PENGANTIN KEDUA

PENGANTIN KEDUA
Episode 18 : Keterpurukan


__ADS_3

Malam yang sangat panjang bagi Hana, Shinta dan Andre. Saatnya mereka beristirahat sejenak, melupakan permasalahan yang terjadi hari ini. Mereka yang sudah hancur mencoba untuk menata kembali diri untuk bisa bangkit sendiri dari keterpurukan. Terutama Hana, selama sebulan terakhir ia hidup layaknya mayat hidup. Saka ia titipkan kepada adik dari Andre karena ia pikir Saka tidak harus melihat sisi mengerikan dirinya.


Beberapa kali ia mencoba untuk menghabisi dirinya sendiri namun selalu gagal karena kakak perempuannya yang mendampinginya sebulan kemarin selalu mencegahnya. Hana merasa psikiater saja tidak cukup untuk dirinya sekarang, tidak ada yang dapat menyembuhkan luka besar dihatinya.


“Hana! Kamu mau hidup seperti ini terus ?” Kakak perempuan Hana, Ratih entah sudah mengucapkan kalimat itu berapa ratus kali tetapi tak pernah direspon oleh Hana.


Hana hanya mengurung diri di kamarnya dan menangis seharian. Jika tidak menangis, ia hanya menatap jendela sambil memegangi perutnya. Makanan yang diantarkan Ratih hampir tidak pernah dimakannya sampai-sampai Hana harus diinfus karena tidak makan selama berhari-hari. Kondisinya makin parah saat Hana terus saja mencoba untuk menyayat nadinya beberapa kali dalam seminggu. Ratih menilai, obat yang paling tepat saat ini hanya Saka.


Hana harus disadarkan oleh kehadiran Saka, bagaimana pun hasilnya nanti tetapi tak ada obat lagi yang terpikirkan olehnya selain Saka. Ratih menyuruh adik dari Andre, Ovi untuk mengantar Saka ke Rumah. Mungkin dengan hadirnya Saka, Hana bisa sedikit lebih membaik dan mengalihkan perhatiannya pada Saka sepenuhnya.


“MAMA!” Panggil Saka


Tak ada jawaban dari Hana, ia hanya terus memandang jendela dan perutnya.


“MAMA!” Saka terus memanggil Hana dengan sebutan Mama tetapi Hana tak menggubrisnya.


Ratih dan Ovi tetap mengawasi mereka berdua, mereka berdua benar-benar berharap cara ini dapat berhasil untuk membuat Hana menjadi lebih baik.


Karena Hana tidak kunjung menggubrisnya Saka mulai menangis dan berteriak, memukul-mukul Hana untuk segera memerhatikannya. Sudah sangat lama untuk Saka tak melihat Hana, tentu itu membuat Saka pun merasakan rindu untuk diperhatikan oleh Hana sehingga ia merengek dengan keras untuk membuat Hana memerhatikannya.


Bagi anak berusia empat tahun hanya cara itu yang dapat dipikirkannya. Hana mulai menampilkan reaksinya, ia mulai terganggu dengan rengekan Saka dan tak sengaja mendorongnya menjauh. Mendapat perlakuan seperti itu Saka semakin merengek kencang karena sangat terkejut akan reaksi dari Hana. Mendengar rengekan Saka yang sangat kencang, Hana baru tersadar dan segera memeluk Saka.


“Saka!... Sakkaa!...” Hana menangis sambil memeluk Saka.


“Mamaaaaaa!!” Saka semakin merengek saat mendapat pelukan hangat dari ibunya.


Walaupun ia tak mengerti masalah apa yang terjadi di dalam keluarganya, yang Saka tahu ia sangat merindukan pelukan hangat ibunya.


Hana menatap Saka.


“Maafin mama, Nak...” Hana kembali terisak dengan terus menatap Saka, mengelus-elus rambut anaknya itu lalu memeluknya lagi.


Ratih dan Ovi sangat bersyukur melihat Saka dapat membuat Hana lebih baik. Setidaknya perhatiannya menjadi teralihkan karena Saka selalu ingin menempel pada Hana.


“Teh.. Vi... maafin Hana.” Hana kembali menangis mengingat Ratih dan Ovi ikut mengalami masa sulit karena dirinya.


Ratih dan Ovi mengangguk dan ikut menangis karena bahagia Hana berjalan keluar dari kamarnya.


“Hana merasa bersalah sama Saka, Saka jadi ikut terkena dampaknya dari permasalahan orang tuanya.” Hana menatap Saka yang asik bermain dengan mobil-mobilannya.

__ADS_1


“Kamu berhak bersedih, Han! Kamu boleh menangis sebanyak yang kamu mau. Tapi inget, kamu enggak sendiri. Kamu masih ada kita, dan terutama kamu masih ada Saka yang masih sangat butuh kamu.” Jelas Ratih untuk lebih menguatkan Hana.


Hana mengangguk.


Ratih sebenarnya ingin bertanya mengenai Andre, tetapi tidak untuk sekarang. Hana baru saja memulai kehidupannya lagi, ia tak mau merusak Hana dengan pertanyaan bodohnya itu. Hana saat ini memang terlihat biasa saja, tetapi ia sangat tahu di dalam dirinya masih sangat rapuh. Dirinya terlihat kuat hanya untuk anaknya, Saka.


...***...


Sender : Hana


Aku ingin bertemu dengan Shinta


Andre sangat terkejut saat melihat pesan dari Hana itu. Setelah sebulan lamanya akhirnya Hana kembali menghubunginya lagi. Saat menerima pesan itu Andre langsung menghubungi Hana untuk memastikan kabarnya terlebih dahulu.


“Hana...”


“Hari ini aku akan bertemu dengan Shinta.”


“Biar aku yang mengantarmu”


“Tidak, Saya bisa sendiri.”


“Hana.. biarkan saya yang mengantarmu.”


Tanpa menjawabnya lagi Hana langsung mematikan telpon itu. Andre tahu, Hana sedang menahan airmatanya sekarang sama seperti dirinya. Ia sangat merindukan Hana dan Saka tetapi dalam waktu yang bersamaan ia juga merindukan Shinta. Selama sebulan ia terus menahan dirinya untuk tidak menghubungi Shinta karena ia tak mau lagi menyakiti Hana.


...***...


Setelah bertemu dengan Shinta dan mengetahui wanita itu tengah berbadan dua, entah mengapa ia menjadi sangat tenang. Hana merasa anak yang dikandung oleh Shinta adalah pengganti anaknya yang tidak berhasil ia selamatkan. Ia sangat tenang karena Andre tidak benar-benar merasa kehilangan dan itu juga yang membuat keputusannya semakin kuat untuk meninggalkan Andre.


Ia sangat mengenal suaminya itu, tatapannya yang biasanya ia gunakan untuk menatapnya sekarang sudah terisi oleh wanita lain. Untuk apa ia memaksakan untuk tinggal pada ruang yang sudah tidak ada tempat lagi untuknya, itu hanya membuatnya lelah. Pagi-pagi sekali Hana sudah check out dari hotel dan pulang ke Bandung menggunakan pesawat. Ia berencana untuk mengurus secepatnya perceraian dengan Andre dan setelah itu ada sebuah rencana yang ia sudah siapkan untuk dirinya dan Saka.


...***...


Pagi hari di Vila Shinta di Bogor. Saat pagi hari Shinta sudah disambut dengan sarapan yang disiapkan Andre ke kamarnya.


“Makan dulu yuk, abis itu kita cek kandungan ke dokter.” Ajak Andre.


Shinta mengangguk dan mencoba untuk bangun, tubuhnya terasa sangat lelah sekali setelah melalui malam yang sangat panjang. Andre mencoba untuk membantu Shinta untuk bangun, Shinta sedikit terkejut dengan sentuhan dari Andre tetapi tak bisa menolak juga. Andre duduk di ujung ranjang Shinta dan meletakan sarapannya di meja kecil yang diletakan di depan Shinta.

__ADS_1


“Mau saya suapin ?” tanya Andre.


Shinta hanya menggeleng.


Saat Shinta akan memasukan suapan pertama ke mulutnya, tiba-tiba dirinya merasa sangat mual dan segera berlari ke kamar mandi. Ia baru tersadar, selama sebulan ini badannya terasa sangat aneh dan tak enak badan hanya di pagi hari ini karena ada kehidupan lain yang hidup di dalam tubuhnya tanpa ia ketahui. Setelah mualnya hilang, Shinta terduduk di lantai kamar mandi, mengelus-elus perutnya untuk merasakan sekali lagi malaikat kecilnya.


“Maafin ibu karena telat mengetahuimu, nak” gumam Shinta dan kembali meneteskan airmata.


Andre yang menunggu Shinta di luar kamar mandi merasa sangat gelisah karena suara Shinta sudah tidak terdengar lagi tetapi Shinta tak kunjung keluar dari sana.


“Shinta!” Panggil Andre dari luar kamar mandi


“Shinta ? Udah baikan ? Saya boleh masuk ?” tanya Andre.


Shinta segera beranjak dari duduknya dengan sangat hati-hati dan keluar ruangan. Ia tidak boleh terpuruk lagi, cukup sudah ia membuat semua orang khawatir. Karena ada seseorang yang harus ia lindungi, ia harus menjadi lebih kuat dari sebelumnya.


“Shinta gak apa-apa, Mas.” Ucap Shinta meyakinkan Andre.


“Beneran ?”


Shinta hanya mengangguk.


“Shinta kalo pagi-pagi gak nafsu makan, makannya nanti siang aja ya ?”


“Kalo gitu, minum aja susunya dikit aja. Setidaknya kamu harus mengisi perut kamu.”


Shinta mengangguk dan langsung meminumnya.


“Udah ya, Mas. Kalau Shinta paksakan Shinta takut nanti keluar lagi”


Andre mengangguk dan mengelus kepala Shinta.


“Mba Hana gimana, Mas ?” tanya Shinta


“Hana biar Mas yang urus....”


“Shinta udah besar, Mas! Shinta berhak tau, Shinta juga ingin membantu. Bagaimana pun ini terjadi karena Shinta, jadi Shinta pun harus dilibatkan.”


“Ya udah, abis dari dokter kita ke hotelnya Hana.”

__ADS_1


Shinta mengangguk.


__ADS_2