PENGANTIN KEDUA

PENGANTIN KEDUA
Episode 5


__ADS_3

Suami ? Pernikahan ? bukan seperti ini ! Aku sangat membencinya !


Tengah malam, Shinta terbangun dan beranjak untuk mengambil segelas air minum untuk dirinya. Saat keluar dari kamar ia menemukan Andre sedang tertidur di sofa. Ia berusaha untuk tidak peduli dan berlalu ke dapur untuk meneguk segelas air tetapi ia tak bisa membohongi dirinya sendiri, di dalam pikirannya terus dipenuhi Andre.


Mengapa ! Lelaki itu terus saja menghantuiku.. sekeras apapun aku menolak keberadaannya, sekuat itu pula aku terus memikirkannya.


Shinta mengambil sebuah selimut dan satu buah bantal dari kamar ayahnya, untuk dipakaikan pada Andre yang sedang tertidur pulas di sofa dengan sikunya dijadikan bantalan. Dengan perlahan ia mengangkat kepala Andre untuk menyisipkan bantalnya disana, berusaha untuk membuat nyaman setelah itu Shinta memakaikan selimut pada tubuh suaminya itu. Aroma Andre, aroma yang akan terus teringat dalam ingatan walaupun Shinta tak benar-benar ingin mengingatnya. Wajah itu, wajah yang damai jika saja Andre adalah miliknya seorang pasti ia akan merasa sangat bahagia. Tetapi tidak, ia harus buang rasa itu dan kembali ke kenyataan bahwa ia hanya sekedar anak asuh yang akan dilepaskan saat waktunya tiba nanti.


“Selamat tidur, Pak” bisiknya dengan terus memandang wajah rupawan itu.


Setelah itu, Shinta segera beranjak karena ia tak ingin tertangkap basah sedang memandanginya dan kembali ke kamarnya. Shinta sengaja bangun lebih pagi untuk menghindari Andre, ia berencana untuk membuat sarapan dan pergi ke kampus lebih awal, ia hanya tak ingin Andre menawarinya tumpangan karena ia yakin semua mata akan tertuju padanya dan menimbulkan rumor-rumor tak jelas. Andre sudah dapat mengira hal itu akan terjadi, tetapi ia membiarkan Shinta untuk melakukan hal yang membuatnya nyaman. Ia mengetahui dengan pasti bahwa gadis itu pasti belum nyaman dengan hubungan pernikahan yang sangat tiba-tiba ini. Jangankan dirinya, gadis 20 tahun yang terpaksa nikah karena wasiat ayahnya sebelum meninggal, bagi Andre pun hubungan pernikahan ini masih sangat canggung dan ia masih harus berusaha untuk lebih dekat dengan istri keduanya, selain itu ia juga harus menemukan cara dan waktu yang tepat untuk memberi tahu dan menjelaskan tentang pernikahan keduanya yang dilaksanakan terburu-buru seperti ini pada Hana, ini adalah masalah sebenarnya.


***


“aaa.. akhirnya UAS selesai juga. Nanti malem jam 8 ya di stasiun” Ve menghela nafas, karena selama pekan UAS biasanya adalah minggu paling stres bagi para mahasiswa.


Aku hanya menjawabnya dengan senyuman. Aku sudah mengemas semua barang-barangku pada koper kecil yang akan ku bawa nanti, sebenarnya aku tak benar-benar ingin pergi tetapi memang benar aku perlu sedikit udara segar.


Ponsel ku berdering, dia menelponku entah kali ini apa yang ia khawatirkan. Ya, lelaki itu hanya menganggapku sebagai gadis kecilnya saja, pernikahan ini hanya sebuah wasiat baginya tak ada arti apapun lagi, lantas apa lagi yang aku pikirkan selama ini, cinta ? Dia hanya mencintai keluarganya saja, bukan aku. Aku sama sekali tak berniat untuk menerima telepon itu, aku akan menjauhinya perlahan karena aku tak mau terlena dengan perhatian yang ia berikan, lebih baik mencegah daripada terlanjur sakit hati.


Masih pukul empat sore, aku masih mempunya waktu sekitar empat jam lagi sebelum waktu keberangkatan. Ku manfaatkan waktu senggangku dengan berbaring sejenak, merebahkan tubuh-tubuhku yang kaku selama beberapa hari terakhir karena kesibukanku belajar menyiapkan UAS kemarin. Hah.. aku menghela nafas, ponsel itu sedaritadi terus berdering mungkin sudah lebih dari sepuluh panggilan tak terjawab disana. Apakah lelaki itu tak mempunyai pekerjaan ? mengapa ia sangat ingin mengetahui keadaanku tiap menit, itu sangat melelahkan. Selagi memikirkan itu, tak terasa aku kantukku datang dan aku terlelap.


“Shin ! Shinta ?” panggil seorang yang masuk ke rumah tanpa permisi, sudah dapat dipastikan itu adalah Andre karena hanya ia yang mempunyai kunci ganda rumah ini.


Aku terbangun saat ia terus memanggil-manggil namaku, mataku langsung tertuju padanya yang sudah duduk di kursi belajarku dengan menghadapku, tatapannya seperti akan menerkamku. Apa dia saat ini sedang marah ? hanya karena aku tak menjawab telepon itu, benarkah ? apakah ia harus sepeduli itu, toh dia pun tidak benar-benar peduli padaku yang ia lakukan sekarang hanyalah sebuah peran yang dimainkannya sebagai pengganti ayah saja. Bisakah dia pergi dari hadapanku saja, aku benar-benar muak dengannya, aku serius.


“Shinta, tolong dengarkan saya sebentar saja” ucapnya.

__ADS_1


Aku mulai mendudukan badanku dan turun dari ranjang untuk merapikan bajuku yang kusut dan rambutku. Mengolesi bibirku dengan pemerah tipis, telingaku terus menolak suaranya sekarang.


“Saya tak mengerti mengapa kamu bersikap seperti ini, saya suamimu jadi dengarkan aku. Shinta!” tukasnya sepertinya ia benar-benar marah sekarang.


“Saya akan pergi jam tujuh malam, dan akan pulang minggu depan. Selama liburan Anda bisa bersama keluarga Anda, saya akan melanjutkan liburan saya ke labuan bajo. Saya tidak perlu kepedulian Anda sama sekali, permisi saya harus pergi sekarang.” Aku langsung mengangkat koperku dan berjalan menuju pintu.


Tetapi Andre tiba-tiba menahan tanganku, ia benar-benar memegangnya sangat erat.


“Saya benar-benar tidak mengerti mengapa kamu bersikap seperti ini ? semalam kita masih baik-baik saja, tetapi mengapa sekarang kamu terkesan ingin menghindari saya.”


“Saya benar-benar harus pergi sekarang, jika tidak saya akan terlambat”


“Jika saya melarangmu pergi sebagai suamimu, apa kamu akan tinggal ?” tanyanya


“Mengapa saya harus tinggal ? Toh, Bapak pun akan pulang ke keluarga bapak. Pak, saya benar-benar harus pergi sekarang.”


“Mengapa harus sekarang ? Mengapa tidak lebih awal ?”


“Karena saya mencari waktu yang tepat”


“Dan waktu itu adalah waktu aku liburan dengan teman-temanku ? Bapak benar-benar... Bapak kira dengan semua bentuk kepedulian itu aku merasa senang ? berterima kasih ? dan bahagia ?, itu salah besar, penilainku sekarang pada bapak adalah bapak tidak benar-benar peduli padaku. Bapak hanya tidak bisa menolak permintaan Bapak saya waktu itu. Sekarang, sepertinya aku harus pergi. Selamat liburan bersama keluarga bapak, jangan pedulikan aku lagi dan kita bisa hidup masing-masing sekarang, aku bisa hidup sendiri tanpa belas kasihan bapak, ceraikan aku dan bapak pun bisa hidup seperti semula bersama keluarga kecil bapak. Selamat tinggal!”


Aku segera meraih koperku dan keluar dari kamar itu hendak memesan ojek daring, namun Andre segera meraih tanganku dan menariknya menuju mobilnya.


“Jangan bertindak seolah-olah bapak adalah suami yang baik, aku benar-benar sudah muak. Di mata bapak aku hanya seorang anak asuh bukanlah seorang istri.”


“Masuklah selagi saya masih bersikap baik padamu” Andre dengan tegas membukakan pintu untukku dengan emosi yang berusaha di redamnya.

__ADS_1


Tentu aku tak langsung menerimanya, dan hendak memesan ojek daring. Namun Andre merampas ponselku lalu membantingnya ke tanah sampai-sampai ponselku hancur berkeping-keping dan sekali lagi memerintahkanku untuk masuk kedalam mobilnya. Jujur saja aku sangat terkejut dengan kemarahan Andre, dan segera masuk ke dalam mobil. Andre memasukan koperku ke mobilnya lalu menjalankan mobil dengan raut wajah yang sangat kusut.


“Dimana kamu akan menginap ?” tanya Andre dengan pandangan fokus pada jalanan.


Aku hanya diam


“Jika kamu terus diam, aku akan menghubungi temanmu sekarang dan menanyakan semuanya.”


“Hotel Fermata” jawabku


“Untuk di Labuan Bajo ?”


“Belum tahu”


“Aku akan mengirimkan ponsel baru untukmu dan menitipkannya pada pegawai di hotel sana, berjanjilah untuk menghubungiku setiap saat”


Aku hanya diam


“Shinta!”


“Apakah aku perlu berjanji ? Aku bukan anak kecil lagi! Jangan perlakukan aku seperti anak kecil, bahkan Bapak saya saja tidak pernah memperlakukan saya seperti ini!”


“Jangan samakan saya dengan Bapak! Saya ini suamimu”


“Suami... Terserah apa kata mu, aku tak peduli. Urus saja anak dan istri Bapak. Cukup bagi saya untuk menjadi orang ketiga dari rumah tangga bapak. Saya harap bapak segera ceraikan saya, Saya bisa mengurus diri saya sendiri sampai lulus bahkan tanpa bantuan bapak!.. Terima kasih tumpangannya, tolong berhenti di pangkalan ojek itu, saya lebih baik naik ojek saja karena sepertinya saya akan terlambat.”


Andre tak mengindahkan ucapanku dan menaikan kecepatan mobilnya untuk segera sampai di stasiun. Setelah sampai, aku segera turun dari mobil, mengambil koperku dan berlalu begitu saja tanpa pamit padanya. Jangan menoleh ke belakang Shinta! Kamu harus kuat meninggalkannya, itu semua sudah cukup untuk membuatnya mengakhiri hubungan ini. Hubungan yang tak berguna dan sia-sia ini.

__ADS_1


Maafkan aku karena tidak cukup baik untuk menjadi suamimu.


__ADS_2