PENGANTIN KEDUA

PENGANTIN KEDUA
Episode 26 : Surat Pengadilan Agama


__ADS_3

Andre dan Shinta akhirnya memutuskan untuk kembali ke Jakarta setelah berpamitan dengan Saka. Saka sempat menangis karena rasa rindunya belum benar-benar terbayarkan, tetapi situasi di villa itu benar-benar tidak bagus. Andre memutuskan untuk membiarkan Hana sendiri dulu, ia belum benar-benar ingin menceraikan Hana tetapi Andre berpikir Hana butuh waktu untuk menerima semuanya.


Di Jakarta.


Hari senin pagi, Shinta harus segera berangkat ke kampus karena ia ada kelas pagi. Andre sudah siap di mobil untuk mengantarkan istrinya, Shinta sempat menolak karena pagi-pagi ini pasti akan banyak sekali orang. Andre tetap saja memaksa dan berjanji untuk menurunkan Shinta di tempat agak jauh dari kampus, Shinta akhirnya menyetujui itu.


Di kampus, Shinta turun dari mobil Andre.


“Shinta!” ada seseorang yang memanggilnya.


Shinta sangat terkejut karena ia belum siap untuk memperlihatkan pada semua orang tentang siapa suaminya (lagi), karena ia masih teringat jelas wajah kecewa dari Ikmal setelah mengetahui Andre adalah suaminya.


“VE ?” Shinta menyapa seseorang yang tadi memanggilnya.


Andre yang mengetahui ada seseorang yang mengenal Shinta langsung pergi meninggalkan mereka.


“Lo dianterin siapa ? Punya cowok baru Lo ya ?” tanya Ve.


Shinta hanya tersenyum canggung, ia bingun mau menjawab apa.


“Eh, Shin! Dilihat-lihat kok lo gemukan ya ? Beneran kaya naik drastis banget, Lo gak apa-apa kan ?”


“Haha... masa sih, Ve ? Perasaan Lo aja kali.”


“Beneranlah... gue ini adalah orang yang selalu ada disisi Lo, Shin! Jadi gue tau banget gimana Lo!”


“Hehehe... mungkin karena akhir-akhir ini gue sering makan tengah malem jadi gini deh. Besok gue mulai olahraga deh”


“Kita nanti olahraga bareng aja!”


Shinta hanya mengangguk.


Setelah jam mata kuliah usai, Shinta dan Ve seperti biasanya menghabiskan waktu jeda untuk makan siang di kantin.


“Eh! Itu bukannya neng Ve sama Shinta, Mal! Kita samperin Yok!” ajak Mail


Ikmal hanya melirik Shinta.


“VE!” Panggil Mail.


Ve yang mendengar namanya dipanggil segera mencari siapa yang memanggil dan setelah ia melihat Mail yang memanggilnya ia menampilkan ekspresi yang tak senang.


“Ngapain sih!” gumam Ve.

__ADS_1


“Kenapa, Ve ?” tanya Shinta


“Itu Si Mail! Eh... kayanya mereka mau nyamperin deh.”’


Mail menarik-narik Ikmal untuk menemaninya menghampiri gadis pujaannya. Shinta yang melihat Ikmal berekspresi seperti itu langsung mengetahui bahwa sekarang Ikmal mungkin jijik berteman dengan “cewek pelakor” seperti dirinya.


“Hai cewek-cewek bidadari kampus ini!” sapa Mail.


“Hai Ikmal!” Sapa Ve dengan ceria dan pura-pura tidak menganggap Mail ada disana.


“Neng Ve! Neng Ve! Ini aa Neng!” panggil Mail.


“Apaan sih, Mail! Lo bikin gue bete aja deh.”


Ikmal sedari tadi hanya diam, tetapi pandangannya terus tertuju pada Shinta. Tatapannya sangat tajam sehingga membuat Shinta sangat tidak nyaman.


Semakin gue mencari alasan, semakin gue gak mengerti... kenapa Lo harus bersama lelaki itu, Shin! -Ikmal


“Shin! Lo udah selesai makannya kan ? Yuk kita ke kelas lagi!” Ajak Ve yang sudah sangat tidak nyaman dengan kehadiran Mail.


Shinta hanya menjawab dengan anggukan dan terus menunduk karena Ikmal terus saja memandangi Shinta.


****


“Mas! MAS!!!” Panggil Shinta dari dapur.


Andre yang sedang fokus pada laptopnya mendengar Shinta memanggilnya seperti itu langsung berlari karena khawatir terjadi apa-apa padanya.


“Ada apa Shinta ?” tanya Andre dengan membelalakan matanya karena sangat terkejut dan khawatir.


“Ini Shinta bikin sayur Sop tapi keasinan, gimana caranya memperbaiki sopnya! Sayangkan kalau dibuang.”


“Kamu ini! Dikira ada apa!” Andre mengelus kepala Shinta alih-alih memukulnya.


“Hehehe... Shinta padahal kemaren udah belajar langsung sama bibi, tapi sepertinya Shinta melupakan takarannya.”


“Sini Mas ajarin.” Andre memeluk Shinta dari belakang dan menuntun Shinta untuk memasukan bahan-bahan masakan dengan benar.


Shinta hanya tersenyum dan sesekali tertawa karena kelakukan Andre seperti ini. Andre tiba-tiba memerhatikan tangan Shinta. Ia melupakan sesuatu, karena saat itu pikirannya sangat kalut ia melupakan satu hal yang sangat penting dalam pernikahan. Ia lupa untuk melingkarkan cincin perkawinannya di jari manis Shinta, pantas saja diawal-awal pernikahan Shinta sempat merasa berkecil hati karena ia belum memberikan haknya sebagai seoarang istri.


Andre diam-diam mengelus-ngelus jari-jari Shinta alih-alih membantu Shinta memasak untuk mengukur ukuran yang pas untuk cincinnya nanti.


“MAS! Mas ini ngajarin Shinta atau Cuma memanfaatkan keadaan ajaa nih ?”

__ADS_1


“Hehehe... gak apa-apa kan sekali-kali.”


“Coba sekarang, Mas cicipin. Udah enak belum ?”


Andre menggeleng, “Kita pesen aja yuk ?”


Shinta langsung melotot, “Maaaaassss!!!!” Shinta memukul pelan Andre untuk menunjukkan ketidak setujuannya dengan usulan Andre.


Suara bel tiba-tiba memecah suasana romantis yang tercipta, Andre mengajukan diri untuk memeriksa siapa yang menyalakan bel rumahnya sedangkan Shinta bertugas untuk menyiapkan makan malam mereka.


Andre menerima tamu yang datang tanpa diundang itu.


“Iya... Siapa ya ?” tanya Andre.


“Ini, Mas. Ada paket untuk Andre...”


“Itu saya sendiri, Pak.”


Kurir paket itu segera memberi paket yang ditujukan pada Andre dan meminta Andre untuk menandatangani dokumen serah terimanya.


“Terimakasih, ya Pak.”


Si kurir paket misterius itu hanya tersenyum dan segera pergi karena masih banyak paket-paket lainnya yang harus ia kirim. Andre langsung membawa paket itu kedalam dan membaca siapa pengirimnya.


“Pengadilan agama Bandung ?” baca Andre.


Shinta yang sudah selesai menyiapkan makan malam menghampiri Andre untuk memeriksa siapa yang datang tadi.


“Tadi siapa, Mas ?” tanya Shinta.


Andre masih terpaku pada dokumen-dokumen yang ia keluarkan dari amplop hitam berlabelkan pengadilan agama bandung.


“Itu apa, Mas ?” tanya Shinta yang penasaran.


Tidak menjawab pertanyaan Shinta, Andre langsung pergi meninggalkan Shinta dengan kunci mobil.


“MAS! MAS ANDRE!” panggil Shinta yang masih bingung dengan perubahan sikap Andre itu.


Andre yang tidak mendengarkan Shinta sama sekali langsung tancap gas mengendarai mobilnya tanpa memberitahu Shinta apapun. Shinta yang sangat bingung langsung mengecek amplop hitam bekas mebungkus paket dokumen-dokumen tadi untuk memeriksa siapa pengirimnya dan kenapa Andre bisa sampai terlihat sekalut itu setelah membaca dokumen-dokumennya.


“Pengadilan agama Bandung ?” tangan Shinta bergetar, ia sangat tahu apa isi dokumen-dokumen itu tanpa melihat detailnya dari hanya dari tiga kata itu.


Hana sudah mendaftarkan perceraian mereka ke pengadilan agama Bandung yang artinya mereka benar-benar akan bercerai. Shinta benar-benar terkejut, ia sudah tidak sanggup berkata-kata lagi. Andre pasti sekarang sedang perjalanan ke Bandung untuk langsung bertemu dengan Hana dan mempertanyakan semua ini. Shinta hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan mereka berdua, walaupun dalam hati kecilnya ia masih ingin Mas Andre dan Mbak Hananya tetap bersama.

__ADS_1


~Bersambung~


__ADS_2