PENGANTIN KEDUA

PENGANTIN KEDUA
Episode 13 : Keguguran


__ADS_3

“Assalamuaikum!”


“Ayah!!!”


Saka menyambut ayahnya dengan antusias, mainannya yang tadi sedang ia mainkan dan langsung berlari dalam pelukan Andre. Tak pernah ada waktu Saka tidak merindukan ayahnya, ia selalu menanyakan pada Hana kemana ayah pergi walaupun ia sudah mendengar jawaban yang saa selama puluhan kali. Kemarin sangat berbeda, saat Hana mengetahui Andre membohonginya, saat Saka bertanya padanya tentang apa yang dilakukan Andre dan kapan ayahnya itu pulang, Hana tidak menjawabnya sama sekali. Ia hanya menjawab ayahnya akan pulang.


Hana menatap lelaki itu, suami yang telah hidup bersamanya selama lima tahun. Suami yang sangat ia percayai dan banggakan selama ini, apakah masih bisa ia percaya setelah satu kebohongan kemarin atau masih banyak kebohongan lainnya yang selama ini ia sembunyikan. Kepercayaan pada lelaki itu langsung diporak-porandakan dalam waktu satu malam saja. Hana tak tahu mana yang dapat ia percayai mana yang berupa kebohongan, semua yang keluar dari mulut pria itu diragukan oleh Hana. Hana benar-benar tak tahu harus bersikap bagaimana, sangat sulit baginya untuk memercayai pria itu lagi. Yang ia lakukan saat ini hanya terus menghindar, ia tak mau memperlihatkan dirinya yang sedang terguncang akibat satu kebohongan yang dibuat Andre. Ia berusaha untuk meredam rasa penasarannya, karena ia tahu ada kemungkinan sebuah kebenaran itu akan membuat rumah tangganya hancur.


“Makan dulu, Mas ? aku sudah buatkan ikan gurame bumbu kuning.”


Andre hanya menganggukan kepalanya dan kembali bermain dengan Saka. Hana tidak bisa membicarakan hal ini di depan Saka, yang ia lakukan hanya memendamnya dan menguatkan dirinya sendiri untuk terlihat baik-baik saja.


“Makan dulu, Mas. Saka, ayo minum susunya udah malem. Tidur yuk! Matanya udah merah kaya gitu.” Hana menyajikan makan malam untuk Andre dan mengajak Saka untuk tidur.


“Gak mau! Saka belum ngantuukk...”


“Besok kan mau jalan-jalan sama Ayah. Ayah juga abis makan mau langsung bobo sama kaya Saka.” Bujuk Hana.


“Iya, besok Saka mau jalan-jalan sama Ayah ?”


“Mau!”


“Ya udah, sekarang tidur dulu ya anak pinter.”


Saka segera menurut dan pergi bersama Hana ke kamarnya. Setelah membuat Saka tidur, Hana menyibukkan dirinya dengan mencuci piring ke dapur dan membersihkan dapur walaupun sudah bersih. Andre melihat Hana yang bekerja terlalu keras menyuruhnya untuk segera tidur juga, Hana segera mengangguk tanpa mengatakan apapun lagi. Andre sadar, sejak ia pulang Hana seakan menghindarinya.


“Hana ?” Andre berencana untuk memberitahunya malam ini juga, namun saat ia memanggil namanya, Hana langsung menutup dirinya dengan selimut untuk tidur memunggunginya.


“Ya sudah, tidurlah. Kamu sudah bekerja sangat keras, istirahatlah yang cukup. Seorang ibu hamil tidak harus bekerja keras seperti itu.” Andre mengelus dengan lembut kepala Hana.


Hana merasa sangat sesak, memikirkan kembali perkataan tetangganya itu yang mengatakan ia melihat Andre dengan seorang wanita. Memikirkan jika pria yang selama ini ia percaya mempunyai wanita selain dirinya, memikirkan tangan yang ia pakai untuk membelai rambutnya ini juga digunakan untuk membelai rambut wanita itu. Hana tidak ingin memikirkan itu semua namun pikirannya terus saja mengkhianatinya. Ia tak bisa berhenti memikirkannya, semakin ia pikirkan semakin membuatnya sangat takut jika yang ia pikirkan semuanya benar.


Andre mengira Hana sudah tertidur, diam-diam ia meraih ponselnya dan mengirim pesan pada Shinta untuk memastikan ia baik-baik saja sekarang. Shinta segera membalas dan memberitahu bahwa dirinya pun akan tidur dan mengucapkan selamat tidur untuk Andre. Hana mendengar suara ponsel Andre yang berbunyi. Malam hari seperti ini, siapa yang akan menghubunginya. Hana semakin takut dan khawatir semua yang ia khawatirkan dan takutkan akan terjadi. Seperti bom waktu, hanya menunggu hitungan mundur itu habis dan semuanya akan terungkap dengan sendirinya.


...***...


Pagi buta Saka yang baru bangun langsung berlari menuju kamar orang tuanya, ia segera menagih janji pada Andre untuk mengajaknya jalan-jalan. Andre yang langsung bangun saat digoyang-goyangkan oleh Saka tak lantas beranjak dari ranjangnya namun menarik Saka dan memeluknya lalu tertidur kembali. Saka yang tak sabar terus meminta Andre untuk membawanya pergi dan terus meronta-ronta melepaskan pelukan ayahnya itu. Hana tidak bisa tidur semalam, setelah menyadari Andre sudah tertidur ia langsung pergi ke kamar Saka hanya memandangi jagoan kecilnya yang sedang tertidur. Hana memukul pelan Andre untuk menyuruhnya melepaskan Saka dan segera bangun.


“Cuci muka dulu yuk, Ayahnya mau mandi bentar lagi.” Bujuk Hana.


“Ayah masih ngantuk, sini bobo lagi sama Ayah. Ibu juga sini!” Andre menarik Hana langsung ke pelukannya bersamaan dengan Saka.

__ADS_1


Hana segera melepaskan pelukan itu dan beranjak dari kasur dengan sangat terburu-buru. Ia langsung pergi dari kamar tidur menuju dapur, berkilah masakannya akan gosong.


Andre hanya terus mengoda dan bermain dengan Saka dan menganggap penolakan Hana tadi merupakan hal yang biasa. Hana berusaha menenangkan dirinya sendiri, separah itukah ia mulai menghindar dari suaminya sendiri hanya akibat satu kebohongan saja. Satu kebohongan itu begitu berdampak pada psikis. Hana terus meyakinkan dirinya sendiri untuk dapat melalui ini dan dapat mengabaikan kebohongan itu, tetapi tak bisa. Ia terus membayangkan bagaimana wanita lain itu diperlakukan sama seperti Andre memperlakukan dirinya, berpegangan tangan, berpelukan, dan lebih jauh lagi. Bayangan-bayangan itu terus menghantui dirinya sehingga membuatnya tidak bisa lagi menerima kontak fisik dengan suaminya sendiri, bahkan menatap matanya pun Hana rasa tidak bisa.


“Ibu! Saka udah cuci muka sama gosok gigi sama ayah.” Saka datang bersama Ayahnya dan duduk di meja makan siap untuk sarapan pagi.


“Anak pinter!” Puji Hana dengan senyuman, menjadi seorang istri dan ibu memang sangat berat. Ia harus pintar bersandiwara untuk menyembunyikan kesakitan yang dialaminya. Itu adalah sifat alamiah dari seorang wanita.


“Ayahnya gak disebut pinter ?” goda Andre.


Hana hanya tersenyum dan mengusap tangan Andre dan kembali fokus pada sarapan yang dibuatnya. Andre menyadari, Hana sedang tidak baik-baik saja. Mata wanita itu tampak sangat sendu dan muram, tak seperti biasanya. Kalau diingat-ingat, Hana pun hanya tersenyum padanya saat ia pulang tadi malam berbeda dengan biasanya ia menyambutku dengan berbagai pertanyaan atau cerita-cerita Saka yang selalu manarik. Malam tadi juga Hana tidak tidur di kamar, Hana terus berusaha menghindarinya namun Andre tak tahu alasannya.


“Saya mau ngajak Saka untuk jalan-jalan pagi di sekitar komplek aja. Kamu mau ikut ?” tanya Andre pada Shinta pada saat mereka sarapan.


“Tidak, Saya mau di rumah aja. Kalian saja berdua, Saka juga kangen banget sama ayahnya.” Jawab Shinta tanpa menatap Andre, ia hanya fokus pada makanannya dan Saka.


“Kamu sakit ?” tanya Andre lagi.


Hana segera menggeleng.


“Baiklah.” Andre hendak mengelus kepala Hana, namun Hana segera menghindarinya. Andre mengerti, Hana sedang benar-benar menghindarinya.


...***...


Saka segera mengangguk setuju, ia pun dapat merasakan ibunya sedang tidak baik-baik saja sekarang.


“Mau kasih hadiah untuk ibu ?”


“Apa ?”


...***...


Saka segera berlari menuju Hana yang sedang menyapu lantai ruang tengah saat baru tiba di rumah untuk memberi setangkai bunga mawar merah dengan sangat antusias. Hana tentu saja menerimanya dengan bahagia, Saka seperti vitamin untuknya. Tak peduli masalah sebesar apapun yang dilaluinya, akan terlupakan sejenak karena kehadiran Saka. Andre menyusul Saka di belakang dengan seikat bungan mawar untuk Hana, Hana sama sekali tak bereaksi pada Andre. Matanya berkaca-kaca namun ia tak bisa berbicara sekarang. Ia hanya bisa memeluk Saka dengan erat untuk menenangkan dirinya.


Seharian ini Saka bermain ditemani oleh Andre sampai anak kecil itu lelah dan tertidur di kamarnya. Setelah Saka tertidur Andre segera menghampiri Hana yang sedang berada di dapur untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Hana sehingga terus menghindarinya. Namun, Hana kembali menghindarinya dengan terus mencari alasan untuk melakukan sesuatu tetapi kali ini Andre tidak bisa membiarkannya. Andre menarik Hana untuk duduk di meja makan dan berbicara empat mata padanya.


“Ada apa ? Kamu tahu kita selalu berbicara jika ada masalah.” Jelas Andre


Hana menatap Andre, memastikan kembali jika lelaki yang berada di depan matanya ini benar suaminya yang ia kenal. Hana menahan airmatanya dan merogoh kantung apronnya untuk mengambil ponsel dan memberikannya pada Andre. Ponsel yang diberikan Hana adalah ponsel Andre yang sudah ia cek. Ia sudah mengetahui dengan siapa tadi malam suaminya berhubungan, ia sudah mengetahui wanita macam apa yang sudah mengambil suaminya. Ia sudah mengetahui semuanya, hanya belum mendapat pengakuan dari suaminya.


“Shinta ? Anak dari guru kamu.” Ucapnya dengan menundukan kepalanya, berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis tetapi tidak bisa. Airmatanya tetap mengalir, melihat suaminya yang ada di depan matanya tampak berbeda dengan suaminya yang ia kenal lima tahun lalu.

__ADS_1


“Kenapa harus wanita itu ? kenapa harus wanita yang sangat ingin aku kenal itu, kenapa harus wanita yang baik itu ? wanita itu juga sudah dekat dengan Saka. Kenapa harus wanita itu ?”


Andre tetap tertunduk, ia tak menduga akan seperti ini.


“Mas ?”


Andre langsung menjelaskan semuanya tentang hubungannya dengan Shinta dan alasan mengapa ia menikahi Shinta. Hana hanya tertunduk dan menangis, tak tahu harus bereaksi seperti apa pada suaminya ini.


Apakah ia harus memuji suaminya ini karena telah menjalankan wasiat gurunya yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri ? tetapi menikah tanpa persetujuannya dan sudah berbulan-bulan sejak penikahan itu terjadi mereka memperlakukannya seperti orang bodoh. Sampai saat kemarin menyambut wanita kedua suaminya dengan senyuman dan melayaninya dengan baik, tetapi Andre pun diam saja tak bergeming saat Hana terus memuji wanita itu dengan sangat antusias. Hana menyeringai, mengingat kembali bagaimana ia menyambut dan memuji wanita kedua suaminya itu dan terus membela suaminya pada arisan kemarin walaupun sudah diberitahu semua kebenaran tentang Andre, Hana tetap pasang badan dan tutup telinga saat itu, ia sangat mempercayai suaminya.


Setelah menghela nafas panjang, Hana menatap Andre. “Sejauh apa hubungan kalian ? Pegangan tangan ? Pelukan ? Ciuman ?”


Andre tak menjawab.


“Jawab Mas!” Pinta Hana dengan putus asa, mata sembab dan pucat, Hana sudah mempersiapkan dirinya untuk jawaban yang paling terburuk sekalipun.


Andre tetap saja diam tertunduk, ia tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya.


“Gak mungkin sejauh itu kan ? Gak mungkin Mas menidurinya kan ? Mas ? Perkiraan aku salah kan ? Semua itu gak benar kan ? Mas ? Mas! Mas!”


Hana perlahan meninggikan suaranya saat Andre terus saja membisu di hadapannya tanpa menatap dirinya sekalipun.


Hana mengetahui dengan menundukan kepala seperti ini menandakan Andre sangat bersalah kepada dirinya, jawaban dari semua pertanyaannya sudah dijawab oleh rasa bersalah Andre. Hana tak perlu lagi jawaban dari mulut Andre, ia sangat mengenal suaminya. Secara tidak langsung Andre telah mengatakan semuanya adalah benar dan Hana tak perlu mencari jawaban lagi. Sudah cukup untuk hari ini, badannya sangat lemas, kepalanya sangat pusing, tetapi ia tetap memaksakan diri untuk beranjak dari kursi karena tidak ada lagi yang ingin ia bicarakan bersama Andre. Susah payah untuk berdiri bangkit dari keterpurukan, Hana meninggalkan Andre yang masih saja menunduk di meja makan, tetapi setelah beberapa langkah Hana meninggalkan meja makan ia merasakan kram yang sangat hebat di perutnya dan ia langsung terjatuh ke lantai karena rasa yang sakit itu, tak lama setelah jatuh Hana mengalami pendarahan yang sangat hebat.


Andre yang panik segera mengangkat istrinya ke mobil untuk membawanya ke rumah sakit. Ia pun segera menelpon adiknya yang tinggal tak jauh dari rumahnya untuk menjaga Saka karena situasi yang darurat ini. Dokter segera memeriksa keadaan Hana sesampainya di IGD rumah sakit.


“Maaf, Pak. Kandungan Mbak Hana sangat lemah, membuat Mbak Hana mengalami keguguran. Sepertinya kondisi mental yang terguncang dan bekerja terlalu keras membuatnya mengalami kelelahan yang begitu parah baik mental maupun fisiknya.”


Andre tak bisa lagi menampakan wajahnya pada Hana, ia yang menyebabkan anaknya yang dikandung Hana meninggal. Dirinya benar-benar hancur, untuk kedua kalinya ia kehilangan anak yang sudah ia dan Hana tunggu-tunggu. Masih ingat sekali dua tahun lalu, Hana mengalami depresi sehingga harus berkonsultasi dengan psikolog untuk memulihkan mentalnya yang sangat jatuh sepeninggal anaknya.


Andre terus terduduk di depan ruang rawat tempat Hana berada, ia tak sanggup untuk melihat wajah Hana saat ini. Andre terus terduduk dan menangis karena rasa bersalahnya yang teramat sangat pada Hana dan calon anaknya yang belum sempat untuk melihat dunia. Andre terus menyalahkan dirinya sendiri karena ia memiliki banyak kesempatan untuk memberitahu Hana tentang Shinta sejak awal, tetapi kenapa sekarang.


Kondisi Hana tidak lebih baik dari Andre bahkan lebih buruk. Setelah mengetahui calon bayinya hilang Hana kembali depresi. Ia terus menyalahkan dirinya sendiri karena tak sanggup menjaga anaknya yang sangat ia nantikan. Kemarahannya ia lampiaskan dengan menangis, berteriak dan menghancur semua benda yang ada di dekatnya. Termasuk vas bunga yang ada di samping ranjangnya.


Hana terus menyalahkan dirinya sendiri dan merasa ia tak pantas lagi untuk hidup dalam dunia ini karena telah membunuh dua anaknya berturut-turut. Ia tak pantas lagi untuk menjadi ibu. Karena sangat putus asa dan menilai dirinya tak pantas lagi untuk hidup Hana segera meraih serpihan kaca yang sudah berserakan dimana-mana untuk melukai pergelangan tangannya dan memutus nadinya sendiri.


Andre yang mendengar keributan dan suara kaca yang jatuh segera memeriksa Hana. Betapa terkejutnya Andre menemukan Hana yang sudah terkapar dengan darah di bawah ranjang rumah sakit. Gerak cepat Andre segera menghampiri Hana dan menutup goresan itu dengan kain bajunya yang segera ia robek untuk mencegah darah terus mengalir dan segera memencet bel untuk memanggil suster atau dokter segera menolong istrinya.


Syukurlah Andre datang pada saat yang tepat sehingga dapat mencegah Hana kehabisan darah dan goresan yang dibuat Hana tidak terlalu dalam sehingga Hana masih bisa terselamatkan. Dokter saat ini memberi Hana obat penenang agar Hana tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan kembali sampai Hana siuman nanti. Melihat keadaan Hana, membuat Andre semakin merasa bersalah. Istrinya menjadi seperti ini karena dirinya.


“Maafkan aku, semua salahku. Kamu bebas melakukan apa saja padaku, bahkan membunuhku pun tak apa, tetapi jangan untuk menyakiti dirimu sendiri. Saka masih sangat membutuhkan ibunya, masih sangat membutuhkan dirimu. Maafkan aku Hana.” Andre terus memohon maaf pada Hana yang masih terkulai lemas diranjang rumah sakit. Ia terus mengenggam tangan Hana dengan sangat erat semalaman karena sangat khawatir dan ketakutan akan kehilangan Hana.

__ADS_1


__ADS_2