PENGANTIN KEDUA

PENGANTIN KEDUA
Episode 31 : KERAGUAN


__ADS_3

Sedikit panik, Hana segera menanyakan pada orang-orang sekitar kalau-kalau mereka sempat melihat Saka sebelum anak itu menghilang. Semua yang Hana tanyai mengatakan mereka tidak melihat seorang anak kecil, ia sangat bingung kemana harus mencari Saka.


“Permisi....”


Hana tidak mendengar, Ia masih fokus pada layar monitor yang menampilkan CCTV untuk mengecek kembali kemana Saka pergi.


“Permisi....” suara itu kembali terdengar.


Diiringi dengan suara anak kecil, “MAMA!”


Hana baru tersadar, Saka memanggilnya. Ia segera memalingkan pandangannya untuk mencari sumber suara itu. Ternyata, Saka sedang di gendong seorang pria bertubuh jangkung berkulit sawo matang dan Hana tidak mengenal pria itu. Fokus Hana langsung tertuju pada Saka dan langsung mengambil alihnya dari pria misterius itu.


“Saka! Mama nyariin. Kenapa Saka gak bilang dulu kalau mau pergi!”


“Maaf tadi saya lancang membawanya pergi untuk membeli es krim....”


“Dokter Rafli!” Hana baru menyadari.


Rafli tersenyum pada Hana.


“Tadi saya tidak ingin menganggumu dan berniat hanya membeli es krim lalu baru menyapa Bu Hana, tetapi sepertinya saya dan Saka pergi terlalu lama. Maafkan, karena telah membuat Bu Hana khawatir.”

__ADS_1


Hana mengangguk, “Untung saja itu adalah Dokter Rafli, saya tidak bisa membayangkan jika itu adalah penculik sesuai dengan apa yang tadi saya pikirkan. Saya akan menyalahkan diri saya sendiri.”


“Maaf sekali lagi.”


Hana masih bisa memakluminya, karena itu adalah dr.Rafli. Dokter Rafli adalah seorang dokter anak yang pernah menangani Saka saat Saka sakit. Dokter Rafli juga yang menenangkan Hana yang panik karena saat itu Andre tidak ada di sampingnya.


“Selamat atas pernikahannya, Dok. Maaf, bulan lalu tidak dapat datang ke pernikahannya dokter.” Ucap Hana yang bulan kemarin menerima undangan pernikahan dari Dokter Rafli.


Air muka Dokter Rafli berubah, sedikit malu namun dalam waktu yang bersamaan merasa sedikit sedih, Rafli menjelaskan, “Pernikahannya gak jadi, hehe. Saya lupa mengabarkan ke Bu Hana ya. Mantan calon saya kemarin baru saja melangsungkan pernikahan dengan pria “idamannya”....”


Hana yang mendengar hal itu langsung merasa tidak enak, “Ya ampun, maafkan saya. Saya tidak tahu sama sekali tentang itu.”


Rafli menggelengkan kepalanya, ia menjelaskan itu bukanlah salah Hana.


Hana terdiam sejenak, “Ya.... perceraian itu sangat berat.”


“Semuanya... baik-baik saja ?” Rafli seakan dapat membaca ekspresi Hana yang berubah saat mengungkit tentang perceraian.


“Semuanya akan baik-baik saja.”


“Berarti semuanya sedang tidak baik-baik saja ?”

__ADS_1


“Saya dan ayahnya Saka... sudah berpisah.”


“Ohh... maaf. Saya tidak bermaksud untuk mengungkit masalah Anda.”


“Enggak! Enggak sama sekali. Dokter Rafli tidak perlu minta maaf. Kalau begitu, saya dan Saka harus pergi sekarang. Sampai Jumpa!”


“Ya... Bu Hana, Semangatlah! Anda masih mempunyai Saka yang sangat lucu.”


Hana hanya tersenyum lalu pergi menggunakan taksi online yang sudah dipesannya.


***


Di Jakarta


Setelah perdebatan yang sangat hebat terjadi antara Shinta dan Andre, hubungan diantara mereka tampak memburuk. Shinta mendiamkan Andre, dan juga Andre melakukan hal yang sama pada Shinta. Andre masih tak habis pikir, kata-kata itu terucap dari mulut Shinta. Shinta menyuruhnya untuk memilih antara dirinya dan Hana, itu adalah pertanyaan terburuk yang pernah ia dengar.


Andre kecewa karena saat ini ia sedang berjuang untuk mempertahankan pernikahannya tetapi Shinta malah menambah masalahnya dengan pertanyaan seperti itu.


Keesokan harinya, Shinta tengah bersiap untuk ke kampus. Melihat ke arah cermin, memperlihatkan perutnya yang mulai terlihat membuncit walaupun sedikit.


Mama tidak sabar untuk bertemu denganmu, Nak. Semoga saja papa mu juga merasakan hal yang sama -Shinta

__ADS_1


Sambil mengusap-usap perutnya, Shinta terus saja mengajak ngobrol calon bayi yang di kandungnya. Andre diam-diam memerhatikan Shinta yang masih berlama-lama berada di depan cermin.


Melihat situasinya semakin memburuk seperti ini, apakah keputusan saya saat itu untuk menikahinya adalah keputusan yang tepat ? -Andre


__ADS_2