PENGANTIN KEDUA

PENGANTIN KEDUA
Episode 30 : Ngambek


__ADS_3

Shinta segera mengangkat telepon yang sangat ia tunggu-tunggu.


“Assalamualaikum”


Shinta segera menjawab, “Mas kemana aja!”


“Jawab salam saya dulu.”


“Waalaikumsalam, Mas kemana aja!”


“Saya sekarang baru saja sampai rumah sakit, maaf saya telat. Apa kamu masih di rumah sakit ?” tanya Andre.


“Mas disini ? sejak kapan ?”


“Shiinta... bisakan jawab saja pertanyaan saya dengan jawaban saja bukan pertanyaan lagi.”


“Maaf...”


“Sekarang dimana kamu ? Saya sudah ada di lobi rumah sakit.”


“Lobi ? t-tapi...” Shinta segera melirik keberadaan Ghea yang tadi duduk bersamanya. Ghea sudah pergi. Aman...


“I-iya... Shinta juga ada di lobi. Shinta lagi di kantinnya, Mas.”


“Ya udah... Saya kesana sekarang.” Andre segera menutup teleponnya dan berjalan menuju kantin.


“MAS!” Shinta memanggil Andre.


Andre hanya menatap Shinta dan segera pergi menghampirinya, Shinta melihat aura yang berbeda pada Andre. Andre tampak murung, yang biasanya senyuman selalu ada di raut mukanya saat ini Shinta melihat hanya kesedihan dan kekecewaan. Sepertinya terjadi sesuatu yang tidak mengenakan di Bandung kemarin. Shinta jadi merasa bersalah karena tadi malam ia malah berpikiran yang tidak-tidak antara Andre dan Hana.


“Nomor antrian berapa ?” tanya Andre.


“45...” jawab Shinta.


Andre hanya mengangguk dan diam.


Shinta sangat bingung, Andre bersikap sangat tidak biasa. Ingin rasanya ia bertanya padanya tetapi ini adalah tempat umum apakah etis membicarakan masalah rumah tangga di tempat seperti ini ?


Akhirnya Shinta memutuskan untuk menahan pertanyaan-pertanyaan yang sudah berderet di dalam kepalanya dan menunggu sampai hanya ada mereka berdua saja.


“Mas... Ayo kita kesana untuk mengecek sekarang nomor antrian berapa.” Ajak Shinta.


Andre mengangguk, “Ayo..” jawabnya singkat.


****


Sudah selesai, dokter kandungnya menyatakan kandungan Shinta sangat sehat dan janinnya berkembang dengan baik. Shinta sangat senang karena ia kembali dapat mendengar detak jantung calon bayi yang ada di perutnya, rasanya semakin nyata dan ia pun baru tersadar perutnya semakin terlihat membuncit. Tetapi kebahagiaannya seperti tidak dirasakan juga oleh Andre, Andre masih tetap diam dan tadi saat detak jantung calon bayinya di perdengarkan Andre sama sekali tidak bergeming.


Ada apa dengan Andre ?


Itu adalah pertanyaan pertama yang ada di dalam benak Shinta, ia tahu ini adalah masalah yang sangat serius dan ia harus mengorek apa yang sebenarnya terjadi di Bandung kemarin.


“Mas ?” tanya Shinta pada Andre.


“Apa ?” jawab Andre sambil bersiap untuk menyetir mobil.


Shinta mengenggam tangan Andre sekejap untuk menghentikan aktivitasnya. Andre menatap Shinta bingung.


“Apa kita bisa bicara sekarang ?” tanya Shinta.


Andre hanya menatap Shinta.

__ADS_1


“Apa yang terjadi di Bandung ? dan amplop yang kemarin mas terima itu apa benar dari pengadilan agama ?” tanya Shinta.


Andre terdiam sejenak, lalu tangan yang satunya mengangkat tangan Shinta. Andre tidak menjawab, ia tetap diam dan langsung menyetir mobilnya.


Sebenarnya ada apa ? Shinta benar-benar dibuat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang dilakukan Hana lagi sampai-sampai membuat Andre menjadi seperti ini. Surat perceraian sudah cukup untuk membuatnya shock seperti kemarin tetapi sepertinya yang terjadi di Bandung kemarin benar-benar membuat besar sampai-sampai merubah sikap Andre menjadi sependiam ini.


“Mas sudah makan ?” tanya Shinta, ia masih berusaha untuk membuat Andre berbicara lagi padanya.


“Saya tidak lapar, kamu lapar ?” tanya Andre.


“Shinta... ingin nasi uduk.”


“Nasi uduk ? ini udah siang, Shinta. Yang lain aja bisa ?”


“Tapi lagi pengennya itu.”


“Besok pagi aja nasi uduknya, sekarang makan yang ada dulu.”


“Tapi...”


“Shinta! Udah ya! Jangan ribet.” Potong Andre dengan suara yang sedikit di tinggikan.


Shinta langsung diam dan menunduk, ia tak berani menatap Andre lagi. Walaupun hanya dibentak sedikit, tetapi entah mengapa itu berhasil membuat Shinta sedih. Ia membuang muka dari Andre dan berusaha untuk menahan airmatanya yang hendak jatuh.


Aku hanya mau Mas Andre memerhatikanku apakah aku salah ? sampai harus dibentak seperti itu. -Shinta


Andre mengetahui suaranya agak sedikit keras untuk Shinta, ditambah lagi ia tidak pernah membentak Shinta seperti itu. Melirik sebentar pada Shinta, ia menangis.


“Shin...” panggil Andre.


Shinta hanya diam, ia masih memalingkan muka dari Andre dengan sesekali mengusap airmatanya yang terus keluar.


“Shinta... kamu nangis ?” tanya Andre yang sekarang berusaha untuk lebih lembut.


“Shinta...” Andre berusaha membujuk Shinta untuk kembali mendengarnya dan memalingkan wajahnya untuk menatap dirinya.


“Kamu mau nasi uduk dimana ? Ya udah saya cariin ya. Maaf tadi saya meninggikan suara.” Ucap Andre.


Shinta masih memalingkan muka dengan terus mengusap airmatanya yang terus keluar.


“Shinta... Kalo kamu diem aja kaya gini. Kita akan tetap disini sampai kamu mau berbicara.”


Shinta yang mendengar ancaman seperti itu, langsung menatap Andre. Matanya sudah sembab karena menangis.


“Gak enakkan...” ucap Shinta.


Andre kebingungan.


“Gak enakkan didiemin kaya gitu, Shinta juga ngerasain perasaan yang sama kaya Mas seharian...” Shinta terus menangis.


“Udah ya... maafin, Mas. Mas yang salah.”


“Shinta ngerasa takut dan kebingungan secara bersamaan, Mas Andre telihat berbeda bahkan saat tadi cek kandungan sepertinya sekarang hanya Shinta aja yang akan bahagia menyambut kelahiran dia...” Shinta menghela nafas, mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal karena emosi dibarengi dengan tangisan.


“Apa maksud kamu, Shinta! Kenapa kamu berbicara seperti itu!”


Pertengkaran dimulai. Suasana makin memanas, Andre yang saat ini memiliki emosi yang tidak stabil karena memikirkan Hana dan Shinta juga yang memiliki emosi yang tidak stabil karena dirinya sedang berbadan dua. Tentu saja, pertengkaran diantara manusia yang memiliki emosi tidak stabil tidak dapat dihindarkan.


“Di wajah Mas Andre tadi, saat diperdengarkan detak jantung si kecil... Mas Andre terlihat tidak bahagia. Hanya Shinta yang merasa senang mendengarnya tadi! Di tambah lagi, Mas Andre selalu mendiamkan Shinta sejak Mas Andre datang tadi. Kalau misalnya memang terpaksa berada disini, kenapa harus datang!”


“Saya datang karena kamu yang memintanya!”

__ADS_1


“Jika Mas Andre tidak mau datang, Mas Andre tinggal menolaknya. Shinta juga tidak akan menuntut Mas Andre! Apalagi jika tujuannya itu karena Mbak Hana.”


Andre menatap Shinta, tak habis pikir ia bisa berpikiran seperti itu.


“Mas Andre memang selalu mengutamakannya kan.” Gumam Shinta


“Apa kamu bilang ?” Andre mendengar sekilas apa yang diucapkan Shinta.


Shinta menatap Andre tajam.


“Mas Andre hanya memedulikan Mbak Hana. Mas Andre memberi perhatian pada Shinta pasti karena anak yang dikandung Shinta kan! Sekarang, apakah Mas Andre masih peduli dengan anak ini ?”


“Saya tidak pernah berpikiran seperti itu! Antara kamu dan Hana sama-sama berharga bagi saya!”


“Antara aku dan Mbak Hana, Jika harus memilih... apakah Mas Andre akan memilihku ?”


Andre terdiam menatap Shinta.


Aku tahu kemana hatimu akan memilih, tapi aku memang bodoh karena masih berharap kamu akan memilihku-Shinta


*****


Di Bandung.


“Mas Andre sudah pulang ke Jakarta, setelah seharian mencari-cari keliling Bandung keberadaan, Mbak.” Ovi sedang berbicara lewat telepon.


“Makasih, Ovi. Kamu sudah merahasiakan alamat baru, Mbak.”


“Untuk sekarang, ini lebih baik. Walaupun Kak Andre adalah kakak kandung Ovi tetapi saat ini Ovi seperti tidak mengenali kakak kandung Ovi sendiri. Kak Andre selalu membenarkan apapun yang ia lakukan mengatasnamakan cinta, namun Mbak Hana tau sendiri cinta yang mereka miliki itu salah.”


“Bukan salah, Vi. Hanya saja, tidak tepat. Mbak sudah ikhlas.”


“Bagaimana bisa Mbak bisa setegar itu ?”


“Tegar darimana, Vi! Kamu tahu sendiri bagaimana terpuruknya Mbak saat itu. Ini merupakan sebuah proses yang panjang, sampai akhirnya Mbak bertemu dengan kata ikhlas.”


“Sekali lagi, maafin kakak Ovi ya, Mbak Hana.”


“Untuk apa kamu meminta maaf, tidak ada yang harus dimaafkan dari kamu.”


“Mbak Hana orang baik, semoga segera dipertemukan dengan orang baik juga.”


“Aamiin, Oh iya sebenarnya maksud mbak menelpon kamu itu. Mbak mau memberi tahu, Mbak dan Saka akan pindah ke Bali.”


“Pindah sejauh itu ?”


“Disana ada keluarga Teteh Ratih, Mbak juga gak tau bakal disana sampai kapan. Kalau nanti ada waktu kita mungkin bisa bertemu disana.”


“Haruskah pergi sejauh itu, Mbak ? Ovi jadi gak ada temen curhat di Bandung.”


“Kita masih menelpon dan video call, Vi. Mbak akan selalu menjadi kakak perempuan bagimu dan Ovi akan selalu menjadi adik perempuannya Mbak Hana.”


“Makasih ya, Mbak. Makasih udah tetap berhubungan baik dengan Ovi.”


“Iya.. udah ah makasih dan maaf-maafannya. Mbak harus beres-beres lagi nih. Kita lanjut nanti ya.”


Panggilan diakhiri. Hana kembali melanjutkan membereskan baju-baju milik Saka dan dirinya dari laundry room, karena baju-baju yang lainnya masih tersusun rapi di koper. Saka yang selalu ingin ikut dengan Hana bermain di sekitar laundry room. Terlihat sekilas Saka masih anteng bermain bersama mobil-mobilannya sambil tangannya terus melipat baju-baju yang tadi sudah dikeringkan karena laundry yang didatangi Hana ini adalah laundry mandiri bukan sebuah jasa pencucian baju, jadi disini Hana tetap harus mencuci dan mengeringkan bajunya sendiri.


Karena terlalu asik membereskan baju, Hana sampai lupa pada Saka. Ia sudah selesai melipat baju dan hendak mengajak Saka pulang, tetapi Saka tidak ada di tempat.


Saka menghilang.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2