
Ikmal yang sepertinya menyukai Shinta masih menganggu pikiran Andre. Anak itu juga terlihat sangat berani mengantarkan Shinta ke rumah dan berbicara akan memenuhi semua permintaan Shinta di depan matanya. Andre tahu, Ikmal adalah satu-satunya teman Shinta yang mengetahui tentang pernikahan antara dirinya dan Shinta. Ikmal seharusnya menjaga sikapnya di depan Shinta dan tidak lagi terlalu mendekatinya setelah mengetahui status Shinta yang sudah menjadi istri sahnya.
Di Kampus, Ikmal terlihat selalu di dekat Shinta kemana pun dan dimana pun Shinta berada. Ve yang melihatnya pun ikut bingung sebenarnya ada apa diantara mereka berdua. Jangankan Ve, Shinta saja bingung.
“Kalian udah jadian ya ?” celetuk Ve.
“Enggaklah! Jadian dari mana.” Bantah Shinta.
“Doain aja.” Ucap Ikmal tersenyum ke arah Shinta.
Shinta langsung menatap Ikmal.
“Jodoh itu gak ada yang tau, Lo gak bisa nolak kalau emang itu sudah dipilihkan Tuhan.” Ikmal seraya bangkit dari bangku kantin.
Maksud dia apa ? padahal Ikmal jelas-jelas tahu aku sudah menikah -Shinta
“Gue duluan ya, ada kelas.” Pamit Ikmal.
“Shin! Jujur ada apa Lo sama Ikmal ?” tanya Ve yang sudah sangat kepo.
Shinta masih terdiam, ia masih dibuat bingung dengan sikap Ikmal. Shinta merasa ia harus memastikannya sendiri dengan Ikmal tentang ini. Ia sudah tahu Ikmal memiliki rasa padanya dari Ve, dan Shinta takut kedekatannya belakangan ini dengan Ikmal membuat Ikmal salah paham dengannya.
“Ikmal! Lo udah selesai kelasnya ?” tanya Shinta pada Ikmal yang sedang berkumpul dengan para anak BEM lainnya di sekretariat BEM.
__ADS_1
“Udah dari tadi, kenapa emangnya ?”
“Gue mau bicara sama Lo sebentar boleh ?”
“Boleh.”
Semua anggota BEM yang melihatnya turut curiga dan men”cie-cie”kan mereka berdua, karena rumor tentang mereka berdua di kampus saat ini benar-benar sedang hot-hotnya dibicarakan oleh semua orang. Alasannya sudah pasti karena mereka pernah menjadi pasangan yang paling diidolakan dan yang paling diharapkan berpacaran, menurut para mahasiswa mereka adalah pasangan yang sangat ideal Ikmal adalah ketua BEM dan Shinta pernah menjabat sebagai sekretarisnya.
Shinta mengajak Ikmal untuk berbicara di lantai paling atas karena disana sangat jarang mahasiswa berlalu lalang.
“Lo mau bicara tentang rumor tentang kita ?” tanya Ikmal yang langsung menebak.
“Bukan tentang itu aja, sebenarnya gue gak terlalu memikirkan rumor itu karena dari dulu kita udah sering di gosipin ini dan itu. Ini masalah yang berbeda.”
Shinta mengangguk.
“Gue... tau...” Shinta mulai menjelaskan, walaupun sebenarnya perasaannya gak enak. Ia sangat tahu, kalau ia menjelaskan tentang hal ini hubungan pertemanan antara dirinya dan Ikmal mungkin akan canggung atau bahkan Ikmal akan menjauhinya.
Tetapi Shinta tetap bertekad untuk mengatakan semua isi hatinya.
“Gue tau, lo suka sama gue dari Ve.... tapi Lo tau gue udah menikah..”
Ikmal mengangkat tangan Shinta, “Mana buktinya ?”
__ADS_1
Shinta bingung, dan hendak menarik tangannya. Ikmal tetap memegang tangan Shinta dan memperlihatkannya pada Shinta.
“Mana buktinya kalau Lo adalah seorang wanita yang sudah menikah ?”
Shinta terdiam, menatap tangannya sendiri yang diangkat oleh Ikmal.
“Di jari Lo belum melingkar cincin apapun. Apa Lo masih menganggap kalian adalah pasangan yang sudah menikah ?”
Shinta baru tersadar tentang hal itu.
“Gue sempat mengira, kalau Lo yang masih ingin menyembunyikan tentang pernikahan Lo sengaja untuk enggak memakai cincin pernikahan Lo ke kampus tetapi saat gue melihat Pak Andre di rumah dan masih memakai cincin pernikahannya yang pertama disaat dia lagi bareng sama Lo gue ngerasa ada yang aneh.”
Ikmal meletakan kembali tangan Shinta.
“dan gue menyimpulkan kalian memang tidak mempunyainya. Apa itu benar, Shinta ?”
Shinta terdiam.
“Apakah itu wajar ? Bahkan, kalau memang kalian tidak mempunyainya, Pak Andre seharusnya melepas cincin perkawinan pertamanya untuk menghargai Lo saat kalian sedang bersama.”
Shinta tertawa sedikit, walaupun airmatanya jatuh.
“Sekali lagi Lo benar....” Shinta mengusap airmatanya dan melanjutkan kalimatnya, “Gue sendiri bahkan baru tersadar tentang hal itu. Pernikahan kami dilaksanakan tanpa pesta resepsi, tanpa gaun yang indah, tanpa dekorasi, bahkan tanpa cinta... dan akhirnya kami sama-sama terjebak. Walaupun tanpa benda pengikat seperti cincin, kami berdua sudah terjerat dan tidak bisa melarikan diri dari pernikahan ini.”
__ADS_1
Tuhan, izinkan gue untuk merebutnya, dan membahagiakannya! Shinta pantas mendapatkan kebahagiaan yang jauh lebih baik dari ini. -Ikmal