan keberadaannya tetapi sepertinya Andre tak punya niatan untuk membalasnya karena tak ada satupun pesan Shinta yang dibalas olehnya. Shinta mulai pesimis dan mengerti artinya Hana tak bisa menerimanya dan Andre lebih memilih tetap bersama Hana dan anak-anak yang dicintainya. Shinta berusaha untuk mengerti dan tak ingin berharap lagi, walaupun ia merasakan hatinya terasa sesak setiap kali membayangkan Andre saat ini sedang sangat bahagia dengan Hana, Saka dan calon bayinya tetapi Shinta tetap harus mengerti. Bagaimana pun sejak awal ia mengerti bagaimana posisi dirinya dalam pernikahan itu yang takkan pernah mungkin menggapai Andre.
__ADS_1
Sudah sebulan terakhir juga Shinta merasakan mual setiap pagi dan tidak enak badan setiap pagi. Bi Inah menyarankan Shinta untuk segera ke dokter untuk memeriksakan kondisinya, tetapi Shinta menolak dan tetap menjalani rutinitasnya karena gejala itu selalu muncul hanya di pagi hari dan pada siang hari anehnya nafsu makan Shinta meningkat dan selalu lapar seperti sedang dirasuki setan kelaparan. Shinta menganggap ini adalah hal biasa karena kegiatannya di kampus memang sekarang sangat padat di tambah dengan kegiatan organisasi yang memang selalu sibuk.
Malam itu, Shinta hendak pulang setelah selesai kumpulan organisasi sampai jam delapan malam. Pada depan gerbang kampus ada sebuah mobil avanza berwarna silver yang dikenali oleh Shinta, ia sangat mengingat plat nomer yang tertera pada mobil itu. Benar saja, mobil itu menyalakan klakson mobilnya sebagai tanda memanggil Shinta untuk segera menghampirinya. Dalam mobil telah menunggu Andre dengan pakaian yang santai, tidak seperti seorang dosen. Andre benar-benar tidak mengajar lagi di kampus itu, pikir Shinta dan hanya naik tanpa menanyakan apapun.
Dalam perjalanan banyak sekali yang ingin dibicarakan oleh Shinta, tetapi tidak ada satupun suara yang terdengar di mobil itu begitu juga Andre yang hanya diam dengan wajah tegang. Sampai di sebuah restoran, Shinta menanyakan mengapa tak langsung pulang dan makan di rumah saja tetapi Andre tidak menjawab. Shinta benar-benar merasa sangat aneh.
Saat masuk ke restoran ia melihat di ujung tempat duduk sana, seorang wanita berhijab sedang memandanginya dengan sorot mata yang tajam. Dia adalah Hana yang sudah menunggunya sejak tadi, sedangkan Saka ia tak melihatnya sama sekali. Dari sorot matanya Hana sepertinya memang sudah benar-benar mengertahui hubungannya dengan Andre dan membuat Shinta sangat gugup dan takut. Shinta dengan takut-takut duduk di hadapan Hana dan disamping Andre. Andre pun memperlihatkan mimik wajah yang tak kalah murung, Shinta sangat mengerti situasi ini. Seperti pada sidang pendakwaan, dan saat ini ia dan Andre sedang didakwa oleh Hana untuk menunggu hukuman apa yang pantas dilayangkan pada mereka berdua.
“Saya tidak menyalahkanmu.” Hana mengucapkan kalimat pertama dengan menampilkan sorot mata yang kuat dan tegas.
Hana benar-benar berusaha untuk terlihat tegar.
__ADS_1