
Pagi ini aku terbangun karena pelayan hotel mengetuk pintu, aku keheranan mengapa pelayan itu datang sepagi ini. Apakah ini pelayan khusus dari hotel ini untuk membangunkan para tamu sepagi ini ? lucu sekali. Aku segera membuka pintu itu karena tak enak dengan Vebi yang masih tertidur pulas karena kita baru sampai Yogyakarta jam 3 dini hari, tentunya kami masih sangat lelah karena perjalanan yang sangat panjang itu.
“Maaf karena mengganggu Anda pagi-pagi seperti ini, tetapi pengirim ponsel ini berpesan untuk segera mengantarkan ponsel ini pada Shinta. Apakah Anda yang bernama Shinta ?” tanya pelayan perempuan itu.
“Oh ya, terima kasih. Tetapi saya tidak akan menerima ponsel itu. Tolong simpan saja untuk Anda.”
“Tetapi...”
“Tidak apa-apa. Aku akan membeli ponselku sendiri, kalau boleh tahu dimana tempat membeli ponsel di sekitar sini ?”
“Oh ada, namanya toko Asasel, disana harga ponsel-ponselnya murah-murah”
“Terima kasih”
Aku segera menutup kembali pintu hotel dan bersiap-siap untuk pergi mencari toko asasel itu. Aku hanya memakai kaus dan jin saja karena memang ini adalah setelan favoritku, dengan rambut yang dibiarkan terurai ditutupi oleh topi berwarna merah. Riasan wajahnya hanya pemerah bibir saja. Aku sudah siap untuk pergi ke toko yang sudah disebutkan pelayan tadi untuk membeli ponselnya dan mencari sarapan.
“Oi!” seseorang berseru kepadaku, tetapi aku membiarkannya karena curiga itu hanyalah orang iseng tamu hotel yang berniat hanya menggodaku saja
“Oy! Shinta!” saat mendengar suara itu lagi dengan menyebutkan namaku, aku menjadi heran darimana pria itu tahu namaku, karena penasaran dengan suara yang telah menyebutkan namaku akhirnya aku memutuskan untuk berbalik dan menemui Ikmal yang sedang berlari kearahnya.
“Mau kemana lo ?” tanyanya
“Bukan urusan lo” aku memutuskan untuk meneruskan langkah menuju lift, dan Ikmal terus mengikutiku.
__ADS_1
“Mau kemana lo ?” tanyaku karena aku merasa terusik dengan kehadirannya.
“Bukan urusan lo!” jawabnya, tentu itu membuatku jengkel dengannya tetapi aku tak ingin meneruskan perdebatan tidak penting ini.
Setelah pintu lift terbuka aku segera meninggalkannya dan pergi menuju arah yang sudah di jelaskan pelayan tadi. Aku memang sangat nekat hanya berbekal petunjuk pelayan tadi berjalan sendiri di tempat yang sangat baru seperti ini, aku akan mengacungkan jempol untukku jika aku berhasil menemukannya.
Setelah berjalan cukup lama, aku merasa sudah mengikuti arahan pelayan hotel itu dengan benar tetapi toko itu tidak dapat kutemukan.
Aku tersesat disebuah pasar yang sangat ramai, sangat bingung mencari jalan pulang menuju hotel, semua orang yang hendak ku tanyai pun sibuk dengan urusannya masing-masing. Aku memang sangat bodoh yang sangat nekat berjalan-jalan seperti ini tanpa alat komunikasi dan orang-orang bisa diajak berbicara.
“Nekat banget sih lo!” Sentak lelaki yang tiba-tiba sudah duduk di sebelahku.
“Lo kenapa bisa ..?”
“Thanks!”
“Gue denger lo mau beli handphone dari pelayan hotel gara-gara gak mau menerima handphone dari seseorang yang udah dengan baik hati kasih handphone itu ke lo. Gue bener-bener gak ngerti sama jalan pikiran lo sekarang, lo bener-bener udah makin kacau.”
“Ya, gue makin kacau. Lama-lama juga pasti gue jadi gila”
“Itu karena lo menganggap lo sendirian, kenyataannya lo gak sendirian Shin! Lo punya sahabat lo Ve dan gue. Juga mungkin seseorang yang udah ngasih handphone itu, gue harap lo gak ngerasa sendiri lagi lo harus bangkit Shin. Gue yakin, ayah lo pun gak mau lo kaya gini terus”
Aku hanya mengangguk-anggukan kepala dengan terus mencerna dan merenungi apa yang telah dikatakan Ikmal. Memang semua yang dikatakannya benar, aku harus bangkit sehingga ayah tidak mencemaskanku, aku akan menunjukan padanya bahwa anak perempuannya bisa hidup dengan baik.
__ADS_1
“Sekarang lo tetep mau beli handphone itu ?” tanya Ikmal, dijawab dengan anggukan olehku.
Ikmal memimpin jalan menuju toko handphone itu dan aku mengikutinya dari belakang. Ini adalah awal, dan Ikmal telah membuka pikiranku.
***
“Shin lo darimana aja sih ? gue stress tau mau hubungin lo gak bisa.” Ve menyambutku dengan omelannya.
“Gue abis beli handphone, mana nomer lo gue save.”
“Bilang-bilang kek kalo mau pergi, gue kira lo pulang sendirian ke Jakarta karena masih sedih”
“Enggak Ve, gue gak akan sedih-sedih lagi.”
“Nah gitu dong, ini baru Shinta yang gue kenal. Lo gak sendirian kok, kapan pun dimana pun lo butuh teman gue bakal ada, lo tau kan gue siapa.. sahabat lo, lo gak sendirian.”
Aku pun menganggukan kepalaku dengan senyum, Ve memang benar. Betapa bodohnya aku kemarin karena menganggap dunia ini sudah runtuh. Aku pun menjadi sangat merasa bersalah pada Pak Andre, aku segera mengirim pesan padanya untuk meminta maaf atas perilaku kasarku sehingga menyebabkan pertengkaran kemarin.
To : Pak Andre
Maafin Shinta kemarin
Belum ada balasan setelah tiga puluh menit pesan itu terkirim, tak seperti biasanya karena biasanya ia akan langsung membalasanya atau meneleponku, ya mungkin wajar ia sekarang sedang sibuk dengan keluarganya. Keluarga yang sangat dicintainya, aku sangat mengerti itu dan aku tidak punya hak untuk mengurusi keluarganya itu. Toh aku akan pergi setelah lulus nanti.
__ADS_1
Untuk sekarang aku hanya akan fokus pada pemulihan psikis ku, dengan teman-temanku sekarang.