
TK Cerdas Ceria Bandung, taman kanak-kanak yang fokus pada pendidikan anak-anak secara gratis. Pelopornya seorang wanita yang masih cukup muda, setidaknya itu yang diketahui oleh Marni. Disana hanya ada dua tenaga pengajar termasuk kepala sekolahnya dengan 50 siswa saat ini dan infonya masih dapat bertambah.
“Udah bener kan alamatnya, kayanya ini udah sesuai titik GPSnya. Coba tanyain ke warga, biar pasti.” Saran Ikmal yang bertugas sebagai supir hari ini.
Andi yang memang berasal dari Bandung turun dari mobil untuk menanyakan pada warga sekitar.
“Oh.. TK anu gratis tea nya jang, lurus weh jang engke katingal da.” Jelas seorang wanuta paruh baya yang sedang menjaga warung kopinya.
“Nuhun, bu.”
***
“Ah.. akhirnya... pantat gue pegel!” keluh Ve yang langsung meregangkan badannya saat baru keluar dari mobil.
“Ibunya udah nunggu di dalam katanya. Yuk langsung masuk” ajak Marni.
Shinta dan Ikmal mengambil dua kardus berisi buku dan bingkisan yang akan diberikan pada anak-anak nanti di bagasi belakang.
“Lo kuat ?” tanya Ikmal.
Shinta mengangguk dan mengambil satu kerdus berisi bingkisan.
“Biar Andi atau Mail aja...”
“Apa sih Mal!, Lebay lo!” tukas Shinta seraya meninggalkan Ikmal dengan kardus bingkisan itu.
“Makan tuh ketus, Mal! Perhatian boleh, tapi tau batas. Mal! Itu bukan perhatian buat dia, tapi penghinaan. Shinta itu cewek mandiri, dia gak suka diperlakukan kaya cewek lemah. Semoga berhasil ya!” Sambar Ve setelah Shinta pergi ke dalam bersama yang lain, Ve menepuk pundak Ikmal seolah sangat tahu niat Ikmal yang ingin mendekati Shinta bukanlah hal yang gampang.
Ikmal hanya menghela nafas berat menyayangkan sikapnya tadi. Padahal ia pun sangat tahu bagaimana sifat Shinta yang sangat mandiri.
***
Shinta membawa kardus itu disambut dengan para anak-anak yang mengikutinya dengan sangat antusias, karena mereka melihat ada beberapa mainan dan snack disana.
“Bentar ya, Kakak simpen dulu. Nanti yang bisa jawab pertanyaan kakak dapet hadiah ini ya!” bujuk Shinta.
Para rombongan relawan itu digiring ke tengah taman rumput bersama dengan anak-anak yang terus mengikuti mereka. Ada yang menangis, ada yang tertawa, ada yang menarik-narik baju mereka, bermacam-macam reaksi alami mereka untuk meminta bingkisan yang Shinta dan rombongan bawa. Bu Yayu menjelaskan anak-anak di sekolah ini memang sangat aktif, dan terbagi menjadi beberapa kelas yakni kelas nol kecil, kelas nol besar, dan kelas play group, sedangkan Ibu Kepala Sekolah sedang berbicara dengan Marni di ruangannya.
“Jadi kita bagi tiga aja ya, kata Bu Yayu juga gak memungkinkan kalo di satuin kaya gini. Ve sama Andi kalian di kelas nol kecil ya...” sebelum Ikmal selesai menjelaskan.
“Bentar! Gue gak setuju! Gue pengen juga ngajar di kelas nol kecil” keluh Mail
‘Lo mah modus!” timpal Andi yang mengerti.
“Ya udah Ve buat lo aja!” sambung Andi.
“Bu...Bu.. kan. Gue kira kelas nol kecil lebih gampang di atur aja.ha... ha...” tertawa canggung Mail.
“Anak-anak nol besar lebih banyak jadi Gue, Andi, sama Bella disana ya. Sisanya di playgroup ya.” Jelas Marni yang ikut bergabung setelah berbicara dengan kepala sekolah,
“Nanti kita juga di bantu sama Bu Yayu sama Bu Hana.” Sambung Marni lagi.
Hana ?
“Ya udah mulai sekarang ya. Kasihan anak-anak udah nunggu daritadi.” Ajak Marni.
Semuanya berpencar melakukan jobdesk nya masing-masing. Termasuk Ikmal dan Shinta. Ikmal merasa sangat canggung, ia masih merasa sangat bersalah dengan sikapnya yang membuat Shinta tersinggung tadi. Sejak tadi ia terus menjentik-jentikkan kuku-kuku jarinya karena kegugupannya sekarang. Shinta menyadari itu.
“Fokus Mal! Kasihan anak-anak kalau lo kaya gitu!” Ucap Shinta yang membuat Ikmal kembali terkejut.
“A.. emm.. yyaa. Shin! Maaf gue tadi gak maksud..”
“Gak usah lo pikirin! Gue nya aja yang terlalu sensitif. Sekarang Fokus Mal!”
Anak-anak berusia dua sampai empat tahun sedang bermain dengan sangat aktif di ruang kelas. Sekitar 12 orang anak-anak disana, walaupun hanya dua belas anak tetapi ruangan itu tampak diisi oleh lebih dari lima puluh anak karena sekarang mereka sedang berlari kesana-kemari, berteriak, tertawa, ada yang menangis diganggu oleh temannya, dan ada juga yang terus menganggu teman-temannya. Saat masuk Shinta dan Ikmal hanya bisa menghela nafas.
“Hallo Adik-adik!” Sapa Ikmal dengan ceria, kedua tangannya dilambaikan dengan semangat untuk menarik perhatian anak-anak tersebut.
Namun seperti tak terdengar, semuanya masih sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Hanya satu atau dua anak yang melihatnya lalu kembali bermain lagi sambil mentertawakannya. Ikmal menghela nafas dan kembali menyapa lagi tetapi tetap saja tidak berhasil. Shinta sangat paham situasi ini sehingga ia mengambil bingkisan yang mereka bawa tadi.
“Siapa yang mau hadiah ?” Tanya Shinta dengan suara kencang, cara ini sangat berhasil. Semuanya langsung menghampiri Shinta dengan meneriakan “MAU!” dengan semangat.
“Bentar! Bentar, tapi janji dulu ya sama kakak kalian duduk dulu yang rapi nanti siapa yang paling rapi kakak kasih hadiah.”
Segera anak-anak itu melakukan apa yang telah dikatakan Shinta dengan sangat patuh. Semuanya diam dan damai. Ikmal sangat salut, Shinta seperti sudah sangat sering menghadapi situasi seperti ini. Wanita itu sangat berbeda, tiba-tiba menjadi lebih hangat dan ramah, mengingatkannya dengan sosok Shinta yang dulu. Rupanya anak-anak ini adalah obatnya yang bisa membuat Shinta kembali menjadi Shinta.
__ADS_1
“Assalamuaikum!” Seorang wanita masuk ke ruang kelas itu dengan senyum yang ramah. Ikmal dan Shinta langsung bisa menebak bahwa ialah ibu kepala sekolah, Bu Hana.
“Waalaikumsalam, Bu!” jawab Shinta dan Ikmal.
“Wahh.. Assalamuaikum anak-anak ?” salam Bu Hana lagi pada anak-anak.
“WAALAIKUMSALAM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH” Jawab mereka dengan penuh semangat.
Hari ini mereka larut dalam suasana kelas yang sangat menyenangkan, semua anak-anak dapat mengikuti penyuluhan tentang pentingnya menjaga kebersihan tubuh, dan cara mencuci tangan dengan sangat antusias membuat Shinta dan Ikmal sangat-sangat Sakang dapat diterima dengan baik oleh mereka semua.
Walaupun namanya anak berusia dua tahun sampai tiga tahun ada saja yang berulah, tiba-tiba ada yang menangis karena terus diganggu oleh teman disebelahnya, ada juga yang terus berlari-lari tak mau mendengarkan, semuanya memang wajar namun Shinta dan Ikmal tetap menyukainya.
“Terima kasih, Teh Shinta dan Kang Ikmal sudah bersedia untuk mengisi kelas hari ini. Gimana susah ya ngajar anak Playgroup ?” Tanya Bu Hana setelah semua anak-anak pulang.
“Ya... namanya juga anak-anak bu. Ada-ada aja tingkahnya he.. he.. tapi pelajaran sih bu buat nanti punya anak nanti.” Canda Ikmal.
“Iya ya.. Kang. Ngomong-ngomong udah ada calonnya ?”
“Ha..ha... ha... belum, Bu. Masih dirahasiakan.” Kilah Ikmal sambil menatap Shinta yang sedang asyik bermain dengan anak Bu Hana.
“Oh itu yang masih dirahasiakan teh Kang ?” Bisik Ve yang tiba-tiba masuk ke kelas Playgroup bersama yang lainnya.
“Apa sih lo!”
“Sudah ? Gimana Akang-akang Teteh-teteh ? anak-anaknya susah diatur ya ?” Tanya Bu Hana menyambut yang lainnya yang baru masuk.
“Hmm. Gak bu. Cuma ya gitu, suka ada kejadian gak terduga. Haha...” Jelas Bella mengingat kejadian seorang anak yang hanya diam saja di pojok dengan sangat murung setelah ditanya Bella mencium sesuatu yang tidak enak dan langsung menebak bahwa anak itu telah melakukan “Hal yang tidak disengaja”. Bella segera membawa anak laki-laki yang usianya lima tahun itu ke toilet dan membantunya untuk menggantinya. Memang awalnya sangat susah tetapi mau gimana lagi, kasihan juga jika dibiarkan begitu pikir Bella.
“Makasih banyak Akang-Teteh sudah menyempatkan jauh-jauh ke Bandung untuk menyumbangkan ilmunya kepada anak-anak. Semoga ilmu akang-teteh berguna untuk anak-anak dan menjadi amal jariyah buat akang-teteh sadayana.” Bu Hana.
“Iya bu, kami yang terima kasih juga karena sudah diterima dengan baik disini. Kami yang dapat ilmu juga disini.” Jawab Ikmal.
“Teteh main ke rumah yuk! Di rumah banyak mainan loh!” Ajak anak laki-laki yang sedari tadi terus mengajak bermain Shinta. Dalam waktu sekejap mereka menjadi sangat dekat dan menjadi teman.
“Oh iya, ayoo semuanya makan dulu di rumah saya. Saya sudah masak, hampir lupa.” Ajak Bu Hana.
“Repot-repot banget bu, Kami sudah akan pulang.” Marni.
“Cuma makan doang, lebar itu udah dibuatin masa gak dimakan.”
“Enggak, Ya udah yuk. Saka Ayo pulang sama Teh Shinta juga. Saka suka ya sama Teh Shinta”
Anak laki-laki yang bernama Saka itu segera mengangguk dengan tidak mau jauh-jauh dengan Shinta.
Tunggu jika diingat. Hana ? Saka ? nama-namanya tampak sangat familier-Shinta.
Rumah bu Hana tidak jauh dari sekolah tadi, hanya berjalan kaki sekitar lima puluh meter saja. kebetulan bangunan sekolah tadi adalah milik pribadi orang tua Bu Hana yang sudah tiada dan Bu Hana memang sangat tertarik pada pendidikan di Indonesia. Itulah alasan kenapa Bu Hana membuat sekolah gratis dari kantongnya sendiri bersama Bu Yayu sahabatnya. Mereka berdua mengajar dengan ikhlas tanpa berharap imbalan. Shinta sangat salut dengan kedua orang itu, ia sendiri sebenarnya sangat menyukai anak kecil sehingga ia sangat tertarik dengan cerita Bu Hana tentang perjuangannya membuka sekolah itu.
“Makanlah, dinikmati walaupun Cuma seadanya ya akang-teteh.”
“Tidak, Bu. Ini bukan seadanya tapi segala ada bu.” Mail yang terlihat sangat berbinar melihat berbagai jenis lauk makanan disediakan di meja. Sejak tadi ia memang sudah sangat lapar karena energinya benar-benar habis bermain-main dengan anak-anak. Bagaimana tidak, Mail terus saja dikejar-kejar dan dipukul-pukul seolah-olah dirinya adalah seorang penjahat dan namanya anak kecil susah sekali untuk dihentikan.
“Silakan! Silakan!.” Bu Hana mempersilakan semuanya untuk segera menyantap santapan yang sudah disediakan di atas meja sedangkan Bu Hana pamit untuk memasak lagi di dapur. Walaupun sudah dilarang karena makanan ini sudah lebih dari cukup tetapi Bu Hana bersikeras untuk membuat sebuah jajanan pasar khas bandung, namanya Awug. Mereka yang mendengar nama itu sangat tidak familier kecuali Andi yang memang asli Bandung.
Sedangkan Saka masih saja menempel dengan Shinta, mengajaknya berkeliling rumahnya.
“Saka mau makan gak ? nanti kak Shinta bawain. Kita makan bareng yuk” ajak Shinta, namun Saka menggeleng dan terus menariknya untuk pergi ke kamarnya.
“Ya udah kalau gitu Kak Shinta gak mau main deh sama Saka. Sakanya gak mau makan sih” rajuk Shinta yang sengaja agar Saka setuju untuk makan.
“Aaaahhh... Teh Shinta main sama Saka!” Saka tak kalah merajuk.
“Makan dulu ya, nanti abis makan kita main lagi. Ya ? Setuju gak ?” tanya Shinta pada Saka yang masih cemberut seraya menganggukkan kepalanya setuju.
“Nah gitu dong, baru anak pintar kan. Sini Kak Shinta gendong. Kita makan dulu.”
Saka kembali tersenyum dalam gendongan Shinta dan keluar dari kamar Saka.
“Assalamuaikum... eh... kali...” seorang Pria masuk kedalam rumah yang terhenti melanjutkan kalimatnya setelah melihat seorang wanita yang sedang menggendong anak laki-lakinya. Wajahnya tak bisa berbohong, ia sangat terkejut dan wanita yang menggendong anak laki-laki yang tak lain adalah Shinta pun tak kalah terkejut setelah melihat pria itu di rumah ini. Kebetulan macam apa ini ? pikirnya.
“Pak Andre ?” semua tak kalah terkejut saat melihat Andre masuk ke rumah itu. Rumah Bu Hana, yang memang istri pertama dari Andre. Hana yang sama yang saat itu akan ditemukan dengan Shinta. Takdir membuat hidup mereka seperti candaan, saat kemarin Shinta berusaha menyiapkan diri untuk bertemu dengan istri pertama suaminya tetapi takdir tidak mengizinkannya, dan sekarang takdir mempertemukannya tanpa disengaja, ini sangat lucu, sangat lucu sehingga Shinta tak bisa tertawa karenanya.
“AYAH!!” Panggil Saka dengan antusias dan memaksa turun dari gendongan Shinta untuk berlari ke arah Andre.
“Eh, Udah pulang, Mas. Oh iya aku belum cerita ya, mereka-mereka ini relawan yang ngajar di sekolah tadi.” Hana yang membawa Awug dalam piring yang sangat besar langsung meletakkannya di atas meja.
__ADS_1
“Me.. mereka mahasiswa saya, Han.” Jelas Andre dengan suara yang getar, ia sama sekali tidak berani melihat ke arah Shinta.
“Oh iya, baru inget. Pantesan nama kampusnya kaya familier gitu ternyata sekampus sama suami saya. Hehe.. maaf bawaan hamil jadi suka lupa-lupa hehe..”
Shinta masih terdiam di tempat yang sama, ia benar-benar tak tahu harus berbuat apa.
“Hmm... Oh iya hmm..., Shinta ini.. anaknya almarhum,.. Han. Kalian belum pernah ketemu ya, tapi Saka udah akrab banget ya kayanya” Jelas Andre dengan sangat kikuk. Shinta hanya tersenyum tipis dan berjalan untuk bergabung dengan yang lain di meja makan.
“Oh jadi ini Shinta. Turut berduka cita ya, maaf saya gak bisa kesana waktu itu.”
“Ya... ya.. hmm... gak apa-apa ... Bu. Saya yang harus minta maaf, karena saya Pak Andre yang repot mengurus semuanya dan sangat berterima kasih sama Pak Andre.”
“Mas Andre sudah menganggap Almarhum sebagai bapaknya sendiri, kamu juga kasihan anak tunggal, cewek lagi. Saya juga gak tega.”
“Ooo... Gak nyangka ya. Dunia emang sempit. Gak nyangka kita ada di rumah Pak Andre di Bandung.” Ve menatap Andre dengan mata yang berbinar, maklum saja karena Ve adalah salah satu penggemar dari Andre sebagai dosen muda yang tampan.
Andre hanya tersenyum untuk membalas Ve, ia benar-benar sekarang tak bisa berpikir jernih. Seperti sudah ketahuan selingkuh, keringat dingin dan tenggorokannya terus saja terasa kering, sama hal nya dengan apa yang dirasakan Shinta sekarang. Tangannya sangat dingin sekarang, dan tenggorokannya terasa sangat kering sehingga mereka berdua terus saja meminum air dengan tatapan kosong.
“Shin ?” Ikmal yang berada di samping Shinta mengendus sesuatu yang tidak beres dalam diri Shinta. “Lo sakit ?” tanya Ikmal. Shinta segera menggeleng dengan sedikit menyunggingkan senyuman.
Andre yang melihat perlakuan Ikmal pada Shinta cukup terkejut, ada perasaan yang aneh dalam dirinya, ia seperti tak ingin Shinta dekat dengan Ikmal karena tahu sepertinya lelaki itu mempunyai perasaan terhadap istrinya. Bukan! Bukan cinta, Andre memastikan hatinya sendiri perasaan aneh itu bukan cinta tetapi kekhawatirannya saja, karena posisinya sekarang adalah bertugas untuk melindungi Shinta sesuai janjinya.
“Teh shinta! Ayooo main lagi sama Saka. Ayoo.. ayo...” pinta Saka dengan menarik-narik baju Shinta.
“Hmm. Ya... Ayo...” Shinta segera beranjak dari duduknya dan menggandeng Saka.
“Saka.. Biarin Teh Shintanya makan dulu.” Ucap Hana.
“Aaaa...aaa...” rengek Saka menolak dan terus menarik tangan Shinta menuju kamarnya.
“Gak apa-apa, Bu.” Shinta meyakinkan Hana ia tidak keberatan sama sekali, sebaliknya ia sangat berterima kasih pada Saka karena telah membawanya pergi dari suasana sangat canggung itu.
“Han, saya ganti baju dulu ya. Kalian semua, makan yang banyak ya. Oh iya, kalian pulang sore ini ?”
“Iya, Pak. Niatnya tadi langsung pulang tapi gak enak sama Bu Hana udah masakin masakan sebanyak ini. Kan sayang kalo gak di eksekusi, hehe.” Jawab Mail.
***
Andre sengaja melewati kamar Saka yang terdapat Shinta disana, Shinta yang tahu sedang diperhatikan Andre sangat kikuk, ia tidak bisa fokus bermain dengan Saka dan hanya tersenyum saat Saka berbicara padanya.
“Ekhemm...” Andre berdehem di depan kamar Saka untuk mengalihkan perhatian Shinta.
Shinta hanya melirik Andre sekilas karena saat ini ia sangat takut sekali jika bertatapan dengan lelaki itu.
“Saka ayah boleh pinjam teteh Shinta nya gak ? sebentar aja...” pinta Andre yang tidak mengerti kodenya sejak tadi. Saat ini ia perlu berbicara dengan Shinta.
“Gak boleh! Teh Shinta punya Saka!” Saka terus memeluk Shinta dengan erat.
“Nanti ayah beliin mobil bemo yang besar, Mau ?”
Bocah kecil itu langsung tersenyum saat mendengar mainan kesukaannya disebut dan langsung mengiyakan pinta ayahnya itu. Shinta segera beranjak dengan kikuk mengikuti langkah Andre yang membawanya keluar kamar Saka menuju ruang kerjanya.
“Kok bisa kalian ada disini ?” tanya Andre langsung.
“Saya minta maaf, saya benar-benar tidak tahu Bu Hana adalah kepala sekolah TK Cerdas Ceria. Kalau saya tahu, pasti saya tidak akan ikut kesini.” Shinta terus menunduk.
Andre nampak sangat frustasi, ia tidak bisa melihat Shinta merasa bersalah seperti itu karena ini bukanlah kesalahannya. Jika sudah seperti ini waktu untuk memberi tahu Hana mungkin harus lebih dipercepat karena semakin lama akan semakin melukai perasaan Hana karena sekarang Hana sudah mengenal Shinta. Persoalan ini memang selalu berat karena diawali dengan diam-diam. Yang dikhawatirkannya hanya calon anaknya saja yang sangat beresiko jika Hana terkejut dengan berita ini.
“Saya merasa sangat bersalah pada Bu Hana, Bu Hana sangat baik saya tidak bisa membuatnya bersedih karena berita pernikahan kita. Saya tidak bisa, tolong hentikan saja ini semua. Saya bisa hidup sendiri, saya sudah lama hidup mandiri, saya bisa..” Shinta memohon dengan tangis karena perasaannya kini sangat tertekan. Ia sangat tidak enak dengan Hana karena bisa saja perasaannya terhadap Andre akan berkembang jika pernikahan ini terus dilanjutkan.
“Tidak... Tidak...” Andre mendekap Shinta untuk menenangkannya walaupun dalam dirinya pun sedang tidak karuan.
“Ceraikan saya!” Shinta bergumam, Andre yang mendengarnya langsung menatap Shinta dengan mengerutkan dahi tidak setuju.
“Ceraikan saya!” Lagi Shinta mengatakannya di depan mata Andre.
“Pernikahan ini hanya menyiksa kita saja, bahkan menyiksa Bu Hana dan Saka. Pernikahan ini sebaiknya diakhiri sebelum diketahui oleh banyak orang. Satu kata saja yang saya minta, Ceraikan saya!”
Andre melepas Shinta, membalikan badan dan menggelengkan kepalanya tidak setuju. Bagaimana pun ia sudah berjanji akan menjaga Shinta, ia tidak bisa melepaskan tanggung jawabnya begitu saja apalagi tentang pernikahan ini.
“Tolong! Demi saya ? emm tidak... demi keluarga Pak Andre.. demi semuanya.. saya tahu Pak Andre juga tersiksa dengan pernikahan ini. Jadi buat apa ? Bapak juga tidak akan suka dengan pernikahan ini jika seperti ini jadinya, Bapak ngomong seperti itu hanya khawatir pada saya, seharusnya kita tidak melakukan ini, seharusnya saya tidak setuju dengan itu, seharusnya pernikahan ini tidak terjadi.”
“Saya menganggap pembicaraan ini tidak ada, dan saya adalah suamimu sekarang bukan dosenmu” Andre segera pergi meninggalkan Shinta yang masih terisak.
Andre merasa tak berdaya karena ini juga sangat berat baginya, bagaimana pun Shinta sudah menjadi tanggung jawabnya ia tak bisa melepaskannya begitu saja tanpa rasa bersalah. Bagaimana pun pernikahannya dengan Shinta benar adanya, dan bukan main-main itu artinya ia benar-benar harus memperlakukan Shinta sebagaimana mestinya seorang suami memperlakukan istrinya.
__ADS_1