
“Tunggu, bukankah itu adalah Pak Andre suaminya Bu Hana ? kenapa dia sama perempuan muda ? Ihh.. cium tangan loh, Pak Andre juga mencium keningnya, pasti ada apa-apa nih! Gak baik ini! Bu Hana harus tahu kelakuan suaminya, pasti akibat mereka tinggal berpisah, yang satu di Jakarta, yang satu di Bandung, sudah pasti akan terjadi seperti ini!”
“Ibu! Ayo cepat lagi lihat apa bu ? Foto-fotonya kan kemarin sudah, sekarang kita harus pulang! Keburu kemaleman bu!” panggil Suami dari seorang wanita yang secara tak sengaja melihat Andre dan Shinta saat di hotel dan sepertinya wanita ini sangat mengenal baik Andre dan Hana.
***
Setelah pertemuannya yang gagal dengan Hana, Shinta kembali ke Jakarta karena sudah tidak ada alasan lagi ia tetap berada di Bandung. Ia pun tidak memiliki keinginan untuk berkunjung ke tempat wisata disana. Di samping itu semua ia pun sudah memiliki kegiatan lain di kampus, walaupun memang semester baru belum di mulai, ia masih ada beberapa kegiatan di organisasinya. Melupakan semua masalah tentang hubungannya yang rumit.
“Proker kita yang baru dari divisi pendidikan untuk berkeliling dan mengedukasi anak-anak TK tentang kebersihan dan cuci tangan. Minimal target kita bisa 100 TK.” Jelas Marni, Kepala divisi pendidikan.
“100 TK ? yakin, Mar ?” tanya Andre, Kepala divisi olahraga.
“Yakin, kita bagi-bagi tim. Dikhususkan untuk TK yang ada di desa, yang kelihatannya lingkungannya gak mengajarkan masalah sanitasi.”
“Kalo gue boleh saran, sebenernya ide lo bagus Mar tapi apa kita punya waktu buat melakukan itu semua ? 100 TK lagi, mungkin iya bagi-bagi tim bagus menghemat waktu tapi biaya ? kita juga harus pikirin itu sih.” Bella
“Gak akan jauh-jauh, paling sekitaran Jakarta, paling jauh mungkin Bandung. Oh iya, gue hampir lupa. Kemarin, gue udah tanya-tanya sih sama guru TK di bandung, dia itu kepala sekolah dari sekolah TK yang gratis di Bandung dan lagi membutuhkan banyak donatur dan relawan. Gimana kita mulai dari situ ? kita ke Bandung bisa pake mobil Ikmal kan. Iya gak, Mal ?”
Ikmal hanya mengancungkan jempol tanda setuju.
“Kita semua ?” tanya Ve.
__ADS_1
“Mobil gue Cuma muat 7 orang, paling banyak 9 orang itu pun pasti dempetan.”
“Perwakilan per divisi aja deh. Bapak ketua BEM Ikmal, seketaris Shinta, Ve, Bella, Marni, Mail, Andi. Oke ?”
“Sisanya tolong kerjain proker yang lainnya ya.” Jelas Ikmal.
“Nanti ke Bandung sekalian ke lembang yuk.” Ajak Ve yang memang suka sekali jalan-jalan.
“Berisik lo! Mau jadi relawan juga masih mikirin jalan-jalan, aneh!” sahut Mail yang kesal dengan Ve.
“Apa sih lo, berisik!” sambar Ve lagi.
From : Bude Karin
Pesan masuk, Shinta langsung bergegas saat membaca pesan itu karena Bude Karin berasal dari Bangka Belitung ia tak mau membuatnya menunggu terlalu lama. Shinta segera pamit dari rapat itu yang sebenarnya ia tak begitu memerhatikan apa isi rapat itu.
“Mau gue anterin ?” tanya Ikmal.
“enggak usah, makasih.” Ucap Shinta singkat dan langsung bergegas pergi.
“Sabar ya bro. Di waktu yang tepat lo pasti bisa.” Mail yang seolah-olah mengerti apa yang dirasakan Ikmal hanya menepuk-nepukkan tangannya ke pundak Ikmal.
__ADS_1
***
“Maaf bude, Shinta dari kampus.” Shinta yang baru datang langsung menemui bude Karin yang datang bersama Jeje, sepupu laki-lakinya.
“Iya, Bude mau minta maaf karena baru bisa kemari setelah bapakmu meninggal.”
“Gak apa-apa, Bude. Ada apa bude jauh-jauh kemari ? mau menginap ?” tanya Shinta.
“Tidak, Bude sama Jeje langsung mau lanjut ke Bandung. Bude kesini mau ketemu kamu aja, nengok ponakan bude satu-satunya.”
“Iya makasih bude.”
“Bude dengar dari mbak di rumah ini kamu sudah menikah ?” tanya Bude yang membuat Shinta langsung tersentak. Ia bingung bagaimana ia akan menjelaskan persoalan rumit ini, bagaimana bisa ia memberi tahu kenyataan bahwa ia sekarang adalah seorang istri kedua.
“Kamu ini, kenapa tidak mengundang-undang dan membuat resepsi ? jika memang sudah sah, sebaiknya diberitakan agar tidak membuat salah paham orang. Bude tahu kalo di jakarta ini rasa kekeluargaannya hampir tidak ada dan semuanya hidup masing-masing tapi sampai bude sendiri keluargamu sendiri tidak diberitahu itu keterlaluan Shinta!”
“Iya Shinta, kakak setuju. Kita kan adik-kakak sepupu, Kak Ina yang sering kamu curhati pun sampai tidak tahu. Ini aneh, kamu tidak...” jeje tidak meneruskan kalimatnya melainkan menatap Shinta dengan penuh kecurigaan.
“Tidak.. tidak.. tidak.. Shinta bukannya tidak mau memberi tahu tapi memang Shinta be...lum menikah... Laki-laki yang dilihat mbak itu memang .... pasangan Shinta tapi... kita belum menikah. Iya begitu, maaf membuat semuanya khawatir sama Shinta.”
“Oh seperti itu, syukurlah. Tetapi sebaiknya jangan terlalu sering lelaki itu datang apalagi sampai menginap. Tidak baik!” jeje.
__ADS_1
“Oh iya, kedatangan kita juga mau memberitahu Jeje sekarang akan bekerja di Jakarta. Jadi kalau ada apa-apa kamu bisa bilang ke kakakmu. Nanti Jeje sering-sering nengokin kamu.”
Tak ada kebohongan yang abadi. Semuanya akan berakhir pada waktunya, sebelum itu satu kebohongan tersebut akan terus tertutupi dengan kebohongan lainnya.