
“Shinta!” seseorang memanggil Shinta
Shinta mencari sumber suara itu, ternyata itu berasa dari Ikmal lagi. Ikmal bertanya kenapa Shinta masih tetap duduk di halte setelah setengah jam.
“Gue lagi gak mau pulang.”
Ikmal akhirnya memutuskan untuk memarkirkan motornya di pinggir jalan dan duduk bersama dengan Shinta.
“Lo dan Dia lagi gak baik-baik aja ?”
Shinta menghela nafas.
“Lo mau gue ajak keliling-keliling ?” tanya Ikmal.
“Gue gak bisa lama-lama naik motor.”
“Keliling deket aja, nyari tempat yang enak buat nenangin pikiran.”
“Baiklah.”
Ikmal memberi helm pada Shinta lalu memboncengnya mengelilingi kota Jakarta. Walaupun Ikmal tidak bisa memiliki hati dari wanita pujaan hatinya, setidaknya ia masih bisa memberikan senyuman padanya. Sesuatu yang saat ini tidak bisa diberikan oleh suaminya.
“Lo lagi mau makan apa, Shin ?” Tanya Ikmal di tengah perjalanan.
Shinta berpikir, “Hmm.... gue mau ketoprak.”
“Oke.”
Ikmal segera berhenti di dekat gerobak penjual ketoprak sesuai dengan permintaan Shinta.
“Bang, ketoprak 2”
Abang penjual langsung mengiyakan dan segera membuat pesanan mereka.
Ikmal mengajak Shinta untuk duduk di meja makan yang sudah tersedia. Untungnya suasana saat itu sangat sepi sehingga Ikmal merasa ini adalah waktu yang tepat untuk mengorek apa yang sedang Shinta rasakan saat ini. Karena saat ini hanya dirinyalah yang tahu tentang rumah tangga Shinta, dan Ikmal rasa Shinta butuh teman untuk mencurahkan isi hatinya yang mengganjal tentang itu.
__ADS_1
“Semuanya benar-benar baik-baik saja, kan Shin ?” Tanya Ikmal sambil menunggu ketopraknya datang.
Shinta hanya diam.
“Apa Lo bahagia setelah menikah ?”
Bahagia... -Shinta
“Kalau hal itu tidak pernah memberikan kebahagiaan dalam hidup Lo, terus apa untungnya untuk dipertahankan ?”
“Gue bahagia, Mal.”
“Kalau bahagia kenapa Lo terlihat tidak begitu ?”
“Walaupun begitu banyak masalah yang muncul, tetapi setiap kesempatan yang kita habiskan hanya berdua saja membuat gue bahagia. Setiap perhatiannya, setiap tindakannya, semuanya tentang dirinya membuatku bahagia. Sampai membuat gue mulai serakah dan ingin memilikinya seutuhnya, tetapi saat rasa itu muncul gue juga sadar sampai kapan pun gue tidak akan pernah memilikinya secara utuh karena separuh jiwanya sudah dipunyai orang lain.”
“Sekeras apapun Lo mengatakan Lo bahagia, muka Lo gak menampilkan itu, Shin. Saat ini Lo terlihat tertekan dan tidak baik-baik saja.”
“Semuanya akan baik-baik saja setelah masalah antara mereka selesai.”
Shinta mengangguk.
“Jika hubungan mereka baik-baik saja, hubunganku dengan Mas Andre juga akan baik-baik saja.”
Jika seperti itu bukankah artinya Pak Andre tidak benar-benar mencintai Shinta ? Yang ia cintai tetap saja istri pertamanya. Dasar Berengsek! -Ikmal
*****
Andre pulang dari Bandung setelah mendengar jawaban dari Hana yang cukup menohok. Ia melihat sinar mata Hana yang terlihat sangat tegas dan yakin. Hana benar-benar ingin berpisah dengannya. Andre sangat menyesali semua perbuatannya yang membuat Hana pergi dari hidupnya.
Andre tiba di rumah pukul 8 malam dan Shinta belum berada di rumah. Kemana Shinta malam seperti ini belum pulang ? pikirnya. Suara motor terdengar dari luar, Andre berpikir itu adalah Shinta tetapi kenapa ia memakai motor ? Andre sudah pernah mengatakan Shinta hanya boleh menggunakan menggunakan mobil bukan motor untuk transportasinya jika ia tidak bisa mengantar Shinta. Andre pergi memeriksanya sendiri untuk memastikannya dan ternyata benar Shinta datang bersama dengan Ikmal menggunakan motor. Melihat Shinta turun dari motor Ikmal dan tersenyum pada lelaki itu membuat Andre merasa kesal.
Terlebih lagi Shinta baru pulang malam seperti ini, ia yakin kelasnya tidak ada yang sampai semalam ini. Pulang malam sangat tidak sehat untuknya apalagi untuk janin yang sedang dikandungnya, ditambah lagi ia menggunakan motor. Apakah Shinta selalu seperti ini disaat ia pergi ke Bandung ? diam-diam berpergian dengan seorang pria dan pulang hingga larut malam seperti ini.
Shinta melihat ke arah Andre dan terkejut. Shinta tak menyangka Andre akan pulang malam ini karena ia mengira Andre akan menginap lagi di Bandung seperti waktu itu. Itu juga sebabnya ia sangat malas untuk pulang ke rumah, karena di rumahnya tidak ada Andre.
__ADS_1
Ikmal juga sangat sadar, Andre sedang memerhatikannya tetapi ia sama sekali tidak merasa bersalah.
“Shin!”
“Apa ?”
“Kalau gak ada yang nganterin Lo lagi, Lo bisa minta bantuan gue. Gue selalu siap sedia untuk Lo 24 jam.”
Andre sangat jelas mendengar hal itu dan dibuat kesal olehnya.
Ikmal memberi hormat pada Andre dengan menundukan kepalanya sejenak lalu pamit untuk pergi. Shinta masuk ke rumah tanpa memberi salam pada Andre.
“Ada yang mesti kamu jelaskan tentang situasi tadi, Shinta.” Andre.
Shinta diam.
“Shinta!”
“Dia hanya mengantar Shinta.”
“Kita sudah membicarakan tentang hal ini, kamu tidak boleh naik motor karena kamu sedang hamil.”
“Dia menjalankan motornya dengan sangat pelan, itu tidak akan membahayakan anak Shinta.”
“Itu juga anak saya Shin! Dan saya berhak untuk melarang kamu melakukan hal-hal yang membahayakan untuk anak itu.”
“Apa Mas pikir Shinta sudah membahayakan hidup anak ini hanya karena naik motor sekali ? Ikmal sudah memberi Shinta Helm dan berkendara dengan aman, Shinta juga pulang dengan aman tanpa mengalami keluhan apapun. Terus apa masalahnya ? Kenapa Mas begitu membesarkan masalah sepele seperti ini?”
“Saya hanya khawatir.”
Shinta melangkah menuju kamarnya, “Jika Mas khawatir kenapa mas membiarkan Shinta pergi sendiri tadi pagi.” Gumam Shinta.
****
Bersambung
__ADS_1