PENGANTIN KEDUA

PENGANTIN KEDUA
Episode 41 : Pelindung Bunga


__ADS_3

“Assalamualaikum” Hana mengetuk pintu rumah Ovi, Adik dari Andre.


Hubungan mereka masih baik-baik saja, mereka selalu dekat bahkan sampai hari ini walaupun hubungan Hana dan Andre tidak baik-baik saja. Hana masih sering menghubungi Ovi begitu juga sebaliknya.


“Ovi.” Panggil Hana


Ovi segera membuka pintu untuk Kakak iparnya atau akan segera menjadi mantan kakak iparnya.


“Mbak Hana, sudah di Bandung ? Masuk dulu.” Ajak Ovi


Mereka berbincang-bincang seperti dahulu sebelum ada kejadian ini. Selayaknya adik dan kakak perempuan, hampir semua hal mereka bicarakan. Termasuk tentang Ovi yang baru memulai hubungan dengan orang baru, dan Hana yang sedang menikmati kehidupannya di Bali.


“Bagaimana dengan sidang mediasinya ?” tanya Ovi


“Mas Andre masih tetap mempertahannya. Sepertinya ini akan jadi sidang yang panjang.” Hana menghela nafas panjang.


Ovi mengenggengam tangan Hana dengan erat, menguatkan dan menegaskan bahwa semuanya hampir berakhir.


“Setelah semua ini selesai, Ovi sarankan untuk pergi ke Psikolog. Walaupun Mbak Hana terlihat baik-baik saja, tetapi Ovi yakin disini…” Ovi menunjuk dada Hana, “tidak akan langsung baik-baik saja.”


Hana mengangguk, “Aku ingin sekuat kamu, Vi. Mengatasi semuanya sendiri. Sekarang lihat aku, Kalau gak ada kamu atau Teh Ratih pasti aku sudah gila dan Saka… Gak tahu nasibnya gimana.”


“Waktu itu Mbak Hana juga sangat membantu kok, kamu gak pernah meninggalkan aku sendiri dan selalu membantu menjaga anak-anakku. Mencegah pria itu masuk ke rumah dan masih banyak lagi. dan sekarang giliran Ovi untuk melindungi Mbak Hana.”


“Terimakasih Ovi.” Hana memeluk Ovi dengan sangat erat.


***


Saka baru bangun dari tidur siangnya, seperti anak kecil pada umumnya pada saat pertama kali ia bangun pasti akan menanyakan keberadaan ibunya. Ketika ia mengetahui ibunya tidak ada Saka merasa sedih dan tidak aman.

__ADS_1


Tetapi Rafli ada bersama Saka dan berusaha meyakinkan anak berusia 4 tahun itu tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ibunya akan segera pulang dan Saka akan tetap aman bersamanya dengan Ratih serta Mike.


“Telpon Mama…” Pinta Saka


Rafli tidak ada pilihan lain karena Ratih sedang berbelanja bahan makanan dan Mike harus kembali ke rumah sakit. Entah mengapa tuan rumah di rumah ini begitu mempercayainya menjaga anak-anak dan barang-barang berharga


mereka.


Rafli mengambil telponnya dan memanggil Hana, tidak beberapa lama terhubung.


“MAMAAaaaaaaa” Saka langsung berteriak ketika wajah ibunya terlihat di layar telepon.


“Saka, kenapa nangis ? Mama kan udah bilang Saka gak boleh cengeng karena Mama harus pergi sebentar.” Jelas Hana dalam sambungan telepon.


Saka langsung menghapus air matanya dan menahan tangisnya, ia sangat berusaha agar tidak menangis di depan Hana.


Anak kecil itu sesekali mengusap matanya yang terasa basah karena ia tidak bisa menahan airmatanya jatuh.


“Sakaaaa, Kita main yuk! Kita main Rumah-rumahan” Ajak Naomi disambut baik oleh Saka.


Saka berpamitan pada Hana dan memberikan Telepon itu pada Rafli, “Mbak Hana…” Panggil Rafli cukup canggung.


“Teh Ratih kemana, kok Dokter yang nelepon saya sama Saka.”


“Mbak Ratih lagi belanja dan Mike harus kembali ke Rumah Sakit jadi saya yang menjaga anak-anak.” Jelas Rafli


“Maaf Merepotkan ya Dokter. Setelah semua urusan saya selesai, Saya akan membuatkan brownies seperti waktu itu untuk ucapan terimakasih telah menjaga anak-anak hari ini.”


“T-tidak usah. Saya memang suka dengan anak-anak apalagi Saka anak yang baik.”

__ADS_1


“Terimakasih, Dokter.”


Rafli mengangguk menatap Hana dari layar teleponnya.


Harusnya tidak apa-apa jika saya menatapnya dari layar telepon seperti ini -Rafli.


“Maaf, saya harus melanjutkan rapat saya dengan pengacara. Sekali lagi maaf merepotkan karena harus menjaga anak-anak.”


“Iya tidak apa-apa, saya akan menjaga Saka dengan baik.”


“Baiklah, terimakasih. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam”


Hana menutup sambungan teleponnya dan Rafli beranjak dari duduknya untuk mencari Saka dan anak-anak sambil terus tersenyum lebar. Entah mengapa saat ini ia merasakan senang dan sangat antusias. Saat menemukan Saka


yang sedang bermain dengan Naomi dan Niana ia langsung berlari dan memeluk Saka dengan erat.


Bermain bersama dan tertawa bersama Saka, Rafli tidak ingat kapan kali terakhir ia merasakan seantusias dan sesenang ini karena satu telepon dari wanita. Sejak pernikahan pertamanya hancur dan kehilangan anaknya,


Rafli selalu mengurung diri dan mengunci dirinya sendiri dari orang lain.


Walaupun ia terlihat ramah, tetapi sebenarnya saat dirinya sendiri ia sangat rapuh. Tidak pernah terpikirkan olehnya akan membina hubungan baru dengan orang baru, karena ia tidak ingin kembali menjadi pecundang dan menyakiti orang-orang yang ia cintai. Sampai pada akhirnya ia bertemu dengan Hana yang pada saat itu terlihat sangat rapuh setelah keguguran pertama.


Awalnya ia hanya merasa empati karena ia juga pernah merasakan hal yang sama dengan Hana, kehilangan seorang anak. Tidak ada orang tua yang bisa menerima kenyataan itu bahkan untuk anak yang bahkan belum sempat menghirup udara di bumi. Sejak saat itu hubungannya dengan Hana berjalan dengan baik karena mereka merasa memiliki nasib yang sama tetapi tidak lebih dari itu. Rafli juga sangat tahu diri karena Hana adalah wanita bersuami dan memiliki seorang anak.


Ia hanya bisa mengagumi wanita itu dari jauh dan menjaga jarak agar ia tidak menyakitinya seperti apa yang ia lakukan pada istri dan anaknya terdahulu karena ambisinya.


Sampai saat ini, perasaan Rafli terhadap Hana akan tetap sama. Hana akan terus menjadi wanita yang ia kagumi dan Rafli berharap wanita itu menemukan kebahagiaannya bersama dengan Saka, berada di dekatnya dan bisa melindungi agar Hana tidak tersakiti lagi sudah cukup bagi Rafli. Karena baginya bunga yang indah akan tetap indah ketika seseorang tidak memetiknya.

__ADS_1


__ADS_2